Dewa mengantar makanan pesanan makanan itu. Dia tahu jika tempat itu adalah kantor milik Nona. Dewa menaiki sepeda motor milik Nisa, jalanan siang ini sangat ramai bahkan cukup terik. Dewa terus mengendarai kendaraannya dengan kencang supaya cepat sampai.
Setelah 20 menit perjalanan. Akhirnya Dewa sampai dikantor milik Nona. Dia memarkirkan sepeda motor lalu masuk dengan membawa dua plastik makanan. Satpam menanyainya terlebih dahulu setelah itu memperbolehkannya masuk.
Saat akan menaiki lift, Dewa bertemu Arsel. Pria dingin dan misterius bahkan senyumannya begitu menyeramkan.
"Arsel, Nona yang memesan makanan ini 'kan? Boleh aku titipkan padamu saja?" tanya Dewa.
"Antarkan sendiri!" ucap Arsel.
Arsel berjalan meninggalkan Dewa, Dewa menggaruk kepala bingung dengan sifat Arsel yang selalu ketus kepadanya. Setelah itu dia segera naik lift dan menuju ke lantai tempat ruangan Nona berada.
Beberapa menit kemudian, Dewa akhirnya sampai juga. Dia mengetuk pintu tetapi tidak ada sahutan dari Nona.
Dewa membuka pintu tetapi dia melihat hal mengejutkan.
Altaf sedang mencoba memaksa mencium Nona tetapi Nona seolah memberontak. Dewa yang melihatnya langsung memukul Altaf.
"Kau mau apa dengan istriku?" ucap Dewa.
Altaf langsung tersungkur. Dia tersenyum kecut lalu bangun. Tatapannya kepada Dewa seolah mengejek. "Bocah sepertimu bisa-bisanya menikahi Nona?"
"Kenapa? Itu pilihan Nona sendiri," ucap Dewa.
Altaf langsung bergantian memukul Dewa, Dewa terjatuh lalu Altaf mendudukinya serta memukulinya. Nona segera menelpon Arsel.
Dewa tak tinggal diam, dia memukul balik Altaf tetapi kekuatan Altaf lebih kuat darinya. Altaf berdiri lalu menginjak kepala Dewa. Nona tidak bisa berkutik saat suaminya diperlakukan seperti itu.
"Altaf, lepaskan Dewa!" teriak Nona.
"Inikah suamimu? Bagaimana bisa dia melindungimu jika melindungi dirinya sendiri tidak bisa?" ejek Altaf.
"Itu bukan urusanmu! Lepaskan dia sebelum aku panggil polisi!"
Altaf justru tertawa terbahak-bahak, kakinya semakin menekan kuat kepala Dewa. Dewa hanya bisa pasrah saat kepalanya diinjak oleh pria angkuh itu. Disaat bersamaan, Arsel datang dan menendang kaki Altaf. Nona segera menolong Dewa.
Altaf begitu kesakitan, dia menatap tajam Arsel.
"Pergilah! Sebelum aku panggil polisi," ucap Arsel dengan tatapan dingin.
Altaf langsung keluar dari ruangan Nona. Arsel membantu Dewa untuk duduk disofa, wajah tampan Dewa terluka dan rambut Dewa kotor karena sepatu Altaf. Perasaan bocah itu menjadi sedih, dia memang tidak jago dalam hal beladiri. Dewa sangat malu kepada Nona karena dia tidak bisa melindungi istrinya.
Arsel tidak mau mengganggu mereka memilih untuk keluar dari ruangan itu.
Nona membersihkan rambut Dewa lalu memberi obat pada luka diwajah Dewa. Mereka tidak sengaja bertatapan saat manik mata mereka bertemu. Nona menundukkan wajah, Dewa langsung mengangkat dagu Nona.
"Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu," ucap Dewa.
Nona menggelengkan kepala. "Kau sudah berusaha sebisa mungkin untuk melindungiku."
Jantung mereka seakan mau meledak, apalagi Nona yang mulai aneh saat menatap bibir Dewa. Dengan rasa tidak yakin, dia segera mendekatkan bibirnya dengan bibir Dewa. Memagutnya dengan mesra dan menggigit bibir bawah bocah itu. Nona mencoba menutup mata supaya tidak grogi, Dewa pun juga membalas ciuman itu.
Bibir mereka kini saling bertautan, lidah yang saling menari membuat hasrat mereka semakin naik.
Tangan Dewa memegangi punggung Nona dan tangan Nona mengayun pada leher Dewa. Mereka berciuman sampai tak ingat tempat. Dewa sedikit mendorong tubuh Nona sampai tubuh rampingnya terbaring disofa, bibir mereka masih melekat.
Lidah yang saling beradu membuat mereka semakin terbuai dalam hasrat yang menggebu-gebu. Ciuman mereka juga semakin beringas sampai mereka kehabisan nafas.
