"Sudah waktunya pulang, Pak Alex belum keluar dari ruangannya," gerutu Anes.
"tunggu sebentar lagi deh."
Beberapa saat kemudian, Alex keluar dari ruangannya dan diikuti oleh David.
"Kenapa belum pulang?" tanya Alex.
"Saya menunggu Anda Pak, rasanya tidak sopan jika saya pulang duluan," jawab Anes sesopan mungkin.
"Yasudah sekarang kamu boleh pulang." Ucap Alex sambil keluar meninggalkan ruangan Anes dan menuju ke lift.
Anes yang mengekori Alex ragu-ragu untuk masuk ke lift bersama Alex dan David.
"Kenapa masih di luar, apa kamu tidak ingin pulang?" tanya Alex yang melihat Anes masih berdiri di depan lift.
"Saaya..."
" Cepat masuk! semua sudah pada pulang, apa kamu mau tidur disini menemani satpam?" Alex meninggikan suaranya.
Anes segera masuk dan memencet tombol liftnya. Di dalam lift, suasana hening tak ada yang bersuara. Hingga akhirnya pintu lift terbuka.
" Ting! "(suara pintu lift terbuka)
Di depan perusahaan, Alex sudah ditunggu sopir pribadinya, ia segera masuk ke dalam mobil.
" Kamu pulang naik apa? " tanya Alex.
" Mungkin naik taksi Pak," jawab Anes.
"Ayo masuk!" perintah Alex.
"Maksud Bapak?". Anes tak mengerti
"Cepat masuk, biar saya antar".
Anes masih tak percaya kalau kata-kata itu keluar dari mulut bosnya.
"Tidak usah Pak, takut merepotkan".
"Tidak usah membantah!" ucap Alex dengan nada tinggi.
"Semua sudah pada pulang, Amel juga udah pulang, numpang si bos aja nggakpapa kali ya," batin Anes.
Anes langsung masuk ke dalam mobil.
"Pak David mana Pak?"
" Dia pulang bawa mobil sendiri," jawab Alex dan Anes hanya ber-oh-ria dengan jawaban Alex.
Mobil mewah itu pun melaju ke alamat yang ditunjukkan oleh Anes. Sebenarnya, Alex sudah tau alamat rumah Anes, tapi dia pura-pura tidak tahu.
Setelah sampai didepan rumahnya, Anes langsung turun dari mobil.
"Terima kasih Pak atas tumpangannya, Bapak tidak mampir dulu?"
"A*duh pakai nyuruh mampir segala, dasar ni mulut asal bicara*!" gerutu Anes dalam hati.
"Lain kali saja," jawab Alex dingin.
"Baiklah kalau begitu sa..."
Belum selesai Anes bicara, mobil yang ditumpangi Alex sudah melaju menjauhinya.
"Wooooiiii dasar bos songong! untung ganteng!" teriak Anes.
Anes segera masuk ke rumah, membersihkan diri dan memejamkan matanya.
Sementara di apartemen mewahnya, Alex belum bisa memejamkan matanya, dia duduk di sofa yang ada di kamarnya sambil minum secangkir teh.
" Kenapa rasanya tak seenak buatan Anes padahal sama-sama teh?" gumam Alex. Kemudian dia meletakkan cangkir itu dan menuju ke tempat tidurnya, lalu dia mencoba memejamkan matanya, namun bayangan wajah Anes terlintas dalam pikirannya hingga akhirnya Alex terlelap.
🌼🌼🌼
Keesokan harinya, sesuai perintah Alex, Anes membuatkan secangkir teh untuknya
"Tok tok tok, permisi Pak ini teh Anda." Anes meletakkannya di depan Alex.
"Ya," jawab Alex singkat, dia sibuk dengan kerjaannya tanpa mempedulikan Anes didepannya.
"O ya nanti siang Bapak ada meeting dengan, klien di restoran X." Anes mengingatkan Alex.
"Saya tahu. Kamu bisa keluar sekarang!" usir Alex.
"Baik Pak, saya permisi."
Kemudian Anes keluar menuju ruangannya.
Jam makan siang pun tiba, seperti biasa Anes makan siang dengan Amel di kantin yang ada di dasar lantai kantor tersebut, mereka selalu memilih makan di sana, karena menurut mereka di sana makanannya lebih enak dan ekonomis tentunya.
