Sudah lewat dua hari semenjak mereka pergi ke desa itu, Yi Feng merasa sangat bosan akan apa yang dia lakukan selama dua hari ini.
Mengerjakan beberapa tugas ringan yang diberikan oleh Ayahnya, membaca buku-buku di perpustakaan, belajar etika seorang pangeran bersama Louis, lalu mempelajari tentang kultivasi didalam ruangan dimensi, dan meningkatkan kemampuannya didalam ruang dimensi.
Tentunya Yi Feng semakin kuat, apa lagi perbedaan waktu dunia luar dan ruang dimensi sangatlah berbeda jauh. Didunia luar hanya sebatas 2 hari (48 jam), namun tidak dengan Yi Feng yang merasakan 30 hari didalam ruang dimensi, sisa 18 lagi ia gunakan di dunia nyata.
(1 hari dimensi Teratai sama dengan 1 jam dunia luar)
Jikapun dia pergi ke ruang dimensi, dia harus lolos dari pengawasan Yu Chen, sang pelayan. Jika tidak, pria itu pasti akan mencarinya.
Untung saja Yi Feng masuk kedalam sana secara sembunyi-sembunyi, dia benar-benar melarang Yu Chen masuk kedalam kamarnya dengan alasan ingin beristirahat.
..........
Saat ini, hari mulai menjelang sore, jika ditebak mungkin sekitar pukul setengah lima sore.
Yi Feng keluar dari kamar mandi nya, dia dengan cepat bersiap untuk keluar dari kediamannya.
Sebelum itu, dia sudah bertanya pada Yu Chen, apakah disini terdapat pasar malam? Dia ingin berkunjung dan melihat-lihat diluar sana.
"Yang Mulia, tak jauh dari istana. Terdapat pasar yang juga buka saat dimalam hari, banyak toko-toko dan restoran yang dibuka bla.. bla.. bla....." Yu Chen dengan semangat memberitahu apa saja yang berada disana.
"Kalau begitu, ayo pergi. Aku ingin cuci mata disana," balas Yi Feng santai.
Dengan penyamaran sebagai rakyat biasa, Yi Feng dan Yu Chen pergi ke tempat tujuan mereka kali ini.
Mereka harus berkuda selama lima menit, dan setelah itu disambut dengan keramaian kota dimalam hari.
Banyak lampion yang bergantungan, orang-orang yang berlalu-lalang, para pedagang yang juga menjajakan dagangannya, terlihat sangat ramai dan menyenangkan.
"Pasar ini tak pernah sepi saat malam tiba. Bla.. bla..bla..." Sepanjang jalan Yu Chen menjelaskan banyak hal kepada tuannya yang adalah seorang anti sosial, dia pikir Tuannya penasaran dengan kegiatan masyarakat di ibukota.
Yi Feng mengangguk, beberapa kali bertanya dengan arah yang ia tunjuk, dan beberapa kali bertanya tentang hal-hal tentang makanan di kerajaan ini.
Merasa telah saatnya makan malam, mereka berjalan kearah salah satu restoran yang terlihat ramai.
Saat masuk, keributan didalam sana jelas terdengar dari depan pintu. Hampir semua meja yang ada diisi oleh pelanggan, salah seorang pelayan yang bertugas untuk menerima tamu segera menuntun mereka pada salah satu meja yang masih kosong namun yu Chen merasa tak nyaman dengan itu.
"Kami memesan ruangan pribadi (private room), Tuanku tak nyaman jika bersama banyak orang dalam satu ruangan." ujar Yu Chen menghentikan langkah pelayan itu.
"Baik, Tuan. Mari kita ke lantai dua, disana terdapat ruangan pribadi," pelayan itu membawa dua pemuda kelantai dua.
Jika dilantai satu terlalu ramai dan ribut, lantai dua tak sama seperti dibawah sana. Disini banyak ruangan-ruangan yang bentuknya seperti kamar namun dengan ukuran lebih kecil. Pelayan tadi membawa mereka kesalah satu ruangan, membukanya lalu mempersilakan kedua pria itu masuk.
Tak lupa ia memberikan daftar menu pada dua pria itu.
"Kami memesan makanan paling enak di sini, aku menginginkan nya." ujar Yi Feng, membuat pelayan itu menatapnya dengan penasaran.
Siapa dibalik topeng itu? Namun bukankah itu adalah privasi pelanggan?
Jendela dibuka, membiarkan mereka melihat aktivitas para masyarakat dari lantai dua.
Tak beberapa lama, pelayan tadi kembali dengan membawa pesanan mereka.
Berbagai macam jenis makanan telah disediakan diatas meja, dua mangkuk nasi, sayuran dan olahan daging dan ikan. Terlihat sedikit menggunggah selera.
Yi Feng mengambil sumpit, ia mulai mencicipi makanan di restoran itu.
Keningnya mengerut saat merasakan sayuran disana, sangat tawar.
Beralih pada daging, terlalu asin.
"Uhukkk.. uhukkk..."
Melihat tuannya terbatuk, Yu Chen dengan cepat memberikan teh yang sudah diseduh ke dalam cangkir.
Yi Feng menerimanya, namun rasa asin yang berada dalam mulutnya tetap saja terasa. Ia sampai menghabiskan satu teko teh agar bisa menetralkan rasa asin di mulutnya.
"Mereka ingin membunuhku?!" pekik Yi Feng.
"Ya-yang Mulia?" Dengan segera Yu Chen memeriksa makanan yang barusan dimakan oleh pangeran nya, namun ia tak menemukan apapun didalam sana.
"Rasanya sangat buruk. Inikah makanan terenak di sini?" tanya Yi Feng pada Yu Chen, ten
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Dewi Ansyari
Dagingnya Asin jangan2 kokinya minta kawin lagi tuh Thorr,,,di kawinin aja🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2022-06-12
1
Anonymous
wajah bs menghancurlan kerajaan lbh cocok tuk cew😁
2021-10-03
0
lien
maklum blom ada micin azka
2021-09-28
0