Happy reading...
Langit gelap yang berpadu dengan angin kencang. Juga suara gemuruh yang saling bersahutan membuat suasana jam enam sore terasa seperti malam yang mencekam. Suasana itu menciutkan nyali dua wanita yang akan kembali ke rumah setelah seharian bekerja.
Putri dan Mia saling menatap sesaat, kemudian memutuskan untuk mengambil langkah seribu. Sesekali kilatan yang terlihat membuat mereka terkesiap. Di pertigaan gang, mereka berpisah. Mengambil jalan berbeda menuju rumah mereka.
Sementara itu dari balik jendela, seorang anak sedang menunggu kepulangan ibunya.
"Kok Mama belum pulang juga ya, Nek." Ucapnya cemas.
"Sabar. Sebentar lagi," sahut Neneknya dari dapur.
Bu Rita membawa satu persatu menu makan malam mereka ke ruang depan. Diliriknya cucu laki-laki yang sedang menunggu ibunya itu. Dalam hati ia pun harap-harap cemas. Berharap putrinya segera datang agar mereka merasa tenang.
"Mama!" pekik anak itu sambil membuka pintu.
Putri tersenyum mendapati putranya yang bahagia menyambut kepulangannya.
"Syukurlah kamu sudah sampai, Put," ucap Bu Rita lega.
"Iya, Bu. Padahal nggak hujan, tapi gelap sekali di luar." Sahutnya.
"Ya sudah, ayo kita makan."
Setelah mencuci tangan, mereka menikmati makan malam dengan menu yang sederhana. Namun begitu tidak mengurangi kenikmatan yang mereka rasakan.
***
Seorang pria berdiri menatap ke luar jendela kaca. Suasana alam yang mencekam membuatnya terdiam dalam lamunan.
Suara pintu yang diketuk mengembalikan kesadarannya. Sambil mengusap wajah ia berkata, "Masuk."
"Selamat malam, Dokter Al! Aku kira kamu sudah pulang," sapa seorang wanita yang mengenakan jas serupa dengan pria tersebut.
"Sebentar lagi mungkin. Di rumah juga sepi, nggak ada siapa-siapa." Sahutnya. Pria itu menggantungkan jas dokternya.
"Mau aku temani?" Wanita itu memeluk dari belakang.
Pria itu tersenyum mendengar pertanyaan rekan sekaligus tunangannya tersebut. Ia melepaskan tautan tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Kenapa, memangnya salah? Lagi pula sebentar lagi kita menikah," ucap wanita itu sambil menatap pria yang tengah melipat lengan kemejanya.
"Ya, tapi kan belum."
"Al, kamu kok gitu sih? Aku juga kan ingin seperti yang lainnya. Kencan sama pacar atau tunangan. Masa aku kalah sama para perawat itu, mereka selalu saja menceritakan pengalaman kencan mereka. Sedangkan aku cuma bisa gigit jari." Gerutunya.
"Kalau gitu cari aja yang lain. Yang bisa kamu ajak kencan. Gampang kan?"
"Enak aja." Deliknya.
Seseorang mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.
"Maaf, Dokter Intan. Pasien anda sudah menunggu," ucap seorang perawat.
"Oke, saya ke sana." Sahutnya.
Perawat itupun pamit dan menutup pintu.
"Kamu mau pulang sekarang?"
"Iya, aku mau istirahat."
Dokter wanita itu memeluknya.
"Intan, kamu sudah ditunggu pasien."
"Sebentar aja." Gumamnya sambil membenamkan wajah di dada pria yang berstatus tunangannya tersebut.
Setelah puas menghirup aroma maskulin dari tubuh pria-nya, Intan melepaskan pelukannya.
"Hati-hati ya, Sayang." Ucapnya.
Pria itu mengangguk sambil mengusap pelan surai wanita-nya. Satu helaan nafas dibuangnya kasar setelah wanita itu meninggalkan ruangannya. Tak lama, ia pun meninggalkan ruangan itu.
"Selamat malam, Dok." Sapa beberapa perawat yang berpapasan dengannya.
"Malam." Angguknya sambil berlalu.
"Dokter Al, Alby!" seru seseorang dari belakang.
Pria itu menoleh. Seorang rekannya berlari kecil menghampirinya.
"Ada apa?"
"Hari Sabtu-Minggu tukar shift, bisa nggak? Aku ada acara. Please, bisa ya?"
"Oke, tapi nggak gratis." Guraunya.
"Siap, siap! Aku pasti bakalan traktir kamu," ujar pria itu senang.
"Thanks, ya." Ujarnya sambil berlalu.
Pria itu tersenyum tipis dan kembali melanjutkan langkahnya.
