...----------------...
#Warning! cerita ini hanya fiksi.
Mohon kebijakan para pembaca, ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk ya.
Terima kasih.
...----------------...
"Ma... Mama..."
Lucia terbangun dari tidurnya saat mendengar rintihan Vinvin. Dengan segera dia menoleh ke arah putri kecilnya yang sedang tertidur di sebelahnya. Keringat bercucuran membasahi dahi mungil putrinya. Lucia langsung menempelkan punggung tangannya di dahi Vinvin dan terkejut, dahinya terasa panas.
Jantung Lucia langsung berdebar hebat, dia selalu ketakutan jika anak semata wayangnya sakit. Lucia sebenarnya memang belum bisa menjadi seorang Ibu yang pintar, dia bahkan tak punya orang tua yang dapat mengajarinya dalam hal mengurus anak. Semuanya dia lakukan hanya dengan mengandalkan instingnya, yang dia sendiri pun masih sangsi.
Hanya Ibu kost nya yang sangat baik yang selalu menjadi tempatnya bertumpu. Tempatnya bertanya bagaimana dan apa yang harus dia lakukan agar bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya.
Lucia bangkit dan mencari handuk kecil, lalu merendamnya sebentar ke dalam air dan memerasnya hingga hampir kering, lalu meletakkannya di dahi Vinvin.
Kemudian dia menyapukan minyak kayu putih ke telapak kaki Vinvin lalu memakaikan kaos kaki.
Lucia terus berjaga sepanjang malam, karena dia tak akan bisa tidur nyenyak jika Vinvin sakit.
...*...
"Ma..."
Lucia tersentak, dia sempat terlelap sekejap. Dengan segera dia mendekat untuk memandang Vinvin.
"Kenapa sayang? pusing? mana yang sakit?" tanyanya khawatir.
Vinvin menggeleng sambil memaksakan senyum.
Lucia menghela napas, anaknya ini selalu tidak mau mengeluh saat sedang sakit, membuatnya semakin merasa nelangsa.
"Vinvin makan bubur dulu ya, nanti Mama mau ke warung Bu Minah sebentar, ambil uang untuk beli obat untuk Vinvin."
"Ma..." Vinvin menarik tangan Mamanya sambil menatap sendu.
"Maafkan Vinvin sudah bikin Mama repot, Mama jangan tinggalin Vinvin ya..." bisik Vinvin sambil terisak.
Lucia berusaha menelan ludahnya dengan susah payah saat mendengar ucapan putri semata wayangnya, lalu dia mendekat dan mengecup dahi Vinvin.
"Mama nggak mungkin meninggalkan Vinvin, Mama sayang banget sama kamu, nak." Bisik Lucia sambil kembali mengecup pipi kanan dan kiri putrinya.
"Mama cuma pergi sebentar, minta uang bayaran Mama. Nanti, Mama langsung beli obat sama buah jeruk kesukaan Vinvin. Tunggu Mama sebentar ya, sayang." Lucia mengusap-usap pucuk kepala Vinvin.
Vinvin tersenyum, lalu matanya kembali terpejam.
Lucia langsung bergegas keluar dari kamar kost nya dan berjalan cepat setengah berlari menuju warung Tegal milik Bu Minah. Dia harus meminta bayarannya Minggu lalu yang belum di berikan kepadanya. Kalau Bu Minah mangkir lagi dan tidak mau membayar, Lucia berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti memasak di warung Tegal itu.
.
"Warung lagi sepi, dapat duit dari mana buat bayar kamu!" Ucap Bu Minah ketus, saat Lucia menemuinya untuk meminta bayaran.
"Bu, tolong beri saya uang! berapapun tidak masalah, saya butuh untuk membeli obat anak saya yang sakit." Pinta Lucia memelas.
"Kalau bilang nggak ada, ya nggak ada!" Bentak Ibu pemilik warung itu dengan keras. Dia emosi karena Lucia terus meminta hak nya yang enggan dia berikan.
"Kalau saya tidak di bayar, saya nggak akan memasak lagi di warung ini!" Ancam Lucia. Dia kesal, apalagi dia melihat kalung emas yang melingkar di leher Ibu pemilik warung.
Minggu lalu dia tidak punya kalung seperti itu! kalau dia mampu membeli perhiasan, seharusnya dia bisa membayar upah Lucia kan?
"Nggak mau masak di sini ya sudah! memangnya siapa yang butuh kamu!"
Lucia menarik napas, frustasi. Akhirnya dia pun beranjak pergi meninggalkan warung nasi yang telah menjadi tempat tumpuannya mencari nafkah selama ini.
"Luci!"
Lucia menoleh ke asal suara seseorang yang memanggilnya. Dia melihat Pak Santoso, suami dari Bu Minah, berlari kecil dan mendekat.
Dia meraih tangan Lucia dan menyelipkan selembar uang seratus ribu di tangannya.
"Maafkan istri Saya ya, ini ada sedikit uang, anggap saja bayaran kamu Minggu lalu."
Lucia memandang selembar uang berwarna merah yang ada di genggaman tangannya. Jika Vinvin tidak sedang sakit dan membutuhkan obat, Lucia pasti tidak akan menerima uang ini.
