kepura-puraan

Happy reading...

"Mbak, kok melamun? Saya kan nyuruh ngambil mangkuk," ucap Intan ketus.

"Eh, iya. Maaf," sahut Putri gugup.

Saat melangkah ke dapur, Putri menyempatkan untuk melirik ke arah Alby. Namun ia harus kecewa karena yang didapatnya adalah tatapan tajam dari Intan. Pria itu seolah tidak melihat atau bahkan hanya sekedar melirik ke arahnya.

"Ini, Non."

"Sana, lanjutkan pekerjaan kamu." Titahnya dingin.

Putri mengangguk pelan dan sekali lagi melirik pada pria yang kini terlihat fokus pada layar ponselnya. Ia pun akhirnya kembali ke halaman depan untuk meneruskan menyiram tanaman.

Putri hanya menyiram tanaman sebentar. Setelah selesai, ia kembali kedalam untuk menyetrika pakaian. Pria itu masih di tempatnya. Menikmati sarapan yang dibawakan tunangannya.

Kenapa Alby sepertinya tidak mengenaliku? Atau dia hanya pura-pura? Batin Putri.

"Aww!" pekik Putri pelan. Ia meniup-niup bagian tangannya yang terkena panasnya setrikaan.

Dari ruang makan terdengar suara orang mengobrol saling bersahutan. Sesekali terdengar tawa juga nada suara yang manja. Putri menghela nafasnya pelan, ia memutuskan untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.

Di ruang makan, Alby sesantai mungkin menikmati sarapannya sambil membaca berita online. Intan menghampirinya sambil memperlihatkan postingan temannya semasa mereka awal kuliah.

Sebuah foto saat ia masih terlihat kurus, jauh dari penampilannya saat ini. Mereka terkekeh mengingat masa kuliah di tahun pertama yang menurut mereka penuh perjuangan, karena tinggal jauh dari orang tua.

Selain menertawakan dirinya, Alby dan Intan juga menertawakan foto beberapa teman mereka. Dalam postingan itu temannya mengundang mereka yang kebetulan menikahi teman satu angkatan mereka juga.

"Al, kapan kita nyusul Erik sama Hani? Dalam foto ini, perempuan yang belum menikah hanya aku. Nanti di pernikahan kita, bisa sekalian reunian. Iya kan?" ujar Intan dengan nada suara yang terdengar manja.

"Boleh juga. Secepatnya kita akan bicarakan ini," sahut Alby dengan gerak mata yang mengarah pada punggung wanita yang sedang menyetrika.

Alby menaruh mangkuk kotornya di tempat cuci piring dan mencuci tangan. Putri yang mendengar suara Alby menoleh dan jantungnya berdebar kencang melihat Intan yang sedang memeluk Alby dari belakang. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya.

"Malam ini aku boleh menginap?" tanya Intan.

"Terserah," sahut Alby yang lagi-lagi melirik pada Putri.

Alby membalikkan badannya, membuat Intan dengan leluasa membenamkan wajah pada dada bidangnya.

"Aku mau mandi dulu, Intan." Ujarnya.

"Boleh aku masuk ke kamarmu?"

"Sejak kapan kamu butuh izin dariku, hmm?"

Nada suara Alby yang lembut membuat dada Putri terasa sesak. Sebaliknya Intan merasa senang dengan perubahan sikap Alby tersebut.

Alby dan Intan berjalan menapaki anak tangga. Lalu tidak lama kemudian terdengar suara pintu kamar yang ditutup.

Putri mematung, lalu menepuk-nepuk ringan kedua pipinya. Ia berharap ini tidak nyata. Berharap pria tadi bukanlah Alby.

Putri pun akhirnya pasrah. Saat menyadari ini kenyataan yang harus dihadapinya. Dilanjutkannya lagi menyetrika pakaian agar ia bisa cepat pulang ke rumah.

Sementara itu di dalam kamar Alby, Intan berkali-kali mengetuk kaca pintu. Ia merasa kesal karena diminta menunggu di balkon kamar. Pintu balkon di kunci dari dalam dan ia pun mau tidak mau menunggu sambil memainkan ponselnya.

Alby cukup lama membiarkan tubuhnya dalam guyuran air dari shower. Rasa dingin yang terasa diharapkan mampu menembus dada dan menenangkan jantungnya yang sedang meronta. Berkali-kali ia mengusap wajahnya berharap bayangan wanita itu menghilang dari pikirannya.

***

Satu jam lebih Putri menunggu, namun majikannya belum turun juga. Ia ingin pamit dan memutuskan untuk berhenti.

Bagaimana ini, apa aku pulang saja? Tapi..

Putri mencoba menepis rasa di hatinya. Pikirannya melayang menduga-duga apa yang sedang mereka lakukan di atas sana. Karena rasa kesal yang sudah tak bisa ditahannya lagi, ia memutuskan untuk pulang saja.

Di sisi lain, Intan tidak habis pikir dengan sikap Alby hari ini. Baru saja ia merasa senang atas perubahan sikap Alby, kini pria ini kembali pada sifatnya yang asli. Dingin dan tak acuh terhadap dirinya.

