pertemuan tak terduga

Happy reading...

Pagi ini, Alfi bangun pagi sekali. Anak laki-laki itu terlihat semangat sampai-sampai dia sudah mandi. Ibunya yang sedang membuatkannya mie goreng hanya bisa tersenyum sambil menatapnya.

"Dingin, Al?"

"Seger, Ma." Sahutnya.

Dalam keadaan menggigil ia mengenakan seragam barunya.

"Ma, nanti kalau punya uang belikan Alfi sepatu baru ya." Pintanya.

"Memangnya sepatu kamu kenapa? Kan masih bisa dipakai," ujar Putri yang membawakan sarapan putranya ke depan tv.

"Sudah agak sakit, Ma."

"Sempit maksudmu?"

"Iya. Belikan ya, Ma."

Putri hanya bisa menghela nafasnya. Anak seusia Alfi mungkin memang sedang banyak maunya. Tidak hanya Alfi, teman-temannya juga sudah terdengar ramai di luar. Putri ikut mengobrol bersama mereka, sementara Alfi menikmati sarapannya.

***

Alby berlari kecil sembari mengatur nafasnya. Menikmati udara pagi dengan sinar mentari yang mulai menyapa. Sudah lebih dari tiga puluh menit ia berputar-putar mengelilingi jalanan di sekitar perumahan. Kebiasaan baru sebelum memulai aktivitasnya.

Sembari berjalan dengan nafas yang mulai terengah, ditatapnya beberapa anak yang mengenakan seragam sekolah sedang berjalan sambil bercanda.

"Woy, Al! Tunggu aku!" seru seorang anak sambil berlari menuju teman-temannya.

"Tinggalin yuk," ajak seorang dari mereka.

Beberapa anak berlari kecil seolah sedang menggoda teman mereka yang tertinggal. Saat anak yang tertinggal sampai, ia memukul-mukul pelan seorang dari mereka.

"Dasar Alfi, nyebelin. Aku panggil-panggil malah ditinggal." Gerutunya.

"Kamu sih lama. Hari ini kita kan ada upacara," sahut Alfi yang membalas pukulan temannya.

Brukk.

Seketika gelak tawa terdengar saat Alfi tanpa sengaja menubruk seseorang.

"Maaf, Om." Ucapnya sambil mengangguk.

"Hati-hati jalannya ya."

"Iya, Om." Jawabnya.

"Huuh, dasar!" ujar seorang teman yang menoyor kepalanya.

Alfi dan teman-temannya pun tertawa dan kembali bercanda sambil meneruskan langkah mereka. Sementara itu, pria yang tadi ditubruknya menatap dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

"Dasar Alby lelet!" seru seorang anak perempuan yang berlari karena teman laki-lakinya sudah hampir menggapainya.

"Awas kamu, Put. Kalau aku bisa menangkapmu nggak akan aku lepaskan," ujar Alby dengan nafas terengah.

"Coba aja kalau bisa. Wlee.." Ejeknya.

Alby menyeringai sambil tertunduk. Anak-anak itu mengingatkan Alby pada kenangan masa kecilnya.

"Seandainya waktu bisa terulang lagi," gumam Alby dengan tatapan menerawang. Alby pun berbalik dan meneruskan langkahnya.

***

Hari ini, toko lumayan ramai. Putri dan Mia sibuk melayani pembeli. Bahkan sampai menjelang siang, mereka harus bergantian makan siang.

"Terima kasih," ucap Mia pada seorang pembeli.

Setelah pembeli itu berlalu, ditatapnya Putri yang sedang berbicara dengan seseorang di ujung ponselnya. Tidak berapa lama, Putri pun masuk dengan raut wajah yang bingung.

"Kenapa, Put? Siapa yang meneleponmu?"

"Orang yang memberiku pekerjaan kemarin, Bu Ira. Dia memintaku bekerja full time, dari pagi sampai sore." Sahutnya pelan.

"Kerja di rumah Pak Dokter yang kemarin itu?"

Putri mengangguk. Ia memang menceritakan pada Mia perihal pekerjaan sampingannya. Namun ia tidak memberitahukan siapa sebenarnya majikannya tersebut.

