Happy reading...
Celotehan Alfi yang sedang mengeluarkan beberapa camilan dari dalam plastik mengganggu tidur Putri. Anak laki-laki itu senang mandapatkan satu kantong plastik besar yang berisi berbagai macam jajanan.
Semalam saat Putri tiba di rumahnya, Alfi sudah terlelap. Mungkin karena siang hari ia tidak suka tidur siang dan memilih bermain bersama teman-temannya.
"Al, gimana kemarin sekolahmu?" tanya Putri dari dalam kamarnya.
"Ma, ini semua untuk Alfi?" Alfi memperlihatkan beberapa bungkus snack yang dipegangnya.
Putri yang masih tiduran pun mengangguk pelan. Ia tersenyum melihat raut wajah putranya yang merasa senang. Maklum saja karena jarang sekali ia membawa jajanan, apalagi sebanyak yang diberikan Alby semalam. Alby..
Ah, iya. Aku kan harus berangkat jam enam. Batinnya.
Putri menoleh melihat jam yang terpaku di dinding. Ia merasa lega karena masih ada tiga puluh menit waktu yang tersisa.
"Ma, kemarin Alfi belum belajar. Kata ibu guru hari ini Mama harus ke sekolah."
"Ke sekolah?"
"Iya."
Putri pun membasuh mukanya. Setelah itu ia keluar menanyakan perihal tersebut pada tetangganya. Kebetulan beberapa dari mereka teman satu kelas Alfi.
"Iya kan, Ma?" tanya Alfi yang sedang mengunyah wafer keju kesukaannya.
"Iya apa, Al?" tanya Bu Rita yang masuk kerumah sambil menenteng plastik belanjaan yang akan dimasak siang nanti. Bu Rita juga membawa semangkuk bubur untuk cucunya.
"Ada rapat di sekolah, Bu. Nanti jam sembilan," sahut Putri yang menyuapkan bubur itu pada putranya.
"Kamu mau ke sekolah apa ibu yang ke sana. Nanti ibu akan izin kalo kamu ngggak bisa." Ujarnya.
"Putri aja deh, Bu. Biar nanti Putri yang izin dulu," sahut Putri sambil mengambil satu bungkus snack dan membukanya. Ia juga menyuapkan bubur pada mulutnya.
"Al, Mama dulu yang mandi ya. Mama harus berangkat pagi-pagi. Habiskan buburnya," ujar Putri.
Alfi mengangguk dengan tatapan yang mengarah pada tv. Putri membawa handuk dan menuju kamar mandi.
"Memangnya kamu mau berangkat jam berapa?"
"Jam enam, Bu." Sahutnya dari dalam kamat mandi.
"Lho, memangnya sekarang toko buka jam berapa?"
Putri tidak menjawabnya. Suara air yang mengalir dari keran seperti sengaja diputar untuk menyamarkan pendengaran.
"Kenapa nggak di habiskan, Al? Kalau sudah dingin kan nggak enak."
"Alfi mau makan ini aja ya, Nek. Nenek mau? Ini masih banyak," ucap Alfi sambil mendekatkan kantong plastik makanan itu pada neneknya.
"Buburnya Nenek yang habiskan ya?"
"Iya, sama ini enak lho, Nek."
Bu Rita pamit pada Putri dan Alfi. Saat putranya mandi, Putri bersiap untuk bekerja. Beberapa teman Alfi sudah menunggu di luar. Anak-anak itu nampak semangat sekali, bahkan ada yang disuapi sambil menunggu Alfi.
Setelah selesai, Putri mengunci rumahnya dan diberikan pada Alfi. Kunci rumah itu ada dua. Yang satu lagi dibawa ibunya. Putri berpamitan pada putranya, Alfi nampak senang berjalan beriringan dengan teman-temannya.
***
Flashback on
Malam mulai larut, Bu Rita khawatir karena Putri belum pulang juga. Ia terduduk menunggu di depan rumahnya sambil mengobrol dengan Sari, ibunya Rani.
.
"Apa aku susul ke tokonya saja ya?" Batinnya.
"Sedang menunggu Putri, Bu?" sapa anak pemilik kontrakan yang baru saja memarkirkan motornya.
"Iya. Nak Abim baru pulang?"
"Putri akan pulang malam sepertinya, Bu. Dia ada kerja sampingan malam ini."
"Nak Abim ketemu Putri di mana?"
"Tadi saya ke toko, sengaja mau ngajak Putri pulang bareng saya. Tapi dia menolak dan lebih memilih naik mobil dengan orang yang baru dia kenal." Sahutnya sinis.
"Naik mobil?" Gumamnya.
"Iya. Saya lihat sendiri kok, dia naik mobil laki-laki itu. Nggak nyangka aja, ternyata Putri tidak selugu dugaan saya. Saya masuk dulu ya, Bu." Pamitnya.
Bu Rita tertegun mencoba memahami ucapan Abim. Ia menoleh pada Sari yang juga menatap tidak mengerti.
"Jangan langsung percaya, Mbak. Tanya langsung aja sama Putri. Yang tahu bagaimana anak kita kan kita, ibunya."
