Happy reading...
Sudah dua hari Putri tidak bekerja. Ia merasa jenuh bila harus seharian berdiam diri di rumah. Putri bahkan menawarkan diri menemani Rani bekerja di rumah majikannya. Namun temannya itu menolak karena takut ditegur oleh majikannya.
"Hari ini kamu nggak kerja lagi, Put?" tanya Ibu Rani.
"Belum ada kabar, Bu. Kata majikan saya, kalau urusannya sudah selesai akan memberi tahu."
"Oh. Dipotong gaji nggak, Put?"
"Kurang tahu, Bu." Sahutnya.
"Mudah-mudahan enggak ya. Itu kan bukan keinginan kamu."
"Iya, Bu. Mudah-mudahan."
Setelah mengakhiri obrolannya dengan Ibu Rani, Putri pun masuk ke dalam rumahnya. Untuk menghilangkan kejenuhannya ia berniat pergi ke toko menemui Mia.
***
Sementara itu ditempat lain, Alby baru saja pulang dari rumah sakit. Setelah berganti pakaian, ia berbaring di tempat tidur. Beberapa hari ini ia merasa enggan pulang ke rumah. Rasanya ada yang kurang sekalipun di rumah banyak orang.
"Alby..."
Tanpa canggung Intan masuk ke kamar Alby. Membuat pria itu merutuki dirinya yang lupa mengunci pintu.
"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Intan yang melangkah mendekati tempat tidur.
"Aku nggak lapar. Nanti saja," sahut Alby malas sambil menarik selimutnya.
Alby nampak terperanjat saat Intan tiba-tiba masuk ke dalam selimut dan langsung memeluknya.
"Kamu apa-apaan sih!" Decihnya. Alby mencoba melepaskan pelukan Intan, namun wanita itu justru semakin mengeratkannya.
"Aku kangen, Al." Ucapnya pelan.
"Intan! Jangan seperti ini, kita belum menikah." Tegasnya.
"Kalau begitu cepat halalin aku, Al." Bujuknya.
"Maaf, Intan. Aku tidak bisa. Aku berencana akan membicarakan ini dengan orang tua kita. Mumpung orang tuaku ada di sini." Ujarnya.
Alby memaksa melepas pelukan Intan dan beranjak dari tempat tidurnya. Pria itu melangkah menuju sofa dan menuangkan air minum yang ada di meja.
Intan nampak terperanjak mendengar ucapan Alby. Ia menatap heran pada pria yang sedang meneguk air minum tersebut.
"Nggak bisa gitu dong, Al. Seenaknya saja kamu memutuskan pertunangan kita. Memangnya salahku apa, hah?" Intan menghampiri dan duduk di sofa.
"Kamu tidak salah. Di sini aku yang salah, Intan."
"Kamu salah apa? Selingkuh? Ngomong dong yang benar," tanya Intan dengan raut wajahnya yang mulai menegang.
Alby menatapa sesaat pada Intan lalu membuang kasar nafasnya.
"Aku nggak jujur sama kamu."
"Nggak jujur tentang apa?"
"Aku sudah menikah," sahut Alby datar.
Bagaikan mendengar suara geledek di tengah teriknya mentari, Intan terkesiap mendengar pengakuan Alby. Wanita itu terpaku dengan raut wajah tak percaya.
"Tega kamu Al sama aku. Salahku dimana? Bisa-bisanya kamu menghianati aku," ucap Intan dengan raut wajah yang memerah.
"Aku tidak pernah menghianati kamu, Tan. Kenapa? Karena diantara kita tidak pernah ada komitmen apa-apa. Pertunangan itupun kalian yang memutuskan. Tidak ada keterlibatan apalagi persetujuan dariku. Apa kamu sudah lupa?" Alby menatap tajam pada Intan seolah ingin mengintimidasinya.
"I-iya, tapi..."
"Aku sudah menikah jauh sebelum kita bertemu."
"Apa maksudmu, Al? Jangan bercanda, kita bertemu di universitas setelah lulus SMA. Tidak mungkin kamu menikah sebelum itu," delik Intan.
"Tapi itulah yang terjadi padaku."
"Lalu dimana istrimu itu, hah? Atau kalian sudah berpisah? Jelaskan padaku!"
"Kami belum sepenuhnya berpisah. Dia masih ada dan akan selalu ada di hatiku." Sahutnya.
Alby tidak menyadari atau lebih tepatnya tidak perduli jika pernyataannya membuat Intan merasa tertohok. Wanita itu terlihat kecewa dengan apa yang di dengarnya.
"Siapa dia? Apa wanita di desamu?"
"Iya."