"Terima kasih Pak, Saya anggap ini adalah bayaran saya selama memasak disini!" Ucapnya cepat, lalu berlari meninggalkan Pak Santoso.
Mengingat statusnya sekarang, Lucia sangat berhati-hati jika berbicara dengan lelaki, apalagi kalau status lelaki itu adalah suami orang. Dia takut di anggap wanita nakal, atau wanita penggoda karena semua orang tahu, dia belum menikah tapi sudah memiliki anak.
Dirinya sudah di cap 'bukan wanita baik-baik'.
Jadi kalau sampai ada yang melihat dia bicara atau tersenyum dengan lelaki apalagi lelaki itu adalah suami orang, bisa-bisa dia di keroyok Ibu-ibu satu komplek.
Lucia harus bisa menjaga diri, dengan cara tidak mau berbicara dengan lelaki manapun.
Lucia berlari menuju apotik untuk membeli obat kemudian mampir sebentar ke toko buah dan membeli beberapa biji buah jeruk kesukaan putrinya. Setelah itu, dia berlari secepat yang dia bisa untuk menemui putrinya.
Vinvin masih terlelap, keringat mulai bercucuran membasahi seluruh tubuh mungilnya. Dengan segera Lucia melepaskan baju anaknya yang sudah setengah basah, dan menggantinya dengan yang baru.
"Vinvin, bangun sayang, minum obat dulu ya."
Vinvin membuka matanya dan mengangguk. Tanpa membantah, dia meminum obat yang di berikan Mamanya. Tidak seperti anak kecil lainya yang selalu rewel saat di beri obat, Vinvin justru sangat patuh. Lucia sangat bersyukur memiliki putri yang sangat pengertian.
"Mau makan buah jeruk?"
Vinvin tersenyum sambil mengangguk.
Sambil menahan air yang sudah menggenang di pelupuk matanya, Lucia mulai mengupas kulit jeruk dan menyuapi anaknya perlahan.
"Enak Ma, manis." Vinvin tersenyum riang.
Lucia menarik napas lega, "cepat sembuh ya sayang, Mama sayang banget sama Vinvin. Mama akan selalu bersama Vinvin selamanya." Bisik Lucia sambil mengecup kening putrinya.
"Kita bersama, sampai Vinvin berumur seratus tahun ya, Ma?" ucap Vinvin. Rona wajahnya sudah berubah cerah, tak sepucat tadi malam.
Lucia mengangguk-angguk kan kepalanya beberapa kali, "iya sayang, sampai seratus tahun."
Vinvin tersenyum, "Vinvin tidur dulu ya Ma, ngantuk."
"Iya sayang." Lucia mengecup kening Vinvin.
Lalu setelah melihat putrinya tertidur lelap, Lucia langsung kembali mendekati baju-baju yang semalam belum selesai di setrika.
Lucia harus segera menyelesaikan pekerjaan ini, agar bisa mengambil baju baru lagi untuk di setrika. Lucia sudah kehilangan satu mata pencahariannya, dia harus berusaha lebih keras lagi sekarang.
Dengan cepat dia menghapus air mata yang tak sengaja lolos dan meluncur turun di pipinya. "Aku tak punya waktu untuk menangis!" bisiknya bermonolog, sambil mengusap ujung hidungnya yang hampir mengeluarkan cairan bening.
Sambil menyetrika baju, Lucia terus berpikir, apa yang harus dia lakukan untuk dapat melanjutkan hidup dengan putri kecilnya. Umur Vinvin sudah hampir 6 tahun, dia harus segera bersekolah.
Lucia tidak mau, anaknya menderita karena tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Vinvin tidak boleh bernasib sama seperti dirinya. Lucia harus mencari cara agar mendapatkan penghasilan yang lebih banyak untuk biaya sekolah Vinvin, tapi bagaimana caranya? untuk membeli obat saja, hari ini dia sampai mengemis-ngemis meminta uang, walaupun sebenarnya itu adalah hak-nya karena sudah bekerja sebelumnya.
Sebenarnya, Lucia sangat marah dengan sikap Bu Minah tadi. Orang-orang seperti dia, yang menahan upah buruh yang sudah susah payah bekerja, sungguh sangat kejam!
Mungkin seratus ribu tidak seberapa baginya, tapi untukku, untuk pekerja serabutan seperti ku, uang yang tidak seberapa itu sangat berharga. Uang itu merupakan penyambung hidup kami -si miskin-.
Lucia menarik napas sambil terus berdoa kepada Tuhan, agar kehidupannya di beri kemudahan.
"Tuhan, kumohon, jangan beri aku cobaan di luar batas kemampuanku, Tuhan. Kumohon..." Bisik Lucia diikuti lolosan air mata yang kembali mengalir menganak sungai di pipi putihnya.
...****************...
Lucia Jayanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Renie Antieka
/Sob//Sob/
2025-02-27
0
vita viandra
😭😭😭😭
2021-12-14
0
Atieh Natalia
sedih banget tp visualnya ko pas suka
2021-08-30
0