"Terus gimana? Bukannya kamu bilang dua hari kemarin aja udah lumayan. Apalagi kalau bulanan," ujar Mia.

"Aku bingung, Mia."

"Kenapa bingung? Apa karena pekerjaanmu di sini?"

Putri tidak langsung menjawabnya. Ia hanya membuang pelan nafasnya.

"Putri, menurutku kamu terima aja. Mungkin kamu merasa tidak enak sama Bu Bos karena sudah lama kerja di sini. Tapi kita juga butuh uang yang cukup untuk keluarga kita. Aku juga kalau ada tawaran kerja yang gajinya lebih besar akan ku ambil." Ujarnya.

"Tapi, Mia..."

"Kan kamu sendiri yang bilang, akhir-akhir ini Alfi banyak maunya. Setahuku kerja di rumah gedongan itu cukup besar gajinya. Pasti lebih dari cukup untuk bayar kontrakan sama jajan anakmu."

Putri terdiam dan semakin merasa bingung. Menimbang ucapan temannya yang tidak tahu bahwa majikannya itu ayah dari putranya.

Bunyi notifikasi pesan menyadarkan lamunannya. Sebuah pesan masuk dari nomer yang tidak dikenalnya.

📩 [Jam berapa kamu pulang?]

"Nomer siapa ini?" Gumamnya heran.

Sementara itu di dalam ruangannya, yang dilakukan Alby tidak jauh beda. Duduk diam memikirkan cara agar Putri mau menerima tawarannya.

"Putri meminta waktu, Al. Katanya ia merasa tidak enak kalau harus berhenti dari toko."

"Kamu harus mau kerja di rumahku, Put. Akan kubuat kamu menyesali keputusanmu yang sudah meninggalkanku." Gumamnya.

Alby menatap layar ponselnya dengan perasaan kesal.

"Kenapa dia tidak membalas pesanku?"

Bunyi notifikasi pesan masuk berbunyi. Cepat-cepat ia membukanya.

📩 [Jam enam.]

"Jam enam?"

Alby melihat jam pada ponselnya yang baru menunjukkan pukul lima sore. Pria itu bergegas menggantungkan jas putihnya dan bersiap untuk pulang.

"Alby!" seru Intan yang melihatnya tergesa-gesa.

Alby hanya menoleh sebentar dan melambaikan tangannya. Membuat Intan merasa heran melihatnya.

"Dia mau kemana?"

Sepanjang perjalanan, Alby merasa gelisah. Jam pulang kantor sudah lumrah jika jalanan menjadi macet. Kendaraan berjalan pelan, suara klakson juga terdengar bersahutan.

Alby memarkirkan mobilnya di halaman sebuah toko. Menurut Tante Ira, toko ini merupakan tempat Putri bekerja. Masih ada tiga puluh menit lagi menuju jam enam. Dan saat ia melihat Putri di bagian kasir, sebuah senyuman tersungging di wajahnya.

Sementara itu Putri yang baru saja melayani pembeli, mengernyitkan keningnya melihat Alby turun dari mobil. Di tatapnya Alby yang menyeringai masuk ke dalam toko.

"Selamat datang!" sambut Mia.

Alby tersenyum ramah dan mulai menyusuri setiap rak di dalam toko. Sesekali ia sengaja bolak-balik hanya untuk memastikan Putri masih berada di tempatnya.

"Putri, aku baru lihat cowok ganteng itu. Menurut kamu, apa dia hanya kebetulan mampir atau tinggal di daerah sini?" tanya Mia pelan.

"Mana aku tahu," sahut Putri malas.

Apa Alby sengaja datang ke sini apa cuma kebetulan ya? batin Putri.

"Hai, Putri! Mau pulang bareng?" tanya seorang pria yang datang dan hanya mengambil minuman dingin lalu membayarnya.

"Mas Abim sengaja ya mampir ke sini, cuma mau ngajak Putri pulang bareng. Iya kan?" goda Mia.

"Tahu aja kamu, Mia." Sahutnya.

"Kalau aku pulang bareng sama Mas Abim, Mia pulang sendiri. Nggak ah," tolak Putri.

"Nggak apa-apa kok, Putri. Kamu sama Mas Abim aja," ujar Mia pengertian.

