Majikanku Ayah Anakku
Hai, Readers! Selamat datang di karya terbaru author. Semoga kalian suka😊
Happy reading...
"Putri! Ini sudah jam berapa, kok belum bangun? Apa kamu sakit?" tanya seorang ibu yang baru pulang dari warung sayur sambil menenteng plastik belanjaannya. Ia kemudian mengaitkan plastik itu pada paku di dinding dapur.
Dengan enggan Putri mengerjapkan mata dan beranjak dari tidurnya. Sambil merapikan selimut, Putri menatap ibunya yang kini sedang mengenakan baju hangat.
"Jangan lupa bawa payung. Ibu tadi lihat di berita, katanya sore ini mau turun hujan."
"Iya, Bu." Sahutnya sambil tersenyum.
"Jangan lupa sarapan," ucap Ibunya lagi.
"Iya, Ibu." Putri mengulumkan senyumnya.
Setelah ibunya pergi, Putri membasuh mukanya di kamar mandi. Ia pun bersiap menikmati sepiring nasi goreng yang sudah disiapkan untuknya sambil menonton televisi.
"Sudah sarapan, Nak?" tanya Putri pada seorang anak laki-laki yang membuka pintu.
"Sudah, Ma." Jawabnya. Anak itu bergegas keluar setelah membawa satu kaleng kelereng miliknya.
Dari kaca jendela, Putri bisa melihat beberapa anak sedang bermain kelereng di depan rumahnya. Senyumnya tersungging melihat kebahagiaan mereka.
Ia pun mulai menyuapkan nasi goreng buatan ibunya. Setelah habis tiga suap dibawanya nasi goreng itu kembali ke dapur.
Putri meletakkan sisa nasi gorengnya di atas kertas nasi bungkus. Setelah diikat karet gelang, dimasukkannya nasi bungkus itu ke dalam tote bag yang selalu dibawanya. Tidak lupa ia juga memasukkan sendok dan payung lipat sesuai anjuran ibunya.
Putri pun mulai bersiap untuk berangkat kerja. Ia menyambar handuk dan menuju kamar mandi. Setelah selesai, ia mengenakan setelan kerjanya.
"Ma, Alfi minta uang buat jajan!"
"Ini, harus cukup sampai sore ya. Jangan minta lagi sama Nenek," ujar Putri.
"Iya," sahut Anak itu sambil mencium punggung tangannya lalu berlalu lagi menghampiri teman-temannya.
Setelah semua selesai, Putri menutup pintu rumahnya.
"Al, jangan jauh-jauh mainnya ya! Sebentar lagi mandi!" Serunya.
"Iya, Ma!"
"Berangkat kerja, Put?" tanya seorang tetangganya.
"Iya, Bu. Mari.." Pamitnya sambil tersenyum.
"Al, Mama pergi." Putri melambai pada putranya yang juga melambai padanya. Putri pun berjalan menyusuri gang yang berbelok-belok untuk menuju tempat kerjanya.
Putri Rinjani, wanita berparas ayu yang biasa disapa Putri. Bekerja sebagai pegawai sebuah toko kelontong bersama seorang temannya.
Putri tinggal bersama ibunya yang bernama Ibu Rita dan juga Alfi, putra semata wayangnya yang baru menginjak usia sepuluh tahun. Mereka bertiga tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana.
Setiap hari, Ibu Rita bekerja serabutan. Dari hari Senin sampai Jum'at, wanita paruh baya itu bekerja sebagai buruh cuci-setrika di beberapa tempat berbeda. Sedangkan hari Sabtu dan Minggu, ia membantu di sebuah catering yang tidak jauh dari rumahnya.
"Selamat pagi, Mia! Aduh, maaf ya aku terlambat." Ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.
"Enggak kok, Put. Aku juga baru datang," sahut Mia, teman kerja Putri.
Mereka berdua mulai bebenah mempersiapkan semuanya. Setelah tepat pukul tujuh, mereka berdua membuka pintu untuk mempersilahkan pembali datang.
"Putri, sepertinya kamu kurang tidur. Lingkar mata kamu terlihat agak gelap," ujar Mia.
"Hehe, kelihatan ya. Iya nih semalam aku tidur agak larut malam." Sahutnya.
"Kenapa? Masih bingung mencari tambahan untuk beli seragam anakmu?"
Putri mengangguk lesu sambil membuang kasar nafasnya.
