Bab 16 : Permintaan maaf Nona

Nona sedari tadi mondar-mandir di ruangan kantornya. Wajahnya sangat panik ketika membaca pesan dari Dewa. Dewa mengatakan jika dirinya tidak mau pulang. Nona merasa bersalah, dia harus membuat Dewa pulang ke rumah. Arsel memandangnya dari balik ruangan kesal melihat Nona yang takut jika Dewa tidak pulang, apakah Nona menyukai Dewa? Nona terus menelpon Dewa tetapi bocah itu tidak mengangkatnya dan justru hanya membalas pesan.

“Arsel, tolong siapkan mobil untuk ke tempat kerja Dewa!” pinta Nona.

Arsel menganggukkan kepala, Nona mengikutinya dari belakang dan menuju ke lobi. Sedari tadi dia memang sangat takut jika Dewa tidak mau pulang.

“Nona, mobil sudah siap.”

Nona dengan cepat masuk ke mobil dan Arsel mengemudikan mobilnya menuju restoran tempat Dewa bekerja.  Setelah menempuh waktu setengah jam mereka sampai direstoran itu dan Nona segera turun. Dia berjalan

cepat, Arsel hanya heran karena baru pertama kali Nona bersikap seperti itu. Manik mata Nona mencari setiap keberadaan Dewa sampai ia melihat Dewa sedang mengobrol asyik dengan Nisa. Hati Nona merasa sakit, dia mencoba mendekati mereka dengan wajah tenang.

“Dewa?” ucap Nona.

Dewa membalikkan badan, ia terkejut melihat Nona sudah ada dibelakangnya. “Nona, kenapa kau ada disini?”

Nisa melihatnya terheran, wanita yang pernah datang kesini sekarang berkunjung lagi dan menemui Dewa.

“Bisakah kita mengobrol?” tanya Nona.

Dewa memandang Nisa seolah meminta izin, karena restoran tidak banyak pengunjung akhirnya mau tidak mau Nisa mengizinkannya. Dewa berterima kasih lalu mengajak Nona untuk duduk. Mereka duduk berhadapan, Dewa menatap Nona sambil tersenyum Nona seolah salah tingkah dan tidak bisa berkata apa-apa.

“Mau bicara apa? Aku harus segera bekerja,” ucap Dewa.

“Ehm... Maafkan aku telah mengusirmu.”

Dewa tersenyum tipis. “Hari ini sudah meminta maaf berapa kali?”

“Aku tidak bercanda, aku sungguh meminta maaf. Mau kah kau pulang ke rumah?”

Dewa menggelengkan kepala membuat Nona semakin merasa bersalah. Nona mencoba menggenggam tangan Dewa tetapi Dewa menepisnya karena dia tahu sedang diperhatikan Nisa dari jauh.

“Dewa, pulang ya? Aku menyesal.”

“Tidak mau.”

Hati Nona semakin sedih, matanya mulai memerah. Sepertinya Dewa sudah tidak menyukainya lagi. Akankah setelah ini pernikahan mereka akan berjalan dengan baik? Dewa bisa membaca kesedihan Nona, dia tidak tega lalu menepuk bahu Nona.

“Jangan menangis! Jika menangis wajah cantikmu akan luntur,” ucap Dewa.

“Jangan bergurau, Dewa! Kau masih bisa tersenyum saat aku sedang sedih?”

Dewa semakin menertawai Nona, bulir air mata Nona langsung menetes dan ini pertama kali Dewa

melihat Nona menangis.

“Jangan menangis, Nona! Aku bercanda, aku akan pulang tapi tidak sekarang karena aku harus bekerja. Nanti malam aku akan pulang ke rumah.”

Nona mengusap airmatanya, matanya kini mulai berbinar. Dewa senang memandangnya. “Kau harus pulang, aku tunggu nanti malam,” ucap Nona.

