solo karir

Happy reading...

Suasana rumah Alby tidak seperti biasanya. Rumah itu ramai dengan kehadiran Siska yang berbincang akrab dengan Ira, Erni dan juga Intan, calon menantunya. Erni adalah ibu dari Intan, yakni adik perempuan Hasan. Sedangkan Ayah Intan sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Di sisi lain, Sanjaya dan Hasan keduanya larut dalam pembicaraan dan sesekali gelak tawa terdengar saling bersahutan. Selain sebagai adik ipar, Hasan juga merupakan salah satu kenalan Sanjaya saat mengenyam pendidikan.

Hanya Alby dan juga Arif yang tidak menikmati suasana tersebut. Arif masih merasa kesal karena rencana kerja bersama teman-temannya gagal. Dan Alby, entah kenapa ia merasa hampa berada di tengah-tengah keluarganya.

Sekilas Alby menatap Siska yang sedang tergelak. Entah mengapa ia tidak pernah bersimpati pada sosok ibu tirinya itu.

Saat usia Alby sembilan tahun, Sanjaya Ayah Alby menikahinya. Tepat satu bulan setelahnya, ibu kandung Alby meninggal dunia. Selain karena sakit yang dideritanya, almarhumah Rianti juga pastinya stres dengan kondisi pernikahannya. Dan sejak itu, Alby kurang menyukai ayahnya.

"Al, sudah ada kepastian belum kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Siska.

"Belum," sahut Alby tanpa menoleh. Tatapannya fokus tertuju pada layar ponselnya.

"Cepat tentukan dong, Al. Mau sampai kapan kalian begini terus? Memangnya masih tahan?" tanya Siska dengan nada menggoda melirik pada Intan.

"Iya, Al. Kamu kan laki-laki normal, masa iya belum ingin," kelakar Hasan.

"Ingin apa sih, Om? Ada bocah di sini, nanti ada yang gigit jari." Deliknya pada Arif.

"Yee... Arif udah besar, Kak. Udah delapan belas plus-plus." Sahutnya.

"Yang kita bicarakan zona dua puluh satu plus-plus. Jadi yang belum cukup umur harap minggir," canda Alby.

"Ih, Kak Alby aja seumuran Arif udah tahu yang dua satu plus. Iya kan, Kak? Arif pernah dengar lho, di kamar mandi rumah. Kakak sama.. Mmft." Dengan sigap Alby membungkam mulut Arief dengan tangannya. Kedua matanya melotot pada adiknya tersebut.

"Sama siapa, Rif?" tanya Intan penasaran.

"Sama... Sama tangannya. Bersolo karir, haha.." Arif melirik pada Alby yang memberinya tatapan tajam.

Mendengar ucapan Arif, Intan mengulumkan senyumnya. Sementara itu Hasan langsung menggodanya dengan berkata, "Kalau udah nikah nggak akan bersolo karir lagi, Al. Makanya cepat nikah."

"Iya, Ibu heran kenapa kamu menunda-nunda. Padahal kalian sangat serasi. Dari segi fisik apalagi dari segi profesi," ujar Siska.

"Cantikan juga Mbak.." Lagi-lagi kalimat Arief terpotong karena melihat tatapan Alby.

"Mbak siapa, Rif? Kamu kalau bicara bikin penasaran," ujar Intan.

"Mbakku. Ya itu, pacarku. Hehe.." Kilahnya.

"Tuh, Al. Adikmu aja sudah punya pacar, masa kamu kalah."

"Tante jangan percaya. Lihat aja tampangnya, mana ada yang mau sama dia. Sok kecakepan," ujar Alby yang menoyor kepala adiknya.

"Yee, Kak Alby nggak tahu. Gini-gini Arif terkenal playboy lho."

"Duh, jadi playboy kampung aja bangga." Decihnya.

"Pantes aja kamu dibawa ke sini, Rif. Ayahmu pasti takut kamu ngehamilin anak gadis orang," canda Hasan.

"Om tahu aja."

"Dulu kamu playboy juga nggak, Al?" tanya Intan.

Alby tidak menjawabnya. Pria itu beranjak dan pamit akan bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.

"Kak, Arif ikut ya."

"Mau kemana kamu? Sebentar lagi malam, aku nggak bisa ngantar kamu kemana-mana."

"Hmm, ya sudah." Dengusnya.

Arif terlihat kesal, ia beranjak dan berlalu ke kamar yang akan ditempatinya selama di rumah Alby.

Alby berlalu ke lantai atas. Di lantai itu memang hanya ada kamar dan sebuah ruangan yang ia jadikan sebagai ruang baca, karena terdapat berbagai macam buku berjejer rapi di sana.

"Al..."