Alby Sanjaya, namanya. Seorang Dokter Umum di sebuah rumah sakit swasta ternama. Baru satu bulan ia ditugaskan di kota ini. Karena sebelumnya, ia mendapat tugas di satu daerah pedesaan.
Sejujurnya Alby merasa lebih betah di tugaskan di sana. Selain udaranya yang masih segar, orang-orangnya pun sangat ramah dan apa adanya.
Di awal kedatangannya, ia tinggal di rumah saudari ayahnya yaitu Tante Ira. Namun sudah hampir satu minggu ini, ia tinggal di rumahnya sendiri. Rumah yang ia beli berada di sebuah kawasan perumahan yang di belakangnya terdapat pemukiman penduduk yang cukup padat.
Di rumah sakit yang sama juga ada Intan, wanita yang ditunangkan dengannya. Intan adalah keponakan Om Hasan, suami Tante Ira. Kebetulan mereka pernah mengenyam pendidikan di kampus yang sama di ibukota.
Dalam perjalanan, ia sempatkan membeli makan malam. Setelah sampai di rumah, sambil menonton televisi Alby menikmati makan malamnya.
Deringan ponsel mengalihkan perhatiannya. Rupanya Tante Ira yang menghubunginya.
📱 "Halo, Al! Sudah sampai rumah?"
📱 " Sudah, Tante. Ini lagi makan."
📱 "Syukurlah. Oh iya, Al. Tante akan minta carikan ART untuk rumahmu. Kebetulan teman Tante tinggal di dekat daerahmu. Kamu nggak keberatan kan?"
📱 "ART? Tante, Alby tidak keberatan. Tapi kalau bisa carikan ART yang tidak menginap dan hanya bekerja di akhir pekan."
📱 "Lho, kenapa?"
📱 "Nggak kenapa-napa, Tan. Hanya saja Alby merasa risih kalau harus tinggal serumah dengan orang lain. Apalagi ART kan biasanya perempuan. Dan lagi pula rumah ini tidak akan terlalu kotor. Cukuplah kalau dibereskan seminggu sekali juga."
📱 "Oh, jadi kerjanya hari Sabtu sama Minggu aja, gitu?"
📱 "Iya, Tante."
📱 "Oke. Nanti Tante akan minta teman Tante untuk mencarikannya."
📱 "Terima kasih, Tante. Maaf merepotkan."
📱 "Tante nggak repot kok. Sudah dulu ya, Al. Tante mau langsung menghubungi teman Tante. Bye!"
📱 "Bye, Tante."
Setelah menutup panggilannya, Alby kembali menikmati makanannya. Sejenak ia tertegun menatap layar televisi. Terpaku mendengarkan acara talk show di televisi yang membahas hari Satelit Palapa.
Saat tampilan televisi itu berganti dengan iklan komersial, Alby tersadar dan menyeringai tipis. Ia lalu kembali menikmati makanannya sampai habis.
Di tempat lain, di waktu yang bersamaan. Putri yang merebahkan tubuhnya di kursi menatap lekat pada tontonannya. Tatapannya kosong seolah menerawang entah kemana.
"Putri, jangan tidur di situ. Nanti badanmu bisa sakit," ujar Ibunya.
"Sebentar lagi, Bu. Putri belum mengantuk," sahut Putri.
"Ibu perhatikan belakangan ini tidurmu selalu larut malam. Ada apa? Bicarakan dengan ibu," ujar Bu Rita menghampiri Putri.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya saja Putri memang belum ngantuk." Elaknya.
"Benar tidak ada mengganggu pikiranmu?"
"Tidak ada, Bu."
"Kalau begitu ibu tidur dulu ya. Ingat, jangan terlalu malam."
Putri mengangguk. Di tatapnya punggung ibunya dengan tatapan sendu. Ia kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Rumah yang ditinggali mereka hanya terdiri dari sebuah ruangan depan yang sempit. Selain itu ada ruangan yang cukup luas dan dijadikan kamar. Juga kamar mandi dan dapur yang sangat kecil.
Saat melewati ruangan yang dijadikan kamar, ia mengintip putranya yang sudah terlelap. Di samping Alfi, Ibunya sedang memejamkan mata sambil melafalkan doa.
Putri kembali membaringkan tubuhnya di kursi. Tatapannya kembali menerawang menatap langit-langit ruangan itu.
Kamu ada dimana, Al? Batinnya.
Hai, Readers!
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya😁
Dukung author dengan like👍 comment, Vote dan juga rate bintang lima-nya.
Terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Enung Samsiah
jdi ditinggalin atau gitu aja,, sediih tor dah 10 th sengsara sama anaknya
2023-03-20
1
💐Tuti Komalasari💐
hem..nyimak 🤔
2022-08-31
1
Ardika Zuuly Rahmadani
apa Alby ayah dari anaknya putri
langsung masuk favorit deh
2021-11-19
0