"Pilih lah HP yang Lo, suka."
Aldrich mengajak Luci menuju lantai 5 yang penuh dengan counter yang menjual gagdet keluaran terbaru.
Luci terdiam tak percaya, dia bahkan mematung di tengah-tengah tempat yang sangat asing untuknya.
"Ayo pilih!"
Luci menatap majikannya sebentar, lalu dengan perlahan menuju ke sebuah counter dan bertanya pada penjaga counter itu.
"Saya mau HP yang murah." Bisik Luci. Dia takut majikannya mendengar dan marah-marah dengan ucapannya.
"HP yang murah itu yang bagaimana Ka? kalau spek nya bagus, harga juga mengikuti."
"Ya nggak usah pakai spek-spek-an, pokoknya yang harganya murah." Luci tak paham dengan penjelasan si penjaga counter.
"Oh, yang memory nya kecil ya? tapi kalau memory nya cuma 1/8, HP nya..."
"Sudah nggak apa-apa, buruan!" Luci semakin kalut karena dia melihat dari ekor matanya, Aldrich mendekat.
"Sudah dapat?" Aldrich menarik sebuah kursi plastik dan duduk di sebelah Luci.
"I-itu sedang di ambilkan." Ucap Luci gugup.
"Ini Smartphone keluaran terbaru, harganya sangat terjangkau. RAM nya 2 GB dan internal memory nya 16 GB..."
"Harga!!!" bisik Luci kesal.
"Murah sekali Kaka, cuma 850 ribu."
"Apa!" Luci dan Aldrich serempak terkejut.
"Lo, gila ya! HP apa yang harganya di bawah satu juta?!" kesal Aldrich.
"Apa nggak ada yang harga 200ribu atau 300 ribu!" keluh Luci.
Si penjaga mengerutkan alis mendengar ucapan Luci. Perasaan smartphone harga 850ribu itu sudah super murah, eh malah tanya yang harga 200 ribu?
"Second aja nggak ada yang 200 ribu, Kaka," jawabnya sedikit kesal.
"Sudah! biar aku yang pilih HP nya, Lo bener-bener gaptek!"
"Coba keluarin yang merk Sungsang atau APPA yang terbaru." Titah Aldrich pada si penjaga.
Si penjaga Counter tampak senang, dia langsung memilihkan beberapa ponsel yang terlihat mahal.
"Jangan! sudah! saya ambil yang tadi saja. yang 850!" cegah Luci.
"Nggak!" bantah Aldrich.
"Kalau nggak boleh, mending jangan belikan saya HP!" Luci menatap Aldrich dengan tegas.
Dan mereka bertatapan cukup lama.
Akhirnya Aldrich mengalah dan menghentikan adu tatap mata mereka berdua, dia menoleh ke arah penjaga dan menganggukkan kepala, tanda setuju dengan permintaan Luci.
Penjaga yang tadinya sudah tersenyum riang, langsung sedikit cemberut.
"Lo, Lucia kan?"
Luci menoleh ke asal suara yang memanggilnya dan terkejut, "Tania?" desisnya.
"Lo, masih hidup? gue kira sudah mati. Secara sudah hampir sepuluh tahun Lo ngilang tanpa kabar."
Lucia menunduk, dia kembali teringat kenangan saat dia masih remaja, hidup menumpang di rumah bibi nya setelah di tinggalkan oleh kedua orang tuanya. Dan Tania ini adalah sepupunya, sepupu yang sangat tidak bersahabat.
"Lo, beli HP?" dia duduk di sebelah Luci sambil tersenyum smirk.
Luci hanya diam tak menjawab semua pertanyaan Tania. Dia malas berurusan dengan sepupunya ini.
Saat melihat penjaga counter mengeluarkan HP yang Tania sangat tahu berharga murah, dia makin tersenyum mengejek Luci.
"Dari pada Lo beli HP murah, nggak elit begitu, mending Lo kredit aja sama gue."
"Nggak perlu." Luci hendak beranjak dari duduknya namun tangannya di cekal Tania.
"Sombong banget Lo! nggak ingat dulu Lo numpang hidup sama kami! baru bisa beli HP murah aja belagu!" Bentak Tania, membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka berdua.
Aldrich yang dari tadi diam dan mendengarkan percakapan Luci dan Tania jadi geram.
Dia bangun dari duduknya dan menarik tangan Luci yang di cekal oleh sepupunya itu.
"Lo nggak denger, Luci bilang nggak perlu! Kuping Lo belum di bersihin ya? pergi sana ke dokter THT!" bentak Aldrich sambil menatap Tania. "Tukang kredit aja belagu!" sambungnya, sambil menarik Luci dan mengajaknya pergi.
Aldrich terus menggenggam lengan Luci hingga mereka berdua masuk ke dalam lift.
Luci masih tertunduk, dan Aldrich terus mengamatinya.
"Dia.. siapa?"
"Sepupu," jawab Luci singkat.
