Aldrich menghentikan mobilnya di depan pintu utama hotel dan menyerahkan kunci kontak kepada petugas valet yang tadi membukakan pintu.
"Ayo," Aldrich menoleh pada Luci yang berdiri gugup di sampingnya, sambil mengulurkan tangan agar Luci menggandengnya.
Luci terlalu gugup, sehingga dia tak paham dengan kode yang di berikan Aldrich.
"Tangan, mana tangan!" desis Aldrich.
"Oh, iya." Luci mengulurkan tangan yang langsung di tarik oleh Aldrich agar melingkari lengannya.
"Nggak usah gugup, santai aja. Lo cantik kok." Bisik Aldrich membuat pipi Luci bersemu merah.
Dengan gagah Aldrich menggandeng Luci untuk masuk ke dalam ballroom hotel yang telah di dekorasi sangat mewah untuk menyambut tamu-tamu undangan.
Luci bahkan sampai terperangah melihat begitu gemerlap suasana di ruangan yang dia masuki.
Tanpa dia sadari dia mencengkram lengan Aldrich begitu kencang karena terlalu gugup.
Aldrich mengusap punggung tangan Luci yang melingkari lengannya, "tenang, jangan gugup." bisiknya berusaha menenangkan Luci. Padahal jantungnya sendiri juga berdegup kencang, bukan karena pestanya, tapi karena tangan Luci yang melingkari lengannya menciptakan letupan-letupan kecil di dadanya.
"Al, Lo sudah datang." Boby mendekat, mengulurkan tangannya yang mengepal.
Aldrich hanya tersenyum sambil mengepalkan tangan dan memukulkannya pelan ke arah kepalan tangan Boby.
"Siapa?" bisiknya, Boby tak berkedip melihat pasangan Aldrich yang terus menempel erat pada Aldrich.
"Kenalin, ini Luci."
"Luci! si pem...!" Boby buru-buru menutup mulutnya.
"Serius Lo!" Boby berbisik.
Aldrich mengangguk sambil mengulum senyum.
"Gila, kalau gue punya pembokat secantik ini, nggak mau keluar rumah, sumpah!"
"Stt!" Aldrich meletakkan jari telunjuk di bibirnya, mencoba menenangkan sahabatnya yang mulai tak terkendali.
"Luci, kenalin, gue Boby." Boby mengulurkan tangan meminta Luci membalas salamnya.
Saat Luci akan mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Aldrich langsung memukul tangan Boby.
"Cuekin manusia satu ini, yuk jalan." Ucapnya sambil mengajak Luci masuk ke area dalam ballroom yang ramai.
"Sialan Lo," umpat Boby.
"Gue mau nemuin Mr Phillips, pemilik Hotel ini. Lo mau ikut atau nunggu di sini?"
"Sa, saya nunggu di sini aja."
Aldrich menatap Luci yang terus tertunduk,. "hey," dia mengangkat dagu Luci.
"Wanita cantik itu adalah wanita yang punya rasa percaya diri. Lo harus menegakkan wajah, biar aura cantikmu terpancar." Ucapnya sambil tersenyum.
Luci menatap mata Aldrich dan pipinya langsung bersemu merah.
"Ehem!" Aldrich yang melihat perubahan rona pipi Luci pun ikut merasa gugup. Buru-buru dia melepas dagu Luci.
"Lo.. Lo boleh minum yang ada di sini, jangan sekali-kali minum yang di sebelah sana ya." Ucap Aldrich mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Ke-kenapa?"
"Itu punch buah, tapi biasanya di campur rum. Kalau orang yang biasa minum nggak terlalu berpengaruh, kalau Lo, gue takut Lo mabuk." Terang Aldrich panjang lebar sambil mengalihkan pandangannya dari Luci.
Jantung Aldrich tak mau berhenti berpacu saat dia menatap wajah Luci, membuatnya serba salah.
"Oh, baik." Luci mengangguk paham.
"Gue tinggal sebentar." Aldrich pun berlalu.
Tinggallah Luci seorang diri, dia tak berani bergerak dari tempatnya berdiri. Dia mematung di sana, di dekat meja yang menyediakan jus dan cakes.
"Minum ini saja dari pada gugup." Ucap Luci mencoba menenangkan dirinya.
"Nona, cantik sekali. Boleh kenalan?" Tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya, berumur sekitar 40 tahunan, mendekati Luci.
Luci hanya menunduk, bingung harus bagaimana.
"Jangan malu begitu lah, bagaimana setelah pesta kita jalan-jalan, atau shopping? aku akan belikan apapun yang kamu mau cantik." Lelaki itu mulai kurang ajar, tangannya terangkat dan hampir mendarat di pinggul Luci.