Nona berdiri, ia mengulurkan tangan untuk menyepakati jika nanti malam Dewa harus pulang. Dewa berdiri lalu menerima uluran tangan Nona. Dia berjanji akan pulang tetapi dengan syarat jika Nona tidak boleh bersedih lagi. Disisi lain, Nisa memandang mereka dengan cemburu. Dia penasaran apa hubungan Dewa dengan wanita itu.

Apa itu pacar Dewa? Tapi tidak mungkin sepertinya wanita itu jauh lebih tua dari kami.

**

Sepulang kerja, Dewa pulang ke rumah Nona. Dia sedikit membeli camilan dipinggir jalan untuk dibawa pulang, rasa lelahnya tergantikan dengan gaji yang cukup lumayan untuk menjatah Nona dan membeli jajan dirinya sendiri.

Dewa melihat diseberang  jalan berjualan sempolan ayam, camilan favoritnya saat masih sekolah. Dewa lalu menuju ke seberang dan

membeli 15 tusuk. Sambil menunggu sempolan ayam itu matang, dia membuka pesan

di ponselnya dan membaca pesan digrup jika akan ada makan bersama setelah

menerima ijazah nanti. Teman-temannya akan membawa pacar masing-masing dan Dewa

tidak mungkin membawa Nona ikut dengannya nanti dikira malah kakaknya sendiri.

Dewa juga

membuka pesan dari mantan pacarnya yaitu Sarah, gadis labil itu mengirimkan kata-kata

permintaan maaf saat semasa pacaran dulu dia belum bisa menjadi seorang pacar

yang baik.

Basi. Aku tidak mau berhubungan

dengan Sarah lagi. Dia yang mutusin, dia juga yang ngejar-ngejar lagi.

“Mas,

sempolannya sudah siap,” ucap si penjual.

Dewa segera

membayarnya lalu mencari angkot, andai saja sepeda motornya tidak dijual pasti

dia tidak akan naik angkot yang jauh lebih membuang ongkos. Tetapi tiba-tiba

sebuah mobil mewah berhenti didepannya, kaca mobil itu terbuka yang didalamnya

adalah Mas Supri.

“Hallo,Dewa.

Ayo cepat naik! Nona sudah menunggu dirumah.”

Dewa

langsung naik dan duduk disamping kemudi, Mas Supri melirik makanan yang dibawa

oleh Dewa.

“Kau mau

bawa makanan itu ke rumah?” tanya Mas Supri.

“Iya, emang

kenapa?”

“Nona anti

sekali makanan di pinggir jalan. Bahkan pelayan dan pembantu pun tidak berani

membeli dan makan didalam rumah Nona,” jelas Mas Supri.

Dewa

mengernyitkan dahi lalu membuang pikiran negatifnya. “Semoga Nona tidak

memarahiku.”

Mas Supri

tersenyum,  jika Nona tidak memarahi Dewa

pertanda Nona sudah menyukai Dewa. Memang saat Nona sedang jatuh cinta sangat

menggemaskan dan aroma-aroma cinta akan tersebar dipenjuru rumah.

“Nona hari

ini sudah wangi dan berdandan cantik,” ucap Mas Supri.

“Memangnya

Nona mau kemana?” tanya Dewa.

“Haduh...

Pura-pura bodoh rupanya, untuk menyambutmu lah.”

Dewa tertawa

kecil, sampai segitunya kah? Apakah ini hanya akting Nona? Setelah menempuh

waktu selama setengah jam akhirnya sampai juga. Dewa segera turun dan membawa

makanannya. Mas Supri membuka pintu utama untuk Dewa, Dewa langsung memandang

Nona yang berdiri 5 meter darinya seolah menyambut kedatangannya.  Nona melirik makanan yang ditenteng Dewa

tetapi ia seolah tidak mempermaslahkan itu.

“Dewa, mandi

dulu! Setelah itu kita makan malam bersama.”