Nona melepaskan ciumannya dan memandang Dewa yang sudah ada diatasnya.
"Hampir 3 minggu kita menikah tetapi kita belum melakukan malam pertama. Kau bisa meminta hakmu sekarang juga," ucap Nona.
"Aku juga tidak terburu-buru kok."
"Tapi aku siap," ucap Nona dengan cepat.
Dewa tertawa kecil. "Ngebet ya?"
Nona mendengus membuat Dewa semakin gemas. Dewa mencium Nona lagi, mereka memulai permainan yang sempat terputus. Lidah mereka berperang menentukan siapa pemenangnya.
Jantung mereka saling berdebar bahkan hawa diruang ber AC itu sangat panas.
Setelah 5 menit berciuman, Dewa melepaskan ciumannya. Dewa mengambil nafas dan duduk disofa. Nona terbangun dan ikut duduk disamping Dewa. Mereka seolah kaku harus melakukan apalagi. Dewa pun juga belum berpengalaman.
"Jika dilakukan saat ini jadi namanya siang pertama dong bukan malam pertama," ucap Dewa.
"Memang malam pertama harus malam hari?" tanya Nona sama polosnya.
Dewa tersenyum, dia melirik kancing atas baju hem Nona yang sudah terbuka. Dia menelan ludah karena melihat belahan dada istrinya itu.
Ingin ku pegang tapi takut kena tampar.
"Jadi ini bagaimana? Kita melakukan disini? Pasti posisinya kurang nyaman," ucap Dewa.
"Aku punya kamar khusus di ruangan ini. Disitu ada tempat tidurnya," jawab Nona.
Nona berdiri menggandeng Dewa, mereka menuju pintu yang berada tepat dibelakang sofa yang mereka duduki. Nona membuka pintu lalu menyalakan lampu. Diruangan itu terdapat tempat tidur dengan ukuran tidak terlalu besar tetapi muat untuk 2 orang. Nona menyalakan AC.
Kini mereka malah saling canggung seolah harus melakukan apa.
"Bagaimana jika kita melihat video dulu untuk pemanasan?" tanya Dewa.
Nona menganggukkan kepala. Kedua orang polos itu memilih duduk dipinggir ranjang sambil menikmati video pemersatu umat. Dewa memandangi dengan serius karena ini adalah pertama kalinya. Nona malah tidak fokus karena cepat-cepat ingin melakukannya. Nona sedari tadi menatap wajah Dewa yang serius dan sesekali tersenyum. Karena tidak sabar, Nona langsung duduk dipangkuan Dewa dan merebut ponselnya.
"Tidak perlu menonton karena pasti kita sudah punya feeling yang pandai untuk melakukan ini," ucap Nona.
Dewa begitu terkejut melihat Nona yang berbeda dari biasanya. Nona melepas semua kancing kemejanya dan melepas ikat rambutnya. Rambutnya yang panjang tergerai begitu indah. Dewa semakin berdebar dibuatnya. Nona menciumi tengkuk leher Dewa membuat bocah itu merinding nikmat. Tangan nakal Dewa mencoba menelusup ke punggung Nona.
Perjakaku akan hilang.
Nona mendorong tubuh Dewa dan menindihnya. Dewa tidak tinggal diam saja, ia melepas seluruh pakaiannya dan pakaian Nona. Mereka kini tak menggunakan sehelai benang satu pun dan terjadilah perkelahian hebat siang itu.
***
Nona dan Dewa tepar di ranjang. Setelah beraktivitas selama 20 menit akhirnya mereka lemas juga. Dewa tersenyum sendiri saat mengingat waktu emas tadi sedangkan Nona mengelus perut ratanya. Dia tidak akan hamil karena Nona sudah meminum pil kb. Nona mengingat jika usia pernikahannya kurang lebih hanya 2 tahun bersama Dewa.
"Nona, kenapa?" tanya Dewa yang sudah dalam posisi duduk.
"Maaf, Dewa. Aku sebelumnya sudah meminum pil kb."
"Kenapa? Kau tidak ingin mempunyai anak denganku?" tanya Dewa.
"Kontrak adalah kontrak yang harus ditepati. Kurang 1 tahun 11 bulan lagi kita akan berpisah."
*****
Ayo dong like, Komen, vote, beri hadiah supaya otor rajin update.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Elisanoor
Babak belur aja si Dewa, anak SMA biasanya jago berantem 😆
2023-11-20
0
Kinan Rosa
dewa beri nona pengertian
dan ingat omongan dari ayahnya Ela kamu harus bisa menjaga rumah tangga mu
pertahankan jika kalian saling suka
2022-11-29
0
nes💫
waduhh🤣🤣
2022-10-30
0