Dua wanita paruh baya itu memutuskan untuk masuk ke rumah masing-masing. Bu Rita berbaring di kursi menunggu sambil menonton tv. Tatapannya kosong, padahal hatinya berkecamuk. Sebisa mungkin ia menepis prasangka buruk yang menghinggapi hatinya.
Waktu terus berlalu, namun yang ditunggu tidak kunjung datang. Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekati pintu dan memutar gagangnya.
"Ibu belum tidur?"
"Belum. Kamu dari mana dulu, jam segini baru pulang." Tegurnya.
"Putri ada perlu, Bu."
"Lain kali jangan pulang selarut ini ya, Put. Kasihan Alfi, dari tadi nungguin kamu. Dia sampai ketiduran nggak sempat makan," ujar Bu Rita.
"Iya, Bu." Ucapnya pelan dengan raut wajah yang menyesal.
"Bawa apa itu?"
"Ini jajanan untuk Alfi, Bu."
"Banyak sekali, kamu beli sendiri? Jangan boros, Put. Anakmu belakangan ini banyak maunya. Kalau ada uang lebih sebaiknya disimpan."
"Iya, Bu."
Bu Rita memperhatikan langkah Putri yang berjalan menuju kamar. Saat ia melewati kamar, dilihatnya Putri yang sedang membetulkan posisi tidur putranya. Selanjutnya, Bu Rita mencoba untuk terpejam. Percaya bahwa putrinya tidak berbuat yang macam-macam.
Seperti biasanya, Bu Rita selalu bangun paling awal. Setelah membersihkan diri, ia menyapu bagian dapur hingga ke depan. Entah mengapa melihat tas yang biasa dibawa Putri tergantung di dinding, ia jadi penasaran.
Kedua maniknya terbelalak melihat lembaran uang ratusan ribu ada dalam tas itu. Bahkan nominal keseluruhannya pun masih tertera.
Sepuluh juta! Dari mana Putri mendapatkan uang sebanyak ini? Batinnya heran.
Bu Rita menoleh pada Putri yang masih terlelap. Ucapan anak pemilik kontrakan itu kembali terngiang.
Tidak. Itu tidak mungkin. Putri tidak mungkin seperti itu, batin Bu Rita mencoba untuk menepis lagi prasangkanya.
Flashback off
Senggolan seseorang pada bahunya menyadarkan lamunan Bu Rita. Ia melanjutkan lagi langkahnya menyusuri jalan menuju tempat kerjanya.
"Nanti malam kamu harus menjelaskan semuanya pada ibu, Putri." Gumamnya.
Sementara itu...
Dengan nafas terengah Putri tiba di depan rumah Alby. Tadi ia bergegas menuju ke rumah itu sambil menerima panggilan telepon dari Mia yang menanyakan keputusannya.
Putri sudah memutuskan akan bekerja sampai mendengar rencana pernikahan Alby dan Intan. Kenapa hanya sampai rencana pernikahan? Karena Putri tidak ingin menyakiti perasaannya sendiri.
Ia sudah berencana akan berhenti, saat tanggal pernikahan itu sudah pasti. Entah itu bulan depan atau beberapa bulan ke depan, ia belum tahu. Karena itu, ia akan mencoba bertahan sampai saat itu tiba.
Uang yang di terimanya kemarin akan ia simpan dengan baik. Mungkin hanya akan diambil untuk membeli sepeda Alfi dan membayar kontrakan. Ia juga tidak akan meminta uang gaji lagi pada Alby. Karena uang itu sudah lebih dari cukup untuk membayarnya beberapa bulan.
Perlahan Putri memutar pegangan pintu, Ia terkejut mendapati Alby sudah berdiri menatapnya.
"Kamu terlambat sepuluh menit," ucap Alby datar.
"Maaf, Al. Aku janji besok diusahakan tidak terlambat lagi," ujar Putri.
"Buatkan aku sarapan," pinta Alby dengan gerak mata yang mengikuti langkah Putri.
Melihat rambut Putri yang basah, entah mengapa membuatnya kecewa. Alby mengepalkan tangannya untuk menekan emosi yang tiba-tiba menghampirinya.
"Mau dibuatkan apa, Pak Dokter? Kan di lemari pendingin hanya ada buah dan telur. Mau mie goreng lagi?" Tawarnya.
"Kamu ingin aku sakit ya? Setiap saat menawarkan mie," decih Alby.
"Ya terus, mau dibuatkan apa dong?"
"Buatkan aku jus buah," pinta Alby.
Alby memperhatikan Putri yang sedang memilih buah untuk dibuat jus. Setelah jus tersedia, Alby justru meminta Putri mengikutinya ke atas.
Mau apa Alby memintaku ke kamarnya? batin Putri heran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Enung Samsiah
hadeeeh lucu pk dokter cmburu pd rambut basah😂😂
2023-03-20
1
Ardika Zuuly Rahmadani
haduuh ngapain alby keatas🤭🤭🤭, huuusss suuzdon aja
2021-11-19
0
Rhina sri
ibu rita sakah paham nih..
2021-03-20
0