Mata Azka mulai terbuka, dia mengerjap matanya sebentar untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya.
"Mimpi yang buruk." gumamnya, ia bangun dari pembaringannya, melihat sekitar yang berbeda dari kamarnya di rumah ataupun di hotel tempat terakhir kali ia berada.
"Heii.. ada apa dengan ruangan ini?" tanya Azka namun tak mendapati siapapun disana. Ruangan itu kosong hanya ada dirinya disana.
"Mengapa tempat ini seperti dalam mimpiku? Haiss... ini pasti hari yang buruk." ujarnya lagi.
Saat melangkah, kakinya terasa sangat berat.
"What happen?" ujarnya lagi, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah seorang pria.
"Yang mulia, anda sudah sadar?" ujarnya, membuat Azka mengalihkan pandangannya pada pria yang berpakaian pelayan itu. Ia terlihat bahagia melihat tuannya yang sedang berdiri, namun memandang nya dengan kebingungan.
"Apa ada yang terasa sakit, Yang mulia?" tanyanya sambil berjalan mendekat.
"Siapa kau?" tanya Azka dengan penuh kebingungan.
"Ya-yang mulia tak mengingat hamba? Ini aku, Yu Chen. Pelayan anda." ujarnya dengan raut wajah yang sedikit sedih.
"Hei!....
Apa-apaan ini?!" bentak Azka kesal.
Tunggu sebentar, itu artinya ia sedang melakukan perjalanan waktu? Sama seperti kakaknya yang pergi ke masa depan?
"Cermin!... Aku butuh cermin. Dimana cermin?" tanya Azka cepat, dia juga melihat sekelilingnya.
Yu Chen segera beranjak dan mengambilkan cermin untuk Tuannya.
"I-ini, Yang mulia." ujarnya sambil memberikan cermin yang terbuat dari Kuningan pada Azka.
Azka melihat pantulan wajahnya yang kabur, meskipun begitu tetap saja masih bisa dilihat.
"Arghh!! Sialan!!" pekik Azka kaget.
Jadi benar, ia melakukan perjalanan waktu kemasa lalu, dan sialnya lagi ia tak tahu apapun.
Tapi tunggu sebentar, bukankah ingatan itu melekat padanya? Meskipun hanya bermula ketika pangeran dituduh sampai pangeran meninggal saja.
"Hari yang sial!" gumam Azka kesal.
"Hei, dimana kita berada?" tanya Azka.
"Ini di kediaman anda, Yang mulia. Kediaman Bulan." balas pelayan yang berdiri tepat dibelakangnya.
Sepertinya, pelayan ini sangat setia pada tuannya. Pikir Azka.
"Lalu namaku?" tanya Azka, "ah tidak. Aku mengingat namaku." sambung Azka cepat. Kala ingatan dimana pangeran ketiga memanggil namanya dan mengejeknya.
"Apa, Yang mulia menginginkan sesuatu?" tanya Yu Chen dengan ragu.
"Tidak. Pergilah." balas Azka.
"Hamba pamit undur diri, Yang mulia." ujarnya sambil memberikan hormat dan berlalu dari sana.
Azka berjalan dan duduk diatasnya pembaringan miliknya, "ini kasur atau batu? Keras sekali." gumamnya.
Namun semua itu tak penting untuk saat ini, yang terpenting adalah. Bagaimana caranya ia bisa tiba disini? Bukankah ia sedang berada di Sanghai?
Ia mengingat kembali bagaimana caranya sampai, ia terjatuh kedalam kolam renang dari kamarnya karena ingin menolong keponakannya, namun malah berpindah dimensi.
Ia juga ingat, jika sebelum itu ia mengenakan kalung milik kakaknya.
Yah, kalung. Segera ia meraba dadanya, ia menemukan sesuatu.
Disana, melingkar kalung yang sama dengan milik kakaknya.
"Apa kalung ini yang membawaku kesini?" gumam Azka.
Tiba-tiba kalung itu bercahaya, lalu keluarlah seorang pria yang sepertinya familiar Dimata Azka.
"Kak Louis??!" pekik Azka.
Yah, Louis. Makhluk yang dikontrak oleh Axila dan menjaga ruang dimensi miliknya.
"Huhh.. jadi ternyata benar, jika aku kembali ke masa ini." ujar Louis sambil memperhatikan sekitar kamar Azka.
"Kak, bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Azka bingung, syukurlah ia menemukan seseorang yang ia kenal.
"Kau, bagaimana bisa kau membawa ku juga kesini?" balas Louis sambil memijit pelipisnya.
"Hei! Pertanyaan ku belum kau jawab, Yah!" balas Azka, yang ia tahu, Louis adalah teman dari kakaknya.
Bukannya menjawab, Louis malah bergumam sendiri.
"Sepertinya kalung dimensi milik nona adalah kunci. Itulah sebabnya bocah ingusan ini bisa tiba disini dan menempati tubuh itu." gumamnya, meskipun begitu Azka masih bisa mendengarnya.
"Ka-kalung dimensi? Kunci? Apa maksudmu?!" Oh, ayolah. Azka bukan orang yang sabaran.
"Kau tak tahu? Kalung yang kau kenakan itu adalah kunci untuk menghubungkan dua dunia ini. Itulah sebabnya kau bisa berada disini, dan Nona juga bisa pergi ke masa depan." balas Louis.
Oh tidak. Azka menjambak rambutnya dengan frustasi, apakah itu artinya ia tak akan bisa kembali lagi kemasa depan?
Tidak! Ia harus kembali!.
"Kalau begitu, aku harus kembali saja." ujar Azka menatap Louis serius.
