Yi Feng mengambil 5 butir telur lalu memecahkan nya dan memasukan telur kedalam mangkuk keramik yang ukurannya sedikit besar.
"Li Fei, kemari." Panggilnya.
Gadis kecil itu mendekat.
"Kocok telur nya secara perlahan seperti ini." Pemuda itu mempraktekkan nya bener detik, "kau bisa?"
Li Fei mengangguk, ia mengambil sumpit yang digunakan oleh Yi Feng dan melakukan apa yang dicontohkan oleh pemuda itu.
"Yu Chen, apinya sudah siap?" Tanya Yi Feng.
"Sudah, Yang Mulia." Balas pemuda itu kepada tuannya.
Yi Feng mengambil panci yang ukurannya sedang, memasukkan gula dan sedikit air ke dalamnya lalu menaruhnya diatas tungku.
Tentu saja tungku, bagaimana bisa orang kuno menggunakan kompor?
Jangankan kompor elektrik ataupun gas, kompor minyak saja tidak tahu.
Jadi jangan salahkan Yi Feng menggunakan tungku karena tak ada pilihan lain.
"Mengapa kau memasak gula?" Tanya Kaisar terdahulu.
"Tenanglah Kakek, aku sedang membuat karamel." Balas Yi Feng santai, ia tetap fokus dengan apa yang ia lakukan.
Sambil menunggu karamel nya masak, Yi Feng beralih pada yang lain.
"Telur nya sudah, Li Fei?" Tanya Yi Feng.
"Sudah, Kakak Pangeran." Balas gadis kecil itu, ia telah selesai dua menit yang lalu saat Yi Feng sibuk dengan karamelnya.
"Gadis pintar." Puji Yi Feng, ia mengambil susu dan menuangkan kedalam panci yang lain, tak lupa juga gula agar terasa manis. Ia kembali meletakkan diatas tungku yang lainnya, dan kembali memperhatikan karamel.
Melihat gula yang sudah mencair, ia sedikit menggoyangkan panci agar semua gula mencari.
"Yu Chen, tolong aduk susunya."
Pelayan itu mendekat, membawa sendok kuah yang terbuat dari kayu dan mengaduknya.
"Pastikan tidak terlalu mendidih, Yu Chen." Ujar Yi Feng lagi.
"Baik, Yang Mulia." Balas pelayan itu.
Yi Feng menuangkan sedikit air panas kedalam karamel, menggoyangkan panci lagi agar gulanya merata.
Merasa sudah pas, ia memindahkan panci itu ketempat yang tak ada apinya.
"Kepala Koki, panaskan kukusan untukku." Perintah Yi Feng, pria itu dengan cepat memanaskan kukusan seperti yang diperintahkan oleh pangeran nya.
Yi Feng memasukkan karamel kedalam beberapa mangkuk.
"Yu Chen, susunya?"
Kini pemuda itu sudah berdiri disamping Yu Chen, melihat susu yang hampir mendidih.
"Sudah cukup, kerja bagus."
Yu Chen paham dengan maksud dari tuannya, ia juga merasa senang saat dipuji seperti itu.
Segera ia menuangkan susu kedalam mangkuk, lalu membawanya pada tuannya.
Yi Feng menggunakan elemennya untuk membuat susu itu lebih cepat dingin, ia memasukkan telur kedalam susu lalu ia aduk perlahan sampai merata.
Semua orang terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh pemuda tampan itu, meskipun mereka tak melihat wajahnya namun mereka tahu jika dibalik topeng itu terdapat wajah yang tampan.
Bagaimana tidak?
Ia mempunyai seorang kembaran, tak mungkin wajah mereka berbeda karena mereka berasal dari tempat yang sama. (Rahim yang sama)
Adonan susu telur tadi dimasukkan kedalam mangkuk yang sudah terdapat karamelnya.
"Kepala Koki, apakah sudah panas?" Tanya Yi Feng.
"Sudah, Yang Mulia." Balas pria itu.
