Setelah bayangan Alex menghilang dari pandangan, para karyawan langsung bubar dari barisan untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Namun, ada beberapa karyawan yang masih lanjut membicarakan Presdir baru mereka.
"Ya ampun, dari belakang aja keliatan gantengnya, bikin panas dingin," ujar salah satu karyawan perempuan kepada rekannya.
"Iya, tapi kita harus sadar diri siapalah kita ini. Huhuhu," sahut yang lain.
Di sudut lain, Amel menghampiri Anes
"Sumpah demi apa? tadi presdir liatin Kamu sampe segitunya Nes, dan tatapannya itu lhoo, bikin meleleh, uuuhhh mau juga dong dilihatin bos ganteng".
"Ah apaan sih Kamu Mel, lebay deh orang dia biasa aja liatnya sama kayak liatin yang lain," balas Anes.
"Beda kali Nes, semua karyawan dia lewatin gitu aja, tanpa melirik sedikitpun. Tapi saat didepan Kamu, dia otomatis berhenti. Mungkinkah cinta pada pandangan pertama. Uuhhh So sweeettt," goda Amel dengan nada sok imutnya dengan mata berkedip-kedip.
Kebetulan aja kali pas dia didepanku berhenti. Nggak mungkinlah dia suka sama aku, ibarat kata bagaikan bumi dan langit tau nggak, Jauuuuuhhhh," sanggah Anes.
" Nggak ada yang nggak mungkin tau Nes, Kayak di drama-drama gitu, kan banyak yang nggak mungkin jadi mungkin." Ting! Amel langsung membayangkan drama ya dan senyum-senyum.
" Huuuu dasar kebanyakan nonton drama jadi halu," Anes menoyor kepala Amel (tapi gak keras ya guis noyornya, biasa bercanda-bercanda ala sahabat gitu).
" Benar kata Anes, nggak mungkin Presdir suka sama cewek kayak dia," jari telunjuknya menunjuk muka Anes. Vanya yang dari tadi mendengar obrolan dua sahabat tersebut mendadak panas telinganya.
Vanya merasa dirinya paling cantik di kantor, dan sering mencari perhatian dari para karyawan laki-laki, tapi mereka malah lebih menyukai Anes daripada dirinya, itu membuatnya membenci Anes, padahal Anes tidak pernah membuat masalah dengannya.
"Dan Kamu Anes! Jangan bermimpi Kamu akan menjadi kesayangan bos seperti dulu waktu pak Arya menjadi Presdir. Apalagi berniat untuk mendekati Presdir Alex, karena wanita seperti saya yang pantas buat Presdir. Paham kamu?!" Vanya memperingatkan Anes dengan tegas.
Anes hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan dengan wajah datar.
" O ya, berhubung Pak Arya sudah tidak menjadi Presdir, sekarang Kamu menjadi Sekretaris Pak Alex. Lakukan tugas kamu seperti biasa. Nanti jangan lupa ke ruangan Pak Alex untuk menyerahkan jadwal meeting dengan para klien," imbuh Vanya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
" Baik Nona Vanya, " jawab Anes lirih.
" Karena wanita seperti saya yang pantas untuk Presdir. Bla bla bla, " Amel mengulangi kata-kata Vanya dengan nada mengejek.
" Dasar nenek Sihir! Nenek Lampir! Mana ada cowok yang mau sama cewek modal dempul kayak gitu. Iri aja tu Nes si nenek lampir sama kamu, secara kamu kan karyawan idola di kantor ini. Rasanya pengen aku lakban tu mulut biar gak seenaknya ngehina orang". Amel tak terima sahabat baiknya itu di hina oleh Vanya.
Anes hanya cekikikan melihat sahabatnya marah seperti itu.
" Sabar, Sabar Amel sayang. Nggak usah ditanggapi. Cuma buang-buang waktu dan tenaga tau nggak. Dia kan emang kayak gitu orangnya dari dulu. Lagian ada benarnya juga kata-katanya tadi".Anes mengelus-elus punggung Amel agar sahabatnya itu lebih rileks dan mereda emosinya.
Bukannya terlalu lemah, tapi Anes tak ingin buang-buang waktu dan tenaga untuk meladeni sikap Vanya. Semakin diladeni, semakin menjadi-jadi, begitulah menurut Anes. Jadi, dia memilih untuk diam.
"Huff. Ya Allah beri hambaMU ini kesabaran," Amel menarik nafas dalam-dalam sambil mengelus- elus dadanya. Anes hanya tersenyum melihat sahabatnya masih tampak kesal.
