Happy reading...
Raut wajah Alby menegang. Tanpa menjawab pertanyaan Noval, Alby berlalu begitu saja. Namun langkahnya terhenti saat ayahnya yang bicara.
"Duduk dulu di sini, Al. Bagaimanapun juga Noval ini kan kerabat kita. Nggak sopan begitu," ujar Pak Sanjaya.
"Alby mau bersiap ke rumah sakit, Yah." Sahutnya.
"Duduk dulu sebentar. Masih ada waktu satu jam lagi kan?"
Mau tidak mau, Alby pun menurut. Ia berbalik dan duduk bersama dengan Noval dan ayahnya.
Noval memang kerabat. Tapi itu berlaku bagi Arif, tidak bagi dirinya. Noval merupakan keponakan Bu Siska, anak dari Kakaknya yang seorang juragan ternak itu.
"Kamu dinas di rumah sakit mana, Al?" tanya Noval dengan raut wajah yang ramah.
"Di RSUD." Sahutnya singkat.
"Noval ini sudah jadi Manager di Bank ternama lho, Al. Ayah nggak sangka kamu bisa ditempatkan di daerah yang sama dengan Noval."
"Iya ya, Paman. Kebetulan sekali," sahut Noval yang melirik pada Alby.
"Sudah makan belum, Al? Tadi kamu pergi belum sempat makan," tanya Bu Erni.
"Sudah tadi, Bu. Alby makan siang di luar bersama... teman." Sahutnya.
Bu Erni menyodorkan minuman pada Alby. Ia juga menawarkan camilan pada tunangan putrinya itu.
"Nak Noval sudah menikah?" tanya Bu Erni.
"Belum, Bu. Belum dapat yang cocok," sahut Noval sambil tersenyum.
"Kalau begitu semoga cepat menemukan ya. Supaya cepat nyusul Nak Alby ke pelaminan."
"Alby mau menikah? Kapan? Dengan siapa?" tanya Noval heran.
"Sama anak ibu, Intan. Mereka bertemu di Universitas. Dan sebentar lagi akan menikah," ujar Bu Erni penuh harap.
"Putri ibu juga seorang dokter?" tanya Noval semakin penasaran. Noval bisa melihat raut wajah Sanjaya berubah menegang. Suami Tante Siska itu pastilah menyembuyikan sesuatu dari calon besannya. Namun anehnya raut wajah Alby terlihat santai.
"Iya. Sekarang sedang tugas, sebentar lagi juga pulang. Sayangnya mereka jarang sekali mendapat jadwal di waktu yang sama." Sahutnya.
"Sayang sekali ya, Bu. Putri sangat cantik. Eh maksud saya putri ibu pasti sangat cantik. Setahu saya Alby hanya suka sama perempuan yang cantik." Entah sengaja atau tidak, Noval memberikan penekanan pada kata 'putri'.
"Benarkah? Intan beruntung kalau begitu ya," ucap Bu Erni.
"Kenapa Mbak bicara seperti itu? Intan cantik sekali, cocok jadi istrinya Alby." Siska yang datang segera menimpali. Membuat Bu Erni tersenyum lega.
Beberapa menit kemudian, Alby pamit ke kamarnya. Noval mohon izin menghampiri Arif di dalam kamarnya. Sementara para orang tua mulai membicarakan banyak hal termasuk rencana pernikahan Intan dan Alby.
Sementara itu di kamar Alby, pria itu menggeram kesal karena mau tak mau harus berhadapan dengan Noval.
"Sudah bagus aku menghindarinya waktu itu, untuk apa dia datang ke sini. Pasti Bu Siska yang memberinya alamat rumah ini. Dasar menyebalkan!" Umpatnya.
Sampai saat ini, kebencian Alby pada Noval sulit untuk dihilangkan. Entah mengapa ia merasa Noval selalu ingin merebut Putri darinya kapan saja.
***
Alfi cukup merasa lega karena sesampainya di rumah, Mamanya tidak ada. Hanya ada Nenek yang tentu saja mencecarnya dengan pertanyaan karena ia tidak pulang bersama teman-temannya.
"Jangan bilang sama Mama ya, Nek. Alfi mohon!" Pintanya.
"Iya, tapi Om Ganteng itu siapa? Masa iya nama orang kok 'ganteng', kalo panggilan sih mungkin saja." Sahutnya.
"Om Ganteng baik kok, Nek. Alfi dibawa ke mall..."
Alfi mulai menceritakan semua yang telah dilaluinya dengan om gantengnya hari ini. Dengan seksama Bu Rita mendengarkan cerita cucunya. Raut wajah Alfi yang sangat bahagia membuat Bu Rita penasaran akan sosok yang diceritakan tersebut.
Teman Putri? Siapa ya? Setahuku Putri nggak punya banyak teman pria, apalagi orang kaya. Batinnya.
Tidak lama kemudian, Putri pun datang. Ia membawakan beberapa macam jajanan untuk Alfi.
"Sudah makan, Al?"
"Sudah, Ma."
"Bagaimana kabar Mia, Put?"
"Baik, Bu. Itu bola siapa, Al? Sepertinya baru," tanya Putri heran.