Dewa

menganggukkan kepala lalu menyerahkan makanan itu ke Nona, Nona menerimanya

walau sedikit tidak nyaman. Nona melihat Dewa naik ke kamarnya sedangkan dia

menuju ke ruang makan dan meletakkan sempolan itu diatas meja. Nona menunggu

sendirian, dia tersenyum sendiri saat melihat wajah tampan Dewa saat sepulang

kerja tadi.

“Nona

membeli makanan itu?” tanya Bibi yang datang dari arah dapur dan menunjuk

seplastik sempolan ayam.

“Dewa yang

membelinya.”

“Nona tidak

marah?”

Nona

tersenyum. “Saya tidak ingin merusak suasana malam ini.”

Bibi tertawa

kecil, dia lalu berpamitan beberes didapur sedangkan Nona tersenyum sendiri

tidak jelas.

Setelah 15

menit, akhirnya Dewa muncul juga. Rambutnya yang basah dan badannya yang wangi

sabun membuat Nona menjadi tenang. Nona lalu menarik kursi dan menyuruh Dewa

untuk duduk. Nona melayani Dewa dengan baik seperti mengambil minuman, piring

serta lauk pauknya. Mereka lalu makan dengan tenang dan sesekali Nona melirik

Dewa.

“Oh ya, kau

tidak marah aku membawa makanan pinggir jalan ini?” tanya Dewa.

“Sekali-kali

tidak papa.”

Dewa melihat

bulir nasi disudut bibir Nona lalu mengambilnya, Nona cukup terkejut dan

menjadi salah tingkah. “Maaf membuatmu kaget,” ucap Dewa.

Nona

menggelengkan kepala, entah kenapa hatinya seolah berbunga-bunga. Setelah makan

malam selesai, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar. Dewa membawa

makanannya ke kamar dan Nona tidak mempermasalahkan itu.

“Nona harus

coba makanan ini, ini makanan jaman sekolah,” ucap Dewa sambil menyerahkan satu

tusuk sempolan yang didalamnya berisi telur puyuh.

Nona

menggelengkan kepala, dia takut tenggorokkannya akan sakit jika makan makanan

seperti itu. Dewa langsung menyuapkan ke mulut Nona, mau tidak mau Nona harus

mengunyahnya. “Rasanya lumayan,” ucap Nona.

Mereka lalu

makan bersama sampai habis tidak tersisa, Dewa segera menuangkan minuman dan

menyerahkannya kepada Nona. Nona sedari tadi melihat bibir Dewa yang menggoda,

ia ingin memagutnya. Tanpa berpikir panjang, Nona mencium bibir Dewa dengan

mesra, memagutnya dengan penuh kenikmatan tiada tara. Dewa langsung membalas

ciuman itu, lidahnya sudah bermain-main didalam mulut Nona.

