Happy reading...
Masih dengan tanya yang menghinggapinya, Arif kembali masuk ke dalam rumah.
"Kenapa kamu, Rif? Kok seperti orang linglung," tanya Siska.
"Nggak, Bu. Tadi di depan sepertinya Arif melihat seseorang."
"Seseorang siapa? Memangnya kamu kenal sama siapa di sini?" tanya Pak Sanjaya.
"Nggak ada sih, Yah. Mungkin cuma perasaan Arif saja."Pungkasnya.
"Kamu ini ada-ada saja, Rif. Lihat perempuan cantik ya di depan," goda Intan.
"Iya, Mbak. Hehe..."
Arif menoleh ke atas pada pintu kamar Alby. Sosok wanita yang baru saja dilihatnya membuat Arif ingin mengetahui bagaimana perasaan Alby yang sebenarnya.
Apa Kak Alby masih ingat sama Mbak Putri? gumam Arif dalam hati.
***
Deringan alarm pada ponsel membuat Alby terhenyak dari tidurnya. Pria itu mengerjap, kemudian duduk bersandar sambil mematikan bunyi alarm ponselnya.
Hari menjelang siang, Alby berencana menemui seseorang. Ia bergegas menuju kamar mandi. Alby terlihat begitu semangat. Jauh berbeda dengan pagi sebelumnya, Alby bahkan enggan beranjak dari tempat tidurnya.
Dengan mengenakan pakaian casual, pria itu keluar dari kamarnya. Sanjaya yang sedang terduduk di sofa menatap heran pada putranya.
"Mau kemana, Al?"
"Mau pergi, Yah."
"Kamu belum makan, Nak. Jangan pergi dulu," ujar Bu Erni yang sedang membantu Siska menyiapkan makan siang.
"Tidak usah Bu, terima kasih. Alby makan ini saja," sahut Alby yang mengambil beberapa camilan yang tadi dibawa Bu Erni.
"Alby pamit, Yah. Mari, Bu!"
"Hati-hati!" seru Bu Erni.
Alby mengangguk pelan dan berlalu meninggalkan rumahnya. Bu Erni memang baik. Sosok ibu yang sederhana dan penyayang. Terkadang Alby seperti melihat sosok almarhum ibunya saat bersama Bu Erni.
"Beruntung sekali punya anak seperti Nak Alby. Baik, ganteng, sopan," ujar Bu Erni yang di tanggapi seringain oleh Siska. Sementara itu Sanjaya tidak memberi respon apapun dengan apa yang didengarnya.
Di tempat lain, Alby menepikan mobilnya tidak jauh dari sebuah bangunan berwarna merah putih. Alby turun dari mobilnya dan berjalan mendekati beberapa orang yang sepertinya pedagang di sana.
"Permisi! Maaf saya mau bertanya anak-anak pulang sekolah jam berapa ya?"
"Kelas berapa, Mas?" seorang wanita paruh baya balik bertanya.
"Kelas empat, Bu." Sahutnya.
"Oh, kalau kelas empat pulang jam satu. Sebentar lagi, Mas. Itu, di sebelah sana banyak yang menunggu." Ujarnya.
"Terima kasih, Bu."
Alby berlalu mendekati beberapa orang yang katanya sedang menunggu. Diantara mereka ada yang menunggu di atas sepeda motor, ada juga yang menunggu di depan gerbang. Di atas gerbang tertulis dengan huruf besar 'SDN HARAPAN'.
Beberapa orang memperhatikan keberadaan Alby di tengah-tengah mereka. Mungkin karena mereka baru pertama kali melihat Alby di sana.
"Menunggu siapa, Mas?" tanya seorang ibu.
"Alfi, Bu." Sahutnya.
"Alfi? Kelas berapa?"
"Kelas 4-B," sahut Alby lagi.
"Oh, cucunya Bu Rita ya?" ujar salah satu ibu lainnya.
Alby merasa terhenyak mendengar nama ibunda Putri tersebut. Sudah lama sekali ia tidak mendengar nama itu. Alby hanya bisa meng-iya-kan dengan mengangguk pelan.
Suara bel sekolah samar-samar terdengar. Anak-anak berhamburan keluar dari gerbang sekolah. Satu persatu mereka menghampiri orang yang menjemput mereka.
Sekilas Alby merasa terenyuh melihat pemandangan tersebut. Apalagi saat melihat kedekatan seorang anak dengan pria paruh baya yang merupakan ayahnya. Senyum tipis terukir di wajah Alby.
Beberapa anak terlihat keluar bersamaan. Mereka tergelak dan saling mengganggu satu dengan lainnya.
"Alfi, mau kemana? Itu yang menjemputmu sudah menunggu," ujar ibu yang tadi menyapa Alby.
Mendengar ibu itu menyebut nama Alfi, tatapan Alby langsung tertuju pada anak yang menoleh. Ia tertegun saat tatapannya beradu dengan anak tersebut.
"Siapa Al?"
"Nggak tahu, Cil. Tunggu ya," ujar Alfi.
"Hati-hati culik, Al," ujar salah satu temannya.
"Mana ada orang yang mau nyulik aku," sahut Alfi pelan. Ia kemudian berjalan menghampiri pria yang sedang menunggunya.
