Suasana didalam istana tiba-tiba menjadi gaduh, terlebih dikediaman Putra Mahkota Yi Fang.
Pria tampan itu terus meraung, ia sangat kesakitan. Namun tak ada seorangpun yang bisa masuk kedalam kamarnya, karena didalam sana terasa sangat panas.
Jika elemen milik Azka atau Yi Feng yang sekarang adalah Es, maka saudara kembarnya terbalik darinya. Yaitu api.
Itulah mengapa kamar itu terasa sangat panas, tabib dan para Kasim hanya bisa berdiri diluar sana sambil mendengarkan teriakan dan jeritan dari penerus tahta itu.
Kaisar dengan tergesa-gesa pergi ke kediaman Putra sulungnya, begitu juga dengan anggota kerajaan yang lainnya. Mereka semua sudah menerima kabar itu dari pelayan yang memberitahu keadaan Putra Mahkota.
"Ini pasti karena makanan aneh yang diberikan oleh pangeran Yi Feng pada Putra Mahkota." ujar Selir Agung Lu menuduh Azka.
Semua orang sudah berkumpul disana, namun tak ada seorangpun yang dapat masuk kedalam kamar itu. Bahkan pelayan setia milik Putra Mahkota saja tak dapat masuk.
"Perhatikan ucapan anda, Selir Agung Lu!" timpal Selir Kehormatan Han.
"Perhatikan ucapan ku?!... Bukankah dia memang memberikan makanan aneh pada Pangeran Mahkota?!" sambung Selir Agung Lu.
"Diam!!" Suara kaisar Xian menggema, ia sedang berusaha agar bisa masuk kedalam sana namun kedua selirnya itu malah berdebat dan membuat konsentrasi nya terganggu.
Kedua wanita itu terdiam. Menundukkan kepalanya dan melihat apa yang terjadi.
Sedangkan Permaisuri terlihat sangat khawatir namun tak dapat melakukan apapun untuk membantu, elemen miliknya tak bisa membantu karena itu adalah tumbuhan.
Langkah kaki menggema, bertanda seseorang sedang berjalan mendekat.
Wajah yang tertutup topeng itu berhenti sebentar didekat mereka.
"Minggir!" ujarnya pada para Kasim dan Tabib yang berdiri didepan pintu.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Pangeran ketiga Lu.
"Bukan urusanmu!" balas Azka, ia langsung mendorong tubuh pria yang lebih muda darinya kesamping karena menghalang jalannya.
Kaisar yang melihat kedatangan pangeran kedua mengerutkan keningnya, meskipun wajahnya tertutup topeng disebagian wajahnya, namun ia bisa merasakan jika anak itu sedang marah besar.
Azka membuka pintu itu, hawa panas langsung keluar dari dalam sana dengan menerpa wajah dan tubuhnya.
Namun seketika langsung terasa dingin saat melewati tubuh itu lalu terasa disekitar semua orang.
Api dan Es secara Sangat bertolakbelakang, dengan begitu Azka bisa mengendalikan hawa panas didalam ruangan itu.
Terlihat Pangeran Yi Fang yang sudah melemah, namun wajahnya masih memperlihatkan jika ia sangat kesakitan.
"Kakak." panggil Azka, ia menyentuh kening kembarannya dan menyalurkan rasa dingin dari tangan itu.
"Kasim Hong!" panggil Azka.
"Menghadap, Yang Mulia." balas Kasim itu.
"Cepat Carikan aku buah kelapa muda." ujar Azka lagi, kamar itu meskipun sudah ada Azka didalam sana namun masih berpengaruh pada semua orang.
"Untuk apa, Yang Mulia?" balas pria itu.
"Turuti saja perintahku dan Bawakan dengan cepat kemari!.. Jika tidak, nyawamu taruhannya!" ujar bentak Azka.
"Ba-baik, Yang mulia." balas Kasim Hong.
"Jika kau terlambat sedetik saja, aku benar-benar akan membunuhmu!" ujar Azka lagi.
"Untuk apa kau menyuruh orang mengambil kan kelapa muda? Ada tabib yang bisa menyembuhkan Putra Mah-"
"Diam! Kau tak tahu apapun jadi diam saja!" ujar Azka dingin.
"Tabib, apakah ada obat yang bisa menetralisir racun?" ujar Azka pada orang-orang yang masih berdiri diluar sana, hanya Azka lah yang bisa masuk kedalam kamar itu dan tidak dengan yang lainnya yang hanya bisa menyaksikan apa yang terjadi.
"Menjawab yang mulia, kami harus memeriksa tubuh Yang mulia Putra Mahkota terlebih dahulu untuk melihat racun apa yang berada dalam tubuh Putra Mahkota." ujar kepala Tabib kerajaan.
"Ayah, perintahkan pengawal bayangan milikmu untuk mengambilkan buah kelapa muda untuk ku, Sekarang juga." ujar Azka.
"Kau berani memerintah Kaisar?!" bentak Selir Agung Lu.