"Mau apa kamu?" tanya Alby ketus. Alby menatap heran pada Intan yang memaksa masuk ke kamarnya.

"Aku bisa membantumu," goda Intan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Alby.

"Membantu apa?"

"Membantumu agar tidak bersolo karir," sahut Intan sambil melirik ke arah resleting celana Alby.

"Gila kamu, Tan. Keluar dari kamarku! Aku harus bersiap. Aku tidak mau terjebak macet dan membuat pasienku menunggu." Usirnya.

"Aku serius, Al. Kamu bisa minta aku melakukannya kapan saja. Lebih dari itu juga aku mau," tawar Intan.

"Kamu sudah gila!" Umpatnya pelan. Alby melepas paksa tautan tangan Intan dan memintanya keluar kamar.

***

Dinginnya malam menghadirkan aura mencekam dilorong rumah sakit yang dilewati Alby. Dua orang perawat yang berjalan beriringan bersamanya bahkan sampai mempercepat langkahnya. Alby hanya mengulumkan senyum, karena keduanya memang terkenal penakut diantara rekan sejawatnya.

"Dokter tidak takut?" tanya salah satunya.

"Takut apa? Ada-ada saja," gumam Alby.

Kedua perawat itu terlihat lega saat telah berada diantara rekan-rekan mereka. Alby pamit pada mereka untuk beristirahat sejenak di ruangannya.

Memasuki ruang kerjanya, Alby terlihat beberapa kali membuang nafasnya. Ia menggantungkan jas putihnya lalu melipat lengan kemejanya.

Alby merogoh ponsel dalam saku jas yang tadi digantungnya. Saat melihat nomor Putri, tiba-tiba saja ia ingin menelepon saat teringat nyaring suara Alfi yang seakan menggema di kepalanya.

"Ini sudah jam sebelas malam. Anak itu pasti sudah tidur. Dan Putri, siapa sebenarnya pria yang menjadi suaminya? Hmm SDN Harapan ya..." Terlihat seringaian di wajah Alby. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu.

Di tempat lain, di waktu yang hampir bersamaan...

Deru nafas yang memburu mengiringi pergulatan panas dua anak manusia yang sedang digelapkan nafsu. Keduanya saling membalas setiap perlakuan lawan mainnya seolah ingin membuktikan siapa yang paling hebat diantara keduanya.

Racauan yang disertai d*sahan yang terdengar seakan memacu semangat keduanya untuk saling memuaskan. Saat yang mendominasi mempercepat tempo permainan, maka mau tak mau lawannya harus mengaku kalah setelah mendapatkan pelepasannya.

"Kamu hebat, sangat hebat. Aku hanya ingin kamu yang jadi lelakiku." Pujinya.

"Heh, sayangnya aku tidak begitu." Decihnya.

"Maksukmu? Kamu tidak inginkan aku?"

"Tentu aku menginginkanmu, tapi hanya untuk menghangatkan ranjangku." Sahutnya datar.

Wanita itu memperhatikan pria yang tengah mengenakan boxer-nya. Di tariknya selimut dan menyembunyikan dirinya dibaliknya. Ia tidak bisa berharap lebih. Bisa bersama sampai sejauh ini pun sudah suatu keberuntungan baginya.

Sementara itu sambil menikmati minuman beralkohol dalam kemasan kaleng pria itu terduduk di sofa dalam apartemennya. Wajahnya nampak menyeringai menatap pesan yang terdapat di layar ponselnya. Pesan dari kerabatnya yang memberikan alamat sebuah rumah yang sedang dikinjunginya.

"Heh, bagaimanapun kali ini aku harus mendapatkanmu. Aku akan mulai dari rumah ini. Tunggu aku, pasti akan ku jadikan kamu satu-satunya wanita dalam hidupku. Kita akan hidup bahagia, sangat bahagia." Gumamnya sambil menyeringai.

Pria itu sama sekali tidak perduli tatapan kecewa dari wanita yang baru saja memuaskannya di tempat tidur. Wanita yang juga ingin mendapatkan dirinya dan melakukan apa saja untuk mendapatkan dirinya.

Terpopuler

Comments

Mesri Sihaloho

Mesri Sihaloho

pasti si Noval,,pak dokter terlalu lambat masa tidak mau cari i formasi tentang putri..lamban kau pak dokter

2025-03-25

0

JandaQueen

JandaQueen

sopo to pria itu... ish.. main rahasia ini...

