Happy reading...
Suasana di SDN Harapan hari ini lain dari biasanya. Bukan hanya anak-anak tapi juga orang tua nampak berseliweran di lingkungan sekolah. Hari ini hari kedua anak-anak itu bersekolah. Mereka menempati kelas baru dan juga memiliki wali kelas yang baru.
Tahun ajaran ini, Alfi duduk di kelas empat. Putra semata wayang Putri itu walaupun kurang menonjol dari segi akademis, namun ia cukup aktif dalam ekstrakulikuler pramuka.
"Mama!" seru Alfi sambil melambai saat melihat Putri memasuki area sekolah. Putri membalasnya dengan senyum dan lambaian tangan. Ini kali pertama Putri menghadiri rapat orang tua, sebelumnya selalu Bu Rita yang menghadirinya.
"Put, aku kira ibumu yang akan datang."
"Sekali-kali aku dong, Han. Alfi kan anakku. Masa neneknya terus," sahut Putri pada Hana, tetangga dekat rumahnya.
"Katanya kamu sudah berhenti ya, Put. Temanku bilang adiknya kerja di toko itu menggantikan kamu."
"Iya, Han. Sekarang aku kerja di rumah."
"Syukur deh. Kalau di rumah kan gajinya lumayan," ujar Hana. Putri mengangguk pelan.
Putri dan orang tua murid lainnya memasuki ruang kelas 4-B, kelas Alfi dan teman-temannya. Dalam rapat itu, para orang tua murid diberi penjelasan mengenai kegiatan belajar dan mengajar selama setahun penuh. Juga mengenai buku penunjang belajar anak yang dipinjamkan dari sekolah.
Selama kurang lebih satu jam, rapat pun selesai. Putri pamit pulang pada putranya setelah memberinya tambahan uang jajan.
***
Setelah jam prakteknya selesai, Alby tidak menunggu lama untuk pulang ke rumah. Sedari tadi ia sudah tidak sabar ingin segera menanyakan perihal anak yang dibicarakan Putri pagi ini.
Sesampainya di rumah, Alby bergegas mencari Putri. Langkahnya terhenti saat melihat punggung Putri yang sedang bersenandung pelan sambil menyetrika pakaiannya.
"Alby sudah pulang? Ini kan masih siang," gumam Putri.
Entah mengapa perasaan Alby mulai ragu. Ia hanya bisa melihat Putri dari ambang pintu.
"Ada apa, Al?" tanya Putri saat menoleh padanya.
Putri merasa heran melihat Alby mematung di ambang pintu. Raut wajah pria itu terlihat bingung seoalah ada yang ingin dikatakannya.
"Ee.. Itu, anu.. Kamu sudah makan belum?"
"Sudah barusan, aku membuat mie instan." Sahutnya.
"Kenapa membuat mie? Memangnya kamu tidak masak?"
"Apa yang harus aku masak? Hanya ada telur, beras pun tidak ada." Sahutnya.
Alby tersenyum kecut. Ia lupa bahwasanya di rumahnya memang tidak ada apa-apa. Sehari-hari ia selalu membeli makanan untuk dimakannya sendiri dan merebus telur untuk sarapan.
"Kalau begitu, ayo kita keluar." Ajaknya.
"Keluar kemana?"
"Ke supermarket. Kita akan belanja untuk satu bulan ini. Kamu bisa tuliskan apa-apa saja yang dibutuhkan. Misalnya minyak goreng, beras, atau apa saja." Tuturnya.
"Apa harus sama aku?"
"Memangnya kenapa? Kamu nggak mau? Oh, kamu malu ya karena tampilanmu terlihat lusuh. Ya nggak apa-apa dong, orang lain akan tahu aku belanja dengan ART-ku." Jawabnya sarkasme.
Putri mendelik sambil membuang mukanya. Hatinya merasa sedikit tersinggung mendengar ucapan Alby. Tapi kenyataannya memang begitu, saat ini hubungan mereka adalah ART dan majikannya.
"Ayo, Putri!"
"Katanya aku disuruh bikin catatan, aku kan belum nulis apa-apa." Sahutnya.
"Nggak usah lah. Nanti juga di sana tahu apa-apa saja yang harus dibeli."
"Ih kamu gimana sih, Al." Dengusnya.
"Aku ini majikanmu. Sopan sedikit dong. Mana ada ART marah sama majikannya. Dasar kamu," ujar Alby sambil menggerakkan tangannya akan mengetuk kening Putri.
"Nggak kena," canda Putri yang berhasil menghindari pergerakan tangan Alby.
Alby mengulumkan senyumnya dan berlalu.
"Iya deh, maaf Pak Dokter."
Dari dalam mobilnya, Alby tersenyum melihat Putri yang sedang mengunci pintu. Pria itu cepat-cepat mengalihkan perhatiannya saat Putri membalikkan badan dan berjalan menuju mobilnya.
"Di depan dong, Put." Cegah Alby saat Putri membuka pintu belakang mobilnya.
"Kan aku ART-mu, Pak Dokter."
"Terus, aku supirmu gitu? Di depan ah," pinta Alby.
"Baik, Tuan." Sahutnya.
"Kamu apa-apaan sih. Manggil tuan segala," delik Alby.
"Kan aku ART-mu..."
"Udah dong, Put. Kamu ngejek aku ya?"
"Enggak. Aku cuma mengingatkan kamu kalau aku ini ART-mu."
"Aish, kamu sengaja kan mengulang-ulang kata itu." ujarnya ketus.
"Kan aku..."
"Stop! Udah." Tegasnya.
Alby menyeringai geli melihat ekspresi wajah Putri yang kesulitan memasang sabuk pengaman. Ia pun membantu Putri memasangkannya. Setelah itu, Alby mengemudikan mobilnya berlalu meninggalkan rumah itu.