"Kalau begitu masukkan semua ini kedalam kukusan, jangan lupa alasi dengan kain agar air nya tak menetes saat pengukusan." Jelas Yi Feng layaknya sedang memerintah seperti kepala koki di restoran ternama.
"Baik, Yang Mulia." Balas pria itu, ia dan Yu Chen menaruh adonan kedalam kukusan, mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh Yi Feng.
Pemuda itu mengalihkan pandangannya pada orang-orang yang terus menatapnya, "kita tinggal menunggu adonannya matang."
"Apakah masih lama? Sepertinya aku sudah tak sabar dengan makanan yang kau buat itu." Tanya Kaisar terdahulu.
"Sebentar lagi, Kakek. Percayalah, kau tak akan kecewa dengan rasanya." Ujar Yi Feng, ia memperhatikan wajah gadis cantik yang terus menatap kearah kukusan dengan tak sabaran.
Sementara Kaisar Xian sepertinya masih bersabar, namun ia juga penasaran dengan apa yang dibuat oleh Putra keduanya itu.
Beberapa menit berlalu, Yi Feng menyuruh kepala koki untuk mengangkat nya karena ia rasa telah matang. Apa lagi memasaknya dengan tungku yang suhunya tak menetap dan sangat tidak tinggi itu.
Semua orang penasaran, beberapa mangkuk diletakkan diatas meja, Yi Feng menggunakan kekuatannya untuk mendinginkan puding yang telah masak agar lebih cepat mengeras.
Terakhir ia keruk bagian pinggir puding yang sudah mengeras dengan pisau kecil, lalu dibalikkan mangkuk keatas piring.
Sebuah puding berwarna putih dengan bersaus karamel cokelat diatasnya telah selesai dan terpampang dihadapan semua orang, Yi Feng memperhatikan raut wajah semua orang yang terlihat sangat penasaran.
Yi Feng juga meletakkan tiga puding lagi diatas piring, ia menggeser dua piring kehadapan para kaisar itu.
"Cobalah, Kakek Kaisar- Ayah Kaisar."
"Dengan apa aku harus memakannya? Sumpit?" Tanya Kaisar terdahulu.
"Tidak kakek, gunakan sendok. Jika kau menggunakan sumpit, pudingnya akan pecah dan sulit untuk bisa diambil." Jelas Yi Feng.
Kasim yang sedari tadi terus mengikuti lelaki tua itu hendak berbalik untuk mengambil sendok Tuannya, namun dihentikan oleh Yi Feng.
"Gunakan saja ini." Yi Feng mengeluarkan empat sendok yang berukuran kecil sama seperti milik bayi, ia meletakkan disamping piring kedua pria beda usia itu.
"Silahkan." Lanjut nya lagi.
Kaisar terdahulu tak peduli lagi dengan bentuk sendok yang berukuran kecil, ia segera melahap pudingnya dengan perlahan.
Begitu juga dengan Kaisar Xian dan Putri Li Fei, mereka juga mengikuti apa yang dilakukan oleh lelaki tua itu.
"Bagaimana kakek, kau menyukainya?" Tanya Yi Feng.
Namun tak digubris oleh lelaki tua itu, dia malah melahap habis pudingnya tanpa tersisa.
Melihat ekspresi dan perilaku lelaki tua itu, Yi Feng langsung mengetahuinya.
"Kau menyukainya, Ayah?" Tanya Yi Feng.
"Aku menyukainya." Balas Kaisar Xian.
"Lalu bagaimana denganmu, gadis kecil?" Yi Feng beralih pada gadis kecil disampingnya.
"Ini enak sekali, terima kasih kakak Pangeran mau membuatkan makanan ini untukku." Ujar Li Fei dengan tulus.
"Tentu saja, kau juga membantu ku tadi 'bukan?" Balas Yi Feng mengacak kepala gadis itu dengan gemas, wajah gadis itu menunjukkan jika dia sangat menyukainya.
Yi Feng juga menikmati puding buatannya dengan penuh nikmat.
'Terima kasih kakak ipar atas resepnya, aku tak akan bisa membuatnya tanpa bantuan mu.' batin Yi Feng mengingat Levi.