"Seriusan tadi malam kamu diantar Pak Alex pulangnya nes?!" tanya amel setelah mendengar cerita Anes soal dirinya yang diantar Alex tadi malam.
"Hmmmm," jawab Anes singkat sambil mengunyah makanannya.
Ricko yang melihat dua temannya itu langsung ikut gabung bersama mereka.
"Kalian ngomongin apa, asyik banget kayaknya?" tanya Ricko penasaran.
" Itu, Si Anes tadi malam pulangnya di antar... "
" Diantar taksi seperti biasa maksud Amel hehehe." Potong Anes sebelum Amel menyelesaikan bicaranya.
Anes menatap Amel dengan tajam, tanda dia meminta Amel untuk tidak ember mulutnya. Karena Anes tidak mau ada gossip yang tidak-tidak jika ada yang mendengar.
Seolah mengerti dengan arti tatapan Anes, Amel pun memilih diam dan melanjutkan makannya.
"Ohh gitu," sahut Ricko mendengar ucapan Anes.
Mereka melanjutkan makan sambil ngobrol dan bercanda seperti biasa.
Setelah selesai makan siang, Anes dan Amel terlebih dahulu kembali ke kantor meninggalkan Ricko yang masih ingin bersantai sejenak di kantin.
Saat menunggu pintu lift terbuka tiba-tiba ponsel Anes bergetar.
"Drrt.. Drrt.. Drrtt"
Anes melihat layar ponselnya, nomor tak di kenal. Ia malas menjawab ponselnya. Tapi, karena ponselnya terus bergetar dengan terpaksa Anes mengangkatnya.
"Hallo ini siapa?"
"Kamu di mana?" suara bariton itu seolah-olah ingin memecahkan gendang telinga Anes, secara otomatis Anes menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Ternyata si songong yang telepon," batin Anes.
Anes kembali menempelkan ponselnya ke telinganya.
"Saya habis makan siang Pak di lantai dasar, ini baru mau kembali ke kantor, Bapak mencari saya?" tanya Anes santai sambil menunduk dan menggerak-gerakkan kakinya.
"Ting!"(suara lift terbuka)
Begitu mendengar suara pintu lift terbuka, Anes langsung ngeloyor masuk tanpa melihat yang ada di depannya.
"Bruk!" Anes menabrak seseorang didepannya hingga ia kehilangan keseimbangan.
"Anes!" teriak Amel melihat sahabatnya yang hampir jatuh.
Beruntung, Anes tak sampai jatuh, karena tangan seseorang yang ia tubruk itu secara reflek menyangga badan Anes dengan tangan yang satu dengan menggenggam ponsel dan tangan satunya lagi memegang tangan Anes. (Bayangin aja kayak orang berdansa yang ceweknya kayak mau jatuh ke lantai gitu hehehe).
"Pak Alex," ucap Anes lirih.
Ternyata orang yang hendak keluar lift dan di tubruknya adalah Alex.
Anes merasa ada yang aneh dengan dirinya. Jantungnya berdebar-debar tak karuan.
"Duh kenapa jantungku lagi-lagi berdetak nggak normal kayak gini sih" batin Anes.
Untuk beberapa saat mereka berdua masih dalam posisi yang Sama dengan mata saling menatap.
"Ehem!" suara David membuat Alex dan Anes kaget. Mereka secara otomatis menjauhkan diri masing-masing, lalu mematikan ponsel mereka yang masih menyala.
"So sweet banget kayak di drama-drama!" celetuk Amel menyaksikan adegan tadi.
"Kamu ikut saya meeting," ucap Alex tanpa ekspresi.
"Baik Pak, saya ambil dulu berkas-berkas yang perlu dibawa untuk meeting," jawab Anes gugup. Ia belum bisa mengembalikan detak Jantungnya ke keadaan normal.
"Tidak perlu! David sudah membawanya." Jawab Alex sambil berjalan menuju mobil yang sudah menunggu ya di depan kantor.
Anes mengikuti bosnya dari belakang.
Sementara Amel kembali ke kantor.