Alby merasakan jantungnya berdebar kencang menyadari Putri kini tengah bersamanya. Ingin sekali ia menggerakkan bibirnya menanyakan perihal anak itu, tapi entah mengapa lidahnya terada sangat kelu.
"Suamimu kerja apa, Put?" tanya Alby mencoba bersikap sesantai mungkin.
"Heh? Ee, ada deh. Mau tahu aja," kilah Putri.
"Sama majikan kok begitu jawabannya." Decihnya.
"Tuh kamu yang mulai kan. Pertegas dong, Al. Kapan aku harus menggapmu sebagai majikan, kapan aku harus menganggapmu sebagai mantan."
"Mantan? Heh, kapan kita berpisah?" gumam Alby sambil memalingkan wajahnya ke luar.
Putri yang samar mendengarnya pun membuang muka melihat ke kaca pintu. Tiba-tiba ia merasa detak jantungnya tidak karuan mendengar gumaman Alby.
"Kita memang mantan. Mantan teman, mantan sahabat, tapi bukan mantan..." Alby tidak meneruskan kalimatnya. Mau bilang mantan suami, mereka belum memiliki surat nikah apalagi surat cerai. Jadi ya mau bilang mantan apa lagi?
Putri hanya diam. Kecanggungan diantara mereka semakin kentara. Hening, tidak ada yang memulai pembicaraan sampai mereka tiba di pusat perbelanjaan.
"Ayo, turun." Ajaknya.
Alby membukakan sabuk pengaman Putri. Setelah mereka turun dari mobil, Putri mengekor dibelakang Alby.
Sebisa mungkin Putri menyamai langkah Alby. Ia tidak mau berpisah di keramaian seperti ini. Langkah besar Alby memaksa Putri mempercepat langkahnya. Ia bahkan sampai berlari kecil untuk menyusul langkah Alby yang di rasanya semakin cepat saja.
Di sisi lain, Alby menahan tawanya. Melihat pantulan sosok Putri dari kaca toko-toko yang berjejer di sana. Tiba-tiba saja langkahnya berhenti. Dan sontak saja Putri menabrak punggungnya.
"Al, kok tiba-tiba berhenti sih? Kan jadi nabrak." Gerutunya.
"Sini, jalan bareng aku." Ucapnya sambil menggenggam tangan Putri.
"Nggak ah, Al. Aku nggak mau kamu malu," ujar Putri melepaskan genggaman tangan Alby.
Alby melihat kesekitarnya. Beberapa orang nampak sedang memperhatikan mereka. Namun tanpa diduga, Alby justru menarik tangan Putri dan membawanya ke toko pakaian.
Di toko itu, Alby mengambil beberapa setel baju untuk Putri. Ia mengira-ngira dengan menempelkan baju itu ke punggung Putri. Ia tidak bertanya apalagi meminta pendapat Putri.
"Al, nggak usah. Aku akan beli sendiri nanti." Cegahnya.
"Kapan? Sampai baju kamu itu robek?" Deliknya.
Setelah membayar belanjaan Putri, Alby pun meneruskan langkah menuju supermarket yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.
Alby mendorong troli belanjaan dan meminta Putri mengambil barang-barang yang mereka butuhkan. Tidak terasa troli itu sudah penuh lagi.
"Sudah, Al. Ini sudah banyak."
"Kalau begitu kita beli sayuran."
"Sayuran bisa dibeli di warung sayur dekat rumahku, Al. Lebih segar."
"Oke, kalau begitu mulai besok setiap pagi kamu datang sudah membawa belanjaan untukku makan siang atau makan malam."
"Heh, terserah kamu."
Alby menyeringai lalu melihat kearah Putri menatap. Wanita itu tersenyum simpul lalu menundukkan kepala.
"Kenapa? Kamu ingin beli sepeda?"
"Enggak. Anakku yang ingin," sahut Putri pelan.
"Ya udah, kita beli aja sekalian."
"Enggak, ah. Di toko begitu pasti mahal. Nanti aja aku bawa anakku ke toko sepeda, biar dia milih sendiri." Sahutnya.
Setelah dirasa cukup, Alby mendorong troli itu menuju kasir. Langkah Alby kemudian terhenti saat suara seseorang memanggil Putri.
"Put, Putri!" seru seorang pria dari pintu masuk swalayan.
Pria itu nampak memperhatikan dengan seksama, begitu juga Putri yang sepertinya sedang mengingat-ingat.
Dia kan... batin Alby mencoba menebak.
"Noval?" ucap Putri heran.
"Ternyata benar ini kamu, Putri. Kebetulan sekali kita bertemu disini." Ujarnya dengan ekspresi wajah yang terlihat datar.
"Mas, siapa dia?" tanya seorang wanita yang menghampiri Noval.
"Dia kenalanku di desa. Oh ya, Put. Kenalin ini pacarku, Amanda."
Putri mengilurkan tangannya mengajak wanita itu bersalaman. Namun wanita bernama Amanda itu bergemin dan manatap sinis pada Putri.
Dari dekat kasir, Alby tidak melewatkan pemandangan itu. Tanda tanya besar kini muncul lagi dalam benaknya.
Kalau Noval bukan suami Putri, lalu siapa? batin Alby bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Enung Samsiah
ya kamulah suaminya, dasarrr bodooh
2023-03-20
1
Latifah Ati
suaminya ya kamu pak dokteeerrr...
2022-08-27
0
Meylin
s putri masih cengengesan heran padahal udah di campakan s allbi 10taun ada cewek yg gtu cm ada didumia haluuuu🥵🥵
2022-02-28
0