Happy reading...
Turun dari mobil yang membawanya, Putri terpaku menatap rumah yang kini dihadapannya. Menunggu Bu Ira yang sedang menelepon seseorang yang akan menjadi majikannya.
"Kita masuk aja, keponakan ibu ternyata piket menggantikan temannya. Ayo!" Ajaknya.
Bu Ira membuka kunci pintu rumah itu. Putri mengekor di belakangnya.
"Oh iya, keponakan ibu namanya Alby. Dia seorang dokter di rumah sakit AM. Sebentar lagi dia akan menikah, jadi sengaja membeli rumah ini." Tuturnya.
Alby? batin Putri bergumam.
"Jadi ini rumah baru ya, Bu? Pantas masih sangat bersih, hehe."
"Iya, jadi kamu nggak terlalu capek. Tapi tetap harus di bersihkan ya, kalo debu kan pasti ada."
"Baik, Bu."
Seharian ini Bu Ira berencana menemani Putri bekerja. Wanita paruh baya itu menjelaskan apa saja yang harus dilakukannya. Akan tetapi saat akan membersihkan kamar Alby, Putri urung melakukannya karena kamar itu terkunci.
"Hari ini kamu selain membersihkan ini semua, kamu juga mencuci baju ya, Putri. Jadi besok kamu tinggal menyetrikanya."
"Baik, Bu."
Ibu Ira diam-diam memperhatikan sosok ART keponakannya itu. Wajahnya yang cantik dengan kulit kuning langsat serta senyumnya yang manis cukup menarik perhatiannya.
"Putri, kegiatan kamu apa sehari-hari?"
"Saya bekerja di toko, Bu." Sahutnya di sela-sela pekerjaan.
"Akhir pekan ini tidak kerja?"
"Tidak, Bu. Toko sedang sepi."
"Oh. Kok kamu nggak hang out sama teman-temanmu? Biasanya anak muda seumuran kamu masih suka main," tanya Bu Ira.
"Saya sudah tidak muda lagi, Bu. Sudah punya anak satu." Sahutnya sambil tersenyum.
"Oh ya? Berapa umurmu, Put?"
"Dua puluh sembilan tahun, Bu."
Bu Ira nampak terkejut. Pasalnya raut wajah Putri terlihat masih sangat muda.
Di sisi lain, sedari tadi perasaan Putri diliputi tanda tanya besar. Nama Alby terdengar begitu familiar di telinganya. Namun ia mencoba berpikir bahwa pasti banyak nama Alby lain di luar sana.
Menjelang siang, pekerjaan Putri sudah selesai. Bu Ira kembali menelepon Alby, keponakannya.
"Putri, besok kamu datang jam delapan ya. Ini kunci rumahnya, dan ini uang kamu untuk bayaran hari ini sama besok."
"Tapi, Bu?" Putri nampak ragu memegang kunci rumah tersebut.
Ibu Ira seolah mengerti raut wajah Putri.
"Keponakan saya yang nyuruh. Katanya biar saya nggak repot, kunci yang saya pegang dikasih ke kamu," sahut Bu Ira.
Putri merasa berat untuk menerimanya. Bagaimana bisa orang yang bahkan belum pernah bertemu dengannya mempercayakan kunci rumah padanya. Namun Putri merasa sangat senang karena ia menerima bayarannya lebih awal.
"Kamu tinggal dimana, Putri?"
"Di belakang perumahan ini, Bu. Ke dalam gang," sahut Putri sambil menunjuk.
"Ya, sudah. Besok jangan lupa ya."
"Iya, Bu." Angguknya.
Putri da Bu Ira pun berpisah di depan rumah.
Putri melangkah riang menuju rumah. Rencananya ia akan mengajak putranya untuk membeli seragam sekolah. Ia bersyukur uang yang diterimanya lebih dari cukup untuk menambah kekurangan uang simpanannya.
***
Tiba di rumah, kebetulan Bu Rita juga sudah pulang. Alfi sedang asik bermain sepeda milik temannya di depan rumah pemilik kontrakan.
Sambil makan siang, Putri menceritakan semuanya pada ibunya. Dari awal ia menginjakkan kaki di rumah majikan Rani sampai pulang dari rumah majikannya sendiri. Kecuali perihal nama Alby tentunya.
Ibunya juga merasakan hal yang sama. Merasa aneh majikan putrinya bisa langsung percaya begitu saja.
"Hati-hati, Put. Tanggung jawabmu besar. Jangan sampai kamu mengecewakan ya," pesan Ibunya.
"Iya, Bu. Putri juga tahu. Bisa saja kan ini semacam ujian. Majikan Putri menguji kejujuran Putri dari awal." Sahutnya.
"Syukurlah kalau kamu mengerti."
Setelah selesai, Putri pun mandi. Ia kemudian memanggil Alfi dan pamit pada ibunya.
Bu Rita menatap kepergian putri dan cucunya. Entah mengapa perasaannya merasakan sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti apa itu.
***
Semilir angin malam terasa sejuk menenangkan jiwa. Bintang-bintang bertebaran menambah indahnya pesona malam yang gulita.
Alby terduduk di balkon kamarnya. Menikmati malam seorang diri.
Hari ini Tante Ira membawa ART ke rumahnya. Tadi, saat ada waktu luang di sela-sela menunggu pasiennya, Alby tiba-tiba saja ingin mencoba melihat CCTV rumahnya yang belum pernah ia buka dan terhubung dengan ponselnya.
Ia tertegun dengan raut wajahnya yang menegang. Wanita yang terekam CCTV itu sangat tak asing baginya. Wanita dari masa lalu yang tiba-tiba saja ada di dalam rumahnya.