Anes kembali ke ruangannya yang berada di luar ruangan Presdir. Karena dia Sekretaris pribadi Presdir, dia memiliki 2 ruang kerja, yang satu di depan ruangan Presdir dan satunya di ruang Sekretariat yang tampak berjejer beberapa meja, tapi ia lebih sering menghabiskan waktu bekerja di di ruangan yang berada di luar ruangan Presdir tersebut tentunya.
🌼🌼🌼
Di dalam ruangannya, Alex melamun membayangkan kejadian tadi saat matanya beradu pandang dengan Anes.
"Siapa sebenarnya gadis tadi..? Dan mata itu... Samar-samar mengiatkanku padanya.. Mungkinkah dia..?.. Ah tidak mungkin dia ada disini," gumam Alex dalam hati dengan mengigit-gigit jempolnya.
" Aku lihat, sejak melihat gadis itu tadi, Bos seperti memikirkan sesuatu. Tidak biasanya bos seperti itu terhadap wanita. Dia tidak pernah dekat dengan seorang perempuan. Jangankan memandang melirikpun ia tak pernah. Siapa sebenarnya wanita ini?". David pun ikut bergumam dalam hati dengan raut muka penasaran sambil memperhatikan bosnya.
" Bos, apakah ada masalah? Saya lihat dari tadi Anda seperti memikirkan sesuatu". Ucap David tiba-tiba membuyarkan lamunan Alex.
Sebelum menjawab pertanyaan asistennya tersebut tiba-tiba hpnya bergetar.
"Drrt.. Drrt... Drrrt" (suara hp bergetar).
Setelah melihat nama pemanggil yang tertera di layar hpnya, Alex langsung mengangkatnya.
"Hallo Pa, ada apa telepon Alex? Apa ada yang penting?" tanya Alex pada papanya di seberang telepon.
"Dasar bocah tengil! Apa papa harus memiliki alasan khusus untuk menghubungi Kamu". Jawab pak Arya dengan nada bercanda.
"Makan malamlah dirumah. Sudah satu minggu kamu kembali ke Jakarta tapi belum pernah menemui papa", pinta Pak Arya kepada putra semata wayangnya itu.
"Maaf Pa, tapi Alex masih sibuk. Bukannya Papa yang meminta Alex buat mengurus Perusahaan yang ada disini," Alex beralasan sibuk, pasalnya, dia enggan ke rumah itu.
"Ayolah nak, sudah 6 tahun berlalu apa Kamu masih belum menerimanya sebagai mamamu?" sepertinya Pak Arya tahu alasan sebenarnya Alex tak ingin ke rumah itu.
" Mama?!" sentak Alex dengan nada tak suka.
" Papa mengerti, Kamu masih sulit menerimanya, walaupun usia kalian sama, tapi biar bagaimanapun dia adalah istri papa sekarang. Mamamu sudah lama meninggalkan kita sejak Kamu kecil. Apa Papa tidak berhak untuk memiliki pendamping hidup lagi? Kamu harus tahu nak, posisi Mama kamu tetap tidak akan pernah bisa tergantung oleh siapapun," Tuan Arya hampir menitikkan air matanya.
Alex hanya menghela nafas mendengar kata - kata papanya.
" Seandainya saja Papa tahu,"gumam Alex dalam hati.
" Baiklah Pa, kalo ada waktu Alex akan ke sana". Karena tak ingin berdebat dengan papanya, Alex mengiyakan permintaan papanya.
" Baiklah Nak, kapanpun kamu bisa, datanglah, Papa tunggu kedatangan kamu," jawab Pak Arya girang
" Hem, Jaga kesehatan Papa," jawab Alex dan langsung mematikan teleponnya dan melempar hpnya ke atas meja kerjanya. Alex menarik nafas dalam-dalam sambil memijat pelipisnya dengan mata terpejam.
" Bos, apa tidak sebaiknya Anda mengatakan yang sebenarnya kepada Tuan Besar?".
" Apa kau bercanda? Itu tidak mungkin, Papa memiliki sakit jantung, kalo aku bilang, aku takut akan berakibat buruk terhadap kesehatan papa karena Papa sangat mencintai wanita itu," tegas Alex dengan melepaskan satu kancing kemejanya bagian atas.
David hanya diam, dia tahu semua cerita tentang istri muda Pak Arya, karena Alex telah menceritakan semuanya kepada David waktu di Australia dulu. Alex menceritakan kenapa dia sampai bisa memutuskan untuk mengurus perusahaan yang baru papanya bangun di sana. Tak ada yang ditutupi oleh Alex kepada asisten sekaligus sahabatnya itu.
