Janji

Happy reading...

"Siapa nama Ayahmu, Al?" tanya Alby dengan suara yang terdengar bergetar.

Alfi terdiam sesaat. Anak laki-laki itu menundukkan kepalanya, membuat Alby semakin bertanya-tanya.

"Kenapa? Tidak mungkin kan kalau kamu tidak mengetahui nama Ayahmu sendiri."

"Mmm, Om bisa pegang janji tidak?"

"Janji apa?" Alby menautkan kedua alisnya.

"Sebenarnya... Setiap kali Alfi menanyakan tentang Ayah, Mama selalu menjawab itu-itu saja. Kata Mama, Ayah Alfi bekerja dan belum bisa pulang. Waktu Alfi menanyakan nama Ayah, Mama tidak pernah memberi tahu." Ujarnya.

"Benarkah? Memangnya tidak ada di akte, kartu keluarga, atau apa saja. Di rapot kamu pasti ada nama Ayah kamu kan?"

"Nggak ada, Om. Kata Mama, dulu Mama dinikahkan hanya sama Pak Ustadz jadi nggak ada surat-surat gitu."

Deg.

Dinikahkan sama Ustadz? Batinnya.

Sesaat Alby merasa detak jantungnya seakan berhenti. Ia berusaha mengendalikan perasaannya karena mobil yang dikemudikannya memasuki basement sebuah mall ternama.

"Tapi ini rahasia ya, Om. Janji jangan bilang sama Mama."

"Rahasia apa?"

"Janji dulu," pinta Alfi.

"I-iya, Om janji."

"Sebenarnya Alfi sudah tahu nama Ayah Alfi."

"O-oh ya?" Alby merasakan tenggorokannya seakan tercekat.

"Iya, Nenek yang memberi tahu." Sahutnya.

Alby memarkirkan mobilnya. Ditatapnya anak lelaki itu dengan perasaan yang sulit digambarkan.

"Lucu deh, Om. Namanya mirip sama Alfi. Bahkan kata Nenek, panggilannya juga sama." Celotehnya.

Raut wajah Alby mulai menegang.

"Nama Ayah Alfi itu Alby. Mirip kan, Om. Alfi, Alby... Dipanggilnya juga 'Al'," ucap Alfi dengan polosnya.

Anak kelas empat sekolah dasar itu tidak menyadari bahwa ucapannya yang terdengar ringan bagaikan petir di siang hari bagi pria disampingnya. Raut wajah Alby memucat. Hatinya saat ini bagai berada dalam ruang tergelap dalam dirinya.

Alfi-Alby... Kata itu seolah bergentayangan di sekitar kepalanya.

Tidak mungkin. Tapi... Batin Alby meragu.

"Om, kapan turunnya?" lagi-lagi pertanyaan Alfi menyadarkannya.

"Eh, iya. Maaf, sampai lupa. Ayo," ajak Alby.

Alfi dengan riangnya turun dari mobil. Anak laki-laki itu menggandeng tangan Alby.

Alby terkesiap, lalu tersenyum. Ia membiarkan Alfi mengayun-ayunkan tangannya. Sulit sekali menjelaskan perasaannya saat ini. Sesekali ia menoleh pada anak yang terlihat antusias itu.

"Om, ini lift ya?" tanya Alfi polos.

"Iya," sahut Alby sambil mengusap rambut Alfi.

Putri, apakah dia putraku? Kamu harus jelaskan semua ini, batin Alby.

Sepanjang perjalanan mereka terlihat sangat akrab. Apalagi saat di area permainan. Alfi yang baru pertama kali ke tempat seperti itu terlihat sangat senang. Raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Alby tersenyum menatapnya dari tempat pembelian kartu.

"Apa itu, Om?"

"Ini kartu supaya kamu bisa bermain permainan yang ada di sini." Sahutnya.

Alfi menatap takjub sambil membolak-balikkan kartu tersebut.

"Begini caranya..." Alby memberitahukan cara menggunakannya dengan cara digesekkan pada tempat yang disediakan.

"Mudah kan?" Alfi mengangguk cepat.

