Happy reading...
"Put, kamu sama siapa ke sini?" tanya Noval sambil celingukan.
"Aku, sama..." Dengan ragu Putri menunjuk pada Alby yang sedang membayar belanjaannya.
Raut wajah Noval nampak terkejut saat beradu pandang dengan pria yang ditunjuk Putri.
Alby! Pekiknya dalam hati.
Dari arah kasir, Alby melambaikan tangan pada Putri. Ia memanggil Putri untuk menghampirinya. Alby memilih untuk menghindari bertemu Noval dan pura-pura tidak mengenali teman lama sekaligus rivalnya tersebut.
"Aku permisi ya," pamit Putri dan bergegas menghampiri Alby yang sedang mengambil beberapa paper bag yang tadi dititipkannya.
Alby memberikan paper bag itu pada Putri. Sementara ia mendorong troli hingga ke tempat parkir. Sepanjang perjalanan, Putri merasa Alby sengaja tidak mengajaknya bicara. Pria itu diam seribu bahasa.
"Al, kok diam?"
"Kamu mau aku bicara apa?" dengan malas Alby balik bertanya.
"Kamu tahu kan yang tadi itu Noval?"
"Tahu, memangnya kenapa?" tanya Alby datar.
Apakah Alby masih menyimpan dendam pada Noval? Batinnya.
Putri merasa heran karena Alby menepikan mobilnya.
"Kenapa, Al? Kok berhenti di sini?"
"Putri, jawab aku!"
"Apa?"
"Siapa ayah dari anakmu?"
Deg.
Jantung Putri seakan berhenti berdetak. Ia menatap wajah pria dihadapannya dengan rasa kecewa.
Kecewa? Tentu. Karena rupanya Alby telah meragukan kesetiaan dan kesucian cintanya sebagai wanita. Lalu apa bedanya Alby dengan para warga itu? Mereka yang sudah memandang hina dirinya. Mereka yang menjadi penyebab penderitaan keluarganya.
"Jawab aku, Putri!" Desaknya.
"Dia anakku." Tegasnya namun dengan suara yang bergetar.
"Iya, anakmu. Lalu ayahnya, siapa?"
"Dia anakku. Dan hanya akan jadi anakku."
Alby tertegun melihat kedua manik Putri yang berkaca-kaca. Putri memalingkan wajahnya sambil mengusap air mata yang menetes. Terasa ada benda berat yang tiba-tiba menimpa bagian dadanya. Sesak dan sakit... Begitulah rasanya.
"Ma-maaf, Put." Lidah Alby terasa kelu. Ingin rasanya panjang lebar ia bicara, namun sayang kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Alby kembali memutar kemudi. Sesekali ia menoleh pada Putri yang menatap ke luar dengan tatapan menerawang. Alby terdiam, tidak berani memulai pembicaraan.
Mobil yang dikemudikan Alby mulai memasuki area perumahan. Dari kejauhan terlihat mobil Intan terparkir di depan gerbang. Saat mobil itu mulai mendekati rumah Alby, Intan keluar dan menghampirinya.
"Al, aku telepon kok nggak aktif? Kalian darimana?" tanya Intan dengan delikan sinis pada Putri.
"Oh, ponselku mati. Mobilmu menghalangi jalanku." Ujarnya datar.
Intan memberi jalan untuk mobil Alby dan mengikutinya sampai ke dalam rumah. Wanita itu merasa heran saat melihat beberapa paper bag yang berisi pakaian wanita.
"Ini punya siapa, Al? Jangan bilang untuk ART-mu." Deliknya.
"Itu memang untuk dia. Pakaiannya lusuh. Apa kata orang nanti jika tahu ART-ku berpakaian seperti gembel."
Langkah Putri yang sedang menuju dapur terhenti saat mendengar ucapan Alby. Ia mengeratkan genggaman tangan pada plastik belanjaan yang dijinjingnya.
Gembel? Tega sekali kamu, Al. Gumamnya dalam hati.
Putri melirik pada jam yang terpaku di dinding. Tinggal dua jam lagi waktunya pulang. Ia pun segera menyelesaikan pekerjaannya yang tadi ia tinggalkan.
***
Seorang pria terlihat sedang tertegun di salah satu coffee shop yang terletak di depan sebuah supermarket. Tatapannya menerawang mengingat kejadian di masa lalu.
Putri memang luar biasa. Dia masih tetap cantik walaupun dengan pakaian yang seadanya. Seringainya.
Tapi kenapa dia bisa sama Alby? Bukannya si Alby itu jadi dokter dan tidak pernah kembali lagi ke desa? Batinnya heran.
"Val!"
"Eh iya, Put." Tolehnya.
"Put? Siapa? Putri, perempuan yang kucel tadi?" tanya Amanda kesal.
