Aldrich bersandar di pintu mobilnya, berulang kali dia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dan mendesah.
Dia masih tak percaya kalau Luci sudah memiliki anak, sungguh sebuah fakta yang mencengangkan. Tapi jika di pikir-pikir, memang tidak mungkin wanita secantik Luci tidak pernah memiliki kekasih. Semua mata lelaki yang ada di sekitarnya pasti buta jika membiarkan wanita secantik itu di anggurin.
"Sial! kenapa gue se-sial ini!" Aldrich memukul kepalanya dengan pelan, sambil mengingat kejadian semalam.
#Flashback on
"Terus siapa?!"
"Anak saya, yang baru berusia 5 tahun."
"Apa!!! Lo.. Lo punya anak?!"
Luci mengangguk.
"Sejak kapan? eh, bagaimana mungkin?" Aldrich memucat, dia shock mengetahui kenyataan yang sebenarnya. "Lo, tapi KTP lo, belum menikah!"
"Saya memang belum menikah, Saya di tinggal kekasih saya tiga tahun lalu." Luci tertunduk.
"Untuk ukuran cewek secantik lo, lo bener-bener bego!" Ketus Aldrich.
"Ternyata memang nggak ada cewek bener di dunia ini. Gue kira Lo beda." Desis Aldrich.
"Saya nggak peduli apapun kata orang, Tuan. Saya sudah kenyang dengan hinaan dan celaan yang saya terima sepanjang hidup Saya. Yang saya mau sekarang adalah, Tuan menepati janji yang sudah Tuan ucapkan pada Saya!" Luci bicara dengan nada tegas sambil menatap tajam ke arah Aldrich, membuat Aldrich sedikit merinding karena takut.
"Tapi, gue nggak suka suara berisik." Aldrich masih mencoba mencari alasan untuk menolak permintaan Luci.
"Putri Saya sangat penurut, dia tidak pernah rewel. Anda bisa pegang kata-kata Saya!" Mungkin karena keinginan yang sangat besar untuk bersama Vin-vin, Luci berubah dari wanita yang pendiam menjadi wanita yang tegas. Dia tak mau menerima penolakan.
Dan Aldrich merasakan semua perubahan itu.
"Ehm! oke. Tapi kalau gue merasa terganggu, Lo harus kembalikan anakmu ke tempatnya semula."
"Kalau tuan merasa terganggu, Saya akan keluar dari rumah ini bersama anak Saya!"
"Sekarang berani ngancam Lo, ya?"
"Maaf, Saya cuma bingung harus bagaimana lagi. Saya tak tega melihat anak saya menderita di asrama." Ucap Luci lirih sambil tertunduk.
Aldrich mendengus, dia tak bisa berkata apa-apa lagi, "baiklah!" ucapnya, akhirnya.
Luci menatap Aldrich, matanya berbinar bahagia. "Benar? benar Tuan mengijinkan?"
Dengan berat hati Aldrich menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih! sungguh terima kasih Tuan!" Luci langsung berlari mendekati Aldrich dan memeluknya.
Aldrich terkejut karena pelukan Luci yang begitu erat melingkari tubuhnya. Walaupun ini hanya sebuah pelukan biasa dan Aldrich bahkan sering melakukan dengan banyak wanita, tapi rasanya tetap berbeda saat Luci yang melakukannya.
"Oke, Lo bisa lepasin gue sekarang, atau gue akan balas nyerang Lo!" Desis Aldrich. Ini bukan sekedar ancaman, karena pelukan dan sentuhan luci, telah membangunkan sesuatu yang tertidur di bawah sana. Dan ini sangat menyiksa Aldrich.
"Maaf Tuan, saya hanya merasa sangat senang." Luci melepaskan pelukannya. "Saya nggak akan lupa dengan semua kebaikan Tuan. Saya akan lakukan apapun untuk membalasnya."
"Apapun?" Aldrich mengangkat sebelah alisnya sambil menatap tajam ke arah Luci.
"Maksudnya, saya akan bekerja dengan giat." Lanjut Luci, dia khawatir majikannya mengartikan kata-katanya dengan hal yang Luci takutkan.
"Huft!" Aldrich menghembuskan napasnya dengan kasar. "Kapan Lo mau ajak anak itu ke sini?"
"Besok!" Jawab Luci cepat.
"Hah! secepat itu!"
#Flashback off.
Dan di sinilah dia sekarang, di luar gerbang asrama, tempat luci menitipkan anaknya.
Aldrich menyapukan pandangannya ke seluruh bangunan kumuh yang ada di depannya. Pemandangan ini membuatnya teringat kembali kenangan pahitnya saat masih kecil.
Aldrich kecil pernah tinggal di tempat seperti ini, kumuh, makanan tak enak, baju bekas yang selalu terasa gatal, Itu semua adalah kenangan buruk yang ingin Aldrich lupakan dan buang jauh-jauh.
"Dia masih beruntung, karena punya Mama yang menginginkannya." desis Aldrich.
Tak lama kemudian, Luci muncul. Dia berjalan keluar dari pintu gerbang asrama dengan wajah yang sangat bahagia. Di sebelahnya ada seorang anak perempuan berambut panjang yang sangat cantik. Persis Luci.
"Memang Ibu dan anak! sama cantiknya." Aldrich menyunggingkan senyum tipis.
"Sayang, kenalan ya sama majikan Mama. namanya Tuan Aldrich. Orangnya baik sekali karena mengijinkan Vin-vin tinggal di rumahnya." Luci mencoba mengenalkan Aldrich pada putri nya.