"Putri," gumam Alby.
Degup jantungnya terasa tak beraturan manakala senyum manis itu terlihat. Tapi apa yang ia dengar membuatnya menahan perasaan dengan tangannya yang dikepal.
"Saya sudah tidak muda lagi, Bu. Sudah punya anak satu."
Kalimat Putri seakan menggema di ruang kosong dalam pikirannya.
"Jadi dia sudah menikah lagi dan punya anak? Heh, apa-apaan ini?" decih Alby dengan bibir yang menyeringai sinis.
Kenangan akan wanita bernama Putri kembali terulang. Kenangan manis yang berujung kapahitan. Wanita itu hanyalah masa lalunya. Wanita yang selama ini ingin dilupakannya.
Namun nyatanya rasa dan logikanya tak sejalan. Karena kenyataannya, bukannya memberhentikan Putri, ia justru meminta Tante Ira memberikan kunci rumah pada wanita itu.
Di tempat lain, Putri tak dapat memejamkan matanya. Ia sangat ingin tahu bagaimana rupa majikannya. Pemilik nama yang sama dengan pria yang pernah mengisi hari-harinya di masa lalu. Tak ada bingkai foto dalam rumah itu. Mungkin karena rumah itu masih baru.
Tidak mungkin itu Alby. Setahuku Alby paling takut kalau disuntik apalagi disuruh minum obat. Jadi nggak mungkin dia jadi Dokter. Lagi pula seperti namaku, nama Alby juga pasti banyak. Kebetulan aja namanya sama. Batinnya.
Ditatapnya wajah Alfi yang sudah terlelap. Putranya itu tadi sangat senang dengan seragam barunya. Ia bahkan mengatakan sudah tidak sabar ingin cepat sekolah.
Putri mengusap lembut pipi putranya. Tatapannya pilu mengingat putranya yang sudah tidak lagi menanyakan ayahnya. Entah lupa atau sengaja, karena selama ini jawaban Putri selalu saja sama.
"Mama tidak tahu, Al. Ayahmu pamit bekerja, dan sampai sekarang belum pulang juga. Kamu sabar aja ya. Kalau sudah waktunya, Ayah kamu pasti pulang."
Selalu seperti itu jawaban Putri pada putranya. Namun satu tahun belakangan ini pertanyaan itu sudah tidak didengarnya lagi.
Satu helaan nafas dibuangnya pelan. Perlahan matanya mulai terpejam. Mencoba terbuai dalam pangkuan malam.
***
Dua wanita berpenampilan sederhana terlihat asik berbicara. Sesekali keduanya terlihat tertawa dan terkekeh bersama. Di persimpangan mereka berpisah. Karena keduanya harus mengambil jalan berbeda untuk sampai di rumah majikan mereka.
Aku harus bagaimana? Hari ini majikanku ada di rumah, batin Putri dengan perasaan yang tiba-tiba saja berdebar. Ia melirik lagi mobil yang terparkir di halaman rumah.
Dengan sangat pelan ia mencoba membuka kunci pintu rumah itu. Sepi, sepertinya sang majikan masih terlelap di kamarnya.
Putri berusaha tidak menimbulkan suara yang bisa mengganggu tidur majikannya. Pekerjaannya ia lakukan dengan sangat hati-hati.
Setelah bagian dalam selesai dibersihkan, kini saatnya menyiram tanaman di halaman depan. Tidak lama kemudian bunyi klakson mobil mengagetkannya.
Sebuah mobil terparkir di depan rumah. Pemiliknya turun dan memanggil dirinya.
"Heh, Kamu! Ke sini bantu saya bawakan belanjaan." Pintanya.
Putri yang merasa panggilan itu tertuju padanya bergegas menghampiri. Sepanjang langkah Putri di perhatikan dengan seksama oleh si wanita.
"Bawakan itu! Pak Dokter sudah bangun?" Tanyanya sambil menunjuk beberapa plastik belanjaannya.
"Balum, Bu."
"Panggil saya Nona Intan. Saya belum menikah, enak saja kamu panggil saya ibu," delik Intan.
Putri mengangguk pelan dan mengekor di belakang Intan sambil menjinjing belanjaan.
Apa ini tunangan Pak Dokter? Batinnya.
Intan memintanya meletakkan belanjaan di ruang makan dan meminta sebagian di tata di dalam lemari pendingin. Kemudian Intan berjalan ke atas mengetuk pintu kamar tunangannya.
"Al, Alby! Bangun dong, kita sarapan." Pekiknya.
Tidak berapa lama, terdengar suara pintu yang di buka. Putri yang sedang merapikan belanjaan, samar-samar mendengar percakapan mereka. Ia juga mendengar suara majikannya yang masih terdengar agak serak.
"Al, aku beli lontong sayur kesukaan kamu." Ucapnya.
"Oh, ya?" sahut Alby yang menuangkan air minum kedalam gelasnya.
"Mbak, ambilkan mangkuk dua ya." Intan membuka bungkusan plastik yang dibawanya.
Putri beranjak dari depan lemari pendingin. Ia berdiri dan menutup pintunya. Saat hendak melangkah ke arah dapur, ia tertegun menatap pria di hadapannya yang sedang meneguk air minum.
Alby! Pekiknya dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Enung Samsiah
tor cepat plasblack on
2023-03-20
1
beby
ketemu
2022-12-16
0
bunda syifa
ko' baru baca udah dag Dig dug Thor, takut konflik nya berat🤪🤪
2022-06-27
1