"Diam kau, jal*ng! Aku tak bicara padamu!" balas Azka dingin, hawa disekitarnya semakin dingin dan membekukan lantai disekitarnya berpijak.
"Jaga ucapan mu!"
"Diam!" bentak Kaisar terdahulu. Pria itu tahu jika cucu keduanya pasti memiliki alasan yang kuat karena berani memerintah Kaisar.
"Lan, cepat ambilkan buah kelapa muda yang berada dibelakang kediaman ku!" ujar pria tua itu.
"Baik, Yang mulia." balas pengawal bayangan miliknya.
Seketika terasa ada angin yang berhembus ketika pria itu pergi.
Para tabib juga tak ada yang bisa masuk, panas dan dingin beras dalam ruangan yang sama, bahkan hawa panas sedikit mengalahkan hawa dingin.
Hanya butuh beberapa menit saja, pria itu kembali dengan dua buah kelapa muda.
"Yang Mulia."
"Potong dan Ambi airnya, tuangkan kedalam wadah dan bawakan untuk ku." ujar Azka dari dalam sana, ia ta membiarkan rasa panas itu menguasai saudara kembarnya.
Pengawal bayangan yang bernama Lan itu segera mengikuti apa yang dikatakan oleh Azka, ia menuangkan air kelapa kedalam mangkuk lalu menyimpan didepan pintu karena tak dapat masuk kedalam sana.
Azka yang tahu segera bangkit dari duduknya dan dengan cepat mengambil mangkuk itu, kembali berjalan kearah saudara kembarnya.
"Kakak, kau masih disana?" tanya Azka.
"Telan ini, kau akan merasa lebih baik" ujar Azka, ia tak lupa memberikan dua tetes ramuan teratai emas dan air suci yang ia namai obat Suci itu kedalam air kelapa.
Azka membantu kembarannya untuk minum, meskipun ada yang tumpang namun banyak juga yang masuk kedalam tubuh pria itu.
Baju pria itu memang basah, namun langsung kembali kering lagi dalam waktu yang singkat.
"Kakek, lagi." ujar Azka.
Semua orang yang sejak tadi hanya mampu melihat apa yang terjadi saja, mereka tak dapat melakukan apapun. Para tabib semakin khawatir, mereka tahu jika ilmu alkdemis tak dimiliki oleh pangeran Yi Feng.
Pengawal bayangan kembali memberikan mangkuk yang berisi air kelapa muda, Azka kembali melakukan hal yang sama dan setelah itu membaringkan tubuh kembarannya.
Semua orang masih berada disana dan memperhatikan apa yang terjadi didalam sana. Terlihat Pangeran Yi Feng yang memberikan rasa dingin disekitar tubuh itu, sampai akhirnya Putra Mahkota kembali tenang.
Namun...
Oeekkk....Oeekkk...
Putra mahkota memuntahkan isi perutnya, dengan sigap Azka langsung menampung muntahan itu didalam mangkuk yang tadi digunakan untuk memberikan minum pada saudaranya.
"Tabib, masuklah dan periksa keadaan kakakku!". ujar Azka dengan lantangnya, membiarkan kepala Tabib dan beberapa tabib yang lainnya menanti disana.
Azka kembali membaringkan tubuh kembarannya.
Pria itu meletakkan selembar kain putih diatas pergelangan tangan Putra Mahkota, dan kemudian memeriksa denyut nadi dari sang pewaris tahta itu.
Pria tua itu terlihat sangat terkejut, ia menatap tak percaya pada Azka yang masih berada disamping saudara kembarnya.
"Ada apa, Tabib?" tanya Kaisar yang sudah masuk kedalam kamar itu. Ia melihat ekspresi wajah kepala Tabib yang aneh.
"Mohon ampun, Yang mulia. Namun, ini adalah suatu anugerah dari sang pencipta. Racun dalam tubuh Putra Mahkota perlahan-lahan mulai menghilang dan-"
"Baguslah jika seperti itu." potong Azka cepat, ia membersihkan keringat yang berada di kening kembarannya.
"Tabib, aku harap kau bisa menjaga kondisi kakakku saat ini. Akan kubuatkan makanan yang baru, ia saja mengeluarkan isi perutnya." ujar Azka, ia berdiri dari duduknya.
"Ayah, aku akan menemuimu setelah semua ini selesai.
Aku tahu siapa yang bertanggung jawab untuk hal ini." ujar Azka, matanya menyorot tajam dan penuh kebencian yang sangat mendalam.
Belum sempat Kaisar menjawab ucapan putranya, Azka sudah pergi dari sana.
Melewati Semua orang yang berada didepan pintu, dan disusul oleh beberapa prajurit yang mengawasi nya.
Keluarga kerajaan langsung masuk kedalam kamar Putra Mahkota, terlebih Permaisuri yang terlihat begitu cemas namun tak dapat melakukan apapun.
Azka pergi ke dapur kerajaan, meskipun para prajurit dan pelayan melarangnya namun bukan namanya Azka jika ia mendengarkan apa yang mereka katakan.