"Kalau aku punya pasti aku pinjamin kamu uang, Put. Apa daya, aku juga lagi bingung." Keluhnya.
"Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Pinjam uang sama Bu Bos juga nggak dikasih."
Putri mengangguk lemas. Kemudian mereka tersenyum mengesampingkan perasaan sedih mereka. Beberapa pembeli mulai berdatangan dan sebisa mungkin mereka memasang raut wajah yang ramah.
Toko itu tidak seramai dulu. Kini toko itu sepi pembeli, setelah ada dua minimarket yang berjejer berdekatan dengannya.
Putri dan Mia bekerja saling membantu. Tidak ada pembagian tugas khusus bagi keduanya. Selama tiga tahun lebih mereka saling melengkapi sebagai rekan kerja yang baik dan kompak.
Waktu berlalu begitu cepat. Bila sedang tidak ada pembeli, Putri dan Mia mengerjakan apa saja. Mereka mengisi waktu luang dengan menata barang-barang atau sekedar mengelapnya.
"Putri, mau beli apa buat makan siang?" tanya Mia yang sudah bersiap hendak keluar.
"Aku bawa bekal," sahut Putri.
"Oke deh, kalau begitu aku beli bakso dulu ya."
Putri mengangguk pelan. Ia menoleh pada temannya yang berlalu menuju kios bakso di depan toko.
"Huft, belum cukup juga." Desahnya.
Putri mencorat-coret kertas menghitung uang yang akan digunakannya untuk membeli seragam sekolah putranya. Uang gajinya hanya cukup untuk membayar kontrakan rumah dan jajan anaknya. Sedangkan untuk sehari-hari mereka mengandalkan penghasilan ibunya. Dan uang jatah makan siang yang ia sisihkan masih belum cukup untuk membelikan seragam baru untuk Alfi, putranya.
"Hei, ngelamun aja. Yuk, makan!" ajak Mia dengan semangkuk bakso yang dipegangnya.
Mereka duduk di lantai beralaskan dus di tempat kasir. Kebetulan toko sedang sepi pembeli.
Putri mengeluarkan bekal juga sendok dari dalam tasnya.
"Nasi goreng lagi?" Mia menatap nanar pada bekal yang dibawa temannya.
"Memangnya kamu berharap apa? Bekal nasi rendang? Yang ada nanti kamu minta," gurau Putri sambil mulai menyuapkan bekal nasi gorengnya.
"Nggak bosen kamu tiap hari makan nasi goreng?"
"Ya nggak lah. Kan kamu sendiri yang bilang kalau nasi goreng buatan ibuku enak." Sahutnya.
"Nggak tiap hari juga dong, Put."
"Aku harus irit, Mia. Bahkan sekarangpun uangku belum cukup. Mana libur sekolah tinggal empat hari. Kasihan anakku selama tiga tahun ini nggak punya baju ganti. Masih untung Bu Bos membolehkan aku kasbon buku dan peralatan sekolah di sini. Kalau tidak, semakin pusing kepalaku ini."
Mia menatap sendu wajah Putri. Ia kagum sekaligus kasihan pada sosok wanita di hadapannya.
"Kamu nggak coba mencari tahu tentang ayahnya Alfi, Put? Mendengar ceritamu, aku yakin dia mau membantumu membiayai anak kalian. Apalagi semakin besar usianya, semakin besar juga biaya sekolah dan yang lainnya."
Mendengar penuturan Mia, Putri menghela nafasnya. Diakuinya sekarangpun ia sudah merasa kewalahan dengan biaya hidup keluarganya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Mencari pekerjaan lain dengan ijazah SMA yang bahkan tidak tamat sangatlah susah.
"Aku nggak tahu dia dimana," ucap Putri pelan.
"Apa kamu tidak ada kabar sama sekali dari teman sekolahmu yang ada di desa, Put?"
Putri menggeleng pelan. Sepuluh tahun lebih ia dan ibunya meninggalkan desa tempat kelahirannya. Tidak ada teman atau saudara yang mengetahui keberadaan mereka. Dan ayah Alfi, ia sama sekali tidak tahu. Karena sebelum pergi, pria itu sudah lebih dulu meninggalkan desa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Irra Ajahh
cerita ny bagus
2023-08-23
1
MASTER Rexo1Ming
hai
2023-07-15
0
Trisnawati Ilyas
mampir
2022-09-16
0