Azka kembali ke dunia nyata tepat ketika makan siang, saat pelayannya masuk kedalam kamar untuk mengantarkan makan siang nya.
"Yang mulia, makan siang anda." ujar Yu Chen.
"Letakkan saja disana." Balas Azka, Yu Chen segera meletakkan makan siang tuannya diatas meja, menyusunnya dengan rapi dan tak menimbulkan suara yang keras.
"Silahkan, Yang mulia." lajut Yu Chen lagi setelah selesai menyiapkan semua itu.
Azka menatap makanan yang terletak diatas meja dengan kilas, ia berjalan mendekat lalu duduk disana.
"Yu Chen, kemari sebentar." panggil Azka, pelayannya segera mendekat.
"Ya, Yang mulia." balas Yu Chen, ia duduk disamping kanan Azka sambil menundukkan kepalanya.
"Makanlah. Aku tak berselera pada makanan ini." ujar Azka tanpa menyentuh apapun disana.
Yu Chen mengangkat wajahnya dan menatap Azka, "maaf, Yang mulia?"
"Habiskan makanan itu. Aku tak berselera." ujar Azka lagi untuk kedua kalinya.
"Tapi, Yang mulia-"
"Habiskan!" potong Azka cepat.
Yu Chen menundukkan kepalanya, ia mengambil sumpit yang berbeda dengan milik Tuannya, ia mulai mengunyah makanan yang ada.
Sementara Azka, sebenarnya ia sudah kekenyangan. Sebelum ia keluar dari dalam ruang dimensi, ia sempat memasak mie instan dengan campuran dua telur mata sapi, plus kimchi yang tersedia didalam kulkas milik kakaknya.
Ia sungguh terpesan dengan isi rumah itu, semua kebutuhannya tersedia. Mulai dari makanan, koin emas, senjata yang adalah milik Axila saat menjalankan tugasnya, ditambah dengan ponsel dan laptop milik Axila yang lama namun masih sangat bagus, elektronik dan masih banyak lagi.
Hanya satu yang kurang.
Pakaian nya.
Axila tak menyimpan pakaiannya disana, memang ada namun sangat sedikit. Itupun hanya lima Hoodie berbeda warna, 6 baju dan 4 celana serta beberapa pasang dalaman saja.
Sungguh, kakaknya benar-benar ajaib.
Pantas saja ia memiliki semuanya, karena semua itu berasal dari dalam sini.
Jika tak ada uang, tinggal menjual berlian dan beberapa kristal saja serta emas entah dalam bentuk koin atau batangan.
Sejak ia berusaha untuk mengikuti apa yang ia tonton di drama, tak ada apapun yang ia rasakan. Bahkan sudah berjam-jam, ia malah dikejutkan dengan Louis yang menertawakan nya dan mengatainya bod0h.
Tentu saja, karena memang ia tak mengetahui apapun tentang begituan. Hingga akhirnya Louis menjelaskan bagaimana cara berkultivasi, menyerap aliran Qi dan lain sebagainya.
Bahkan pria itu mengajari Azka menguji elemen yang ia punya, dan hasilnya.
Ternyata Azka memiliki dua elemen sekaligus.
Yaitu Es dan petir.
Azka bahkan bukan lagi terkejut, ia malah kebingungan lalu melompat dan bersemangat.
"Daebak....
Aku mempunyai kekuatan nya Elsa? Ice? Frozen?
Ouch.. I like it!"
Azka berputar dan sangat gembira mengetahuinya, dan semua itu diluar dari dugaan Louis.
Ia pikir Azka akan pingsan atau apalah. Sungguh diluar dugaan bocah itu.
Tentu saja bagi Louis Azka masih bocah, terlalu kekanak-kanakan dan lain sebagainya.
Ia beralasan jika ia membantu Azka hanya karena anak itu adalah adik dari tuannya.
Jika tidak, mungkin sudah ia lemparkan keluar angkasa atau melemparnya kedalam lautan Pasifik.
Kembali pada Azka, kesadaran kembali saat Yu Chen mengatakan ia sudah kenyang, Azka membiarkan pria itu pergi dan meninggalkan kamarnya.
"Aku masih sangat penasaran dengan dunia ini. Aku tak tahu apapun disini, siapa saja keluarga ku, orang yang berpihak padaku atau lainnya.
Setidaknya, aku harus mengetahui semua itu.
Tapi dimana aku harus mencari tahu semuanya?" gumam Azka, otaknya terus berfikir sampai suara seorang pria mengatakan kedatangan Kasim Han, Kasim sang kaisar.
