Sudah dua minggu Alex tinggal di Indonesia, itu artinya, ia sudah satu minggu menjabat sebagai Presdir di Parvis Group.
"Dav, malam ini kamu temani aku makan malam di rumah," perintah Alex
"Tapi Bos, apa tidak sebaiknya Anda ke sana sendiri?"
"Aku malas kalau harus ke sana sendiri. Temani aku, atau aku tidak jadi ke sana!" tegas Alex.
"Baiklah Bos, saya akan menemani Anda." David mengiyakan permintaan bosnya, pasalnya dia tahu bahwa sebenarnya Alex sangat merindukan ayahnya.
Malam harinya, Alex datang bersama dengan David. Seseorang menyambutnya ketika ia memasuki rumah itu.
"Alex akhirnya kamu datang, aku merindukanmu," ucap seorang wanita sambil melangkah mendekati Alex dan memeluknya.
"Jaga sikapmu! Wanita tidak tahu diri!" ucap Alex sambil melepaskan pelukan wanita itu dengan kasar.
"tapi Lex,"
"Kau sudah datang Nak," ucap Pak Arya dengan bahagia seraya turun dari tangga. Ia menghampiri putra tunggalnya dan langsung memeluknya.
Alex membalas pelukan sang ayah, mereka saling melepas rindu. Pasalnya semenjak ayahnya menikah lagi 6 tahun yang lalu, Alex memutuskan untuk mengurus perusahaan yang baru ayahnya bangun di Australia. Sebenarnya selain tersebar di berbagai kota, Parvis Group juga memiliki beberapa anak perusahaan di beberapa negara yang sudah berkembang pesat, namun Alex lebih memilih untuk merintis perusahaan yang baru didirikan di Australia tersebut.
Mereka masuk menuju ruang makan diikuti David dan Rania, istri ayahnya.
"Lex, coba ini makanan kesukaan kamu, saya yang masak sendiri," ucap Rania.
"Tidak perlu!" jawab Alex tegas.
Berkali-kali Rania mencoba bicara dengan Alex, tapi selalu dijawab ketus oleh Alex. Ayahnya hanya bisa diam tanpa memprotes sikap Alex yang dinilai ya sangat membenci ibu tirinya itu. Walaupun sebenarnya Pak Arya tidak tahu alasan kenapa Alex tidak menyukai ibu tirinya tersebut.
"Lex, papa ingin bicara sesuatu sama kamu," ucap pak Arya di sela-makan malam mereka
"Soal apa Pa?" tanya Alex.
"Ini tentang wasiat dari Almarhum kakek kamu," Jawab Pak Arya.
"Sepertinya ini masalah penting, sebaiknya saya menunggu diluar bos," ucap David kepada Alex.
"Tidak perlu Dav, kamu bisa tetap disini tidak masalah," sahut Pak Arya.
"Baiklah Tuan Besar," David tidak jadi meninggalkan meja makan tersebut.
"Begini Lex, Almarhum kakek kamu telah berjanji untuk menjodohkan kamu dengan cucu dari Almarhum sahabatnya," lanjut Pak Arya.
"Uhuk..Uhukk." Rania tersedak dan mendengar ucapan suaminya.
"Alex tidak mau!" jawab Alex tegas sambil meletakkan sendok dan garpu di atas piring.
"Dengar papa dulu Lex, papa juga tidak mau memaksa kamu tapi ini adalah wasiat dari kakek kamu Nak, kakekmu sangat menyayangi kamu, beliau ingin yang terbaik buat kamu, lagian usia kamu juga sudah cukup matang untuk berumah tangga," jelas Pak Arya
"Tapi bukan kayak gini caranya, Alex bisa pilih istri sendiri!" tegas Alex.
"Apa kamu sudah punya pacar? seingat papa, kamu tidak pernah mengenalkan seorang Gadis pun kepada papa, bahkan waktu kamu kuliah dulu, kamu juga tidak mengenalkan pacar kamu sama papa, kamu bilang belum waktunya dan tahu-tahu katanya kamu sudah putus."
"Nggak usah ungkit-ungkit masa lalu Pa"
"Iya Mas, jangan memaksa Alex, biar dia memilih sendiri," ucap Rania sambil melirik Alex.
"Kamu nggak usah ikut campur urusanku!" sentak Alex.
"Alex! Jaga ucapan kamu, biar bagaimanapun dia mamamu!" Pak Arya meninggikan suaranya.
"Jangan pernah sebut wanita ini sebagai mama Alex!" ucap Alex dengan nada yang tak kalah tinggi dari ayahnya.
David hanya bisa menyaksikan keributan keluarga tersebut tanpa bisa berbuat apa-apa, justru dia malah merasa canggung berada diantara mereka.