🌼🌼🌼
Di depan ruangan Presdir, Anes tampak berdiri dengan membawa catatan jadwal meeting bosnya.
"Masuk enggak. Masuk. Jangan. Ah bodoh, tetap aja aku harus masuk. Ini kan pekerjaanku." Anes menoyor kepalanya sendiri. Entah kenapa, ia merasa gugup untuk menghadap bos barunya. Padahal biasanya dia tidak seperti itu. Mungkin karena insiden tatap menatap tadi kali ya. Hehe
"Semangat Anes!" Anes mengangkat satu tangannya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Dengan mantap Anes mengetuk pintu yang terbuat dari kaca itu. Meskipun dari kaca, orang dari liar ruangan itu tidak bisa melihat kedalam ruangan itu. Sebaliknya, orang yang didalam ruangan tersebut bisa melihat orang yang berada diluar dengan jelas.
Tok.. Tok.. Tok. Terdengar suara pintu diketuk
Alex dan David yang dari tadi memperhatikan dari dalam tingkah Anes diluar ruangan itu tampak menahan tawa.
"Masuk!" suara bariton itu terdengar jelas oleh Anes.
Setelah dipersilakan masuk, Anes langsung membuka pintu.
Ceklek! pintu dibuka oleh Anes.
"Maaf Pak, saya kemari ingin memberikan jadwal meeting Bapak dengan para Klien," Anes menyerahkan catatan jadwal meeting tersebut.
"Letakkan saja disini, biar nanti ku lihat," jawab Alex datar tanpa ekspresi.
"Baik Pak," Anes meletakkannya di meja kerja Alex
"Kenapa masih disini. Kalau tidak ada urusan lain, Kamu boleh keluar," tegas Alex.
"Baik Pak".
Anes berjalan menuju pintu untuk keluar, namun, sebelum ia membuka pintu, Alex memanggilnya.
"Eh tunggu!".
Anes langsung menoleh.
" Siapa nama Kamu?" tanya Alex sedikit cuek
" Nama saya Anes Pak," jawab Anes.
" Siapa? Nanas?" Alex pura-pura tidak dengar
"ANES Bos. Namanya Anes," bisik David ditelinga Alex.
" Bodoh! Aku juga dengar aku nggak budek!" Alex membalas David dengan berbisik juga.
David mencoba menahan tawanya, mengetahui hal konyol yg dilakukan bosnya itu.
"Ganteng-ganteng budeg Nanas sama Anes jauh kali," batin Anes.
"Anes Pak. A-N-E-S" Anes mengeja namanya.
"Tidak perlu di eja, saya bukan anak TK,"
Anes hanya diam tak menanggapi.
"O ya Anes buatkan saya teh!" Perintah Alex.
"Tapi Pak saya bukan...."
"Tidak ada tapi-tapian, saya bos disini jadi terserah saya".
"Baik Pak Presdir yang Terhormat, akan saya buatkan teh untuk Anda," jawab Anes lalu membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.
"Kamu!" Alex kesal dengan kata-kata Anes barusan.
"Sial, dia pikir aku office girl apa, main suruh buatin teh. Iya kalo bilangnya baik-baik, dengan bilang tolong kek apa kek yang enak di dengar gitu. Beda banget sama Pak Arya. Dasar wleeeek (melet). Huft sabar. Sabar". Gerutu Anes. Dia masih di depan ruangan bosnya. Dia lupa kalo orang di dalam ruangan itu bisa melihat keluar.
" Dasar wanita itu berani-beraninya dia, "Alex kesal melihat apa yg Anes lakukan didepan ruangan itu.
David hanya cekikikan melihat tingkah Anes dan bosnya yang menurutnya lucu.
" Kenapa tertawa... Ada yang lucu?!"
"Ehmm. Tidak bos."
"Cari tahu informasi lengkap tentang gadis tadi!" perintah Alex.
"Maksudnya Nona Anes?" tanya David.
"Ya iyalah. Emang ada gadis lain yang tadi kesini.."
"Baik Bos, segera saya cari tahu".
David masih penasaran karena tidak biasanya biasanya bosnya itu kepo dengan seorang gadis. Tapi dia tidak ingin banyak bertanya dan lebih memilih untuk diam.
🌼 🌼 🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Sintia Dewi
apa jangan2 istri Papanya alex itu mantan pacaranya/Sweat/
2024-04-17
1
Sintia Dewi
duhh udh muncul aja tokoh antagonisnya/Proud/
2024-04-17
0
Eka Susanty
N a n a s 😁
2023-10-18
0