"Biarkan dia masuk." ujar Azka, entah mengapa tapi ia tiba-tiba saja melihat topeng yang berada dimeja, tempat dimana semua barang-barang pangeran kedua diletakkan.
Azka mengambil dan dengan cepat mengenakan topeng itu. Ia merasa tak ingin menunjukkan wajahnya pada siapapun, apakah ini reaksi dari tubuh yang ia tempati?
Entahlah, ia hanya mengikuti saja.
Saat pintu terbuka dan kemunculan Kasim Han, pria itu melihat punggung Azka yang sedang membelakanginya.
"Salam hamba pada, Yang mulia pangeran kedua." ujar Kasim Han sambil membungkuk memberikan hormat.
"Hmmtt.... bangun." ujar Azka.
Kasim mengangkat kepala, "Yang mulia. Hamba datang membawa pesan dari yang mulia Kaisar."
"Katakan." ujar Azka lagi, ia merasa harus bermain peran saat ini. Yah, ia mulai berakting sama seperti yang sering ia lakukan saat di zaman modern, berakting dan memerankan perannya dengan baik, namun sepertinya ini akan berbeda. Karena ia tak menggunakan naskah, namun mengarangnya sendiri.
"Yang mulia Kaisar meminta anda untuk datang keperjamuan makan malam, malam ini. Yang mulia." ujar Kasim Han.
'Astaga!
Aku hampir melupakan hal yang paling penting, untung saja kau mengingatkan aku.' batin Azka.
"Kau tahu jawabannya" balas Azka dengan refleks. Omo, ini diluar kendalinya. Tidak, ini bukan yang ingin dikatakan olehnya.
"Baik, Yang mulia. Kasim ini undur diri. Salam." setelah memberikan hormat, Kasim itu berlalu dari hadapan Azka.
"Omo! Apa yang aku katakan? Apa mungkin ini kebiasaan dari pangeran ini? Huhhh... sepertinya begitu.
Aku harus mengetahui kebiasaan nya dan semua yang ada disini.' ujar Azka, untung saja pelayannya tak ada disana.
Dan satu, Azka mulai bertindak. Karena seperti yang berada dalam ingatannya, selir itu dan anaknya mengatakan jika salah satu pelayannya adalah orang mereka.
Azka mulai mengeluarkan kamera tersembunyi miliknya, ia memasangnya disekitar kamarnya lalu melihat hasilnya dalam smartphone yang sekarang ini ia miliki.
Semua ini telah dimulai. Azka harus berakting dengan sempurna.
Bahkan tak lupa, ia juga menyembunyikan penyedap suara disekitar sana, entah dikamar mandi sampai kamar tidurnya.
Azka meminta bantuan Louis untuk mengakses sekitar istana, siapa saja orang yang menjadi musuhnya.
Azka mengambil tindakan secara sembunyi-sembunyi untuk pergi ke kediaman selir agung dan kediaman pangeran ketiga.
Tak ada yang luput dari pengawasan Azka, ia begitu cepat sehingga tak diketahui oleh para pengawal ataupun pelayan disana.
Azka memasang peredam suara, kamera tersembunyi agar mempermudah mengetahui sampai dimana rencana kedua anak dan ibu itu.
Azka melakukan semua itu hingga hari mulai menjelang sore, ia duduk di dalam kamarnya sambil menonton dan mendengarkan apa saja rencana mereka.
Tiba malam harinya.
Didalam ruang perjamuan anggota keluarga kerajaan, telah berkumpul semuanya, Mulai dari Permaisuri, Pangeran Mahkota, Selir Agung, Selir kehormatan, Pangeran ketiga dan putri pertama.
Hanya Kaisar dan pangeran kedua saja yang belum hadir.
"YANG MULIA KAISAR AGUNG DAN YANG MULIA KAISAR TERDAHULU MEMASUKI RUANG PERJAMUAN...!" Suara dari salah satu Kasim membuat semuanya sontak berdiri, mereka menundukkan kepalanya saat mendengar langkah kaki memasuki ruangan itu.
"Salam kepada Yang Mulia kaisar dan kepada Yang mulia Kaisar terdahulu." Salam mereka sambil memberikan hormat.
"Duduklah." balas Kaisar Xian, ia mendudukkan dirinya di bangku utama, sebagai pemimpin, dan didepannya terdapat ayahnya atau bisa dibilang Kaisar terdahulu. Sedangkan disamping kiri maupun kanan terdapat anggota kerajaan yang lainnya, semua kursi sudah diduduki oleh tuannya hanya satu saja yang belum dan masih kosong.