Alfi nampak bingung harus menjawab apa pertanyaan mamanya. Beruntung Bu Rita mengerti.
"Ibu tadi membelinya di grosir yang ibu lewati." Ujarnya.
"Oh," sahut Putri yang beranjak ke kamar mandi.
Alfi terlihat lega. Tatapannya pada sang nenek menyiratkan ucapan terima kasih.
"Al! Kamu sudah pulang? Tadi darimana?" tanya Acil yang tiba-tiba ada di ambang pintu rumahnya.
"Ssttt. Ini mau nggak?" tanya Alfi yang menarik tangan Acil agar duduk di sampingnya.
"Kamu dari mana?" tanya Acil penasaran dengan suara sangat pelan.
"Nanti aku ceritakan. Main bola yuk! Aku punya bola baru," ajak Alfi sambil menunjuk pada bolanya.
"Wiih! Bagus, Al. Ayo! Aku ajak teman-teman, ini untukku ya." Acil tergesa-gesa keluar dari rumah Alfi sambil membawa snack milik Alfi. Begitu juga dengan Alfi yang berpamitan pada mamanya sambil membawa bolanya keluar.
"Putri, Ibu mau tanya. Kamu kenal sama yang namanya 'om ganteng'?"
"Pasti Alfi yang bilang ya, Bu. Putri juga nggak tahu. Ngakunya sih teman Putri," sahut Putri datar.
"Tapi kok Alfi bisa kenal?"
"Waktu itu nelpon Putri, kebetulan Alfi yang angkat. Nggak tahu apa yang mereka obrolkan. Nggak tahu juga yang mana orangnya."
Bu Rita mendengarkan ucapan Putri dengan tanda tanya besar dalam benaknya. Kalau Putri saja tidak mengenal pria itu, bagaimana bisa Alfi justru sudah sangat dekat dengannya. Siapa sebenarnya pria itu?
***
Dalam diamnya, Noval memperhatikan sosok Intan yang belum lama ini datang. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu nampak elegan. Pikirnya, beruntung sekali Alby bisa mendapatkan wanita secantik Intan.
Kalau Alby sudah ada Intan, itu artinya Putri bisa dengan mudah kudapatkan. Tapi aku masih penasaran, dimana dia? Waktu itu dia bersama Alby, tapi sebagai apa? batin Noval semakin bingung.
"Noval, boleh aku tahu bagaimana Alby sewaktu di desa? Apa dia punya pacar?" selidik Intan.
"Pacar? Hmm setahuku tidak. Kami berteman baik semuanya, namanya juga orang desa." Sahutnya.
"Apa ada teman perempuan yang disukai Alby?"
"Ada. Tapi ya gitu cuma naksir-naksir aja."
Intan semakin bingung dengan jawaban yang didengarnya dari Noval. Wanita itu kini bertanya-tanya, jangan-jangan Alby hanya mengada-ada.
Hmm, sepertinya keluarga ini menutupi pernikahan siri Alby dengan Putri. Kalau begitu aku harus mendukung mereka, agar pernikahan Alby dengan Intan tetap terlaksana. Batinnya.
Menjelang malam, Bu Erni dan Intan pun pamit pulang. Arif yang memang tidak dekat dengan Noval pamit ke kamarnya. Arif lebih memilih bertukar pesan dengan teman-temannya dari pada harus berkumpul dengan keluarganya.
Sementara itu, Sanjaya juga pamit ke kamarnya untuk beristirahat. Meninggalkan Siska hanya berdua dengan Noval, keponakannya.
"Alby sepertinya masih membencimu," ujar Siska pelan.
"Sepertinya begitu," sahut Noval.
"Dasar bodoh. Kalau sekarang dia masih dengan perempuan udik itu, tidak akan mungkin bisa bersanding dengan wanita seperti Intan." Dengusnya.
Noval hanya menyeringai lalu berkata, "Bi, sebenarnya Noval pernah bertemu Alby sebelumnya. Dan Bibi tidak akan percaya dia bersama siapa."
"Oh, ya? Dengan siapa? Apa dengan perempuan selain Intan? Apa Alby selingkuh?" tanya Siska penasaran.
"Dia bersama Putri."
"Apa? Kamu jangan mengada-ada. Tidak mungkin dia bertemu Putri di sini," delik Siska.
"Noval kan sudah bilang, Bibi tidak akan percaya. Tapi itu memang Putri. Noval juga bicara dengan dia kok."
"Kamu serius?"
"Iya." Angguknya pasti.
Raut wajah Siska pun berubah menegang. Karena tidak mungkin Noval berbohong padanya. Mereka tidak menyadari ada yang mendengar percakapan mereka dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Mbak Putri ada di kota ini? Jangan-jangan yang waktu itu aku lihat benar Mbak Putri. Bisa jadi dia tinggal di sekitar sini. Kalau Kak Alby pernah bertemu, apa itu artinya... batin Arif mulai menduga-duga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Nur Ckhanela
jangan2 Siska n Noval yg dibalik kejadian yg lalu🤔😡😡😡
2022-03-15
1
Santy Mustaki
Serruu
2021-06-11
0
Rhina sri
semangat thoor
2021-03-22
2