Dari atas balkon, Alby melihat Putri yang berlalu meninggalkan rumahnya. Tatapannya sendu berharap Putri tidak secepat itu berlalu.

Semudah itukah kamu melupakanku, Putri? Apa kebersamaan kita tidak berarti apa-apa bagimu? batin Alby.

"Al.."

"Pulanglah."

Intan tertegun. Tangannya yang baru saja ia tautkan dilepaskan Alby.

"Tapi, Al. Aku kan mau menginap," ujar Intan manja.

"Kamu tidak mendengarku? Nanti sore aku harus ke rumah sakit. Pulanglah, aku mau istirahat." Pintanya.

Harusnya Alby menggantikan tugas temannya pagi tadi. Namun karena ingin bertemu Putri, ia meminta tukar shift dengan temannya yang lain.

***

"Mama! Alfi mau beli itu," tunjuk Alfi yang menyambut kedatangannya.

Putri merogoh uang dari dalam tasnya dan memberikannya pada Alfi.

"Sudah pulang, Put?" tanya seorang tetangganya.

"Iya, Bu."

"Ibumu belum pulang?"

"Mungkin agak malam. Hari ini ibu ikut catering di gedung M," sahut Putri.

Ibu itu mengangguk mengerti, Putri pun pamit ke dalam rumahnya. Tak lama, Alfi datang menghampirinya.

"Ma, Alfi mau beli sepeda." Pintanya polos.

"Mama belum ada uangnya, Al. Lain kali ya, Mama harus nabung dulu. Sepeda kan mahal," sahut Putri.

"Kalau Mama udah gajian, beli ya." Ucapnya dengan raut wajah penuh harap.

Putri hanya bisa mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Alfi tersenyum senang dan kembali bermain bersama teman-temannya.

Dari dalam rumah, Putri melihat anaknya berlari-lari mengejar temannya yang sedang mengayuh sepeda. Ia terlihat gembira walau hanya bisa sesekali meminjam sepeda temannya itu.

Sepertinya aku harus mencari kerja sampingan yang baru. Tidak mungkin aku bekerja di rumah Alby. Apalagi sebentar lagi Alby menikah. Al... Seandainya saja kamu tahu selama ini aku masih menunggumu. Batinnya.

***

Malam mulai larut saat Alby kembali kerumahnya. Saat membuka pintu...

Seorang wanita setengah berlari menghampiri dan memeluknya sangat erat. Wajahnya menengadah dengan senyum manis yang menghiasinya.

Alby mendaratkan satu kecupan di bibirnya. Sekali lagi, karena ia gemas dengan raut wajah wanitanya yang seharian ini sangat dirindukannya.

"Aku rindu, Al. Kenapa baru pulang?" Ucapnya.

"Aku juga sangat merindukanmu, Putri. Pasienku banyak hari ini. Maaf ya, aku pulang terlambat." Sahutnya.

"Makan yuk! Aku udah siapkan dari tadi." Wanita itu berjalan menuju ruang makan.

Alby tertegun, menatap sosok yang tadi tersenyum perlahan memudar. Hilang, karena semua hanyalah sebatas angan.

Alby menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum miris yang tersungging di wajahnya. Ia teringat pada kunci yang tadi ditinggalkan Putri. Apakah itu artinya wanita itu tidak akan pernah kembali?

Setelah selesai membersihkan diri, Alby meraih ponselnya hendak menelepon Tante Ira.

📱 "Halo, Tante! Maaf mengganggu istirahat Tante," ucap Alby.

📱 "Enggak kok, Al. Tante belum tidur. Ada apa?"

📱 "Tan, Alby mau minta tolong. Tante minta Putri bekerja full time di rumah Alby. Bisa kan?"

📱 "Full time? Maksudmu Putri bekerja setiap hari di rumahmu. Begitu, Al?"

📱 "Iya, Tante. Tidak apa-apa kalau dia tidak mau menginap. Dia bisa bekerja dari jam enam pagi sampai jam enam sore. Belakangan ini Alby sering kesiangan."

📱 "Oh, begitu ya. Tapi Al, sehari-hari Putri bekerja di toko."

📱 "Minta saja dia berhenti. Bilang saja Alby akan membayarnya berapapun dia mau."

📱 "Baiklah. Tante akan membujuknya."

📱 "Terima kasih, Tante. Maaf sudah merepotkan."

📱 "Nggak apa-apa. Tante justru senang kamu minta bantuan Tante, Al. Sudah dulu ya," pungkas Tante Ira.

"Siapa, Bu? Alby?" tanya Hasan, suaminya.

"Iya, Pak. Aneh, baru kemarin Alby minta ART yang bekerja hanya untuk hari Sabtu dan Minggu. Sekarang dia minta Putri bekerja full time," ujar Tante Ira setengah bergumam.