"Heh, aku penasaran seperti apa wanita itu?" Decihnya.
"Sekarang keluarlah. Aku ingin istirahat," ujar Alby sambil beranjak dari sofa berjalan kembali ke tempat tidurnya.
"Alby, jangan bicarakan dulu hal ini dengan orang tua kita. Aku mohon," pinta Intan.
"Kenapa? Bukankah akan lebih baik bagimu jika ada kejelasan tentang hubungan kita. Kamu bisa leluasa mencari pria yang lebih baik dariku," ujar Alby heran.
"Beri aku waktu, Al. Aku pasti akan bisa membuatmu berpaling dari wanita itu. Aku yakin bisa membuatku melupakan dia." Ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Heh, sejak kapan kamu menjadi bodoh. Aku memberimu kesempatan emas tapi kamu sendiri yang menyia-nyiakannya." Decihnya.
Bagaimana bisa aku melupakan dia, Intan. Selain ada dalam hatiku, dia juga kini berada dekat denganku. Batinnya.
Aku pasti bisa, Al. Kamu lihat saja nanti, batin Intan.
Intan pun akhirnya meninggalkan kamar Alby. Sambil meniti anak tangga tatapannya tertuju pada orang tua Alby dan juga ibunya yang terlihat sangat akrab.
Pagi ini, Ibunya meminta diantar ke rumah ini. Beliau sengaja datang membawakan kue buatannya untuk sekedar teman camilan sambil minum teh bersama calon besannya.
Intan dapat melihat raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah teduh ibunya. Wanita paruh baya itu berkali-berkali mengatakan padanya bahwa Alby merupakan sosok menantu idamannya.
"Intan, sini dong. Alby pasti langsung tidur ya," ujar Siska.
"Iya, Tante." Sahutnya mencoba menitupi kegalauan dalam hatinya.
"Alby pasti sangat lelah. Jangan diganggu, kasihan." Bu Erni tersenyum sambil menuangkan teh hangat untuk putrinya.
"Terima kasih, Bu." Ucapnya saat menerima secangkir teh yang disodorkan ibunya.
Intan mendengarkan percakapan para orang tua yang membahas tentang dafrar masuk kuliah Arif. Dalam diamnya sesekali Intan melirik pada Pak Sanjaya dan juga Ibu Siska. Ia tidak menyangka kedua orang tua yang ia segani itu ternyata menyembunyikan kebenaran tentang Alby darinya dan juga dari ibunya.
Apa Om Hasan dan Tante Ira juga ikut menutupinya? batin Intan.
Sementara itu, tanpa mereka sadari ada seseorang di luar rumah yang sedang terpaku menatap dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Katannya Alby ada urusan, tapi kok mobilnya ada di rumah? Di dalam juga kedengarannya banyak orang? batin Putri.
"Apa ada acara keluarga? Atau mereka sedang menentukan tanggal pernikahan?" Gumamnya.
Suara bersin seseorang mengagetkan lamunan Putri. Ia terkesiap saat melihat sosok pemuda di teras rumah Alby. Pria muda yang sedang menggosok hidungnya itu menyadari kehadirannya, cepat-cepat Putri melanjutkan langkah kakinya.
Sepertinya aku mengenal wajah itu. Siapa ya? Batin Putri.
Putri melanjutkan langkahnya menuju toko tempatnya dulu bekerja. Entah mengapa, perasaan dan langkahnya membawa Putri melewati jalanan rumah Alby.
"Apa Alby sengaja meliburkanku karena ada acara di rumahnya? Dan dia tidak ingin aku mengetahui kapan dia dan Intan akan menikah. Ah, sudahlah."
Putri mempercepat langkahnya agar hati dan pikirannya tak lagi sempat bertanya-tanya. Ia harus bisa merelakan Alby. Karena bagaimanapun juga bagi pria itu dirinya hanyalah masa lalu.
Di lain pihak, Arif yang tadi sempat melihat sekilas wanita yang berdiri di depan rumah kakaknya juga tak kalah besar tanda tanya dalam benaknya. Ia berniat mengejar namun urung karena wanita itu mempercepat langkahnya. Alhasil, ia hanya menatap dari kejauhan punggung wanita itu.
"Kok mirip Mbak Putri," gumam Arief.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Ardika Zuuly Rahmadani
lah itukan emang putri arif
2021-11-19
1
Rhina sri
semangat kak el pokoknya intan jangan nyakitin putri
2021-03-21
1
piyak 🐣🐣
emang itu putri ,Arif ,
waduh intan pasti gak akan diem ,
kepalanya udah keluar tanduk nya tuh 🤣🤣🤣
lnjuuuuttt kak 👍
2021-02-19
1