"Putri pulang dengan saya," ujar Alby yang datang menghampiri mereka.

Ketiga orang itu menatapnya heran. Putri yang tersadar cepat-cepat menggelengkan kepala.

"Kenapa nggak mau?" tanya Alby dengan tatapannya yang menajam.

"Kalau dia nggak mau ya nggak mau," sahut Abim yang tak lain adalah putra pemilik kontrakan Putri.

"Saya nggak nanya sama kamu," ujar Alby ketus.

Pemilik toko yang akan menggantikan dua karyawannya pun kebetulan datang.

"Ada apa ini?" Tanyanya heran.

"Ini Bu, pada rebutan mau ngajak Putri pulang," sahut Mia.

"Kenapa harus berebut? Kan ada kamu, satu-satu aja." Jawabnya santai.

Kedua pria itu menoleh pada wanita paruh baya yang mendekati Putri yang sedang menghitung belanjaan Alby. Putri melirik pria yang sedang menatapnya tajam seakan mengintimidasinya untuk memberikan jawaban.

"Ayo Put, jawab. Kamu mau pulang sama siapa?" tanya Mia dengan nada menggoda.

Putri menghela nafasnya dan mendelik pada Alby sambil berkata, "Aku pulang sendiri."

"Putri," ucap kedua pria itu hampir bersamaan.

Keduanya saling mendelik, membuat Mia dan juga pemilik toko itu menahan tawa.

"Kamu pulang sama aku," tegas Alby sambil menyodorkan uang untuk membayar belanjaannya.

Siapa cowok ini, kok dia kenal Putri? Dan sepertinya dia suka sama Putri, batin Mia yang manatap lekat pada Alby.

"Saya majikannya," tegas Alby pada Mia.

Mia merasa malu karena pria itu mengetahui isi pikirannya.

Oh, jadi ini Pak Dokter yang dibicarankan Putri. Wah, gantengnya! batin Mia.

"Heh, aneh. Ngajak kok maksa. Udah, kamu pulang aja sama aku, Put," delik Abim.

"Heh! Kamu sendiri maksa," decih Alby.

Abim nampak tidak suka dan menatap tajam pada Alby.

"Iya-iya, aku pulang sama kamu," ujar Putri sambil memberikan uang kembalian.

"Gitu dong dari tadi," ucap Alby sambil mengacak lembut pucuk kepala Putri.

Putri tertegun menyadari tatapan aneh orang-orang di sekelilingnya.

"Oh iya, satu lagi. Mulai besok Putri tidak bekerja lagi di toko ini." Tegasnya.

Putri terbelalak mendengar ucapan Alby.

"Apa-apaan kamu, Al?"

"Aku sudah putuskan, Putri. Dan kali ini kamu harus menuruti aku. Paham? Ayo pulang!" Ajaknya.

Putri menatap punggung Alby yang berlalu keluar toko. Ia kemudian mengalihkan tatapannya pada Mia. Temannya itu hanya mengangkat bahunya pertanda menyerahkan keputusan pada Putri.

