Happy reading...
Suasana hening dan canggung sangat kentara dalam mobil yang dikemudikan Alby. Bagaimana tidak, dua sosok yang pernah tumbuh bersama saat ini dipertemukan dalam keadaan yang berbeda.
Alby merasakan dadanya berdebar sangat kencang. Setelah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu, saat ini mereka bisa duduk sedekat ini dan hanya berdua saja.
Sesekali diliriknya wanita berpakaian sederhana yang duduk disampingnya. Kemeja putih yang dikenakannya sudah nampak mulai lusuh. Begitupun celana panjang hitam yang warnanya sudah memudar.
Kerja apa suaminya? Kenapa dia bahkan tidak bisa membelikan pakaian layak untuk Putri, batin Alby.
Di sisi lain, Putri mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan menatap ke luar. Banyak sekali yang ingin ia ucapkan, namun Putri bingung harus dari mana memulainya.
"Al, kenapa ke sini?" tanya Putri yang menyadari Alby membawanya ke rumah pria itu.
"Al, aku harus pulang!" seru Putri pada Alby yang tidak menjawab, bahkan menolehpun tidak.
Mobil Alby memasuki halaman rumahnya. Pintu gerbang itu terbuka dan tertutup otomatis. Putri mulai merasa kesal dengan sikap Alby yang seenaknya. Pria itu turun dari mobil dan membuka pintu mobil mempersilahkan Putri turun.
Mau tidak mau Putri menurutinya. Ia menatap Alby penuh tanya. Namun pria itu masih memberinya ekspresi yang sama. Diam dengan tatapannya yang dingin.
"Al, Alby.." Lirihnya.
"Masuk dulu.." Jawabnya.
"Tapi, Al.."
"Buatkan aku makan malam, setelah itu kamu boleh pulang." Ujarnya datar.
Putri menautkan alisnya. Ia tidak menyangka Alby membawanya hanya untuk membuatkan makan malam. Bukannya membicarakan hal yang lebih penting.
Putri Mengekor di belakang Alby yang membawanya ke ruang makan. Pria itu menenteng sendiri belanjaan yang tadi dibelinya.
"Lihatlah di dalam sana ada apa. Buatkan aku sesuatu yang bisa di makan," titah Alby yang menunjuk pada lemari pendingin.
Putri menurutinya. Di dalam lemari pendingin itu ada belanjaan yang kemarin ditatanya. Buah-buahan dan beberapa minuman kaleng juga susu UHT.
"Mau dibuatkan apa?" Putri menoleh pada Alby yang sedang terduduk sambil menatapnya.
"Apa saja," sahut Alby.
"Di sini tidak ada apapun yang bisa dibuat untuk makan malam, Al. Hanya ada buah-buahan dan telur. Kamu mau dibuatkan apa?" tanya Putri bingung.
"Sudah ku bilang apa saja. Apa kamu tidak mendengarnya?"
Putri menghela nafasnya, mencoba bersabar atas sikap Alby.
"Mie goreng, mau?" Tawarnya.
"Terserah. Ambilkan aku susu dan gelasnya."
"Katanya mau makan, kok minum susu?" tanya Putri yang menyodorkan gelas.
"Suka-suka aku dong," sahut Alby malas.
Putri membuatkan mie goreng alakadarnya. Ia berharap setelah ini bisa langsung pulang, karena saat ini ibu dan putranya pasti sedang menunggunya untuk makan malam.
"Ini."
"Duduklah." Pintanya sambil menarik kursi untuk Putri.
"Aku harus pulang, Al." Tolaknya.
"Tunggu sampai aku selesai makan," ujar Alby.
Putri duduk didekat Alby. Memperhatikan pria yang mulai menikmati makan malamnya. Ia kemudian merogoh ponselnya membalas pesan singkat dari nomer ibunya.
📩 Ibu [Mama kemana dulu, kok belum pulang?]
Putri tersenyum melihat pesan dari putranya.
📨 [Ada perlu sebentar. Kamu makan dulu sama Nenek ya.]
📩 [Alfi mau nunggu Mama pulang. Kata Nenek jangan terlalu malam.]
📨 [Iya, Mama sebentar lagi pulang.]
Diam-diam Alby memperhatikan ekspresi wajah Putri yang tersenyum pada ponselnya. Senyum itu masih terlihat sama. Senyum yang bisa menggetarkan hatinya.
Senyum itu untuk siapa? Apa dia sedang berbalas pesan dengan suaminya? Batinnya.
"Apa tidak enak? Kamu seperti yang malas memakannya?"
"Kamu memang tidak pintar memasak," sahut Alby malas.
"Aku memang jarang masak."
"Putri, kenapa kamu tidak langsung menerima tawaran Tante Ira?" tanya Alby datar.
"Untuk apa aku menerimanya? Aku punya pekerjaan di toko. Kemarin aku ambil pekerjaan itu karena.."
Putri tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hampir saja mengatakan bahwa ia melakukan itu demi membelikan seragam untuk putranya.
"Karena apa?" Alby menatap penuh selidik.
"Karena aku bosan tinggal di rumah." Sahutnya.
"Kenapa bosan? Kan ada suamimu?" Selidiknya.
Putri terkesiap mendengarnya.
Aku bukan kamu yang begitu saja bisa berpaling pada orang lain, Al. Batinnya.
"Putri Rinjani!"
