"Luci,"
Lucia menoleh dan melihat Ibu kost sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Oh, Ibu, ada apa?"
Si Ibu kost berjalan masuk dan duduk di sebelah Luci yang tengah sibuk dengan setrikaan yang menggunung.
"Kamu sudah nggak masak lagi di warung Bu Minah?"
Lucia mengangguk, "iya Bu, susah sekali meminta bayaran di sana. Saya kapok." desah Luci.
Ibu kost mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lalu, kamu mau bagaimana? apa uang dr menyetrika baju cukup untuk biaya makan sehari-hari?"
Lucia mendesah. Restoran yang biasa memakai jasanya untuk mencuci piring pun sepi, Lucia benar-benar hanya menggantungkan hidupnya dari baju setrikaan di laundry.
"Entahlah, Ibu, saya juga bingung." Lucia menoleh ke arah Vinvin yang sedang asyik mencorat-coret buku tulisnya. Vinvin memang belum bersekolah, tapi dia sudah bisa menulis beberapa huruf dan suka sekali mewarnai gambar.
"Vinvin, sebentar lagi juga harus sekolah," lagi-lagi Lucia mendesah karena ketidakberdayaannya.
"Laundry juga sedikit sepi, saya takut kamu nggak akan cukup." Ibu kost mengusap pundak Lucia. Dia ikut merasakan kesedihan yang sedang di rasakannya.
"Oh iya, kemarin ada orang yang antar cucian, dia cerita kalau temen bosnya sedang cari Asisten Rumah tangga, syaratnya harus yang bisa masak. Kamu mau coba?"
Lucia langsung menoleh ke arah Ibu kost nya dengan tatapan penuh kebahagiaan, "mau, saya mau. Di mana Bu?"
"Nanti Ibu tanya lagi ke orangnya, biar lebih jelas."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Lucia menghela napas lega, jika benar dia bisa bekerja menjadi asisten rumah tangga, dia pasti tak perlu pusing kesana kesini mencari pekerjaan serabutan. Dia akan mendapatkan bayaran tetap setiap bulan.
Semoga majikannya nanti adalah orang yang baik, tidak seperti Bu Minah.
"Vinvin," Lucia mendekati putrinya yang sedang asyik bermain sendiri di atas kasur tanpa dipan. Dia mencubiti pipi Vinvin dengan gemas.
"Kenapa sih Ma?"
"Doakan Mama bisa kerja jadi ART ya sayang, supaya Vinvin bisa sekolah nanti."
"Vinvin sekolah? mau Ma, mau..."
Lucia tersenyum riang sambil lalu memeluk putrinya dan menggelitiki perutnya. Mereka berdua asyik bercengkrama, tertawa riang, sejenak melupakan beban hidup yang begitu berat.
...***...
"Alamatnya di sini ya?" Lucia melirik alamat pada secarik kertas yang di pegangnya, lalu melihat rumah megah yang ada di depannya.
Rumah dua lantai yang terlihat sangat megah di mata Lucia, ada halaman yang sangat luas yang memisahkan rumah itu dari pintu pagar, dan ada beberapa mobil terparkir di halamannya. Rumput-rumput liar mulai tumbuh, terlihat sekali kalau rumah ini kurang terurus.
Dengan membulatkan tekad, Lucia menekan bel yang ada di pintu pagar. Tak lama kemudian pintu pagar itu terbuka. Lucia berjalan masuk dengan perlahan sambil celingukan mencari orang yang membukakan pintu, tapi dia tidak menemukan siapa-siapa di sana.
Lucia menelan ludahnya, "nggak mungkin ada hantu di siang bolong kan?" gumamnya. Lalu dia pun berjalan masuk ke dalam rumah.
"Permisi," ucapnya sambil membuka pintu.
Lucia terhenti sejenak, sewaktu melihat seorang lelaki sedang duduk di sebuah sofa berwarna hitam yang ternyata sedang menatapnya.
"Maaf Pak, saya Luci yang mau melamar jadi ART."
Si lelaki pemilik rumah itu, terus menatap Luci, membuatnya merasa risih.
Lelaki itu terlihat sangat muda, sepertinya lebih muda dari dirinya.
"Di mana orang tua lelaki ini? yang membutuhkan jasa ART? " batin Luci.
"Maaf Pak, apa betul di sini membutuhkan ART?" tanya Luci lagi.
Si Lelaki itu terkesiap, kemudian berdehem.
"Aldrich, nama gu.. eh, namaku Aldrich." ucapnya.
"Saya Lucia, Pak."
"Berapa umur kamu?"
"Saya 27 tahun."
"Gue 25 tahun, jadi jangan panggil 'Pak'!"
"Baik, tuan."
Aldrich menepuk jidatnya mendengar jawaban Lucia. "terserah lah!" desahnya.
"Gue cari ART yang bisa masak, kamu bisa masak?" tanya Aldrich to the point.
