Mentari Kembali menampakkan dirinya, membuat orang-orang diluar sana sudah mulai dengan aktifitas mereka.
Mata yang sejak tadi tertutup perlahan mulai terbuka, tak tubuhnya terasa lemah namun ia tetap memaksakan dirinya untuk bangun.
Matanya menangkap sosok lain didalam kamar tidurnya, seorang pemuda tampan yang memiliki wajah sama persis sepertinya, layaknya pinang yang dibela dua.
Ingatannya kembali pada kejadian semalam, dimana ia merasakan sentuhan tangan yang dingin dan itu membuatnya merasa sedikit tenang, ia juga mengingat saat ia diberikan minum oleh pria itu dan selanjutnya ia memuntahkan isi perutnya, lalu beralih saat dimana ia memakan bubur namun dengan rasa yang berbeda.
"Yi Feng." panggilnya lemah, namun tak didengar oleh kembarannya itu.
"Pangeran Yi Feng." panggilnya lagi.
Azka, dalam tidurnya ia memimpikan kakaknya yang membangunkan dia, sungguh kakaknya selalu terlihat sangat cantik ketika ia melihat wajah itu dipagi hari.
Ia merasa ada yang mengguncang tubuhnya.
"Noona-aa.... lima menit lagi." ujar Azka dengan suaranya yang paruh itu.
Yi Fang, kerutan terlihat dikening nya. "Pangeran Yi Feng!"
Azka tersentak, matanya langsung terbuka dan melihat kesampingkannya.
'Haisss.... ternyata hanya mimpi dan aku masih terjebak disini' batin Azka.
"Ada apa?" tanya Azka santai, bangun dari tidurnya dan duduk menghadap pada kembarnya.
"Mengapa kau tidur disini dan bukan di kediaman mu." ujar Yi Fang.
"Jika aku pergi, mereka akan membunuhmu. Sudahlah, kau bersihkan tubuhmu. Aku pergi sebentar." ujar Azka, ia berlalu dari kamar dan kediaman Putra Mahkota.
Putra Mahkota alias Yi Fang sedikit menegang ditempatnya, memanggil pelayan nya dan memerintahkan untuk menyiapkan air hangatnya.
Azka meninggalkan kediaman itu pergi ke dapur kerajaan, namun sebelum itu ia masuk kedalam ruang dimensi dan membersihkan tubuhnya agar rasa kantuknya menghilang, tak lupa mengganti pakaiannya didalam sana.
Setelah tiba di dapur kerajaan, Azka kembali dihalangi agar tak menggunakan dapur yang katanya tak pantas untuk didatangi oleh pangeran seperti nya. Namun Azka tak mendengarkan mereka.
"Siapkan saja apa yang aku minta dan jangan lagi membantah!
Aku akan membuatkan sarapan untuk kakakku." ujar Azka datar plus dingin, tak ada kehangatan didalam nada bicaranya.
"Ba-baik, Yang Mulia." balas mereka kompak. Mereka kembali menyiapkan bahan-bahan yang Azka minta, ada ayam, sayuran dan telur.
Azka kembali membuat bubur ayam, dengan telur dadar gulung ala Korea.
Tak ada yang berani mengganggu sang pangeran yang sedang memasak, semalam pangeran itu memang masuk kedalam sini untuk pertama kalinya, mereka tak dapat melihat wajahnya karena berada dibalik topeng sana.
Langkah kakinya Azka kembali kearah kediaman Putra Mahkota, beberapa pelayan dan dua orang Kasim mengikuti langkah Azka dari belakang sana.
Para prajurit yang ditemui selalu menundukkan kepala mereka sebagai tanda penghormatan, Azka hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
'Krieeett'
Pintu kembali terbuka, menampilkan sosok yang mengenakan baju seorang pangeran kerajaan memasuki kamar itu.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa Kasim tak mengumumkan kedatangan mu?" tanya Yi Fang.
Azka melihat kesamping, menyadari jika pangeran itu menyuruh semuanya keluar dari sana, mereka segera menuruti perintah.
"Aku membuatkan mu sarapan, kau tak boleh makan yang keras-keras untuk saat ini dan dua hari kedepannya," Azka meletakkan nampan yang berisi makanan diatas meja.
"Kemari, ayo kita sarapan." ujar Azka.
Merasa jika kembarannya tak mendekat, Azka kembali angkat bicara.
"Aku tak memberikan mu racun, tak ada adik yang membunuh kakaknya hanya karena gila akan gelar dan kekuasaan." ujar Azka namun Yi Fang tak bergeming sedikitpun dari tempatnya.
Alih-alih merayu, Azka justru membuka penutup makanan dan mengambil sendok yang terbuat dari perak itu.
Azka menatap kepulan asap putih yang keluar dari bubur.
Happ...