Luci kaget dan langsung mengelak, dia bergerak mundur mencoba menjauhi si lelaki hidung belang itu.
"Jangan jual mahal lah, Lo kan pasangannya Aldrich? Lo juga bisa jadi pasanganku, gue bisa beri lo lebih banyak dari pada yang Aldrich bisa beri."
Luci makin ketakutan, dia menoleh ke arah Aldrich berusaha meminta tolong. Tapi Aldrich berdiri agak jauh darinya dengan posisi membelakangi Luci, sehingga dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Luci.
Luci makin kalut, jantungnya berdebar makin kencang, dia takut membuat keributan di pesta yang sangat asing baginya. "Apa yang harus aku lakukan??"
Si lelaki hidung belang itu mendekati Luci, tangannya bahkan bergerak cepat hendak melingkar di pinggul Luci yang membuat dia tergoda.
"Sorry, cewek ini kayaknya nggak mau di ganggu!" Tiba-tiba seseorang muncul, dia mencekal tangan si lelaki hidung belang itu sehingga tak sampai menyentuh Luci.
Luci terkejut, dan langsung menundukkan kepalanya. Dia paham sekali dengan suara lelaki yang tengah menolongnya saat ini.
Lelaki itu berdiri tepat di belakang Luci, Luci bahkan merasakan punggungnya yang menempel di dada bidang si penolongnya, sentuhan itu membuat jantung Luci berpacu dengan cepat. Aroma tubuhnya bahkan mulai mengusik Luci, aroma ini adalah aroma yang sangat Luci kenal.
"Lo, Kevin kan? si Chef artis yang terkenal itu!"
Jantung Luci berdebar makin tak beraturan. Dugaannya ternyata benar. Luci masih ingat betul aroma tubuh Kevin yang sangat dia rindukan. Sudah 3 tahun lebih, tapi Luci tak pernah melupakan semuanya sedikitpun. Kevin, sang kekasih hatinya.
"Nggak usah ikut campur, Vin!"
"Kalau Lo mabuk, mending pulang aja! daripada gue panggil security dan menyeret Lo keluar dari sini!" Ancam Kevin.
Si lelaki tadi mengumpat dan pergi meninggalkan Luci dan Kevin.
"Lo, nggak apa-apa?" Kevin berusaha menatap wanita yang barusan di tolong nya, tapi dengan cepat Luci membalik badan agar Kevin tak bisa melihat wajahnya, dia terus tertunduk mencoba menutupi wajahnya.
"Te... terima kasih," desis Luci lirih.
"Lo..."
"Kevin!"
Kevin menoleh ke arah wanita yang memanggilnya. Luci menghela napas lega karenanya.
"Aku cari-cari kamu, sayang."
Jantung Luci berdebar-debar semakin kencang, telinganya bahkan serasa tuli. Seketika keramaian pesta tak terdengar sama sekali karena tertutup suara debaran jantungnya yang berdentum-dentum hebat.
"Kita dapat kupon menginap gratis di sini loh, kita coba langsung yuk. Aku ingin mengulang honeymoon lagi." Si wanita itu merangkul lengan Kevin dan menyandarkan dahinya di dada bidang Kevin.
Kevin hanya mendesah, "kita lihat saja nanti."
Air mata Luci sudah tak bisa di bendung lagi. Semuanya mengucur deras membasahi pipi putihnya.
"Ternyata, kamu sudah menikah, Kev? kamu sudah melupakan aku dan Vin-vin? tega benar kamu!"
Luci berlari meninggalkan Kevin dan istrinya, tak tahu akan kemana, yang dia tahu dia harus secepatnya pergi dari sana.
Hatinya begitu sakit bagaikan di tusuk belati mendapati kenyataan bahwa Kevin telah menikah dan benar-benar melupakan dirinya dan Vin-vin.
Padahal dia masih mengharapkan mereka bersama kembali, hidup bahagia bertiga suatu saat nanti, namun harapan itu tak akan mungkin tercapai karena Kevin sudah bahagia dengan keluarga barunya.
Saat melihat tanda toilet, Luci langsung berbelok dan masuk ke dalam salah satu bilik, terduduk di kloset dan melanjutkan tangisnya.
.
#bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Sri Wahyuni
mka y jngn jdi bego luci zaman y dah brubah
2023-02-22
1
Erika Darma Yunita
Kevin blm liat wajah Luci kan
2021-12-07
0
Su Sin
hancur sudh..
percy sm lakik sih..
udh di buat hamil ditinggalin nikah lgi.
nasib
2021-11-19
0