Terpopuler

Comments

Ardika Zuuly Rahmadani

Ardika Zuuly Rahmadani

pasti kesalahpahaman mereka gede banget sampek kayak gitu

2021-11-19

0

Nur Aeni Eni

Nur Aeni Eni

semoga putri dan alby bisa balikan lagi

2021-07-01

1

Rhina sri

Rhina sri

jangan sampai alby nikah sm intan thoor ksian putri sm anaknya😌

2021-03-20

4

lihat semua
Episodes
1 Putri
2 Dokter Alby
3 kerja sampingan
4 kunci rumah
5 kepura-puraan
6 pertemuan tak terduga
7 makan malam
8 menepis prasangka
9 bodoh?
10 fitnah
11 sakit, Al...
12 ART-mu
13 Dia anakku
14 berbeda kasta
15 Om Ganteng
16 solo karir
17 pengakuan Alby
18 menjemput
19 Janji
20 dukungan Noval
21 pertemuan yang tidak disengaja
22 ide konyol (bagian 1)
23 ide konyol (bagian 2)
24 Alby vs Arif
25 kilas balik Putri (bagian 1)
26 kilas balik Putri (bagian 2)
27 menginap (bagian 1)
28 menginap (bagian 2)
29 mengambil kesempatan
30 aku tahu
31 makan malam spesial
32 kaputusan Alby (bagian 1)
33 keputusan Alby (bagian 2)
34 berterus terang
35 kebersamaan
36 rencana Alby
37 kebersamaan (2)
38 tamu dadakan
39 Intan vs Arga
40 gunjingan tetangga
41 Kakek Jaya
42 pertemuan (bagian 1)
43 pertemuan (bagian 2)
44 ayah dan anak (bagian 1)
45 keputusan Sanjaya
46 ayah dan anak (bagian 2)
47 papa Alfi
48 kebenaran yang terungkap (1)
49 kebenaran yang terungkap (2)
50 persekongkolan
51 khawatir
52 terulang lagi
53 merasa lega
54 visual cast
55 janji
56 menyambut tamu
57 acara dimulai
58 upaya Arif
59 gugup
60 keinginan Alby
61 terkejut
62 Pengumuman
63 menggoda
64 on fire
65 overdosis
66 digigit serangga
67 pengunduran diri Amanda (1)
68 pengunduran diri Amanda (2)
69 Nadila
70 keinginan Bu Rita
71 menjemput atau mampir?
72 persiapan perjalanan
73 Terkenang
74 Diagnosa
75 kamu kenapa?
76 keputusan Noval
77 Noval vs Nadila
78 malas
79 Jadi pacarku?
80 tukar shift
81 persalinan Amanda
82 bayiku
83 persalinan Putri
84 adik Alfi, namanya ...
85 kebersamaan
86 ayah Arsen
87 family time
88 hari bahagia (tamat)
89 extra part 1- Noval sakit?
90 extra part 2- happy ending
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Putri
2
Dokter Alby
3
kerja sampingan
4
kunci rumah
5
kepura-puraan
6
pertemuan tak terduga
7
makan malam
8
menepis prasangka
9
bodoh?
10
fitnah
11
sakit, Al...
12
ART-mu
13
Dia anakku
14
berbeda kasta
15
Om Ganteng
16
solo karir
17
pengakuan Alby
18
menjemput
19
Janji
20
dukungan Noval
21
pertemuan yang tidak disengaja
22
ide konyol (bagian 1)
23
ide konyol (bagian 2)
24
Alby vs Arif
25
kilas balik Putri (bagian 1)
26
kilas balik Putri (bagian 2)
27
menginap (bagian 1)
28
menginap (bagian 2)
29
mengambil kesempatan
30
aku tahu
31
makan malam spesial
32
kaputusan Alby (bagian 1)
33
keputusan Alby (bagian 2)
34
berterus terang
35
kebersamaan
36
rencana Alby
37
kebersamaan (2)
38
tamu dadakan
39
Intan vs Arga
40
gunjingan tetangga
41
Kakek Jaya
42
pertemuan (bagian 1)
43
pertemuan (bagian 2)
44
ayah dan anak (bagian 1)
45
keputusan Sanjaya
46
ayah dan anak (bagian 2)
47
papa Alfi
48
kebenaran yang terungkap (1)
49
kebenaran yang terungkap (2)
50
persekongkolan
51
khawatir
52
terulang lagi
53
merasa lega
54
visual cast
55
janji
56
menyambut tamu
57
acara dimulai
58
upaya Arif
59
gugup
60
keinginan Alby
61
terkejut
62
Pengumuman
63
menggoda
64
on fire
65
overdosis
66
digigit serangga
67
pengunduran diri Amanda (1)
68
pengunduran diri Amanda (2)
69
Nadila
70
keinginan Bu Rita
71
menjemput atau mampir?
72
persiapan perjalanan
73
Terkenang
74
Diagnosa
75
kamu kenapa?
76
keputusan Noval
77
Noval vs Nadila
78
malas
79
Jadi pacarku?
80
tukar shift
81
persalinan Amanda
82
bayiku
83
persalinan Putri
84
adik Alfi, namanya ...
85
kebersamaan
86
ayah Arsen
87
family time
88
hari bahagia (tamat)
89
extra part 1- Noval sakit?
90
extra part 2- happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!