"Kemana dia!" Aldrich celingukan mencari Luci.
Padahal tadi dia hanya meninggalkannya sebentar, tapi Luci sudah menghilang entah kemana.
"Cari siapa?"
Aldrich menoleh karena hapal betul dengan suara lelaki yang menyapanya, "Bang! kapan balik Indo?" Aldrich langsung memeluk Kevin.
"Baru tadi pagi sampai." Kevin mengurai pelukan Aldrich. "Katanya Lo sakit?"
Aldrich mendesah, "gue harus mengurangi minum-minum."
"Ya betul itu, Lo sudah nggak semuda dulu lagi, nggak akan kuat melawan alkohol."
"Gue baru 25 Bang, masih muda!" Ketus Aldrich.
"Mana Lyly?" Aldrich mencari sosok istri Kevin yang tak tampak.
"Tau lah, biarin dia kumpul sama teman-temannya." Kevin menyesap punch buah-nya.
"Lo sendiri, mana pasangan Lo?"
"Oh iya, hampir lupa gua! di mana dia ya?" Aldrich mengambil ponselnya yang dia simpan di saku jas hitamnya, lalu menghubungi nomer Luci.
Tut. Tut. Tut.
Aldrich menatap ponselnya penasaran, "kemana dia?" gumamnya.
"Kenapa?" Tanya Kevin yang heran dengan perubahan sikap Aldrich.
"Jangan-jangan dia tersesat, dia kan nggak pernah datang ke tempat seperti ini." Gumam Aldrich.
"Bang, gue pergi dulu ya, ada yang urgent, nih! nanti gua telpon Lo deh." Lalu Aldrich bergegas meninggalkan Kevin sambil terus mencoba menghubungi Luci.
Tuut... tuut...
"Angkat Luci!" geram Aldrich.
"Ha... lo,"
"Lo di mana!" Aldrich kesal setelah mendengar suara Luci.
"Di... toilet..." Jawab Luci lirih.
Aldrich merasa ada yang aneh dengan suara Luci, "Lo kenapa?"
"...."
"Luci? hallo?"
"Iya..."
"Tunggu ya, gue susul lo," Aldrich merasa ada yang aneh dengan suara Luci, suaranya serak seperti orang yang sedang menangis.
Ada apa gerangan dengannya? apa ada yang mengganggu dirinya waktu Aldrich tinggal sebentar tadi? kurang ajar betul orang itu!
"Bakal gue hajar orang yang berani ganggu lo, Luci!" Geram Aldrich.
Saat melihat tanda toilet wanita, Aldrich langsung berhenti dan kembali menelpon Luci. "Gue sudah di luar, cepet keluarlah."
Tak lama Luci pun keluar dari dalam bilik toilet, dengan kepala tertunduk dia mendekati Aldrich.
Tanpa permisi, Aldrich mengangkat dagu Luci dan melihat mata cantik Luci bengkak dan berwarna merah.
"Lo kenapa? ada yang ganggu Lo?"
Luci menggeleng, "bisakah kita pulang sekarang, Tuan?"
"Nggak, sampai Lo cerita kenapa Lo nangis!"
"Saya akan cerita tapi tidak di sini, bisakah kita pulang dan ngobrol di rumah." Pinta Luci.
"Ck! oke!" Aldrich mendesah dan meraih tangan Luci, mengajaknya keluar dari ruang pesta.
.
Dalam perjalanan Luci terus diam dan tertunduk. Aldrich semakin serba salah dan penasaran kenapa Luci bisa bertingkah aneh seperti ini.
"Ehm!" Aldrich mencoba memecah keheningan yang terasa mengganggunya, "tadi ada Chef Kevin loh! gue sebenarnya mau kenalin dia ke Lo." Aldrich melirik Luci, menunggu reaksinya. Dia pikir Luci akan tersenyum atau paling tidak melupakan hal yang mengganggunya, tapi hasilnya nihil. Luci malah mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya, dan mulai terisak.
Aldrich meminggirkan mobilnya dan berhenti di badan jalan.
"Kenapa Luci?" Aldrich menatap Luci yang terus terisak.
"Maaf, maafkan saya... Saya nggak bisa ceritakan..."
Aldrich menghela napas. Setelah diam cukup lama, akhirnya Aldrich keluar dari mobilnya dan menuju minimarket yang berada tak jauh dari tempatnya memarkir mobil.
Tak lama kemudian dia muncul sambil membawa dua ice cream coklat dan memberikan salah satunya pada Luci.
"Makanlah."
Luci menerimanya, lalu menggigit ice cream berlapis kepingan coklat itu, hingga beberapa kepingannya jatuh di gaun Luci.
"Yah! yah!" Aldrich buru-buru mengambil tisue dan membersihkan bekas coklat yang menempel di gaun Luci. Tanpa sadar dia menyentuh bagian dada Luci yang menonjol.
