Setelah menyelesaikan sesi pemotretannya, Aldrich buru-buru untuk pulang.
"Al, kamu nggak ikut kita? kita mau ke kafe sebentar, kongkow-kongkow." Ajak Putri, seorang asisten fotografer yang sedari tadi memandangi Aldrich tak berkedip.
Biasanya Aldrich akan langsung meng-iya-ni ajakan kumpul-kumpul, apalagi Aldrich juga paham kalau Putri pasti mengharapkan sesuatu yang lebih darinya. Wanita mana sih yang tidak klepek-klepek saat melihat ketampanannya.
Eh, ada satu, Luci. Ya, Luci tampak tidak terpengaruh dengan ketampanan Aldrich, atau dia terlalu pintar menutupi perasaan nya?
"Sorry, gue masih ada acara." Jawab Aldrich cuek, sambil terus berjalan keluar dari studio foto.
Putri tampak kecewa, dan Aldrich tak peduli. Dia ingin segera pulang untuk bertemu Luci. Entah kenapa rasanya rindu sekali, padahal baru 3 jam Aldrich tak melihatnya.
Aldrich menjalankan mobilnya dengan cepat agar bisa segera sampai di rumah. Dalam perjalanan, senyum selalu menghiasi wajahnya.
Setelah memarkir mobilnya di halaman, Aldrich langsung keluar dan masuk ke dalam rumah. Di lihatnya Luci sedang bersih-bersih sambil sedikit berjoget, dia menyalakan TV yang sedang menyiarkan acara musik.
Lucia menyapu sambil kadang-kadang berhenti untuk menggoyangkan bahu atau kepalanya. Aldrich terkekeh melihat tingkahnya.
Ternyata saat tak ada dirinya, Lucia bisa juga bersikap santai, tak se-kaku biasanya.
Cukup lama dia memperhatikan Luci, mungkin karena saking asyiknya, Luci tak menyadari kehadirannya.
Saat TV menyiarkan iklan tentang acara memasak yang di bintangi oleh Kevin, Lucia terdiam sambil terus memperhatikan layar TV. Dia bahkan mendekat untuk membelai layar televisi yang sedang menayangkan wajah Kevin secara zoom.
Wajahnya berubah sedih, membuat Aldrich bertanya-tanya dalam hati, penasaran.
"Ternyata benar, Lo fans-nya bang Kevin."
Luci terperanjat dan otomatis menoleh, dia melihat Aldrich yang sedang berdiri memandanginya sambil melipat tangan di dada.
Luci langsung menunduk malu, wajahnya memerah.
Aldrich mendekati Luci, hingga jarak mereka hanya beberapa centimeter.
"Kalau Lo mau, gue bisa suruh bang Kevin kemari. Lo bisa minta tanda tangan atau foto bareng dia." Aldrich masih tetap melipat tangannya di dada sambil menundukkan kepala untuk melihat wajah Luci yang terus tertunduk.
Aldrich bahkan sampai membungkukkan badannya, dia benar-benar ingin melihat wajah Luci yang tersipu-sipu.
Luci terkejut dan berjalan mundur sedikit menjauhi Aldrich, "Ng, tidak perlu Tuan. Saya bukan fans Chef Kevin kok! sa... saya cuma, saya cuma..."
"Sudah, nggak usah malu." Aldrich tersenyum, dia sengaja memamerkan senyum 100watt nya, yang biasanya berhasil membuat wanita langsung terhipnotis dan mau melakukan apapun untuknya.
"Sayur... sayur..."
"Ah! ada Mang sayur! sa-saya mau belanja dulu!" Luci langsung bergegas, dia berjalan cepat menjauhi Aldrich untuk menemui tukang sayur yang sudah memanggilnya dari halaman depan.
Aldrich menatap kepergian Luci sambil mencebik, "baru kali ini, gue kalah saing, sama Mang sayur lagi!" Aldrich mendengus lalu berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua, untuk berganti baju.
Setelah berganti dengan t-shirt warna hitam dan celana selutut yang santai, Aldrich turun untuk kembali mencari Luci. Entah kenapa, dia selalu mencari-cari keberadaan asisten rumah tangganya itu. Ada saja alasan agar dia bisa mengobrol dengannya, karena melihat wajah Luci yang tersipu-sipu sungguh menjadi candu untuknya, dia ketagihan.
Saat sampai di dapur, dia tak melihat Luci. "Di mana dia?" desisnya. Lalu dia berjalan menuju ruang tamu dan mendengar tawa Luci yang sangat renyah, Aldrich bahkan ikut tersenyum walaupun belum melihat keberadaan ART-nya.