Anes membuka pintu mobil yang didepan dan hendak masuk, tetapi di sana dia melihat David sudah duduk di samping sopir lengkap dengan sabuk pengamannya,ia hanya tersenyum melihat Anes yang salah membuka pintu mobil. Anes kembali menutup pintu mobil dan buru-buru berputar menuju pintu mobil yang ada di belakang sopir karena Alex duduk tepat di belakang David.
Melihat tingkah Anes yang menurutnya konyol, Alex hanya tersenyum kecil
"Dasar," gumam Alex lirih.
🌼🌼🌼
Mereka sampai di sebuah restoran mewah berbintang lima, kedatangan mereka disambut oleh para pelayan restoran. Salah satu pelayan mengantarkan mereka ke tempat dimana klien telah menunggu. Klien tersebut menyambutnya dengan senyum lebar
"Ohh selamat datang Pak Alex, perkenalkan saya Rudi dan ini sekretaris saya Lisa."
Alex tak menjawab, ia langsung duduk dikursi dan diikuti Anes serta David
"Apakabar Nona Anes, lama tidak bertemu," sapa rudi
"Baik Pak Rudi," jawab Anes. Dia selalu merasa risih dengan tatapan pria paruh baya itu terhadapnya setiap kali Anes ikut meeting Pak Arya dulu.
Rudi adalah direktur sebuah perusahaan yang sudah beberapa tahun ini menjalin kerja sama dengan Parvis Group.
Meeting berjalan dengan lancar. Selama meeting Pak Rudi tidak henti-hentinya terus mencuri pandang terhadap Anes, sesekali ia menggoda Anes dengan kedipan matanya.
Sejak tadi, Alex melihat ada yang tidak beres dengan tatapan Pak Rudi terhadap Anes. Entah kenapa dia tak suka melihat laki-laki itu menatap Anes seperti itu.
Setelah meeting selesai mereka melanjutkan makan. Anes terpaksa harus makan lagi untuk menghormati klien tersebut.
"Saya permisi ke toilet sebentar," Anes beranjak dari tempat duduknya menuju ke toilet.
Keluar dari toilet, dia bertemu dengan Pak Rudi.
"Bapak ngapain disini?" tanya Anes kaget.
"Saya barusan juga dari toilet, dan sekalian nunggu kamu," jawab Rudi dengan senyum penuh arti.
"Maksud Bapak,?"
"Ayolah Anes, sudah lama saya menyukai kamu, saya selalu terpesona dengan kecantikan kamu."
"Maaf Pak, saya harus pergi," Anes mencoba menghindari Rudi. Namun sebelum Anes menjauh tangan Rudi sudah memegang tangan Anes dan memepet gadis itu ditembok.
"Bapak mau apa?" tanya Anes melihat Rudi mendekatkan wajahnya.
Rudi tidak menjawab, dia mencoba mendekatkan bibirnya ke bibir Anes. Sekuat tenaga Anes mendorong laki-laki paruh baya tersebut hingga dia jatuh ke lantai.
"Bapak jangan kurang ajar sama saya!" hardik Anes, ia kelihatan sangat marah.
Dengan cepat Rudi mencengkeram lengan Anes hingga Anes meringis kesakitan.
"Dasar wanita kurang ajar! Tak tahu diri! Beraninya kau menolak ku!" Rudi semakin mengeratkan cengkeramannya, Anes berusaha melepaskan diri dari Rudi, tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan laki-laki didepannya.
"Bug!"
Tiba-tiba seseorang mendaratkan sebuah pukulan keras kepada Rudi hingga laki-laki itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Pak Alex," ucap Anes
"Berani-beraninya kau menyentuhnya!" ucap Alex sangat marah. Matanya memancarkan aura kembaran yang sangat dalam.
"bug!"
Alex menarik kerah kemeja yang dikenakan Rudi dan melayangkan pukulan lagi ke wajah Rudi hingga sudut bibirnya berdarah.
"Pak Alex dengarkan saya dulu, ini tidak seperti yang Anda kira, wanita ini mencoba menggoda saya."
"Diam kau, dasar Tua Bangka, bajingan!"
Alex hendak melayangkan pukulannya lagi, namun ditahan oleh Anes.
"Sudah Pak cukup!" ucap Anes.
Alex tak mendengarkan perkataan Anes, ia terus memukuli laki-laki tersebut.
"Sudah Pak cukup, saya mohon," kali ini Anes memeluk Alex dari belakang.