Satu persatu Alfi mencoba permainan yang ada di sana. Anak itu tak segan mengajak Alby main bersamanya. Keduanya pun larut dalam kegembiraan.

Tanpa terasa, satu jam lebih mereka bermain. Alfi merasa senang karena bisa menukarkan tiket yang didapatnya dengan bola.

"Terima kasih, Om. Nanti sore Alfi bisa main bola sama teman-teman." Ujarnya.

"Mainnya jangan di jalan ya."

"Di jalan komplek dekat rumah, Om. Sepi nggak banyak mobil." Sahutnya.

"Sebelum pulang, makan dulu yuk!"

Alby mengajak Alfi ke sebuah restoran cepat saji. Ia menawarkan banyak makanan pada Alfi. Namun yang dipilihnya hanya cheeseburger, kentang goreng dan minuman bersoda.

Sambil menunggu, mereka berbincang.

"Om, sepertinya Alfi pernah bertemu Om Ganteng sebelumnya."

"Hmm, iya ya. Om juga merasa pernah melihat kamu."

"Om yang waktu itu nabrak Alfi, kan? Waktu Alfi lari," ucap Alfi.

Alby nampak sedang berfikir.

"Oh, iya benar. Kamu anak yang nabrak Om yang pakai seragam sekola itu."

"Om yang nabrak Alfi."

"Kamu yang nabrak ah. Hayo, waktu itu siapa yang minta maaf?" todong Alby.

"Alfi, Om. Hehe..."

Alby mengacak kasar rambut Alfi sambil terkekeh. Mereka mulai menikmati makanan yang sudah datang.

Alby menatap Alfi dengan rasa haru yang luar biasa. Sekarang ia tahu bentuk mata anak dihadapannya ini, sama persis dengan bentuk matanya.

"Dia anakku. Dan hanya akan jadi anakku."

Ucapan Putri kembali terngiang dalam ingatan Alby. Ia tidak habis pikir mengapa Putri tidak jujur padanya.

Apa itu artinya Putri tidak pernah menikah lagi? Berarti saat aku meninggalkannya, dia sedang hamil? Batin Albi bertanya-tanya. Ingin rasanya ia segera bertemu Putri dan menanyakan segalanya.

"Om, kok nggak makan?"

"Om tidak lapar. Kamu mau?" Alby menyodorkan burger miliknya.

"Beneran Om nggak mau? Enak banget lho, Om."

"Kamu habiskan saja," ujar Alby.

"Terima kasih, Om. Wah! Alfi bisa nggak makan lagi nanti malam."

Alby tersenyum menatap wajah putranya. Putra? Ya, Alby yakin anak ini adalah putranya. Sambil menggigit kentang goreng, Alby menatap lekat pada wajah Alfi.

Setelah makanan itu habis, Alby dan Alfi pun pulang. Selama perjalanan, Alby meminta Alfi mencaritakan bagaimana masa kecilnya.

Miris sekaligus sedih, itu yang dirasakan Alby. Hatinya bagai tersayat saat mendengar kehidupan Putri yang serba kekurangan. Apalagi saat mendengar cerita Alfi yang dengan santainya mengatakan bahwa sudah dua hari raya ini ibunya tidak bisa membelikan baju baru seperti teman-temannya.

Alby memalingkan wajahnya, berusaha menutupi air mata yang menetes di ujung matanya. Beberapa kali ia berdehem. Mengambil tisu dan mengusapkannya ke hidung seolah ia sedang flu. Padahal itu pengalihan karena ia ingin mengusap air matanya.

"Om sudah lama kenal Mama?"

"Mmm, lumayan."

"Rumah Om dimana?"

"Oh, iya. Rumah kamu dimana? Om sampai lupa," ujar Alby.

Jangan panggil 'om', Alfi. Ini Papa, batin Alby.

"Rumah Alfi masuk ke gang, Om."

"Nanti boleh ikut ke rumah?"

"Jangan! Mama Alfi nanti bisa marah. Lain kali aja ya, Om."

"Tapi boleh kan kalau Om mau bicara sama kamu di telepon?" Berat rasanya bagi Alby menyebut kata 'Om' setelah ia mengetahui kebenarannya.

"Boleh. Tapi jangan terlalu malam," sahut Alfi.