"Ughh.... benar-benar nikmat. Rasanya sudah beribu tahun tak menikmati bubur kesukaanku ini." ujar Azka, kembali suapan bubur masuk kedalam mulutnya, mengambil sumpit lalu memasukkan telur kedalam mulutnya.
"Arghh... sungguh nikmat."
Matanya menatap kearah kembarannya yang masih menatapnya.
"Yakin tak mau? Ya sudah."
Melihat adiknya yang sepertinya sangat menikmati makanan itu, Yi Fang berjalan kearah meja lalu duduk ditempatnya, berhadapan dengan Azka.
(Kayaknya make nama Azka di zaman ini dengan nama pangeran kedua aja yah, biar nggak bingung.)
Yi Feng tersenyum simpul, ia mengambil mangkuk yang berbeda lalu memasukkan dua sendok bubur didalamnya. Setelah itu meletakkan didepan Yi Fang.
Yi Fang menatap ragu lagi, ia mengambil sendok nya lalu memasukkan bubur kedalam mulut nya.
Matanya sedikit membulat, terlihat sangat menikmatinya.
"Mengapa rasanya sangat enak? Ada campuran daging ayam ditambah dengan sayuran didalam sini. Aneh namun sangat enak" gumamnya,
Ia kembali melahap bubur yang dibuatkan oleh Yi Feng.
Sedangkan pria itu, dia menggelengkan kepalanya melihat reaksi dari pria dihadapannya.
Yi Fang mengambil telur dan meletakan nya diatas sendok yang sudah terdapat bubur itu.
"Ditambah telur akan lebih nikmat, cobalah." ujar Yi Feng.
Pria dihadapannya memasukkan sendok berisi bubur dan telur kedalam mulutnya, apa yang dikatakan oleh kembarannya memang benar. Ternyata lebih enak lagi seperti ini.
...-------...
"Bagaimana bisa seorang pangeran memasuki dapur kerajaan? Apa kau tak la-"
"Aku masuk kedalam sana karena tak percaya kepada mereka yang akan membuatkan mu makanan. Jika aku membiarkannya, mungkin saja mau kembali diracuni." potong Yi Feng, ia menatap serius pada kembarnya.
"Sebentar lagi aku harus pergi dan bicara dengan Ayah Kaisar, jika kau ingin mengetahui apa yang aku lakukan sebaiknya kau juga ikut saja." tambah Yi Feng lagi.
Dan disinilah keberadaan mereka sekarang. Didalam aula dengan orang-orang yang tak dikenali oleh Yi Feng.
Semua mata menatap padanya, bukan hanya Kaisar dan Permaisuri, tetapi juga semua anggota keluarga kerajaan dan para menteri.
"Jadi, apa yang ingin kau jelaskan, Pangeran Yi Feng? Kau mengetahui sesuatu dibalik kejadian semalam?" tanya Kaisar Xian.
"Apa yang dikatakan oleh Ayah Kaisar memang benar, aku mengetahui rencana mereka yang ingin membunuh SAUDARA KEMBARKU." balas Yi Feng, ia sengaja menekan kata akhirnya.
"Cihh... memangnya kau mempunyai bukti? Omong kosong!" sambung pangeran ketiga.
"Jika aku memberikan bukti, apakah Ayah Kaisar percaya pada Pangeran ini?" ujar Yi Feng menatap Kaisar dengan berani.
"Ayah Kaisar tahu, seperti apa kepribadian pangeran ini, bukan?
Pangeran ini hanya akan keluar dari kediaman hanya jika terjadi sesuatu yang sangat penting.
Jika itu bersangkutan dengan keamanan dan keselamatan dari Ibu Permaisuri dan saudara kembarku." Jeda Yi Feng, "maka Ayah Kaisar juga harus mengetahui hal ini." Yi Feng menoleh kearah Jendela Hong yang saat itu juga menatapnya.
"Keluarkan penghianatan itu, Jendral." perintah Yi Feng.
"Baik, Yang Mulia." Jendral itu mengangguk,
"Bawa mereka masuk!" ujar Jendral Jong dengan suara yang lantang.
Pintu terbuka, dua orang dilemparkan kedalam sana.
Semua orang sangat terkejut dan menatap kearah dua orang yang berbeda jenis kelamin itu.
Mereka dipaksa untuk berjalan sampai dibelakang pangeran Yi Feng.
Sementara itu, Selir Agung Lu dan Pangeran ketiga Lu sudah menegang, bulir-bulir keringat dingin keluar dari pelipis Selir Agung Lu, berbeda dengan Pangeran ketiga yang bisa mengendalikan dirinya.
Yi Feng tersenyum simpul, ia melihat gelagat dari kedua orang itu. Satu kata yang dia berikan pada mereka. "B0doh!"
Berbeda dengan Kaisar Xian yang menatap mereka heran, kedua orang itu sudah babak belur dan terdapat noda darah yang mengering disekitar wajah mereka.