"Ya ampun, berani-beraninya aku memeluk dia kayak gini, gimana kalau dia marah, ah yang penting usaha, siapa tahu dengan begini dia berhenti memukuli Pak Rudi," batin Anes.
Alex kaget dengan perlakuan Anes yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, ada semacam perasaan tenang dan nyaman dalam dirinya. Pukulan terakhir yang siap ia layangkan kepada Pak Rudi pun ia urungkan. Ia menarik tangan Anes dan membawanya pergi.
" Saya pastikan kerja sama kita berakhir sampai disini!" ucap Alex, sebelum meninggalkan laki-laki itu yang meringis kesakitan akibat pukulan Alex.
"Urus laki-laki brengsek itu, bawa dia ke rumah sakit untuk mengobati lukanya dan batalkan semua kerja sama dengan perusahaannya!" perintah Alex saat melihat David yang menunggunya di meja makan. Tadi Alex juga beralasan ingin ke toilet karena dia sudah curiga dengan Rudi sejak awal.
" Baik Bos," jawab David tanpa banyak bertanya.
Sementara sekretaris Rudi hanya bengong tak mengerti dengan ucapan Alex barusan.
Alex terus menarik tangan Anes sampai di mobil.
" Keluar!" perintah Alex kepada sopir pribadinya.
" Kau pulanglah sendiri naik taksi, saya akan menyetir mobil sendiri," lanjutnya lagi sambil menyerah sejumlah uang kepada sopirnya untuk membayar taksi.
"Baik Tuan," sopir pribadinya pun turun dari mobil.
Alex langsung masuk ke dalam mobil
"Cepat masuk!" perintah Alex. Anes langsung masuk mengikuti perintah bosnya.
"Kamu pikir saya sopir, pindah ke depan!" kesal Alex.
Anes hanya diam dan mengikuti perintah Alex. Ia pindah ke depan kesamping kemudi mobil.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam tanpa bicara.
"Ternyata Pak Alex baik juga, dia sampai segitunya membelaku, sampai-sampai membatalkan kontrak dengan perusahaan pak Rudi, dan dia masih berbaik hati menyuruh Pak David untuk membawanya ke rumah sakit," celoteh Anes dalam hati sambil memandangi Alex yang memegang kemudi mobil. Ia masih merasa takjub dengan apa yang dilakukan bosnya tadi.
" Kenapa liatin saya?" tanya Alex tanpa menoleh. Dia masih kelihatan sangat marah.
" Emm, terimakasih tadi Bapak sudah menolong saya, dan maaf gara-gara saya Bapak jadi membatalkan kontrak kerja sama yang sudah terjalin beberapa tahun ini."
Alek tak menjawab.
" Apa Bapak marah sama saya, karena kerja sama itu batal?"
" Diam, jangan banyak bicara!"
"Apa dia marah gara-gara kerja sama itu batal, tapi kan dia sendiri yang membatalkannya, " gumam Anes dalam hati.
Suasana pun menjadi hening kembali.
"Seandainya kamu tahu Nes, aku marah karena laki-laki itu mencoba menyentuhmu, bukan karena kerjasama itu," ucap Alex dalam hati dengan tetap fokus menyetir.
Setelah sampai didepan rumahnya, Anes langsung turun dan mobil Alex langsung pergi meninggalkannya.
"Emang dasar orang aneh!" teriak Anes, kemudian ia masuk ke rumah.
Di apartemennya, Alex masih tampak kesal bila mengingat kejadian tadi, dimana laki-laki itu berusaha mencium Anes didepan matanya.
"Sial, kenapa aku sangat marah dan benci sekali ketika melihat gadis itu disentuh laki-laki brengsek itu. Ada apa denganku," Alex menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Paginya di kantor, Alex tampak seperti biasa yang menunjukkan wajah tanpa ekspresinya, begitupun Anes, dia bersikap biasa seolah-olah semalam tidak terjadi apa-apa karena dia tidak ingin satu kantor heboh jika tahu Alex membatalkan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan Rudi karena dirinya.
💠 Selama membaca 💠
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Novano Asih
kok semalam Thor kan ketemu kliennya habis makan siang
2024-07-25
0
Eka Susanty
hajar jangan kasih kendorrr
2023-10-18
1
Praised94
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
2023-10-16
0