Terpopuler

Comments

Heros

Heros

bela duren nh kyax sh dewa

2022-07-28

0

Pia Palinrungi

Pia Palinrungi

udh dewa jgn ragu2 lagi lgsng unboxing aja

2022-07-20

0

Jamilah

Jamilah

deg deg deg an akuuuh tuh sama kamu dewa ahhhh

2022-07-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Prolog
2 Bab 2 : Dipenuhi orang aneh
3 Bab 3 : Catatan kegiatan?
4 Bab 4 : Sakit Perut?
5 Bab 5 : Saling jual mahal?
6 Bab 6 : Pekerjaan
7 Bab 7 : Pekerjaan Dewa
8 Bab 8 : Restoran
9 Bab 9 : Perkara gas elpiji
10 Bab 10 : Perhatian?
11 Bab 11 : Arsel tidak suka Dewa?
12 Bab 12 : Menantu yang diremehkan
13 Bab 13 : First kiss
14 Bab 14 : Nona kecewa
15 Bab 15 : Permintaan maaf Nona
16 Bab 16 : Permintaan maaf Nona
17 Bab 17 : Sesuatu yang tak terduga
18 Bab 18 : Ambisi
19 Bab 19 : Mulai suka
20 Bab 20 : Siang berkeringat
21 Bab 21 : Terlihat gembel
22 Bab 22 : Perhatian
23 Bab 23 : Romantisnya
24 Bab 24 : Zalina
25 Bab 25 : Gugatan
26 Bab 26 : Keluarga serakah
27 Bab 27 : Pengambilan ijazah
28 Bab 28 : Makan bersama
29 Bab 29 : Jalan-jalan ke mall
30 Bab 30 : Kemesraan
31 Bab 31 : Saling mencintai
32 Bab 32 : Jangan hina pekerjaan orang tuaku!
33 Bab 33 : Tertabrak
34 Bab 34 : Terfitnah
35 Bab 35 : Kebijakan Dewa
36 Bab 36 : Berkemas
37 Bab 37 : Sarah marah
38 Bab 38 : Nona cemburu
39 Bab 39 : Ke-uwu-an pasangan DeNo
40 Bab 40 : Sarah
41 Bab 41 : Pulang ke rumah
42 FIX, ini visualnya
43 Bab 42 : Nona dan Bara
44 Bab 43 : Bagaimana mau mempunyai bayi jika makan saja masih ikut Nona?
45 Bab 44 : Maafkan aku, Dewa!
46 Bab 45 : Nona mulai was-was
47 Bab 46 : Motivasi untuk Dewa
48 Bab 47 : Sarah
49 Bab 48 : Mandi syahdu
50 Bab 49 : Dekapan Bara
51 Bab 50 : Tambahan pekerjaan
52 Bab 51 : Penyesalan
53 Bab 52 : Predator
54 Bab 53 : Kesedihan Bara
55 Bab 54 : Proses Revisi
56 Bab 55 : Proses Revisi
57 Bab 56 : Semua mengetahui
58 Bab 57 : Ibu kandung Sarah
59 Bab 58 : Tetangga
60 Bab 59 : Pingsan
61 Bab 60 : Meninggal
62 Bab 61 : Grup Chat
63 Bab 62 : Lamunan Dewa
