Aldrich duduk terpaku di depan Lucia yang terus tertunduk. Dia sangat merasa malu, tak habis pikir kenapa dia bisa hilang akal sampai mau mengintip Luci.
Aldrich mengusap wajahnya dengan kasar karena frustasi.
Mereka berdua duduk berhadapan di kursi ruang makan.
"Luci..." panggilnya lirih.
Luci tetap tertunduk, bukannya tidak mendengar panggilan majikannya, dia hanya malas bertatapan dengannya.
"Maaf... kumohon jangan keluar, ya?"
Luci masih tetap terdiam.
"Sebenarnya gue sakit, dan gue butuh Lo."
Luci mengangkat wajahnya dan menatap Aldrich. "Sakit?"
"Iya, kata dokter karena terlalu sering minum-minum dan makan makanan cepat saji yang tidak sehat, lambung gue bermasalah. Makanya gue cari pembantu yang bisa masak."
Aldrich diam, berusaha mencari tahu apakah Luci mengasihaninya, karena dia memang sedang menarik simpati Luci.
"Gue butuh Lo, Luci. Sungguh. Please jangan pergi ya."
Luci kembali tertunduk. Dia merasa bingung.
"Gue janji, nggak akan aneh-aneh lagi." Aldrich mengangkat dua jarinya membentuk huruf 'V'.
Luci mendesah. Kalau seandainya dia keluar juga, dia pasti bingung mau bagaimana. Gaji saja belum dia dapatkan. Mau bagaimana nanti hidupnya dan Vin-vin?
Satu-satunya benda berharga miliknya, sudah di jual. Cincin pemberian Kevin sudah di gunakan untuk membayar sekolah Vin-vin. paling tidak Luci harus bertahan selama satu bulan sampai mendapat gaji lalu dia keluar dan menjemput Vin-vin.
"Besok, Lo boleh libur satu hari kalau Lo mau, tapi jangan keluar ya?" pinta Aldrich. Dia berusaha melakukan apapun agar Luci tetap bekerja untuknya.
Mendengar ucapan majikannya, Luci langsung melonjak gembira. "Besok saya boleh libur? saya boleh keluar? " Luci langsung sumringah, dia ingin sekali menjenguk Vin-vin. Sudah hampir satu Minggu mereka tak bertemu.
Aldrich mengangguk lemah, "tapi janji, Lo harus balik ke sini lagi."
"Baik tuan. Saya janji. Terima kasih." Luci bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju kamarnya. Dia ingin segera tidur dan bangun pagi besok, dia ingin bertemu gadis kecilnya yang sangat dia rindukan.
"Vin-vin, Mama datang."
...*...
Pagi-pagi sekali, Luci sudah sibuk berjibaku di dapur. Dia memasak ayam tepung kesukaan Vin-vin dan sup bakso serta telur dadar gulung. Luci berharap dia bisa makan bersama putrinya, Vin-vin pasti senang.
Aldrich yang melihat tingkah Luci, sebenarnya merasa kesal.
Luci sudah sibuk dari pagi buta, sekarang saja dia sudah berdandan rapih bahkan memakai bedak dan lipstik yang di belikannya kemarin.
"Cantik sekali! mau ketemu pacarnya mungkin!"
batinnya, kesal.
Tapi Aldrich harus bisa menahannya, dia tak mau menunjukkan kekesalannya sehingga membuat Luci takut dan minta keluar lagi.
"Apakah ini karma ku? ya Lord! kenapa seorang Aldrich Mahendra sampai merasa galau seperti ini hanya karena seorang wanita!"
"Tuan, saya sudah masak. Semua sudah ada di meja makan. Setelah pulang, saya akan lanjutkan bersih-bersih rumah. Saya permisi."
Aldrich hanya menjawab Luci dengan dengungan, matanya tetap sibuk di layar laptopnya. Dia berusaha keras bersikap cuek pada Luci. Tapi tampaknya Luci tak terpengaruh, dia asyik-asyik saja, bahkan tersenyum riang sambil berjalan sangat cepat keluar dari pintu rumah
Aldrich mendengus melihat kepergiannya.
...***...
"Mama!" Vin-vin terkejut melihat kedatangan Luci, dia langsung berlari mendekati Luci dan meninggalkan teman-teman yang tadi tengah asyik bermain dengannya.
Luci pun berlari menyambut pelukan putri kesayangannya, air mata lolos tak terbendung karena rasa rindu nya telah terobati.
"Mama kangen banget sama kamu, sayang." Luci mengecup kening, dan pipi Vin-vin berulang kali. Membuat Vin-vin terkikik geli.
"Vin-vin kok jadi kurus begini sayang? Vin-vin nggak mau makan ya?" Luci memandang putri kecilnya dari kepala sampai ujung kaki.
Vin-vin tersenyum, "masakan di sini nggak seenak masakan Mama." Ucapnya lirih.