"Yang Mulia, aku mohon jangan memegang pisau itu. itu dapat melukai tangan anda." ujar pelayan setianya, namun Azka tak mendengarkan ucapan mereka.
"Tempat ini tak layak untuk pangeran, mohon pangeran membiarkan kami saja yang melakukannya." ujar kepala koki kerajaan.
Didalam dapur kerajaan, Azka menyuruh mereka untuk menghidupkan air tungku, menyuruh mereka untuk memasak air.
Azka membersihkan beras yang akan ia gunakan mencucinya lalu dimasukkan kedalam air itu.
Setelah itu, Azka memotong daging ayam yang disiapkan oleh kepala koki kerajaan. Ia mencuci bersih tak lupa dilumuri dengan garam lalu menggorengnya, membiarkan ayam itu matang.
Bisa dibilang, Azka saat ini sedang membuat bubur ayam untuk kembarannya, dengan diawasi oleh para koki istana dan para pelayan lainnya.
Azka kembali dengan membawa nampan yang diatasnya ada mangkuk yang ditutupi atasnya agar tak dimasuki debu dan dapat mempertahankan kehangatan dari makanan itu.
Para prajurit memberikan hormat padanya, Azka memasuki kediaman kembarannya.
"Pangeran kedua Yi Feng telah tiba..." Suara Kasim memberi tahu semua orang didalam sana jika Azka telah kembali.
Aura yang dipancarkan oleh pemuda tampan itu terasa dingin walaupun tak seperti tadi lagi, sama halnya dengan Putra Mahkota yang kamarnya sudah kembali normal dan tak terasa terlalu panas.
"Apa lagi yang kau bawa itu, Pangeran kedua? Apa kau ingin memberikan racun lagi untuk Putra Mahkota?" ujar Selir Agung Lu.
Azka benar-benar muak dengan wanita itu.
"Kau benar, dan setelah itu aku akan dieksekusi oleh ayahku karena telah meracuni saudara kembarku dan membuatnya hampir kehilangan nyawanya.
Apakah itu yang kau inginkan?" balas Azka datar.
"Jika aku mau, aku tak akan mengeluarkan racun itu dari tubuhnya. Namun aku bukan orang yang serakah dan ingin mengambil alih apa yang dimiliki oleh saudaraku.
Jadi, jika sampai besok kakakku tak membaik, aku tak apa jika harus dihukum mati.
Namun sekarang biarkan kakakku mengisi kembali perutnya yang sudah kosong itu." ujar Azka, tanpa mendengarkan ucapan mereka ia sudah duduk disamping Putra Mahkota.
"Kakak, kau disana?" panggil Azka.
Putra Mahkota menggerakkan matanya, ia membuka matanya meskipun sangat lemah.
"Makanlah dulu, kau sudah mengeluarkan isi perut mu dan cairan dalam tubuhmu harus diisi lagi." ujar Azka.
Ia meminta semua orang untuk meninggalkan mereka, namun tak ada yang mengikuti ucapannya.
Azka mengangkat tubuh bagian atas dari kembarannya, membiarkan tubuh nya menahan separuh tubuh itu.
Pelan-pelan Azka memberikan suapan bubur kedalam mulut kembarannya, hampir habis bubur itu dilahap oleh Putra Mahkota.
"Kalian kembalilah. Aku akan menjaga kakakku disini." ujar Azka pada semuanya, setelah melihat Putra Mahkota yang mulai membaik mereka meninggalkan kediaman Putra Mahkota dan membiarkan pangeran Yi Feng yang menjaganya.
"Tak akan kubiarkan kalian lolos dengan begitu mudah. Kalian telah membangunkan singa yang lapar, jadi jangan salahkan aku jika aku kejam pada kalian." gumam Azka mengingat kembali wajah kedua ibu dan anak itu.
Ini bukan Novel dimana ia lemah. Pangeran ini sangat kuat namun malah memilih untuk mengurung diri didalam kediaman. Hanya beberapa tempat saja yang ia datangi, perpustakaan dan danau kecil yang berada dibelakang kediamannya.
Hanya tiga tempat ini saja yang didatangi oleh pangeran ini. Karena pangeran ini adalah orang yang anti sosial, sehingga ia bertingkah seperti itu.
Namun rumor yang beredar dimasyarakat dan kalangan pejabat adalah, Jika pangeran kedua kekaisaran adalah pria dengan wajah buruk rupa. Ia menggunakan topeng karena wajahnya yang buruk rupa, tak sama seperti saudara kembarnya yang terlihat sangat tampan dan bijaksana.
Tak tahu saja, jika kulit dari Pangeran kedua sangatlah bersih dan halus seperti milik seorang gadis, wajahnya sangat tampan dibalik topeng itu.
Rumor tetaplah rumor, tak akan menjadi nyata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Yaser Levi
azka masuk ke badan ponakan axila..yu feng..seru ini..wah..apa kata kaisar klu dia tau
2024-09-14
0
manusia planet Saturnus
pake skincare apa pangeran saya juga mau coba🤭
2024-06-04
1
sahabat pena
keren
2024-04-18
0