Bangku milik pangeran kedua.
Melihat itu, Kasim Kaisar ingi mengatakan sesuatu namun dipotong oleh pangeran ketiga.
"Maaf, Yang mulia. Sepertinya kakak kedua tak akan datang sama seperti biasanya, tak menghadiri perjamuan makan malam, lagi." ujar Pangeran ketiga, Lu Guo Feng. Anak angkat dari Selir Agung, Lu Mei Lan.
Sepertinya itulah yang diketahui oleh semua orang.
Namun tidak dengan Azka yang sudah mengetahui semuanya.
"Mulai!" Satu kata yang keluar dari bibir pria nomor satu itu segera dilaksanakan, para pelayan mulai memasuki ruang perjamuan lalu meletakkan nampan berisi makanan diatas meja, semuanya dilakukan dengan tenang tanpa bicara.
Kaisar Xian mulai mengambil sumpitnya, pelayan pribadi kaisar secara langsung mengambil kan makanan untuk junjungan nya.
Saat pertengahan makan malam, pintu tiba-tiba terbuka. Kaisar Xian menghentikan makannya, begitupun dengan yang lainnya. Melihat seorang pria bertopeng yang memasuki ruang perjamuan itu.
Tak ada pengumuman seperti biasanya, semuanya hening dan tak bersuara.
Langkah kaki Azka memasuki ruangan, ia melihat satu-satunya kursi yang masih kosong, ia berjalan mendekat. Azka tahu, itu pasti bangkunya.
"Salam kepada Ayah Kaisar, Kakek Kaisar dan yang lainnya." ujar Azka dengan intonasi yang dingin.
Hening, tak ada yang mengatakan apapun.
"Duduk." Ujar Kaisar Xian dingin, Azka tak membalas lagi, ia terus berdiri.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau tak mendengarkan perintah kaisar?" Ujar Selir Agung Lu, namun Azka masih terus berdiri dan tak menanggapi ucapan wanita itu.
"Apa kau tuli?!" sambung pangeran ketiga. "Kau bahkan dengan lancar tak menghormati kaisar." sambungannya lagi.
"Dimana aku harus duduk, jika tempatku sudah diduduki oleh orang lain?" balas Azka dingin, matanya menatap tajam pada pangeran ketiga.
"Pindah!" satu kata yang keluar dari bibir pria tua itu sontak membuat semuanya menatapnya. Yah, itu adalah Xian Guo. Kaisar terdahulu.
Ia menyadari jika tempat Cucunya sudah diduduki oleh orang lain, yang adalah pangeran ketiga.
Semuanya masih bingung, namun tidak dengan Putra Mahkota yang menyadari hal itu.
"Kau masih berani duduk ditempat adikku, pangeran ketiga?"
Ucapan itu sontak membuat semua orang sadar, mereka dengan serempak menatap kearah para pangeran itu.
Dengan kesal pangeran ketiga bangun dari duduknya, ia berpindah ke tempatnya dan membiarkan bangku itu kosong namun sang tuan masih terus berdiri.
"Sekarang apa lagi?" Ujar pangeran ketiga pada Azka yang masih berdiri.
"Pengawal!" pekik Azka, semua orang menatapnya dengan bingung termasuk Kaisar Xian yang menatapnya dengan datar.
"Untuk apa kau memanggil pengawal, Putraku?" tanya Permaisuri angkat bicara.
"Aku tak akan pernah mau mengambil bekas orang lain, termasuk tempat dimana aku harus duduk.
Aku merasa sangat jijik terhadap hal itu." ujar Azka tajam, bilang saja ia tak mau duduk di bangku yang sama dengan yang diduduki oleh pangeran ketiga.
"Kau!!!"
"Diam!" bentak Kaisar Xian, semua orang langsung mengunci mulutnya dan tak mengeluarkan suara lagi, hanya terus bicara dalam batin mereka saja.
Tentu saja semua orang tahu, jika Kaisar mereka tak ingin ada keributan saat sedang berhadapan dengan makanan.
Pria itu terlalu dingin dan kejam pada siapapun
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
nadira ST
walah thor, si aska ini ko menggunakan ponsel emang ada jaringan thor ini ni namanya keenakan si aska
2024-07-13
1
Anonymous
cb tuh dr awal,dicritakan azka msk ke siapa.hny disebutkan pangeran ke 2, n pny saudara kembar.yah walaupun readers bs menebaknya tp lbh bgs lg dicritakan dgn detail.br lbh seru bc nya
2021-10-03
1
guest1052940504
nyimakkkk
2021-05-20
1