2023-01-16

1

Inda Anti

Inda Anti

Siapa ya yg lgi adegan 21+ tdi

2021-09-08

0

lihat semua
Episodes
1 Putri
2 Dokter Alby
3 kerja sampingan
4 kunci rumah
5 kepura-puraan
6 pertemuan tak terduga
7 makan malam
8 menepis prasangka
9 bodoh?
10 fitnah
11 sakit, Al...
12 ART-mu
13 Dia anakku
14 berbeda kasta
15 Om Ganteng
16 solo karir
17 pengakuan Alby
18 menjemput
19 Janji
20 dukungan Noval
21 pertemuan yang tidak disengaja
22 ide konyol (bagian 1)
23 ide konyol (bagian 2)
24 Alby vs Arif
25 kilas balik Putri (bagian 1)
26 kilas balik Putri (bagian 2)
27 menginap (bagian 1)
28 menginap (bagian 2)
29 mengambil kesempatan
30 aku tahu
31 makan malam spesial
32 kaputusan Alby (bagian 1)
33 keputusan Alby (bagian 2)
34 berterus terang
35 kebersamaan
36 rencana Alby
37 kebersamaan (2)
38 tamu dadakan
39 Intan vs Arga
40 gunjingan tetangga
41 Kakek Jaya
42 pertemuan (bagian 1)
43 pertemuan (bagian 2)
44 ayah dan anak (bagian 1)
45 keputusan Sanjaya
46 ayah dan anak (bagian 2)
47 papa Alfi
48 kebenaran yang terungkap (1)
49 kebenaran yang terungkap (2)
50 persekongkolan
51 khawatir
52 terulang lagi
53 merasa lega
54 visual cast
55 janji
56 menyambut tamu
57 acara dimulai
58 upaya Arif
59 gugup
60 keinginan Alby
61 terkejut
62 Pengumuman
63 menggoda
64 on fire
65 overdosis
66 digigit serangga
67 pengunduran diri Amanda (1)
68 pengunduran diri Amanda (2)
69 Nadila
70 keinginan Bu Rita
71 menjemput atau mampir?
72 persiapan perjalanan
73 Terkenang
74 Diagnosa
75 kamu kenapa?
76 keputusan Noval
77 Noval vs Nadila
78 malas
79 Jadi pacarku?
80 tukar shift
81 persalinan Amanda
82 bayiku
83 persalinan Putri
84 adik Alfi, namanya ...
85 kebersamaan
86 ayah Arsen
87 family time
88 hari bahagia (tamat)
89 extra part 1- Noval sakit?
90 extra part 2- happy ending
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Putri
2
Dokter Alby
3
kerja sampingan
4
kunci rumah
5
kepura-puraan
6
pertemuan tak terduga
7
makan malam
8
menepis prasangka
9
bodoh?
10
fitnah
11
sakit, Al...
12
ART-mu
13
Dia anakku
14
berbeda kasta
15
Om Ganteng
16
solo karir
17
pengakuan Alby
18
menjemput
19
Janji
20
dukungan Noval
21
pertemuan yang tidak disengaja
22
ide konyol (bagian 1)
23
ide konyol (bagian 2)
24
Alby vs Arif
25
kilas balik Putri (bagian 1)
26
kilas balik Putri (bagian 2)
27
menginap (bagian 1)
28
menginap (bagian 2)
29
mengambil kesempatan
30
aku tahu
31
makan malam spesial
32
kaputusan Alby (bagian 1)
33
keputusan Alby (bagian 2)
34
berterus terang
35
kebersamaan
36
rencana Alby
37
kebersamaan (2)
38
tamu dadakan
39
Intan vs Arga
40
gunjingan tetangga
41
Kakek Jaya
42
pertemuan (bagian 1)
43
pertemuan (bagian 2)
44
ayah dan anak (bagian 1)
45
keputusan Sanjaya
46
ayah dan anak (bagian 2)
47
papa Alfi
48
kebenaran yang terungkap (1)
49
kebenaran yang terungkap (2)
50
persekongkolan
51
khawatir
52
terulang lagi
53
merasa lega
54
visual cast
55
janji
56
menyambut tamu
57
acara dimulai
58
upaya Arif
59
gugup
60
keinginan Alby
61
terkejut
62
Pengumuman
63
menggoda
64
on fire
65
overdosis
66
digigit serangga
67
pengunduran diri Amanda (1)
68
pengunduran diri Amanda (2)
69
Nadila
70
keinginan Bu Rita
71
menjemput atau mampir?
72
persiapan perjalanan
73
Terkenang
74
Diagnosa
75
kamu kenapa?
76
keputusan Noval
77
Noval vs Nadila
78
malas
79
Jadi pacarku?
80
tukar shift
81
persalinan Amanda
82
bayiku
83
persalinan Putri
84
adik Alfi, namanya ...
85
kebersamaan
86
ayah Arsen
87
family time
88
hari bahagia (tamat)
89
extra part 1- Noval sakit?
90
extra part 2- happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!