(source:pinterest)
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Salah satu ruangan di rumah Anes kini disulap menjadi tempat akad yang sangat indah seperti sebuah taman dalam ruangan dengan sejumlah kursi yang ditata berjajar memanjang ke belakang. Sesuai permintaan Anes, pernikahan tersebut dilakukan secara privat dan sederhana, hanya dihadiri oleh kerabat dari kedua belah pihak.
Di kamarnya, Anes tampak sedang dirias, ia terlihat sangat cantik dengan mengenakan gaun pengantin berwarna gold dan dengan sebuah mahkota di atas kepalanya, menjadikannya seperti seorang ratu.
Setelah dirasa selesai, orang-orang yang meriasnya meninggalkan Anes sendiri. Anes melihat dirinya dalam pantulan cermin yang ada didepannya, ia merasa sangat gugup.
"Mel, gimana menurut kamu? Apa ini tidak berlebihan dandanannya?" tanya Anes.
"Berlebihan gimana, kamu terlihat sangat cantik hari ini Nes, kayak ratu tau nggak, aura kamu begitu terpancar, satu kata buat kamu, perfect!" jawab Amel yang sedari tadi menemani Anes dirias di kamarnya.
"Kamu yakin Mel, takutnya jelek, ntar malah malu-maluin lagi." Anes merasa tidak percaya diri.
"Katarak tuh mata, kalau lihat kamu dan ngatain jelek, perlu diperiksa matanya, udah kamu percaya deh sama aku, pasti Pak Alex akan terpesona dan pangling melihat kecantikan kamu hari ini. Aku jamin!" Amel mencoba menenangkan sahabatnya yang tampak gugup tersebut.
Anes menarik nafasnya dalam-dalam, kegugupannya bukan hanya karena ia akan menikah, tetapi juga mulai hari ini ia akan mulai kehidupan baru sebagai seorang istri. Menurutnya, hidupnya yang sebenarnya baru akan mulai. Dan itu akan dimulai dengan laki- laki yang menurutnya mungkin tidak mencintainya, yang menikahinya karena wasiat dari Almarhum sang kakek. Namun, sekali lagi ia memantapkan tekadnya, karena ini sudah menjadi pilihannya menerima perjodohan tersebut dan dia harus siap menerima segala resiko kedepannya.
Sementara itu, dikediaman Pak Arya, Alex sudah siap. Alex terlihat sangat tampan dan menawan hari ini.
(source:instagram)
Ia juga merasa sangat gugup, bahkan mungkin kegugupannya melebihi calon istrinya.
"Bos Anda terlihat sangat berbeda hari ini, Anda terlihat sangat tampan, apakah Anda sudah siap?" ucap David yang melihat bosnya tampak gugup.
"Sial, apakah biasanya aku tidak tampan hah?" ucap Alex dengan alis yang terangkat.
"Maksud saya, kadar ketampanan Anda sedikit meningkat dari biasanya, aura calon pengantin sangat terlihat dari wajah Anda."
"Hah, darimana kamu merangkai kata-kata itu, seperti bukan kamu saja. Tapi aku senang karena kamu bisa menghadiri acara pernikahanku." ucap Alex.
"Tentu saja, bagaimana mungkin saya melewatkan hari yang sangat penting bagi Anda, kemarin begitu urusan di Perusahaan yang disana(Australia maksudnya) beres, saya langsung terbang kembali ke Indonesia.
"Apakah Anda sudah siap bos? Semua orang sudah menunggu dibawah," lanjutnya lagi.
Alex mengangguk dan dengan mantap melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut dan akan segera menikahi Anes tentunya.
🌼 🌼 🌼
Anes yang digandeng oleh Amel keluar dari ruang make up untuk menemui calon pengantin laki-laki yang baru saja tiba.
"Kamu jangan gugup Nes, lebih slow, ucap Amel sambil menggenggam erat tangan sahabatnya tersebut. Amel merasakan tangan Anes dingin karena gugup.
"Aku udah berusaha ngilangin nervous aku Mel, tapi tetap aja nggak berhasil," ucap Anes berbisik.
"Tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan pelan-pelan," saran Amel. Anes mengikuti saran sahabatnya tersebut
"Wah, sepertinya ada bidadari dari surga yang kabur turun ke bumi rupanya," ucap David yang melihat Anes keluar ruangannya.
"Jaga mata kamu, dia itu calon istri bos kamu," ucap Alex lirih yang hanya didengar oleh David.
Alex sangat takjub melihat calon istrinya hari ini.
"Sempurna" ucapnya dalam hati.
"Pak David, kapan Anda kembali?" tanya Anes.
"Kemarin Nona, saya tidak ingin melewatkan hari yang spesial ini begitu saja, makanya saya cepat-cepat kembali ke Indonesia" jawab David.
"Aaahhh senangnya Anda sudah kembali Pak David, tidak melihat Anda di kantor rasanya ada yang kurang," Amel ikut bicara kepada David dengan nada imutnya.
"Benarkah Nona Amel?" tanya David.
"Iya Pak David, Amel selalu menanyakan Anda hampir setiap harinya," Anes yang menjawab pertanyaan David. Namun David tak merespon atau memberi tanggapan, wajahnya kembali datar.
"Hah kamu Nes, buka kartu aja" Amel cemberut dengan memanyunkan bibirnya.
David hanya membalas ucapan Amel dengan sedikit senyuman.
"Hehemmmm!" Alex berdehem, ia merasa di kacangin oleh tiga orang tersebut.
Seketika mereka bertiga terdiam.
"Pak Alex, bagaimana penampilan Anes hari ini? Sangat cantik bukan?" tanya Amel tiba-tiba.
"Kayak badut," hanya kata itu yang terucap dari mulut Alex.
"Bodoh bodoh! Kenapa kata itu yang keluar, apa susahnya sih bilang dia cantik," Alex merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Kata kamu aku cantik Mel, tapi kata Pak Alex kayak badut, tuh kan aku bikin malu aja, aku hapus aja make-upnya mumpung masih ada waktu sebentar lagi," ucap Anes yang merasa kecewa dengan ucapan Alex.
"Hah dasar kamu Nes, nggak peka, Pak Alex nggak sungguh-sungguh bilang gitu, ekspresinya aja kayak gitu liatin kamu, gengsi aja dia buat muji kamu," celoteh Amel.
"Tetap saja aku nggak percaya diri Mel."
"Pak sebentar ya, saya hapus dan benerin dulu make-upnya," ucap Anes sambil berbalik ingin menuju ruang make up lagi.
"Tidak usah, begitu saja nggak papa," Alex mencegah Anes
"Tapi tadi kata Bapak saya jelek." protes Anes.
"Saya hanya asal bicara tadi."
"Berarti saya cantik dong Pak?"
"Lumayan"
"Huh apa susahnya sih bilang cantik ke calon istrinya," gerutu Anes dalam hati.
"Maksud saya kamu cantik," ucap Alex dengan nada merendah.
Anes tersenyum mendengar ucapan Alex, entah kenapa kata itu mampu membuatnya senang dan sedikit menghilangkan rasa gugupnya.
"Horeeee! akhirnya bisa juga ni mulut diajak kompromi," sorak Alex dalam hati.
Prosesi akad nikah akan segera dimulai, Alex dan Anes duduk berdampingan didepan penghulu. Pak Hari selaku wali dari Anes duduk disebelah penghulu. Di sisi kanan dan kiri meja, ada para saksi dari kedua belah pihak. Tak jauh dari tempat, itu duduklah Pak Arya dan istrinya serta Bu Ratna dan Amel serta David,. Sementara para kerabat yang lain duduk di kursi yang telah disediakan. Suasana menjadi sangat khidmat menunggu dimulainya prosesi akad nikah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Ari Dwi Wahyuni
/Facepalm/
2025-01-10
0
Yashinta
semangat anes hati2 ada pelakor di dekatmu
2024-06-26
0
Mei Wulandari
awasss luuu...bucin nanti lex
2024-03-13
0