"Apa?"
"Kamu belum jawab pertanyaanku."
"Suamiku kerja, dia lembur." Dustanya.
Alby merasakan sasuatu yang terhempas dalam dadanya. Pria itu berdehem untuk menetralkannya.
"Kalau kamu nggak mau, sini buat aku aja. Makan kok lama banget, pegel tau nungguinnya." Gerutunya.
Alby mendekatkan piringnya pada Putri. Ia menatap Putri yang mulai menyuapkan garpu dan makan dengan lahapnya.
"Jangan dihabiskan, Put." Ucapnya yang menarik kembali piringnya tadi.
Putri melongo, dengan garpu yang masih dalam mulutnya. Alby mengambil alih garpu itu dan menyuapkan mie yang masih tersisa pada garpu.
"Aku kira kamu udah nggak mau. Mie-nya enak kok," ujar Putri disela kunyahannya.
"Jorok. Kalau makan diam, mie-nya jadi kemana-mana." Ucapnya mengusap potongan mie yang ada di ujung bibirnya.
"Aku pulang ya, Al. Ini sudah malam." Pamitnya. Ia tidak ingin lebih lama terlalu dekat dengan Alby. Sikap Alby mulai menggoyahkan pertahanannya.
"Putri, bawa kunci rumah yang kemarin kamu taruh di sana. Mulai besok kamu datang jam enam pagi dan pulang jam enam sore." Jelasnya.
"Alby! Oh maaf, Dokter Alby. Saya keberatan. Anda tahu mengapa saya kemarin tidak membawa kunci itu? Karena saya berniat berhenti bekerja di rumah ini." Tegasnya.
"Aku bayar berapapun yang kamu mau," ujar Alby sambil menatap lekat pada Putri.
"Heh, sombong," decih Putri.
"Aku serius, Put. Kamu ingin aku membayarmu berapa dan aku akan membayarnya sekarang juga," tegas Alby.
"Sepuluh juta," sahut Putri spontan. Ia berfikir Alby tidak mungkin mau membayar jasa ART dengan gaji setinggi itu.
"Tunggu di sini." Alby berlalu meninggalkannya, meniti anak tangga menuju kamarnya.
"Dia nggak mungkin menyanggupinya kan?" gumam Putri.
Tidak lama kemudian Alby terdengar keluar dari kamarnya. Putri terbelalak melihat pria itu mengibas-ngibaskan satu gepok uang seratus ribuan.
"Kamu sudah gila, Al." Ucapnya pelan.
"Ini bayaran kamu. Bekerjalah dengan profesional. Kamu di sini ART-ku dan aku majikanmu. Paham?"
"Tapi apa yang harus aku lakukan? Rumah ini bersih," ucap Putri pelan.
"Lakukan apapun yang aku perintahkan. Mudah kan?"
"Apapun?" Putri mengernyitkan keningnya.
"Hmm," angguk Alby.
"Misalnya?"
"Misalnya, bangunkan aku setiap pagi. Buatkan aku sarapan, bersihkan rumahku dan tunggu aku pulang." Tuturnya.
Putri menimbang-nimbang. Dengan uang itu, ia bisa membelikan apa saja yang diinginkan Alfi. Ia juga bisa menabung untuk masa depan keluarganya.
"Harus profesional ya? Baiklah, aku terima."
Putri mengulurkan tangannya mengajak bersalaman tanda kesepakatan. Namun Alby malah menatapnya datar.
"Terserahlah. Aku mau pulang," ucap Putri yang memasukkan uang itu ke dalam tote bag-nya.
"Putri!" seru Alby menghentikan langkah Putri yang akan mengambil kunci.
"Apa lagi, Al? Ini sudah malam dan aku belum pernah pulang selarut ini." Sahutnya kesal.
"Bawa ini. Aku membelinya untukmu," ucap Alby pelan. Ia menyodorkan plastik belanjaan yang tadi dibelinya dari toko tempat kerja Putri.
Putri yang sudah malas berdebat menyambar plastik itu dan berjalan ke arah pintu. Putri bergegas meninggalkan rumah Alby.
"Al, ngapain kamu ngikutin aku? Udah sana pulang," ujar Putri pada Alby yang mengikutinya.
"Biar kamu nggak takut, makanya aku antar pulang." Sahutnya.
"Nggak usah, aku berani kok." Tolaknya.
Putri mempercepat langkahnya. Ia merasa kesal karena Alby masih tetap mengikutinya.
"Al! Pulang sana," pinta Putri membalikkan badan Alby dan mendorongnya pelan.
"Aku mau nganter, Put."
"Nggak usah."
"Ya sudah, aku lihatin dari sini. Sana kamu pulang!"
Putri melangkah meninggalkan Alby yang terpaku menatap langkahnya. Sesekali ia menoleh untuk memastikan pria itu masih di sana.
Dalam keremangan lampu gang Putri mengulumkan senyum saat Alby melambaikan tangannya.
"Selamat malam, Al." Gumamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Dewi Tarra
suka karakter putri gk jaim, realistis lahh langsung ambil aja tuh duit 😂😂😂
2022-09-27
1
risna husain
sampe di sni aq bacanya nyaman thor..salut buatmu👏👏👏
2022-08-23
0
Ardika Zuuly Rahmadani
keliatannya mereka asyik tu kalo ngobrol🤨🤨🤨
2021-11-19
0