"Gimana? Lo, bisa ikut kan ke pesta entar malam?" Aldrich duduk di kursi makan sambil memperhatikan Luci yang sibuk memasukkan belanjaan yang tadi di belinya ke dalam kulkas.
"Maaf Tuan, saya nggak bisa." Luci menjawab sang majikan tanpa memandangnya, dia asyik dengan kegiatannya menata isi kulkas.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, Saya nggak terbiasa ikut ke acara seperti itu. Saya yakin hanya akan membuat Tuan Aldrich malu nantinya."
"Pasangan gue yang biasanya sepertinya nggak bisa temenin," Aldrich teringat pada Leony, dia yakin Leony masih marah padanya dan nggak akan mau di ajak ke pesta untuk jadi pasangannya.
"Lo, boleh minta apapun, kalau Lo mau temenin gue ke pesta ini." Rayu Aldrich. Harga dirinya terasa hancur saat ajakannya di tolak Luci mentah-mentah.
Masa seorang casanova yang tampan dan kaya, di tolak oleh seorang ART?? Apa kata Dunia!
"Maaf Tuan, saya nggak berani." Luci menggelengkan kepala, dia keukeuh menolak ajakan Aldrich.
Aldrich berdecih lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo, Jess, honey... nanti malam ada acara nggak? temani aku ya ke pestanya Angel dan Boni... Iya nanti malam, jam 7 aku jemput.
Okey sweet, see you."
Aldrich bangun dari duduknya dan menatap sinis pada Luci, lalu beranjak pergi menuju kamarnya di lantai dua.
.
"****!! ini benar-benar memalukan!" Aldrich masih bersandar di balik pintu kamarnya.
"Dan apa tadi gue bilang? pacar?" gumam Aldrich.
Aldrich mengetuk-ketukkan kepalanya di balik pintu kamar.
"Otak sama mulut gue bener-bener sudah soak!" geramnya lagi.
"Luci pasti heran dengan ucapan gue barusan! stupid banget sih lo, Al!!!" Aldrich memukul kepalanya, gemas.
"Dan kenapa gue harus ber-acting menelpon Jessica di depannya! Lo, bener-bener kayak anak ABG, Aldrich! Lo kira Luci bakal jealous dengan Lo berpura-pura telpon Jessica di depannya? parah Lo Al!!!"
Aldrich berjalan menuju lemari kaca yang ada di pojokan kamar dan mengambil sebotol vodka yang dia simpan di dalamnya.
"Gue butuh ini, biar pikiran gue normal lagi!"
Saat hendak menenggak isinya, Aldrich terdiam, lalu memasukkan kembali botol minumannya dan mengunci pintu lemari.
"Tenang Aldrich, Lo bisa melewati ini. Lo sudah bukan anak ABG lagi, cinta monyet sudah bukan masanya buat Lo!" Aldrich mengusap dadanya mencoba menenangkan diri.
...*...
"Gue pulang malam, Lo kunci pintunya, tapi kuncinya di lepas biar gue bisa masuk nggak kayak kemarin!" Aldrich menatap Luci yang sedang asyik bermain dengan HP barunya.
"Lo bisa pake nya nggak?" Aldrich penasaran dan duduk di dekat Luci.
Mereka duduk bersebelahan, begitu dekat hingga Aldrich bisa mencium bau sabun dan shampo yang tadi dia belikan untuk Luci. Wangi ini benar-benar membuatnya tergoda untuk mendekap Luci ke dalam pelukannya. Dia bangga karena telah memilih produk yang tepat.
"Bisa kok." Luci sepertinya sadar kalau majikannya makin mendekatkan dirinya, buru-buru Luci bangun dari duduknya dan berjalan menjauhi Aldrich.
"Tu-tuan katanya mau berangkat." Usir Luci secara halus.
Aldrich mendengus, lalu bangun dari duduknya.
Dia menepuk-nepuk celana dan jasnya, sambil menatap Luci. "Aku, eh Gue berangkat."
"Masa Lo, nggak terpesona sama penampilan gue?" batin Aldrich, kesal.
"Bagaimana penampilan gue?" tanyanya, akhirnya, karena tak mendapat respon dari Luci.
Luci menatap majikannya dari kepala hingga ujung kaki. "Bagus sekali Tuan, keren." Luci mengangkat jempolnya.
Luci sempat terpesona pada penampilan majikannya, yah.. majikannya memang sangat tampan, walaupun hanya memakai kaos sehari-hari pun dia sudah terlihat tampan apalagi memakai pakaian formal begini.
Pantas saja banyak wanita tergila-gila dan mau di ajak melakukan 'itu'.
"Hmm! Aldrich Mahendra, nggak mungkin nggak keren!" decih nya sambil tersenyum senang.
Buru-buru Aldrich berbalik dan berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman depan. Dia takut kalau bicara terlalu lama dengan Luci, dia akan semakin tampak konyol.
Perasaannya pada Luci yang konyol -lebih tepatnya-.
Aldrich menyalakan mobil BMW 1 series E87 nya, tapi matanya terus menatap Luci yang berdiri di ambang pintu. Lagi-lagi Aldrich mendesah, ingin rasanya dia terus berada di dekat Luci sepanjang waktu. Tapi apa daya, Luci sangat sulit di rayu. Bahkan di belikan barang-barang mahal pun dia tak mau. Sebenarnya wanita macam apa pembantunya itu.
Biasanya, semua wanita yang di kenal Aldrich, sangat mudah di dapatkan setelah dia memanjakan mereka dengan barang-barang mewah, dan membelikan apa saja yang mereka inginkan. Tapi Luci sangat berbeda, bahkan dia tadi meminta HP dengan harga termurah.