"Kamu tahu Lex, kamu anak papa satu-satunya dan juga cucu kakek satu-satunya, kami sangat berharap sama kamu, baiklah kalau kamu tidak mau, papa tidak memaksa, tapi setidaknya lihatlah dulu photo gadis itu, siapa tahu kamu setuju setelah melihatnya," lanjut pak Arya sambil meletakkan sebuah photo di atas meja.
"Tidak perlu!"
Alex yang merasa sudah tidak ada yg perlu dibicarakan lagi pun mengajak David pergi.
"Aku udah selesai makan, ayo David kita cabut!" ajak Alex sambil berdiri.
" Baik Bos," jawab David.
Namun, sebelum meninggalkan meja makan, Alex sempat sekilas melihat photo gadis itu dan dia langsung mengenali gadis yang ada di photo tersebut.
" Baiklah, aku setuju menikah dengannya," ucap Alex tiba-tiba sambil memegang photo tersebut.
Sontak saja membuat yang berada di sana kaget dengan jawaban Alex yang berubah begitu cepat. Pak Arya tentu saja sangat senang mendengarnya, namun tidak demikian dengan Rania, ia langsung menunjukkan raut muka kecewa, tapi Alex tidak peduli dengan itu. Kemudian ia mengajak David pergi.
"Alex pamit dulu Pa, ayo Dav!" ajak Alex.
"Saya permisi dulu Tuan Besar," pamit David kepada pak Arya.
"Apa kamu tidak menginap disini malam ini Lex?" tanya Pak Arya.
"TIDAK!" Jawab Alex sambil melirik Rania dengan wajah tidak suka.
Alex pergi meninggalkan rumah mewah itu dengan membawa photo gadis yang dijodohkan dengannya.
🌼 🌼 🌼
Di dalam kamar, Rania menghampiri suaminya yang tengah duduk bersandar di ranjang.
"Mas, apakah kamu yakin akan menjodohkan Alex dengan gadis itu?" tanya Rania.
"Tentu saja aku yakin sayang, emang kenapa?" jawab Pak Arya sambil membenarkan posisi duduknya.
"Tapi Mas, keluarganya tidak sepada dengan keluarga kita, orang tuanya hanya pegawai negeri biasa, dia tidak pantas buat Alex."
"Sayang, sejak kapan keluarga kita mempermasalahkan perbedaan status sosial, aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu, seperti aku dulu yang tidak mempermasalahkan status sosial kamu ketika aku menikahimu, lagian aku kenal betul gadis itu, dia sangat baik dan cerdas, sangat cocok dengan Alex, terlebih lagi ini merupakan wasiat dari almarhum ayah, aku tidak bisa mengingkarinya," jelas Pak Arya.
Rania hanya diam dengan raut muka sangat kecewa.
POV RANIA
Sial, kenapa Alex mau dijodohkan dengan gadis miskin itu, dia sama sekali tidak pantas untuk Alex. Hanya aku yang pantas untuknya. Kalau saja dulu kamu jujur siapa kamu sebenarnya, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu dan memilih laki-laki tua ini Alex. Aku menyesal Lex, aku tidak rela kalau kamu bersama wanita lain. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena Alex kini sudah membenciku, kalau aku menentang perjodohan ini dan Mas Arya tahu semuanya, maka aku bisa kehilangan semuanya. Aku tidak mau kehilangan semua kemewahan ini, aku tidak mau hidup susah.
ilustrasi visual RANIA KARENINA
🌼🌼🌼
Di apartemen mewahnya, Alex nampak seolah-olah ia sedang membaca buku padahal sebenarnya ia memandangi photo gadis yang dijodohkan dengannya yang diletakkan di atas bukunya tersebut.
Kemudian Alex mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo ini siapa, kenapa malam-malam begini telepon?" ucap Anes diseberang telepon dengan suara malas. Pasalnya, ia sudah tidur namun tidurnya terganggu dengan getaran ponsel yang berada di atas nakas disamping tempat tidurnya.
"Ini saya, apa kamu tidak menyimpan nomorku?" jawab Alex kesal.
Anes langsung melihat layar ponselnya dan tampak nama orang yang meneleponnya PRIMUS (pria muka songong).
"Oh, iya Pak ada apa malam-malam telepon?" tanya Anes sambil menguap.
"Tidak ada, cuma memastikan besok kamu jangan telat datang kekantor!"
"Tut!" (suara panggilan di matikan).
"Emang dasar kampret! malam-malam begini telepon cuma mau bilang kayak gitu? Oh sungguh ajaib Presdir satu ini, ganggu orang tidur aja!" gerutu Anes, bagaimana tidak pasalnya jam di ponsel Anes menunjukkan pukul 02.05 wib.