"Kalau boleh tahu, Alfi kangen nggak sama Ayah?" tanya Alby ragu.

"Nggak tahu, Om." Sahutnya polos.

"Kok nggak tahu?"

"Kan Alfi belum pernah bertemu. Jadi nggak tahu," sahut Alfi yang terlihat bingung.

"Oh, gitu ya."

"Tapi kalau marah iya, Om."

Deg. Sekali lagi ucapan Alfi membuatnya tertohok.

"Marah, kenapa? Kan belum pernah bertemu."

"Karena membuat hidup Mama jadi susah. Kalau ada Ayah, Mama Alfi kan tidak usah bekerja."

Lemas, Alby merasakan hatinya terhempas. Anak seusia Alfi bahkan sudah mengerti penderitaan ibunya.

"Di depan itu aja, Om. Rumah Alfi masuk lagi ke dalam gang," pekik Alfi.

Alby mengangguk tanpa berkata apapun juga. Setelah memberhentikan mobilnya di ujung jalan, Alby turun dan berjalan memutar untuk membukakan pintu.

"Bisa?" tanya Alby saat melihat Alfi kesusahan membuka sabuk pengaman.

"Bisa, hehe."

Alfi mengambil tasnya dan berpamitan pada Alby. Anak itu berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Alby terpaku menatap punggung Alfi yang berlalu. Ia melambaikan tangannya membalas lambaian Alfi yang sesekali menoleh padanya. Setelah sosok Alfi menghilang di belokan gang, Alby pun kembali masuk ke dalam mobilnya.

"Kamu harus menjelaskan semua ini, Putri. Harus!" Gumamnya.

"Tapi ini rahasia ya, Om. Janji jangan bilang sama Mama."

"Sial! Kenapa aku tadi membuat janji pada Alfi? Bodoh!" Umpat Alby merutuki diri.

"Tapi kalau tadi aku tidak berjanji, Alfi tidak akan memberitahukan semua ini." Ucapnya bermonolog.

"Ah, sudahlah. Bagaimana nanti saja. Yang penting aku bisa bertemu anakku lagi." Alby tersenyum saat kata 'anakku' terlontar begitu saja.

Sesampainya di depan rumah, Alby menatap heran pada mobil yang terparkir di depan rumahnya.

"Ini mobil siapa? Bukan mobil Intan, mobil Om Hasan juga bukan." Gumamnya.

Alby turun dari mobilnya, karena mobil itu menghalangi gerbang. Saat mendekati pintu, ia bisa mendengar tawa seorang pria bersamaan dengan tawa ayahnya.

"Al, sudah pulang. Lihat siapa yang datang," ujar Siska.

Alby terperanjak saat pria yang duduk membelakangi itu menoleh.

"Noval?"

"Hai, Alby! Apa kabar?" Sapanya.

 