"Apa maksudmu, Pangeran Yi Feng?" tanya Kaisar.
"Pria ini," Yi Feng menunjuk pelayan yang bekerja dikediaman nya. "Aku menangkap basah dia sedang menyelinap masuk kedalam kamarku dan meletakan racun tikus dibawah kasurku." pandangan Yi Feng beralih pada wanita disebelah lagi.
"Sedangkan Wanita itu, aku menangkap basah dia sedang berusaha untuk membuang sisa makanan yang dimakan oleh Kakak Putra Mahkota." pandangan Yi Feng sungguh sangat menusuk.
"Jadi, maksud mu?" ujar Kaisar Xian.
"Ayah Kaisar pasti mengerti apa yang aku maksud.
Semalam, sebelum perjamuan makan malam dimulai. Wanita ini menaruh bubuk racun tikus didalam peralatan makan Kakak Putra Mahkota, sedangkan pria ini mencoba untuk menjadikan Pangeran ini sebagai tersangka dibalik keracunan makanan yang dialami oleh kakak Putra Mahkota.
Namun diluar dugaan, pangeran ini menangkap basah apa yang mereka lakukan." jelas Yi Feng panjang lebar.
"Namun, makanan yang kita makan tak ada racunnya, 'bukan?" tanya Selir kehormatan.
Yi Feng mengangguk, "Tak ada racun yang mereka taburi didalam makanan, hanya didalam peralatan makan Kakak Putra Mahkota, saja." ujarnya.
Kaisar Xian menatap Jendral Jong, "Jelaskan, Jendral." ujar Kaisar Xian, dia juga ingin mendengar penjelasan dari pria itu.
"Saya tiba-tiba mendapatkan panggilan dari Pangeran kedua Yi Feng, ia mengatakan telah terjadi sesuatu didalam kediaman Pangeran.
Hamba dan beberapa prajurit pergi dan mendapati pria ini yang sedang dicambuk oleh pelayan setia Pangeran. Lalu pangeran menjelaskan jika mendapati pelayan rendahan ini sedang menyusup masuk kedalam kamarnya dengan membawa racun.
Diduga untuk menjebak pangeran Yi Feng, namun diluar dugaan. Pangeran Yi Feng langsung pergi ke aula perjamuan dan mengikuti makan makan.
Pangeran menyuruh kami untuk menahan pelayan ini, lalu setelah jamuan makan malam berakhir, saya kembali dipanggil pangeran karena mendapati pelayan wanita yang ingin membuang sisa makanan Yang Mulia Putra mahkota.
Kami membawa bukti kepada kepala Tabib, dan setelah penelitian ternyata itu adalah racun yang sama yang digunakan untuk meracuni Putra Mahkota. Yang Mulia." Pria itu menjelaskan sedetail-detailnya, tak ada yang ditutup-tutupi sedikitpun.
Raut wajah Kaisar Xian langsung berubah, matanya memerah menatap kedua pelaku itu.
"Cambuk mereka 100 kali lalu eksekusi mereka!.
Beraninya pelayan rendahan seperti kalian ingin membunuh pewaris kerajaan!"
"Ini belum semuanya, Ayah Kaisar.
Kita belum mengetahui siapa yang memerintahkan mereka." potong Yi Feng, matanya menatap pada Selir Agung Lu dengan penuh kebencian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Nor Azlin
pasti kaiser memihak pada selir nya bukan tau banget ni kerana selir umatnya itu pandai berkilat lidah deh ...jangan2 anak yang dia angkat itu memang anak kandung nya si selir licik itu yah...maka nya dia ingin anak nya itu menjadi putera,mahkota maka dengan itu dia ingin menyingkirkan keduanya sekali deh ...kerana mereka kembar maka mereka mengambil kesempatan dari semua ini yah ...kalau putera mahkota mati maka yang dituduh tentunya putera kedua jadi yang untung disini udah tentulah putera angkat dari selir a.k.a anak kandung nya sendiri deh ...semoga Azka bisa membuktikan kebenaran nya & si kaiser nya bisa berlaku adil pada putera nya sendiri...di sini peranan permaisuri dari kaiser menjadi lemah yah seperti nya dia juga menjadi mangsa selir licik itu berbanding selir yang lagi satu nya ...sepatutnya kuasa lemah suri lebih berkuasa dari selir2 nya ini malah terbalik ...malah di menjadi lemah & tidak berkuasa & suaranya tidak diguna pakai serta didengari oleh kaiser nya sendiri deh ...lanjutkan thor
2024-06-25
2
Shinta Dewiana
bagus azka..
2024-06-23
0
Dewi Ansyari
Akhirnya tersangka tertangkap juga,hanya saja belum yg bersangkutan hufff🙊
2022-06-12
1