"Kamu kok gitu sih, Manda. Dia itu umurnya lebih tua dari kamu."
"Bodo amat. Mau lebih tua, ataupun ibu-ibu sekalipun aku nggak perduli. Memangnya kamu ada hubungan apa sama dia, pasti bukan teman biasa. Iya kan?" tuduh Amanda.
"Dia memang istimewa bagiku, puas? Sekarang aku mau pulang. Heh, percuma aku menunggumu di sini." Decihnya.
"Val, Noval! Jangan gitu dong. Aku minta maaf ya."
Amanda mencoba menyusul langkah Noval sampai ke tempat parkir. Beruntung plastik belanjaannya hanya berisi kosmetik dan beberapa makanan ringan. Saat Noval menutup pintu mobilnya dengan cepat ia mengetuk pintu kaca mobil tersebut.
"Mau apa lagi, hah!"
"Aku mau menginap di apartemen kamu," rayu Amanda dengan gayanya.
Noval menyeringai dan menyuruh Amanda masuk ke dalam mobilnya. Sesekali Noval melirik pada wanita di sampingnya.
Amanda terpaut usia hampir lima tahun dengan Putri, namun penampilan dan mimik wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya. Berbeda dengan Putri yang berparas babyface yang terlihat manis dan cantik walaupun sederhana.
Sudah hampir tiga bulan Noval dipindahkan ke kota ini. Ia bekerja di salah satu bank swasta dan menjabat sebagai Manager Marketing. Begitu juga Amanda yang bekerja di bank yang sama dengannya. Wanita itu bekerja sebagai salah satu teller di bank tersebut.
***
Waktu menunjukkan pukul enam sore. Putri yang sudah menyelesaikan pekerjaannya pun pamit pulang pada Alby yang baru saja turun dan akan menikmati makanan yang dibuatkan Intan. Pria itu nampak tak acuh dan dengan nada datar ia meminta Putri membawa baju-baju yang tadi dibelinya.
"Jangan sampai aku melihatmu memakai pakaian lusuh lagi, paham?"
Putri mengangguk pelan. Ia mengambil dan memasukkan baju-baju itu kedalam tas yang dibawanya.
"Kenapa tidak kamu bawa dengan tempatnya?"
"Aku malu, nanti banyak orang yang tahu."
"Dasar kampungan," decih Intan.
Putri mendelik pada Intan. Ia pun berpamitan dan bergegas meninggalkan rumah tersebut.
Sepanjang perjalanannya, Putri memikirkan banyak hal yang telah ia dengar hari ini. Pertanyaan Alby tentang status putranya telah menyinggung perasaannya. Dan kalimat Alby yang tadi didengarnya telah menyinggung status sosialnya.
Memangnya apa yang salah dengan penampilannya. Walau warnanya telah pudar, tapi baju ini masih layak pakai. Lalu, apakah Alby membelikannya baju-baju ini hanya agar bisa menghinanya?
Tanpa terasa, Putri sudah sampai di dekat rumahnya. Sebagian anak-anak masih bermain di luar juga beberapa pemuda ada di depan rumah pemilik kontrakan.
"Baru pulang, Putri?" tanya Abim.
"Iya, Mas. Permisi..."
"Berapa tarif di booking seharian, Put?" Ejeknya.
Booking, apa maksudnya? batin Putri.
"Mahal, Bim. Jangan mimpi," sahut salah seorang pemuda dan disahut tawa pelan yang lainnya.
Masih dengan tanda tanya besar dalam benaknya, Putri berlalu menuju rumahnya. Alfi yang sedang menonton kartun, terlihat senang melihat ibunya pulang.
"Ayo, cuci tanganmu Put. Kita makan, mumpung sayurnya masih panas."
"Iya, Bu."
Putri menikmati makan malamnya. Kali ini menu mereka sayur sop ceker dengan tempe goreng sebagai pelengkapnya. Putri mengulumkan senyum melihat Alfi yang terlihat sangat lahap menikmati makanan itu walau sangat sederhana. Ia bersyukur anaknya itu tidak pemilih dalam hal apapun juga.
Dia anakku, Al. Batinnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Meylin
terbuat dari apa hati putri ko ga sakit hati liat c Albi dah tunangan pula😡
2022-02-28
2
Meylin
heran ko c putri mau jadi art cowok udah nyakitin dia mnding cari jerjaan lain dari pada sakit hati aplagi udah tunangan ih bikin emosi thour😠
2022-02-28
0
noname
mnurutku nih alby tuh majikan yg pelit.. ngapain beliin pakaian?? lha wong makanan aja ART ny gak dikasih mn dsruh masak lg.. majikan yg tega..
2021-11-05
2