Semakin dekat anak itu padanya, entah mengapa dada Alby terasa berdebar sangat kencang. Jika diperhatikan, raut wajah anak laki-laki itu mirip sekali dengan Putri. Hanya saja bentuk matanya, terasa tak asing bagi Alby.
"Om! Om ini siapa?" Pertanyaan Alfi mengembalikan kesadaran Alby dari keterpanaannya.
"Hai! Namamu Alfi?"
"Iya. Om, siapa?"
"Saya.. Om Ganteng. Masih ingat?"
"Om Ganteng?" gumam Alfi bingung. Namun tak lama raut wajahnya berubah.
"Oh! Teman Mama yang waktu itu bicara di telepon ya?" ujar Alfi.
"Iya, benar. Syukurlah kalau kamu masih ingat."
"Anak Om juga sekolah di sini, kelas berapa?" tanya Alfi polos.
Alby terkesiap. Gaya bicara Alfi mengingatkan Alby pada bayangan dirinya di masa lalu.
"Om tidak sedang menunggu siapa-siapa. Om di sini menunggu kamu," sahut Alby.
"Alfi?" Anak lelaki itu terlihat tak percaya.
"Iya, kamu. Mau kan ikut Om sebentar?" tanya Alby.
"Om, culik bukan?"
Alby terkekeh pelan mendegar pertanyaan Alfi. Pria itu mengacak lembut rambut Alfi yang juga ikut terkekeh bersamanya.
"Al, ayo pulang!" seru salah satu temannya.
Alfi menoleh pada temannya dan Alby bergantian. Anak itu terlihat bingung harus memutuskan apa.
"Kamu ikut Om kan?"
"Ee.. Sebentar ya, Om."
Alby menghampiri teman-temannya.
"Siapa Al?"
"Om Ganteng, teman Mamaku."
"Mau apa katanya?"
"Mau mengajakku sebentar. Kalian pulang duluan ya."
"Tapi kalau Mamamu nanti menanyakan, kami harus jawab apa?"
"Ee.. Bilang saja aku ada kerja kelompok dengan teman lain. Tolong aku sekali ini saja ya," pinta Alby pada teman-temannya.
"Bagaimana kalau dia itu culik, Al?"
"Bukan. Aku yakin Om itu orang baik," sahut Alby.
"Ya sudah. Tapi jangan lama ya, Al. Aku nggak mau kalau Mamamu sampai memarahi kami," ujar Acil, salah satu teman Alfi.
"Oke." Sahutnya.
Setelah teman-temannya berlalu, Alfi kembali menghampiri Om Ganteng-nya. Pria itu tersenyum manis menyambutnya. Alby terlihat senang dengan keputusan yang diambil anak lelaki dihadapannya.
"Ayo!" Ajaknya.
Alby mengacak lembut rambut Alfi. Senyum bahagia terpancar nyata dari wajahnya.
"Mau kemana, Om?"
"Kamu mau kemana?" Alby balik bertanya.
"Kemana aja. Tapi jangan lama ya, Om. Kalau Alfi pulang terlambat sekali, nanti Mama bisa marah." Ujarnya.
Alby tersenyum sambil mengangguk. Ia kemudian membukakan pintu mobil untuk Alfi. Dan setelah ia memasangkan sabuk pengaman Alfi, ia pun mulai mengemudikan mobilnya.
"Kamu mau ke arena permainan?" tawar Alby.
"Jauh nggak, Om?"
"Hmm nggak juga. Di mall XX," sahut Alby.
Alfi yang merasa nama mall itu tak asing di telinganya pun menyanggupi. Lalu mereka terlihat akrab membicarakan banyak hal seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal.
Gelak tawa Alfi sesekali terdengar berpadu dengan kekehan Alby. Anak lelaki itu nampak senang melihat antusias Alby saat mendengarkan ceritanya tentang teman-teman dan juga keluarganya.
"Nenekmu juga masih bekerja?" tanya Alby dengan kedua alis yang ditautkan.
"Iya, Om. Mama juga. Tapi sejak kemarin ada di rumah. Katanya Pak Dokter sedang tidak di rumah, jadi Mama libur dulu kerjanya."
Putri bekerja, bahkan Bu Rita juga bekerja. Apa-apaan ini? Bisa-bisanya suami Putri memperlakukan mereka seperti itu, batin Alby menggeram.
"Ee, Alfi. Boleh Om tahu, Ayah kamu kerja apa?" tanya Alby ragu.
"Ayah Alfi? Nggak tahu, Om. Kata Mama, Ayah Alfi bekerja. Tapi Ayah tidak pernah pulang. Dan Alfi juga belum pernah bertemu Ayah," sahut Alfi.
Seketika perasaan Alby seakan terhempas. Entah mengapa ucapan Alfi membuatnya merasa lemas.
"Siapa nama Ayahmu, Al?" tanya Alby dengan suara yang terdengar bergetar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Ardika Zuuly Rahmadani
nahkan denger nama ibu rita langsung berdebar
2021-11-19
1
Santy Mustaki
Semoga Alfi tau.....
2021-06-11
0
Rhina sri
moga aja alfi tau nama ayahnya
2021-03-22
7