"Itu tidak mudah. Seperti hal nya Nona yang pergi kemasa depan untuk melakukan tugasnya. Aku juga sepertinya mempunyai tugas tersendiri." ujar Louis.
"Maksud mu?" tanya Azka tak paham.
"Tugas Nona adalah menjagamu dan membalaskan dendam pemilik tubuh, atau kakakmu yang asli pada mantan tunangan dan mantan sahabatnya.
Begitu juga kau, kau mempunyai tugas tersendiri.
Apa ada ingatan yang masuk kedalam otak kecilmu itu? sama seperti mimpi bagimu."
Kini Azka paham. Hal terakhir yang diucapkan oleh pemilik tubuh terngiang-ngiang di otak dan ingatannya.
"Aku paham sekarang. Lalu, apa aku juga akan kembali setelah tugasku selesai?"
"Sepertinya begitu. Asalkan kau tak pernah melepaskan kalung teratai milik Nona dan selalu menyembunyikan kalung itu." ujar Louis menjelaskan.
"Baiklah." balas Azka, namun wajahnya terlihat sangat kusut tak seperti dia di zaman modern.
"Dan sepertinya, kau bisa menggunakan ruang dimensi milik Nona. Semua kebutuhan mu berada di sana, namun ketika di masa depan saja." Ujar Louis.
"Sungguh?" sambung Azka semangat. Ia langsung saja mendekati Louis.
"Em, bagaimana cara aku bisa pergi ke dalam sana?" tanya Azka dengan tatapan berbinar.
"Pegangan tangan ku." ujar Louis, Azka segera memegang tangan Louis lalu mereka menghilang dari sana.
Didalam ruang dimensi milik Axila, semuanya terlihat sangat indah.
Ada rumah dua lantai yang sama persis seperti didunia nyata.
"Ini, bagaimana mungkin?" ujar Azka tak percaya. Rumah yang sama persis dengan milik kakaknya.
"Tentu saja mungkin, karena apapun yang diinginkan oleh Tuan, hewan kontrak harus memberikannya." balas Louis.
"Aku masih tak mengerti, namun aku akan belajar untuk mengetahui Dunia yang saat ini aku tempati." ujar Azka.
"Harus. Karena aku hanya akan sedikit membantu mu saja, kau ini bukanlah Tuanku." ujar Louis.
"Kalau begitu, kau ini hewan kontrak jenis apa?" tanya Azka polos.
"Aku bukanlah hewan, namun seorang Dewa yang dikutuk dan diturunkan ke dunia bawah.
Aku bisa berubah menjadi tumbuhan langka, maupun naga.
Aku ditempatkan untuk menjaga ruang dimensi Teratai emas, namun sebelum itu aku harus bertemu dengan tuanku terlebih dahulu.
Saat dimana kakakmu tiba di zaman modern, hari itu pula aku bertemu dengannya. Sebenarnya ia yang menemukan ku." ujar Louis panjang lebar.
Azka memang melihat banyak bunga Teratai yang berwarna emas mengapung diatas permukaan danau, dan ada air terjunnya juga.
"Aku merasa nyaman disini." ujar Azka, ia membaringkan tubuhnya diatas rumput tanpa mau masuk kedalam rumah.
Tiba-tiba lolongan serigala membuat Azka tersentak, ia melihat ada serigala yang sedang mendekat.
"Kak Louis, tolong aku..." Azka menjerit, ia berlari ketika serigala itu berjalan kearahnya.
Louis tertawa terbahak-bahak, Azka terlihat sangat ketakutan.
"Even, hentikan itu. Nona akan marah jika mengetahui keusilan mu itu." ujar Louis.
Mendengar teguran Louis, Even si serigala itu menghentikan langkahnya, ia malah berbalik arah dan tidur dibawah salah satu pohon yang rindang.
Azka sangat takjub pada Louis yang bisa memerintah serigala itu untuk berhenti, Azka segera berlari kearah Louis dan berlindung dipunggung Louis.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Louis bingung.
"Hewan itu sangat berbahaya, bagaimana bisa dia menuruti ucapanmu?" ujar Azka keheranan.
"Namanya Evan, serigala kesayangan kakakmu. Sudahlah, lebih baik kau berlatih lalu menyerap aliran Qi yang berada disini.
Oh yah, sebelum itu kau harus berendam di bawah air suci terlebih dahulu." ujar Louis lalu menghilang.
Azka bingung, namun ia menurut juga. Sesekali matanya melirik ke arah Evan, memastikan serigala itu tak mendekat kearahnya.
Azka juga merasa jika tubuhnya terlalu berat, ia menuruti ucapan Louis untuk membersihkan tubuhnya dibawah air terjun itu.
"Sepertinya sangat menyegarkan jika aku berenang disana." ujar Azka, ia melepas beberapa helai baju yang ia kenakan.
Lalu memasukkan kakinya kedalam pinggiran air terjun. Terasa dingin dan menyegarkan.
Azka bukan berendam, namun berenang bebas didalam sana. Tubuhnya juga terasa mulai meringan tak sama seperti sebelumnya.
Azka teringat drama China yang pernah ia tonton.
Apakah ia harus mengikuti apa yang ia tonton?
Sepertinya ia. Dunia ini tak ia mengerti, Bukan?
Dan sepertinya, ia juga memiliki elemen sama seperti kakaknya.
Azka melihat ada batu yang berada persis ditengah danau, ia pergi kesana dan mulai memposisikan tubuhnya. Duduk diatas batu itu, kakinya saling silang sama seperti sedang yoga, dan mulai menutup matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
ayuuu...azka berjuanglah...
2024-06-23
0
A.0122
kocak jg si azka
2022-06-05
1
Anonymous
awal yg menarik,walaupun crita ini bercrita dr sisi cow/azka
2021-10-03
0