Terpopuler

Comments

Enung Samsiah

Enung Samsiah

euuh jdi baru halu alby tor,, sampi aku baca ulng

2023-03-20

1

Rina

Rina

ada apa dengan masa lalu... masih misteri.. ☺

2022-08-28

0

Ardika Zuuly Rahmadani

Ardika Zuuly Rahmadani

senengnya bisa bertemu tiap hari, biar jelas kesalahpahaman mereka

2021-11-19

1

lihat semua
Episodes
1 Putri
2 Dokter Alby
3 kerja sampingan
4 kunci rumah
5 kepura-puraan
6 pertemuan tak terduga
7 makan malam
8 menepis prasangka
9 bodoh?
10 fitnah
11 sakit, Al...
12 ART-mu
13 Dia anakku
14 berbeda kasta
15 Om Ganteng
16 solo karir
17 pengakuan Alby
18 menjemput
19 Janji
20 dukungan Noval
21 pertemuan yang tidak disengaja
22 ide konyol (bagian 1)
23 ide konyol (bagian 2)
24 Alby vs Arif
25 kilas balik Putri (bagian 1)
26 kilas balik Putri (bagian 2)
27 menginap (bagian 1)
28 menginap (bagian 2)
29 mengambil kesempatan
30 aku tahu
31 makan malam spesial
32 kaputusan Alby (bagian 1)
33 keputusan Alby (bagian 2)
34 berterus terang
35 kebersamaan
36 rencana Alby
37 kebersamaan (2)
38 tamu dadakan
39 Intan vs Arga
40 gunjingan tetangga
41 Kakek Jaya
42 pertemuan (bagian 1)
43 pertemuan (bagian 2)
44 ayah dan anak (bagian 1)
45 keputusan Sanjaya
46 ayah dan anak (bagian 2)
47 papa Alfi
48 kebenaran yang terungkap (1)
49 kebenaran yang terungkap (2)
50 persekongkolan
51 khawatir
52 terulang lagi
53 merasa lega
54 visual cast
55 janji
56 menyambut tamu
57 acara dimulai
58 upaya Arif
59 gugup
60 keinginan Alby
61 terkejut
62 Pengumuman
63 menggoda
64 on fire
65 overdosis
66 digigit serangga
67 pengunduran diri Amanda (1)
68 pengunduran diri Amanda (2)
69 Nadila
70 keinginan Bu Rita
71 menjemput atau mampir?
72 persiapan perjalanan
73 Terkenang
74 Diagnosa
75 kamu kenapa?
76 keputusan Noval
77 Noval vs Nadila
78 malas
79 Jadi pacarku?
80 tukar shift
81 persalinan Amanda
82 bayiku
83 persalinan Putri
84 adik Alfi, namanya ...
85 kebersamaan
86 ayah Arsen
87 family time
88 hari bahagia (tamat)
89 extra part 1- Noval sakit?
90 extra part 2- happy ending
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Putri
2
Dokter Alby
3
kerja sampingan
4
kunci rumah
5
kepura-puraan
6
pertemuan tak terduga
7
makan malam
8
menepis prasangka
9
bodoh?
10
fitnah
11
sakit, Al...
12
ART-mu
13
Dia anakku
14
berbeda kasta
15
Om Ganteng
16
solo karir
17
pengakuan Alby
18
menjemput
19
Janji
20
dukungan Noval
21
pertemuan yang tidak disengaja
22
ide konyol (bagian 1)
23
ide konyol (bagian 2)
24
Alby vs Arif
25
kilas balik Putri (bagian 1)
26
kilas balik Putri (bagian 2)
27
menginap (bagian 1)
28
menginap (bagian 2)
29
mengambil kesempatan
30
aku tahu
31
makan malam spesial
32
kaputusan Alby (bagian 1)
33
keputusan Alby (bagian 2)
34
berterus terang
35
kebersamaan
36
rencana Alby
37
kebersamaan (2)
38
tamu dadakan
39
Intan vs Arga
40
gunjingan tetangga
41
Kakek Jaya
42
pertemuan (bagian 1)
43
pertemuan (bagian 2)
44
ayah dan anak (bagian 1)
45
keputusan Sanjaya
46
ayah dan anak (bagian 2)
47
papa Alfi
48
kebenaran yang terungkap (1)
49
kebenaran yang terungkap (2)
50
persekongkolan
51
khawatir
52
terulang lagi
53
merasa lega
54
visual cast
55
janji
56
menyambut tamu
57
acara dimulai
58
upaya Arif
59
gugup
60
keinginan Alby
61
terkejut
62
Pengumuman
63
menggoda
64
on fire
65
overdosis
66
digigit serangga
67
pengunduran diri Amanda (1)
68
pengunduran diri Amanda (2)
69
Nadila
70
keinginan Bu Rita
71
menjemput atau mampir?
72
persiapan perjalanan
73
Terkenang
74
Diagnosa
75
kamu kenapa?
76
keputusan Noval
77
Noval vs Nadila
78
malas
79
Jadi pacarku?
80
tukar shift
81
persalinan Amanda
82
bayiku
83
persalinan Putri
84
adik Alfi, namanya ...
85
kebersamaan
86
ayah Arsen
87
family time
88
hari bahagia (tamat)
89
extra part 1- Noval sakit?
90
extra part 2- happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!