"Tenang saja, hari ini Mama bawa sup bakso dan ayam Kentucky, kita makan sama-sama ya?"
"Horre!" Vin-vin melonjak kegirangan.
Vin-vin mengajak Luci untuk masuk ke bangunan asrama menuju sebuah ruang besar yang Luci yakini pasti adalah ruang makan.
Banyak meja dan kursi berjejer di sana.
"Di sini tempat Vin-vin dan teman-teman makan, Ma." Vin-vin mengajak Luci untuk duduk.
Tak lama kemudian, anak-anak yang lain mulai berdatangan dan memadati kursi-kursi yang masih kosong. Karena sekarang memang sudah waktunya makan siang, mereka semua berkumpul menanti makanan yang di sediakan oleh koki asrama.
Luci terhenyak saat makanan datang dan di letakkan di atas meja makan.
Sayur yang di sajikan sungguh sangat tak sedap di pandang, bahkan di letakkan dalam baskom plastik yang tampak tak terlalu bersih, ini seperti makanan untuk hewan ternak, bukan untuk manusia.
Luci menatap putrinya dengan perasaan berkecamuk di hatinya.
Selama di rumah Aldrich, dia selalu makan makanan yang sangat enak, sedangkan putrinya di sini makan makanan yang sangat tidak layak seperti ini.
Air mata kembali menetes tak terbendung, Buru-buru Luci menghapusnya, dia langsung mengambil bekal makan nya dan menyerahkannya pada Vin-vin.
"Sayang, makan ini saja. Mama sudah masak dari tadi pagi." Dengan tangan gemetar, Luci menata kotak makan di atas meja, tepat di depan Vin-vin.
Vin-vin tampak gembira dan mulai makan dengan lahap.
Luci menatap sedih ke arah putri kecilnya, pantas saja Vin-vin jadi begitu kurus, dia pasti sangat menderita tinggal di sini. Bahkan hidup susah bersama Luci dulu lebih baik dari pada hidup di sini.
"Mama akan bawa kamu keluar dari sini, nak. Mama janji, secepatnya Mama akan ajak kamu ke tempat Mama kerja." gumam Luci lirih.
Luci mulai berpikir bagaimana caranya agar Aldrich mau menuruti permintaannya dan mengijinkan Vin-vin tinggal bersama dengannya. Luci akan berpikir keras demi Vin-vin. Dia akan melakukan apa saja!
...*...
Dengan berat hati, akhirnya Luci pulang. Sebenarnya, dia tak mau meninggalkan Vin-vin. Tapi dia punya sebuah rencana, dan rencana ini harus segera di laksanakan agar dia bisa dengan segera membawa Vin-vin keluar dari tempat ini.
Dia harus menemui majikannya secepatnya dan menjalankan rencana yang sudah dia buat. Karena hanya Aldrich lah yang bisa membantunya.
"Tuan!" Luci berlari menemui Aldrich yang sedang asyik duduk santai di ruang TV sambil bermain gadgetnya.
"Apa? kenapa?" Aldrich melonjak kaget karena Luci tiba-tiba datang dan berteriak.
Luci mendekati Aldrich dengan napas yang masih tersengal-sengal, dia diam sebentar untuk mengatur napasnya dan mulai bicara pada Aldrich yang masih menatapnya dengan bingung.
"Kapan tuan ada undangan pesta lagi?"
Aldrich mengangkat kedua alisnya sambil terus menatap Luci. "Kenapa memangnya?"
"Saya mau menemani Tuan, dengan satu syarat."
"Syarat? apa itu?"
"Tuan harus mengabulkan permintaan saya."
"Apa permintaanmu?"
"Akan saya katakan setelah saya menemani Tuan ke acara pesta." Ucap Luci mantap.
Kalau Luci mengatakannya sekarang, sebelum pergi ke acara pesta, Aldrich bisa saja menolaknya.
Tapi jika dia sudah memenuhi keinginan Aldrich untuk menemaninya ke acara itu, Aldrich pasti tak akan bisa menolak permintaan Luci.
Luci merasa rencananya ini pasti akan berhasil.
"Oke, kebetulan besok malam Gue ada undangan soft opening sebuah hotel. Lo bisa temani gue ke acara itu."
Luci mengangguk mantap.
Sedang Aldrich tersenyum puas., walaupun dia masih sedikit bingung dengan sikap Luci yang tiba-tiba berubah dan mau menemaninya untuk menjadi pasangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Erika Darma Yunita
semoga ga ketemu Kevin....gw maunya Al udah Deket dulu Ama Lucia dan Vin Vin...baru ketemu Kevin....
2021-12-07
0
Atieh Natalia
padahal mah jujur ajj atuh sama Al mungkin dia mau memaklumi
2021-08-30
0
Lutha Novhia
kasihan vinvin
2021-07-23
0