64 Bab 63 : Apotek
65 Bab 64 : Kesialan
66 Bab 65 : Akhirnya
67 Bab 66 : Trauma Elara
68 Bab 67 : Isi hati
69 Bab 68 : Ungkapan Bara
70 Bab 69 : Dewa terjebak
71 Bab 70 : Kesedihan Bara
72 Bab 71 : Ternyata
73 Bab 72 : Cuci mobil
74 Bab 73 : Menyesali
75 Bab 74 : Jadian
76 Bab 75 : Wiratmaja yang aneh
77 Bab 76 : Apa yang sebenarnya terjadi?
78 Bab 77 : Kembar
79 Bab 78 : Puzzle mulai terkumpul
80 Bab 79 : Skizofrenia
81 Bab 80 : Pingsan dua kali
82 Bab 81 : Jepit rambut
83 Bab 82 : Mengelak
84 Bab 83 : Nagara
85 Bab 84 : Kaya tapi bodoh
86 Bab 85 : Perasaan ibu hamil
87 Bab 86 : Malam kelabu
88 Bab 87 : Terfitnah
89 Bab 88 : Cengeng
90 Bab 89 : Kejujuran
91 Bab 90 : Permintaan Nona
92 Bab 91 : Keposesifan
93 Bab 92 : Toko online
94 Bab 93 : Arsel meminta maaf
95 Bab 94 : Detektif Nagara
96 Bab 95 : Keponakan
97 Bab 96 : Alisa
98 Bab 97 : Kebenaran
99 Bab 98 : Maaf
100 Skip
101 Bab 99 : Beberes gudang
102 Bab 100 : Satu ronde saja
103 Bab 101 : Naik helikopter
104 Bab 102 : Nona Dewa
105 Bab 103 : Kesuksesan
106 Bab 104 : Bocah
107 Bab 105 : Menantu tak dianggap
108 Bab 106 : Pertengkaran
109 Bab 107 : Pembalasan
110 Bab 108 : Hamil?
111 Bab 109 : Nikah
112 Bab 110 : Cemburu
113 Bab 111 : Penganiayaan?
114 Bab 112 : Sebenarnya?
115 Bab 113 : Main hujan
116 Bab 114 : Dewa Arga
117 Bab 115 : Menuju akhir
118 Novel baru ZIAN & ELARA
119 Bab 116 : Menuju akhir 2
120 Bab 117 : SEASON 1 TAMAT
121 Bonus Chapter
122 Bonus Chapter
123 Bonus Chapter
124 Bonus Chapter Terakhir
125 SEASON 2 DIMULAI - Bab 1
126 Season 2 - Bab 2
127 Season 2 - Bab 3
128 Season 2 : Bab 4
129 Season 2 : Bab 5
130 Season 2 : Bab 6
131 Season 2 : Bab 7
132 Season 2 : Bab 8
133 Season 2 : Bab 9
134 Season 2 : Bab 10
135 Season 2 : TAMAT
136 Novel Baru
137 Bonus chapter : Arsel & Mona
138 Bonus chapter : Arsel & Mona 2
139 Bonus Chapter : Arsel & Mona 3
140 Bonus chapter : Arsel & Mona 4
141 Nih ....
142 Promo novel baru
143 Promosi novel
144 Novel baru
Episodes