Vin-vin menatap Aldrich, "Tuan bukan Papa Vin-vin?" Tanya Vin-vin polos.
"Uhuk!" Aldrich tersedak ludahnya sendiri karena terkejut dengan pertanyaan Vin-vin.
"Vin-vin..." Luci terkejut dengan ucapan Vin-vin yang sangat polos.
Aldrich menatap Luci dan Vin-vin bergantian lalu mendesah. "Ayo masuk!" ucapnya , sambil membuka pintu mobil.
"Ba-baik Tuan." Luci membuka pintu belakang dan menyuruh Vin-vin masuk, lalu dirinya sendiri duduk di kursi penumpang yang ada di depan. Dia ingat, pernah di bentak Aldrich waktu duduk di belakang.
Setelah semuanya duduk di tempatnya masing-masing, Aldrich pun melajukan mobilnya sambil sesekali mendengus kesal.
Luci pun terus menunduk sepanjang perjalanan, dia tahu majikannya pasti sebenarnya kesal, karena dia bilang dia tak suka anak kecil.
.
Setelah sampai di rumah, Aldrich langsung masuk ke dalam kamarnya. "Jangan ganggu gue! gue mau kerja di kamar!"
"Baik." Luci mengajak Vin-vin menuju kamarnya yang ada di belakang.
Vin-vin terlihat senang karena sudah tinggal bersama Mamanya, begitupun Luci.
Hari ini, Luci akan memasak makanan yang super enak untuk majikannya yang telah memberi ijin Vin-vin tinggal.
Senyum bahagia selalu terbit di wajah cantik Luci, sambil berulang kali menciumi putri kecilnya hingga Vin-vin terkikik geli.
"Sayang, Mama mau masak dan bersih-bersih rumah. Vin-vin duduk tenang di kamar ya, karena Tuan Aldrich tidak suka ada anak kecil yang berkeliaran di dalam rumahnya."
Vin-vin mengangguk tanda mengerti. Dia memang sudah terbiasa duduk dengan tenang di dalam kamarnya jika Luci sibuk bekerja. Itu sudah menjadi kebiasaannya, dia tau Mama-nya sangat repot dan tak mau mengganggu.
Luci berjalan menuju dapur, sambil bersenandung dengan riang. Dia sangat bahagia, kesedihannya semalam karena bertemu Kevin telah sirna. Vin-vin benar-benar merupakan sumber kebahagiaan Luci.
"Aku nggak akan pernah memikirkan Kevin lagi, sekarang aku hanya akan fokus pada Vin-vin." Janjinya pada diri sendiri.
"Tuan Aldrich, terima kasih." Luci terus bergumam sendiri sambil memotong bumbu dapur, perasaannya begitu ringan dan riang.
"Lo manggil gue?" tiba-tiba terdengar suara Aldrich. Luci dengan segera menoleh dan melihat Aldrich sudah duduk di kursi makan.
"Tu-tuan, sejak kapan duduk di situ?" Luci merasa malu karena tak menyadari majikannya ada di belakangnya.
"Sejak Lo bersenandung dan berjoget-joget sendiri kayak orang gila." Ketus Aldrich sambil mulai membuka laptopnya.
Luci merasa malu, wajahnya sudah berubah merah persis tomat matang.
"Seneng banget Lo ya? bisa kumpul dengan anak Lo?!"
"Iya Tuan, sejak lahir Vin-vin selalu bersama saya, karena bekerja di sini, saya terpaksa meninggalkannya di pondok." Luci tertunduk karena teringat keputusan berat yang pernah dia ambil.
Aldrich masih bersungut-sungut, kesal dia karena merasa di bohongi Luci. Hampir saja dia jatuh cinta pada seorang janda. Eh tunggu, Luci kan belum pernah menikah, bukan janda dong ya?
"Lalu, di mana ayahnya Vin-vin?"
Luci menatap Aldrich, terkejut karena majikannya ternyata ingin tahu dengan kehidupannya. "Dia sudah pergi." Luci langsung membalik badan dan melanjutkan aktivitasnya, memotong bumbu yang akan dia gunakan untuk memasak.
"Mati?"
Luci diam.
"Atau pergi dengan wanita lain?" Aldrich masih penasaran.
Luci masih kekeuh mengunci mulutnya.
Aldrich mendesah, lalu bangun dari duduknya. Berjalan keluar lewat pintu belakang untuk melongok Vin-vin.
Aldrich membuka pintu kamar Luci dan melihat Vin-vin sedang duduk sendirian di dalam sana. Dia sangat tenang, padahal biasanya anak sekecil ini pasti nggak bisa diam, Selalu berlari kesana kemari atau bermain sesuatu sambil berteriak-teriak.
Entah kenapa, Aldrich merasa kasihan padanya.
"Vin-vin."
Vin-vin yang dari tadi tertunduk langsung mendongak dan tersenyum ketika melihat Aldrich berada di ambang pintu.
Aldrich pun tak tahu kenapa ikut tersenyum, mungkin senyum Vin-vin memiliki virus yang sangat menular.
"Vin-vin boleh nonton TV kok, dari pada di kamar sendirian."
"Boleh Tuan?"
"Ck! Jangan panggil Tuan, panggil Om."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Erika Darma Yunita
awal yg baik Al....
2021-12-07
0
Atieh Natalia
bagus deh mudah2an sang Casanova tobat
2021-08-30
0
Lutha Novhia
ciyeee manggil om
2021-07-23
1