Aldrich menggelengkan kepala, makin penasaran.
.
"Bro, gimana Lo, sudah enakan?"
Aldrich menoleh ke arah Boby yang menepuk pundaknya. "Eh, Lo." Aldrich tak bersemangat.
"Kenapa sih?" Boby mengambil jus jeruk yang tersedia di meja dan meminumnya.
Aldrich hanya terdiam.
"Bob,"
Seketika Boby dan Aldrich menoleh. Leony dengan menggunakan dress yang sangat sexy, berjalan mendekati Boby lalu merangkul tangannya.
Aldrich hanya terkekeh, sambil berusaha menahan tawa nya.
"Pasangan kamu mana?" tanya Leony, sepertinya dia masih kesal pada Aldrich karena kejadian beberapa waktu lalu.
"Gue sendirian." Jawab Aldrich, santai.
"Tumben." Kali ini Boby yang bertanya.
"Dia lagi tergila-gila sama pembantunya, jadi nggak mau ngelirikk cewek lain." Ucap Leony sambil berdecih.
Boby menatap Aldrich dengan tatapan menyelidik. "Ini tentang pembokat yang waktu itu Lo ceritakan?"
Aldrich mengangguk-angguk sambil meminum jus jeruknya.
"Ohh my!! gue jadi tambah penasaran, kayak apa sih orangnya?" Boby mendekati Aldrich dan merangkul pundaknya. "Ntar malam, gue ke rumah Lo ya." bisiknya.
"Jangan macem-macem Lo, gue aja belom dapet!" gumam Aldrich.
"Hah? seorang Aldrich Mahendra, nggak bisa ngedapetin pembantu? whahahaha...!" Boby tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya yang terlihat frustasi.
"Diem Lo!" Kesal Aldrich.
"Lo harus kenalin dia ke gue, Al! harus!" Boby tersenyum smirk, lalu menggandeng Leony dan meninggalkan Aldrich seorang diri.
Aldrich menghela napas, lalu meletakkan gelas jus nya ke atas meja.
"Pulang aja lah, bosen gue!" gumamnya sambil menatap Arlojinya. "Baru jam 9 malam, semoga Luci belum tidur." Aldrich terdiam lagi, "ya Lord! ada apa dengan gue!!" Aldrich menepuk keningnya, frustasi.
...*...
Aldrich mendesah kecewa saat sampai di rumah, ternyata Luci sudah mematikan semua lampu. "Sepertinya dia sudah tidur. Kenapa tidurnya cepet amat sih!" Aldrich terus ngedumel sambil membuka pintu utama rumahnya.
Bukannya berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua, dia malah berjalan terus ke dapur lalu membuka pintu belakang dan menatap pintu kamar Luci yang tertutup rapat.
"Lampunya sudah mati, beneran sudah tidur?"
Aldrich masih tak percaya dan berjalan mendekat.
"Luci... sudah tidur?" tanyanya pelan sambil mengetuk pintu.
Tapi hening, tak ada jawaban.
Entah kerasukan setan apa, Aldrich menarik sebuah balok kayu dan meletakkannya di bawah jendela kamar Luci lalu menaikinya, menggunakannya sebagai pijakan untuk mengintip Luci yang ada di dalam.
Aldrich sangat penasaran, apakah Luci memakai daster yang sama seperti kemarin, daster yang sexy itu?
Gedubrak!!!
Balok yang di gunakan Aldrich ternyata sudah rapuh, Aldrich langsung terjatuh, dan suara berisiknya membangunkan Luci.
Pintu kamar Luci terbuka, dan Luci muncul dengan wajah pucat, dia terlihat ketakutan.
"Tu-tuan? ada apa?"
"A.. a.. gue, gue mau bangunin Lo, gue laper." Aldrich mencoba mencari alasan agar Luci tidak menganggapnya majikan mesum, walaupun itu benar adanya.
"Bukannya tadi baru ke acara pesta? apa nggak ada makanan di sana?" Luci terlihat curiga, apalagi dia melihat balok kayu yang patah, berada tepat di bawah jendela kamarnya.
"Tu-tuan Aldrich, bukan sedang mengintip saya kan?"
"Bu-bukan lah!" Aldrich langsung bangun, karena dari tadi dia masih terduduk di lantai, karena terjatuh tadi. "Lo jangan Ge-er ya!" kilahnya.
Luci masih terlihat ketakutan, dia mencengkram sweater wol yang menutupi tubuh bagian atasnya, karena daster yang di pakainya tak berlengan.
"Maaf Tuan, kalau Tuan bertingkah aneh seperti ini terus, sebaiknya saya keluar saja. saya nggak mau kerja di sini lagi."
Luci merasa sangat risih dengan sikap majikannya, dia benar-benar merasa tak tenang. Sejak siang dia juga sudah berpikir keras, dengan keputusan ini. Luci tak mau mengulangi kesalahannya di masa lalu, lebih baik dia menjauhi Aldrich secepat mungkin, dan bisa berkumpul lagi dengan Vin-vin. Pengorbanannya dan Vin-vin tak sepadan dengan ke-konyolan majikannya ini.
Kali ini Aldrich langsung pucat dengan ucapan Luci, "jangan! please jangan!" ucapnya cepat.
.
#Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Erika Darma Yunita
hilanglah sudah harga diri seorang Casanova tanggung ini......,hahahaha...takut ditinggal pembantunya....yg ada pembantu takut di pecat.....ini kebalik😀😀
2021-12-07
1
Su Sin
hilang sudah wibawa mu cassanova
2021-11-19
0
Atieh Natalia
😂😂😂 spah sih emang konyol banget sih kelakuan al
2021-08-30
0