Namun saat dia melihat Luci, sedang tertawa, di luar dengan Mang sayur, senyum di wajahnya langsung hilang.
Aldrich benar-benar merasa di kalahkan oleh tukang sayur dalam menarik perhatian Luci, dia kesal.
"Luci!" teriaknya keras, sambil berdiri di ambang pintu. Dia berkacak pinggang, dan bertampang sangat kesal.
Luci menoleh ke arah Aldrich dan buru-buru mendekat. "A-ada apa Tuan?"
"Belanja apa sih! lama amat!"
"Ini... cuma belanja sayur-an dan buah pisang. Saya mau buat Smoothies untuk Tuan Aldrich." Jawab Luci sedikit gagap.
"Kita belanja di supermarket aja! nggak usah belanja di mang sayur itu!" Aldrich membalik badan dan masuk ke dalam rumah.
"Buru!" Bentak Aldrich dari dalam karena Luci tak juga mengikutinya.
"I... iya Tuan." Luci kembali ke mang sayur untuk membayar belanjaannya lalu mengejar Aldrich yang ada di dalam rumah.
Aldrich sedang membuka kulkas dan mengamati isinya. "Catat apa-apa saja yang mau di beli! jangan ada yang terlewat! kita belanja buat sebulan sekalian supaya Lo, nggak perlu belanja sama Mang sayur itu!"
"Ba-baik Tuan." Luci menuruti perintah tuannya dan dengan segera mengecek persediaan yang hampir habis dan perlu di beli.
Aldrich duduk di kursi makan, tangannya terlipat di atas meja sambil memperhatikan Luci yang berjalan ke sana kemari.
Dia kesal, karena Luci tak pernah berbicara santai dengannya, tapi dengan Mang sayur dia bisa tertawa sebebas itu.
"Gue kan juga ingin melihat Lo tertawa!" Aldrich terdiam. "Luci pasti cantik sekali saat tertawa." Batin Aldrich.
Karena saking kesalnya, Aldrich sampai mendengus sambil menggeram.
"Sudah belum?! lelet banget sih!"
"Su-sudah Tuan."
"Lo, nggak ganti baju? masa mau pergi pakai daster begitu!" Aldrich menatap Luci dari atas sampai bawah. Luci mengenakan daster kebesarannya, rambutnya juga di ikat acak-acakan.
"Rapihkan rambut mu dan ganti baju. Jangan bikin gue malu!"
Aldrich berdecih sambil berjalan menuju mobilnya yang ada di luar.
Luci dengan segera berlari menuju kamarnya dan berganti baju seperti perintah majikannya.
Saat sedang memanaskan mesin mobilnya, Aldrich mendengar langkah Luci yang berlari kecil dari arah dalam rumah, saat Luci muncul, lagi-lagi Aldrich mematung.
Luci tampak sangat cantik, mengenakan kemeja warna biru yang sangat kontras dengan kulit putihnya, walaupun seperti biasa, dia selalu mengancing bajunya sampai sebatas leher, tapi dia tetap terlihat sangat cantik.
Luci bahkan mengikat rambutnya sangat tinggi dengan sehelai sapu tangan.
Jantung Aldrich kembali bertalu-talu memukul dadanya. "Kenapa gue bisa terpesona sama pembantu!" desisnya kesal.
Luci tersenyum sambil membuka pintu mobil bagian belakang, saat hendak masuk, Aldrich membentak.
"Duduk di depan! masa gue jadi sopir!"
"Oh iya, maaf." Luci menutup pintu penumpang belakang, dan membuka pintu mobil yang didepan dan duduk di samping majikannya dengan tenang.
Saat Aldrich menarik tuas persneling yang ada di antara pahanya dan paha Luci, dia kembali menelan salivanya. Tangannya sangat dekat dengan paha Luci, ingin rasanya dia mengusap paha Luci yang hanya di tutupi oleh celana jeans belel itu.
Aldrich mendengus frustasi, "calm Al! tenang! jangan terlihat kayak cowok mesum! bisa-bisa Luci takut dan menjauhimu!!" Perintah Aldrich pada dirinya sendiri.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Agna
hahaha... Mang sayur tu emang penggemarx Emak2 Al...
2022-10-14
0
Erika Darma Yunita
kalem ya Al....santaiiii
2021-12-07
0
🤩😘wiexelsvan😘🤩
😂😂😂bang al kalah saing ma tukang sayur ya 🤭🤭🤭
2021-09-25
3