Anes meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan mimpi indahnya.
" Sial! kenapa aku malah jadi telepon Anes malam-malam begini, apa yang dipikirkan gadis itu nanti, ah tau ah." Alex melemparkan ponselnya ke atas ranjang dan dia merebahkan diri di samping ponselnya dan terlelap.
🌼 🌼 🌼
Pagi harinya, Anes dan kedua orang tuanya sarapan seperti biasa.
"Sayang, ada yang ingin mama sama papa bicarakan sama kamu," ucap Bu Ratna.
"Bicara apa Ma, kayaknya serius amat, Anes jadi penasaran," jawab Anes.
"Pa, ayo Papa saja yang bicara," pinta Bu Ratna pada suaminya.
" Emm, begini sayang, ini menyangkut soal wasiat dari Almarhum kakek kamu." Pak Arya mulai membuka suara.
" Iya kenapa Pa, emang wasiat apa sih?" tanya Anes penasaran.
" Almarhum kakek kamu, memiliki sebuah janji dengan Almarhum sahabatnya, yaitu menjodohkan kamu sama cucu dari Almarhum sahabat kakek kamu itu," ucap pak Hari.
"Ohhh..." jawab Anes belum sepenuhnya mencerna omongan ayahnya.
"Uhuk.. Uhuk.. Apa pa??" Anes mulai menyadari maksud dari omongan ayahnya.
"Minum dulu sayang," Bu Ratna menyodorkan minum untuk putrinya yang tersedak karena syok dengan ucapan ayahnya.
"Dengarkan papa Nak, dulu sebenarnya yang akan di jodohkan papa sama anaknya Almarhum sahabat kakek kamu, kalau kami berbeda gender, tapi kenyataannya kami sama-sama laki-laki jadi mereka sepakat untuk menjodohkan cucu mereka kalau cucu mereka laki-laki dan perempuan, berhubung kamu cucu satu-satunya kakek kamu, maka kamu yang akan dijodohkan dengan laki-laki itu, kamu tahu kan Nak, kakek kamu sangat menyayangi kamu, pasti Beliau ingin yang terbaik buat kamu sayang, tapi semua kembali kepada kamu sendiri, kalau kamu menolak perjodohan ini papa tidak bisa berbuat apa-apa, papa tidak ingin kamu terpaksa karena ini menyangkut masa depan kamu sayang," ucap Pak Hari panjang lebar.
" Bagaimana dengan Mama, apa Mama setuju aku menikah dengan laki-laki itu?" Anes meminta pendapat mamanya.
" Sebenarnya mama setuju sayang, mama percaya dengan pilihan kakekmu, dan menurut mama, dia laki-laki yang baik, tapi mama juga tidak memaksa kamu sayang," jawab Bu Ratna.
Anes menarik nafas dalam-dalam.
" Mmmm baiklah aku setuju, kalau menurut kalian ini yang terbaik buat Anes," jawab anes mantap.
" Kamu serius Nak?"
" Iya Ma, Pa, Anes percaya sama pilihan kakek, Anes juga sangat menyayangi kakek. Lagian langsung menikah lebih baik dari pada pacaran lama-lama tapi akhirnya nggak jodoh," jawab Anes.
Anes memang sangat dekat dengan Almarhum kakeknya. Sewaktu kakeknya meninggal, ia adalah orang yang sangat terpukul atas kepergian kakeknya tersebut.
Dan tiba-tiba, bayangan Alex sekilas melintas dipikirkan Anes.
"*Ah apaan sih malah mikirin bos songong itu sih, ingat Nes, kamu sudah punya jodoh*," gumam Anes dalam hati.
"Baiklah kalau begitu, papa akan mengatur waktu pertemuan kedua keluarga kita, karena semalam laki-laki itu juga sudah setuju menikah dengan kamu," ucap Pak Hari semangat.
"Ya udah Pa, Ma, Anes berangkat kerja dulu," pamit Anes sambil menyalami dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian.
Outfit Anes ke kantor hari ini☝️
💠SELAMAT MEMBACA, JANGAN LUPA LIKE KOMEN N VOTENYA TERIMA KASIH 🙏💠
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Atika Rivanesa
Visualnya keren.....ada Dilraba & Yang Mi /Kiss/
2024-07-05
0
Yashinta
rania sdh gila dan serakah
2024-06-25
0
Sintia Dewi
lahh gk tau malu lu gila aja sih..lu udh bekas bapaknya msih punya nyali ngarepin anaknya bakalan mau balik lg sm lu.. GILA ya
2024-04-17
0