"Bisa Pak, eh, tuan." Jawab Lucia gugup.
"Coba masakan aku sesuatu." Aldrich menunjuk ke arah dapurnya, dan menyuruh Luci untuk mulai memasak.
Luci mengangguk lalu berjalan menuju dapur. Di sana dia mulai membuka kulkas dan tidak melihat bahan masakan sama sekali.
"Di suruh masak tapi nggak ada apa-apa, aku masak apa?" gumam Luci.
Luci melihat deretan telur ayam di balik pintu kulkas, lalu mengambilnya beberapa butir, sambil masih berpikir keras harus memasak apa.
"Maaf Pak, apa anda nggak keberatan kalau saya memasak masakan pedas?" tanya Lucia. karena dia tidak menemukan apa-apa di dapur, dia berniat masak balado telur.
"Gue nggak boleh makan makanan yang pedas, asam dan terlalu berminyak!" ucap Aldrich sambil terus memandangi Luci. Dia bersandar pada kitchen set sambil melipat tangan dan memandang Luci.
Lagi-lagi Luci menelan ludah, dia sedikit tersentak karena ternyata majikannya itu sudah berdiri di dekatnya, dia kira Aldrich masih duduk di sofa depan.
"Ta, tapi cuma ada telur dan tomat," desah Luci.
Aldrich tampak cuek, lalu dia berjalan ke arah meja makan dan duduk di kursinya sambil terus memandangi Lucia yang tampak kebingungan sambil membuka pintu kulkas. Karena dapur dan ruang makan tak bersekat, Aldrich bisa dengan jelas memperhatikan gerak gerik calon ART nya.
Lucia terdiam, berpikir keras harus memasak apa. "oh iya, bikin sup tomat telur aja."
Lucia langsung bersemangat, dia teringat dulu kekasihnya sering membuat sup ini saat dia sedang tak napsu makan. Rasanya segar dan enak. Majikannya pasti suka.
Lucia mengambil beberapa bumbu, daun bawang dan tomat, lalu mulai meracik bahan-bahannya. Setelah semua terkumpul, Lucia pun mulai memasak. Dia sengaja tidak menambahkan cabai karena tadi majikannya bilang tidak boleh makan yang pedas. Walau sebenarnya sup ini lebih enak jika sedikit pedas.
Lucia tak membutuhkan waktu lama untuk memasak, dia suka memasak, karena dengan memasak membuatnya teringat kembali pada kekasih hati yang sangat dia rindukan. Dulu dia selalu di hujani dengan masakan enak buatan kekasihnya, tanpa terasa, senyum bahagia terbit di wajah cantiknya, namun tak berlangsung lama, karena kesedihan pun langsung muncul mengusik.
Lucia membalik badan dan berjalan perlahan menuju meja makan sambil membawa semangkuk sup yang sudah selesai dia buat. Lalu meletakkannya di meja makan, persis di depan Aldrich.
"Wah... sepertinya enak sekali." Aldrich terlihat senang lalu dengan segera mengambil sendok dan mulai mencicipi masakan buatan Luci.
"Saya, cuma bisa membuat makanan ini karena nggak ada apa-apa di kulkas. Hanya ada telur, daun bawang dan tomat." Lucia sedikit was-was, takut calon majikannya tidak menyukai masakan buatannya.
Aldrich mengacuhkan ucapan Luci, dia memakan sup yang di buat Luci dan menghabiskannya dengan cepat.
Lucia sampai terkejut di buatnya, masakannya memang enak, tapi dia tidak menyangka, calon majikannya begitu menyukainya, atau mungkin dia kelaparan?
Aldrich meminum segelas air setelah menyelesaikan makannya, lalu menatap Luci sambil tersenyum puas.
"Gue sengaja, gue ingin lihat seberapa hebat elu mengolah makanan dengan bahan-bahan seadanya, dan gue bener-bener puas! masakannya enak banget. Lo, nggak kepikiran ikut ajang memasak di TV itu?"
Lucia terkekeh, "saya nggak ada waktu untuk ikut acara seperti itu."
Aldrich mengangguk puas, "Oke, gue terima Lo, kerja di sini. Mulai besok, lo pindah ke rumah ini. Lo bisa pakai kamar yang ada di luar itu, dan tidur di sana."
Lucia kaget, antara senang dan bingung.
"Sa, saya harus tidur di sini?"
"Iya lah, bagaimana kalau gue ingin makan malam-malam dan Lo nggak ada? percuma gue bayar ART!"
Lucia terdiam, lalu bagaimana dengan Vinvin?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Atieh Natalia
dari makanan tar jadi jatuh hati
2021-08-30
0
sami
cara muasin laki2 tuh katanya bikin perutnya kenyang dulu baru yg lain dech🤣🤣
2021-07-08
1
Little Peony
Like like like
2021-03-07
1