Ini adalah resep yang ia pelajari dari Levi, saat dimana kakaknya sedang hamil muda dan menginginkan puding buatan Azka.
Namun Azka yang tak bisa membuat puding menggunakan puding supermarket agar lebih praktis dan cepat, saat dibawakan untuk Axila malah kena amukan.
Calon mama muda itu mengamuk, ia mau puding susu karamel yang dibuat secara manual dan bukan puding supermarket. Levi yang memaklumi adik iparnya segera mengajari Azka untuk membuat puding susu karamel yang paling mudah dan anti gagal.
Dan ternyata kakak nya itu menyukainya.
"Yu Chen, kemari." Panggil Yi Feng
Yu Chen mendekat, "Iya, Yang Mulia."
"Tolong bawakan puding ini untuk kakak ku dan ibu ku. katakan ini dariku." Ujar Yi Feng.
"Dan juga, yang satunya lagi bisa kau dan kepala koki mencobanya. Karena aku membuatnya sedikit, kalian harus berbagi. Maaf yah."
Yu Chen terbaru, "Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia, hamba Sanga bersyukur karena bisa mendapatkan kebaikan dari Yang Mulia." Pria itu sudah bersujud dihadapan Yi Feng dan yang lainnya, tanpa mempedulikan apakah pakaiannya akan kotor atau tidak.
Jangan lupa jika kepala pelayan juga melakukan hal yang sama, ia bersujud dan berterima kasih atas kebaikan hati dari pangeran mereka.
"Emm..." Gadis kecil itu bergumam tak jelas, ia ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
"Ada apa gadis kecil?" Tanya Yi Feng yang tahu jika Li Fei ingin mengatakan sesuatu.
"Apakah tak ada lagi kakak Pangeran? Emm... Aku ingin membawakan sedikit untuk ibu ku juga." Ujarnya dengan wajah yang tertunduk karena malu.
"Maaf gadis kecil, tapi kau melihat sendiri jika aku membuatnya tak banyak.
Lain kali saja yah? Kau mau menemani ku membuatnya lagi, kan?" Ujar Yi Feng.
"Sungguh? Apa kakak pangeran akan membuatnya lagi? Aku boleh membuatnya juga bersamamu?' tanyanya dengan semangat.
Yi Feng mengangguk, "Tentu."
Tatapan Yi Feng beralih pada lelaki tua dihadapan nya.
"Kakek, kau tak lupa hadiahku 'kan?" Ujar Yi Feng mengingatkan.
"Ahahahaha..." Tawa pecah didalam ruangan itu, "aku tak akan pernah melupakan janjiku. Aku akan kirimkan hadiahnya sebentar lagi, kau mau apa. Katakan saja, akan aku kabulkan."
"Aku tak mau apapun, jika Kakek memberikan ku sesuatu. Aku akan menerimanya dengan senang hati." Balas Yi Feng dengan sungguh.
"Anak baik. Tunggu saja hadiahnya, sebentar lagi akan ku kirimkan." Ujar Kaisar terdahulu dengan perasaan senang. Suasana hatinya menghangat karena pangeran kedua yang tak formal saat bicara dengannya sehingga terkesan lebih santai dan tak kaku.
"Aku juga akan mengirimkan hadiah ke kediaman mu sebentar lagi. Aku suka makanan puding ini." Puji Kaisar Xian dan berlalu dari sana, ia hari kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat ia tinggalkan sebentar.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Nor Azlin
harap nya begitu deh supaya dia lebih kuat biar dia belajar dengan tante nya yang menjadi Axila itu deh agar lebih mantap & tegas denga pendirian nya ...jangan mudah mengalah pada musuh biar dia lebih tangguh lagi yah belajar ilmu perang dengan tante nya...lanjutkan thor
2024-06-25
0
Shinta Dewiana
jd jiwa pangeran asli ke mana ya..apa tukaran dg azka di dunia modern
2024-06-23
0
Shinta Dewiana
mantap...
2024-06-23
0