"Sepupu Lo, kayaknya nggak bersahabat ya?"
Luci terdiam, dia masih tertunduk.
Bertemu Tania membuatnya teringat kembali kenangan buruk saat menumpang hidup di rumah Paman dan Bibinya. Setiap hari seperti neraka buat Luci, hingga akhirnya dia kabur, dan hidup terlunta-lunta di jalanan.
Luci menarik napas sangat dalam dan menghembuskannya perlahan.
Aldrich melihat raut kesedihan di wajah Luci hingga dia memutuskan untuk tak bertanya lagi. Dia ikut diam sambil mengencangkan genggaman tangannya.
Eh, tunggu, mereka berdua masih bergandengan tangan? bahkan Aldrich menautkan jemarinya di jemari Luci.
Aldrich pura- pura tak menyadari kalau tangan kirinya masih menggenggam tangan kanan Luci, dia mengambil smartphone nya dengan tangan kanan dan mulai memainkannya. Berharap Luci tak sadar kalau tangannya masih di genggam Aldrich.
Sesekali Aldrich menatap layar ponselnya sambil tersenyum, bukan karena apa yang dia lihat di layar ponselnya, tapi apa yang dia rasakan di hatinya.
Menggandeng tangan Luci membuat jantungnya terus berdebar-debar. Dia merasa seperti anak SMA yang baru pertama kali jatuh cinta.
Padahal, dia bahkan sering melakukan hal yang lebih dari sekedar bergandengan tangan dengan teman-teman kencannya.
"Maaf kan saya." Bisik Luci.
Aldrich menoleh untuk menatap Luci yang masih tertunduk.
"Kenapa?"
"Tadi saya membentak Tuan Aldrich."
"Kapan?" Aldrich mencoba mengingat.
"Tadi waktu beli HP." Luci akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap majikannya. Tinggi mereka terpaut lumayan banyak.
"A... gue, sudah lupa." Aldrich mencoba mengalihkan pandangannya pada tombol lift yang menyala.
Tiba-tiba pintu lift terbuka dan masuklah beberapa gerombol orang yang membuat Lift menjadi penuh sesak. Luci bahkan sampai terdorong dan membentur dinding lift, untung Aldrich langsung menahannya.
Aldrich berdiri sangat dekat dengan Luci, tangannya bahkan melindunginya agar Luci tak terdorong lagi.
Luci terpaku dan terus menatap majikannya yang ternyata memang bersikap seperti lelaki sejati. Bukan seperti, tapi memang lelaki sejati. Gentleman. Luci tersipu.
Tapi tiba-tiba bayangan tentang wanita yang duduk di pangkuan Aldrich semalam, dan tumpukan kond*m di laci meja Aldrich, membuat Luci tersadar. Buru-buru dia menarik tangannya dari genggaman Aldrich.
Aldrich sempat ikut terkejut dan memandanginya sekejap, "kenapa?" bisiknya, karena di dalam lift ada begitu banyak orang.
"Ta-tangan saya berkeringat." Ucap Luci beralasan.
Aku harus berhati-hati, jangan sampai terlena pada kebaikan Tuan Aldrich. Dia pasti menginginkan sesuatu dariku. Ini tak boleh terjadi.
.
Saat perjalanan pulang, baik Aldrich maupun Luci terus terdiam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai tiba-tiba Aldrich bicara saat mobilnya sudah berhenti di halaman rumah.
"Nanti malam, gue ada undangan pesta. Lo bisa temenin?"
Luci terbelalak tak percaya, masa majikannya mau mengajak dia yang seorang pembantu sebagai pasangan di pesta? nggak salah nih!
"Sa-saya nggak pernah datang ke acara seperti itu Tuan, saya takut membuat Tuan malu." Luci mencoba mengelak.
"Cuma datang, berdiri di dekatku, makan makanan yang Lo mau, terus pulang. Bikin malu bagaimana?"
"Nanti kalau ada yang tanya siapa saya, bagaimana?" Masa iya mau di jawab, 'pembantu gue' batin Luci.
"Ya gue bilang aja, Lu pacar gue." Aldrich cuek lalu mengambil kantong-kantong belanjaan yang teronggok di bagasi mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Pacar?" lirih Luci tak percaya. Masa iya, majikannya mau mengenalkan pembantunya ke orang lain sebagai pacar? dia gila ya?
Jantung Luci berdebar makin cepat, sekarang dia benar-benar takut pada majikannya.
"Aku harus lebih waspada!" ucapnya mengingatkan dirinya sendiri.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Erika Darma Yunita
tukang kredit aja belagu🤣🤣🤣🤣telak bgt....
waspadalah.... waspadalah...🤭🤭
2021-12-07
1
Su Sin
seneng lihat luci
ngak neko2
2021-11-18
0
Atieh Natalia
luci ko lucu la bukannya minta yg bagus hp nya malah tanya yg 200rb
2021-08-30
0