"Eh, maaf." Dengan segera Aldrich menarik tangannya.
Luci tetap diam sambil lalu mengambil tisue dari genggaman Aldrich. "Terima kasih, saya bisa sendiri." Lalu dia membersihkan gaunnya, dan kembali memakan ice cream coklatnya.
Rasa manis dan dingin dari ice yang meleleh di lidahnya membuat Luci sedikit tenang. Akhirnya dia tersenyum.
Melihat senyum Luci, Aldrich langsung menghela napas lega.
Aldrich terus memperhatikan Luci yang asyik dengan ice cream nya, tanpa sadar dia ikut tersenyum.
Luci sungguh terlihat sangat manis, seperti anak kecil yang baru pertama kali mencicipi ice cream.
"Pelan-pelan saja, kalau kurang nanti gue belikan lagi." Ucap Aldrich sambil membuka ice cream nya dan memasukan hampir seluruh bagian ice itu ke dalam mulutnya.
Luci terkekeh melihat Aldrich.
"Ngengapa? heuh? ngengapa?" dengan mulut penuh ice cream, Aldrich bertanya pada Luci.
Akhirnya Luci tertawa terbahak-bahak.
Aldrich pun ikut tersenyum melihat Luci yang sudah kembali ceria.
.
"Tadi ada lelaki yang mengganggumu?!" Aldrich memukul stir mobilnya, dia sangat marah.
"Apa dia nggak tahu kalau Lo itu pasangan gue?!"
"Dia tahu, dia malah bilang akan memberikan lebih banyak dari pada yang kau bisa berikan untukku."
"Berengs*k! siapa sih orang itu!"
Luci menggeleng sambil memandang kedua tangannya yang berkaitan di pangkuannya.
"Terus?"
"Terus... Kevin datang menolong." Luci tertunduk makin dalam.
"Jadi Lo sudah ketemu sama Bang Kevin?"
Luci mengangguk.
Aldrich tersenyum, "hidup memang adil kan? ada yang bikin sebal, eh malah di tolongin idola, jadi seneng kan?"
Luci masih terdiam dan terus tertunduk, membuat Aldrich makin bingung.
"Ketemu idola kok kayak yang nggak seneng si Lo! gue jadi bingung." Aldrich menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Aldrich mendengus kesal lalu memutar kunci kontak mobilnya, "kita pulang aja ya?" ajaknya. Tanpa menunggu jawaban Luci, Aldrich menginjak pedal gas dan melajukan mobil BMW nya menuju rumah.
.
Aldrich memarkir mobilnya di halaman rumahnya kemudian berjalan masuk diikuti Luci.
"Istirahatlah, Lo pasti capek. Gue juga capek!" Aldrich menepuk-nepuk bahunya sendiri.
"Anu... Tuan."
Aldrich berbalik menatap Luci. "Kenapa?"
"Tentang syarat yang saya minta..."
"Oh, iya. Lo mau minta apa? tas branded? sepatu? atau apa?" Aldrich menatap Luci, menunggu jawabannya.
"Saya ada satu permintaan..."
"Iya, apa?" Aldrich makin tak sabar. Dia yakin Luci menginginkan sesuatu yang mahal yang tak bisa dia beli, hingga meminta Aldrich membelikannya.
"Saya mohon, ijinkan saya membawa seseorang untuk ikut tinggal di rumah ini."
Deg! jantung Aldrich berdebar kencang. Siapa gerangan orang yang akan Luci ajak tinggal di sini? apakah mungkin pacarnya? berani benar Luci meminta hal seperti itu!
"Nggak! Nggak bisa! gue nggak suka rumah gue di tinggali orang asing!" Aldrich menolak mentah-mentah permintaan Luci.
"Tapi Tuan sudah berjanji!"
"Tapi bukan seperti ini! mengijinkan orang asing tinggal di rumah ini, bukan masalah sepele! gue nggak akan pernah setuju!"
Luci terdiam. "Ternyata kamu itu pembohong! padahal aku sudah bersedia menemanimu ke pesta, tapi kamu menolak permintaanku!" Luci terlupa untuk bersikap sopan pada majikannya.
"Gue sudah gila kalau sampai mengijinkan Lo, bawa pacar Lo tinggal di rumah gue!" bentak Aldrich.
"Dia bukan pacar saya!"
"Terus siapa?!" Aldrich semakin terpancing emosi.
"Anak saya, yang baru berusia 5 tahun."
"Apa!!! Lo.. Lo punya anak?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Erika Darma Yunita
jeduarrrrrr.....kaget Lo ya.... hihihi....mati gw.... udah pembokat trus punya anak juga🤭🤭
2021-12-07
0
Atieh Natalia
udah luci jujur ajj sama Al
2021-08-30
0
Lutha Novhia
nah loo
2021-07-23
0