Happy weekend, Readers😊

Terpopuler

Comments

erna erfiana

erna erfiana

baru Nemu cerita ini,seru,sedih,yg pasti keren novelnya

2022-09-01

1

Sifana Cahaya Exstrada

Sifana Cahaya Exstrada

sedih 😭😭😭 bagus thour 👍👍👍 ceritanya aku suka

2021-12-01

0

Ardika Zuuly Rahmadani

Ardika Zuuly Rahmadani

akhirnya alby bisa mengetahui yang sebernarnya

eh ngapain sinival muncul dirumah alby

2021-11-19

0

lihat semua
Episodes
1 Putri
2 Dokter Alby
3 kerja sampingan
4 kunci rumah
5 kepura-puraan
6 pertemuan tak terduga
7 makan malam
8 menepis prasangka
9 bodoh?
10 fitnah
11 sakit, Al...
12 ART-mu
13 Dia anakku
14 berbeda kasta
15 Om Ganteng
16 solo karir
17 pengakuan Alby
18 menjemput
19 Janji
20 dukungan Noval
21 pertemuan yang tidak disengaja
22 ide konyol (bagian 1)
23 ide konyol (bagian 2)
24 Alby vs Arif
25 kilas balik Putri (bagian 1)
26 kilas balik Putri (bagian 2)
27 menginap (bagian 1)
28 menginap (bagian 2)
29 mengambil kesempatan
30 aku tahu
31 makan malam spesial
32 kaputusan Alby (bagian 1)
33 keputusan Alby (bagian 2)
34 berterus terang
35 kebersamaan
36 rencana Alby
37 kebersamaan (2)
38 tamu dadakan
39 Intan vs Arga
40 gunjingan tetangga
41 Kakek Jaya
42 pertemuan (bagian 1)
43 pertemuan (bagian 2)
44 ayah dan anak (bagian 1)
45 keputusan Sanjaya
46 ayah dan anak (bagian 2)
47 papa Alfi
48 kebenaran yang terungkap (1)
49 kebenaran yang terungkap (2)
50 persekongkolan
51 khawatir
52 terulang lagi
53 merasa lega
54 visual cast
55 janji
56 menyambut tamu
57 acara dimulai
58 upaya Arif
59 gugup
60 keinginan Alby
61 terkejut
62 Pengumuman
63 menggoda
64 on fire
65 overdosis
66 digigit serangga
67 pengunduran diri Amanda (1)
68 pengunduran diri Amanda (2)
69 Nadila
70 keinginan Bu Rita
71 menjemput atau mampir?
72 persiapan perjalanan
73 Terkenang
74 Diagnosa
75 kamu kenapa?
76 keputusan Noval
77 Noval vs Nadila
78 malas
79 Jadi pacarku?
80 tukar shift
81 persalinan Amanda
82 bayiku
83 persalinan Putri
84 adik Alfi, namanya ...
85 kebersamaan
86 ayah Arsen
87 family time
88 hari bahagia (tamat)
89 extra part 1- Noval sakit?
90 extra part 2- happy ending
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Putri
2
Dokter Alby
3
kerja sampingan
4
kunci rumah
5
kepura-puraan
6
pertemuan tak terduga
7
makan malam
8
menepis prasangka
9
bodoh?
10
fitnah
11
sakit, Al...
12
ART-mu
13
Dia anakku
14
berbeda kasta
15
Om Ganteng
16
solo karir
17
pengakuan Alby
18
menjemput
19
Janji
20
dukungan Noval
21
pertemuan yang tidak disengaja
22
ide konyol (bagian 1)
23
ide konyol (bagian 2)
24
Alby vs Arif
25
kilas balik Putri (bagian 1)
26
kilas balik Putri (bagian 2)
27
menginap (bagian 1)
28
menginap (bagian 2)
29
mengambil kesempatan
30
aku tahu
31
makan malam spesial
32
kaputusan Alby (bagian 1)
33
keputusan Alby (bagian 2)
34
berterus terang
35
kebersamaan
36
rencana Alby
37
kebersamaan (2)
38
tamu dadakan
39
Intan vs Arga
40
gunjingan tetangga
41
Kakek Jaya
42
pertemuan (bagian 1)
43
pertemuan (bagian 2)
44
ayah dan anak (bagian 1)
45
keputusan Sanjaya
46
ayah dan anak (bagian 2)
47
papa Alfi
48
kebenaran yang terungkap (1)
49
kebenaran yang terungkap (2)
50
persekongkolan
51
khawatir
52
terulang lagi
53
merasa lega
54
visual cast
55
janji
56
menyambut tamu
57
acara dimulai
58
upaya Arif
59
gugup
60
keinginan Alby
61
terkejut
62
Pengumuman
63
menggoda
64
on fire
65
overdosis
66
digigit serangga
67
pengunduran diri Amanda (1)
68
pengunduran diri Amanda (2)
69
Nadila
70
keinginan Bu Rita
71
menjemput atau mampir?
72
persiapan perjalanan
73
Terkenang
74
Diagnosa
75
kamu kenapa?
76
keputusan Noval
77
Noval vs Nadila
78
malas
79
Jadi pacarku?
80
tukar shift
81
persalinan Amanda
82
bayiku
83
persalinan Putri
84
adik Alfi, namanya ...
85
kebersamaan
86
ayah Arsen
87
family time
88
hari bahagia (tamat)
89
extra part 1- Noval sakit?
90
extra part 2- happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!