Updated 144 Episodes

1
Bab 1 : Prolog
2
Bab 2 : Dipenuhi orang aneh
3
Bab 3 : Catatan kegiatan?
4
Bab 4 : Sakit Perut?
5
Bab 5 : Saling jual mahal?
6
Bab 6 : Pekerjaan
7
Bab 7 : Pekerjaan Dewa
8
Bab 8 : Restoran
9
Bab 9 : Perkara gas elpiji
10
Bab 10 : Perhatian?
11
Bab 11 : Arsel tidak suka Dewa?
12
Bab 12 : Menantu yang diremehkan
13
Bab 13 : First kiss
14
Bab 14 : Nona kecewa
15
Bab 15 : Permintaan maaf Nona
16
Bab 16 : Permintaan maaf Nona
17
Bab 17 : Sesuatu yang tak terduga
18
Bab 18 : Ambisi
19
Bab 19 : Mulai suka
20
Bab 20 : Siang berkeringat
21
Bab 21 : Terlihat gembel
22
Bab 22 : Perhatian
23
Bab 23 : Romantisnya
24
Bab 24 : Zalina
25
Bab 25 : Gugatan
26
Bab 26 : Keluarga serakah
27
Bab 27 : Pengambilan ijazah
28
Bab 28 : Makan bersama
29
Bab 29 : Jalan-jalan ke mall
30
Bab 30 : Kemesraan
31
Bab 31 : Saling mencintai
32
Bab 32 : Jangan hina pekerjaan orang tuaku!
33
Bab 33 : Tertabrak
34
Bab 34 : Terfitnah
35
Bab 35 : Kebijakan Dewa
36
Bab 36 : Berkemas
37
Bab 37 : Sarah marah
38
Bab 38 : Nona cemburu
39
Bab 39 : Ke-uwu-an pasangan DeNo
40
Bab 40 : Sarah
41
Bab 41 : Pulang ke rumah
42
FIX, ini visualnya
43
Bab 42 : Nona dan Bara
44
Bab 43 : Bagaimana mau mempunyai bayi jika makan saja masih ikut Nona?
45
Bab 44 : Maafkan aku, Dewa!
46
Bab 45 : Nona mulai was-was
47
Bab 46 : Motivasi untuk Dewa
48
Bab 47 : Sarah
49
Bab 48 : Mandi syahdu
50
Bab 49 : Dekapan Bara
51
Bab 50 : Tambahan pekerjaan
52
Bab 51 : Penyesalan
53
Bab 52 : Predator
54
Bab 53 : Kesedihan Bara
55
Bab 54 : Proses Revisi
56
Bab 55 : Proses Revisi
57
Bab 56 : Semua mengetahui
58
Bab 57 : Ibu kandung Sarah
59
Bab 58 : Tetangga
60
Bab 59 : Pingsan
61
Bab 60 : Meninggal
62
Bab 61 : Grup Chat
63
Bab 62 : Lamunan Dewa
64
Bab 63 : Apotek
65
Bab 64 : Kesialan
66
Bab 65 : Akhirnya
67
Bab 66 : Trauma Elara
68
Bab 67 : Isi hati
69
Bab 68 : Ungkapan Bara
70
Bab 69 : Dewa terjebak
71
Bab 70 : Kesedihan Bara
72
Bab 71 : Ternyata
73
Bab 72 : Cuci mobil
74
Bab 73 : Menyesali
75
Bab 74 : Jadian
76
Bab 75 : Wiratmaja yang aneh
77
Bab 76 : Apa yang sebenarnya terjadi?
78
Bab 77 : Kembar
79
Bab 78 : Puzzle mulai terkumpul
80
Bab 79 : Skizofrenia
81
Bab 80 : Pingsan dua kali
82
Bab 81 : Jepit rambut
83
Bab 82 : Mengelak
84
Bab 83 : Nagara
85
Bab 84 : Kaya tapi bodoh
86
Bab 85 : Perasaan ibu hamil
87
Bab 86 : Malam kelabu
88
Bab 87 : Terfitnah
89
Bab 88 : Cengeng
90
Bab 89 : Kejujuran
91
Bab 90 : Permintaan Nona
92
Bab 91 : Keposesifan
93
Bab 92 : Toko online
94
Bab 93 : Arsel meminta maaf
95
Bab 94 : Detektif Nagara
96
Bab 95 : Keponakan
97
Bab 96 : Alisa
98
Bab 97 : Kebenaran
99
Bab 98 : Maaf
100
Skip
101
Bab 99 : Beberes gudang
102
Bab 100 : Satu ronde saja
103
Bab 101 : Naik helikopter
104
Bab 102 : Nona Dewa
105
Bab 103 : Kesuksesan
106
Bab 104 : Bocah
107
Bab 105 : Menantu tak dianggap
108
Bab 106 : Pertengkaran
109
Bab 107 : Pembalasan
110
Bab 108 : Hamil?
111
Bab 109 : Nikah
112
Bab 110 : Cemburu
113
Bab 111 : Penganiayaan?
114
Bab 112 : Sebenarnya?
115
Bab 113 : Main hujan
116
Bab 114 : Dewa Arga
117
Bab 115 : Menuju akhir
118
Novel baru ZIAN & ELARA
119
Bab 116 : Menuju akhir 2
120
Bab 117 : SEASON 1 TAMAT
121
Bonus Chapter
122
Bonus Chapter
123
Bonus Chapter
124
Bonus Chapter Terakhir
125
SEASON 2 DIMULAI - Bab 1
126
Season 2 - Bab 2
127
Season 2 - Bab 3
128
Season 2 : Bab 4
129
Season 2 : Bab 5
130
Season 2 : Bab 6
131
Season 2 : Bab 7
132
Season 2 : Bab 8
133
Season 2 : Bab 9
134
Season 2 : Bab 10
135
Season 2 : TAMAT
136
Novel Baru
137
Bonus chapter : Arsel & Mona
138
Bonus chapter : Arsel & Mona 2
139
Bonus Chapter : Arsel & Mona 3
140
Bonus chapter : Arsel & Mona 4
141
Nih ....
142
Promo novel baru
143
Promosi novel
144
Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!