"Al, aku menginap di rumahmu ya?"
"Lho, bukannya tadi rencananya, kita tidur di apartemen Lo?" Aldrich memandang Leony sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Di rumah ada adik aku, dia minta menginap. Kita kan jadi nggak bebas." Leony merangkul lengan Aldrich.
"Ck!" Aldrich membayangkan bila dia pulang dan bertemu Luci, kenapa rasanya dia tak ingin Luci melihatnya bersama Leony?
"Ya, sayang? aku sudah kangen banget sama kamu." Ucap Leony manja, sambil mengusap pelan paha Aldrich.
Aldrich mengerang pelan, "okey," ucapnya sambil mendesah. Lalu dia memutar stir dan menjalankan mobil menuju rumahnya.
Aldrich melirik jam tangannya, "sudah hampir jam 12 malam, semoga Luci sudah tidur." Batin Aldrich.
Aldrich memencet remote dan pagar rumahnya langsung terbuka.
Setelah memarkir mobilnya, dia dan Leony -yang terus bergelanyut manja padanya- menuju pintu utama yang ternyata terkunci dari dalam. Sepertinya kunci pintunya terus menempel di lobang kunci, sehingga Aldrich tak bisa membukanya.
"Kenapa?" tanya Leony, bingung.
"Terkunci. Kita lewat pintu belakang saja." Ucap Aldrich cuek sambil berjalan memutari rumahnya menuju pintu yang ada di belakang, tepat di depan kamar Luci. Aldrich melirik sekilas ke arah kamar Luci, "lampunya sudah mati, mungkin dia sudah tidur." Batinnya.
Aldrich merogoh saku celananya, mencari kunci cadangan. "Aku taruh di mana sih?" geram Aldrich, dia tidak bisa berkonsentrasi karena Leony semakin mengeratkan pelukannya, dia memeluk Aldrich dari belakang sambil mulai membuka kancing kemeja Aldrich.
"Sabar, say!" Aldrich makin kesal.
Setelah pintu terbuka, Leony semakin ganas. Dia mendorong Aldrich hingga Aldrich secara tak sengaja menendang tempat sampah hingga isinya berhamburan.
Klontang!
Krompyang!
"Apa pula yang ku senggol ini!!!" Geram Aldrich, matanya menyipit mencoba menajamkan pandangan di ruangan yang gelap.
"Say, sabar dong." Aldrich kewalahan dengan sikap Leony yang makin tak sabaran. "Gelap ini!"
Dalam keremangan, Aldrich bisa melihat Leony melepaskan Blouse nya, lalu mendekati Aldrich dan memeluknya.
Aldrich terdorong kebelakang hingga menabrak meja makan, tangannya secara tak sengaja menyenggol gelas yang ada di atas meja hingga membuat gelas itu terjatuh dan pecah.
Prang!!
"Aku kangen banget sama kamu..." Leony langsung melepaskan kemeja Aldrich dan membuangnya entah kemana, lalu dengan ganas dia naik ke atas meja, dan duduk di pangkuan Aldrich dan menciuminya dengan membabi buta, hingga membuat Aldrich kewalahan.
"Abis makan apa si ni cewek? kok jadi napsu banget gini!" Batin Aldrich, tapi dia hanya diam dan membiarkan Leony puas bermain-main dengan tubuhnya.
"Pergi kau! maling!!!"
Pats! semua lampu di dapur menyala membuat Aldrich menyipitkan mata karena cahaya yang tiba-tiba menusuk Indra penglihatannya.
Saat penglihatannya telah normal, dia tertegun melihat Luci yang berdiri di ambang pintu, sambil mengangkat tongkat Baseball.
Luci mengenakan daster yang berbeda dari biasanya, daster yang dia pakai sekarang terlihat sangat sexy di mata Aldrich. Daster tanpa lengan, dengan kerah yang sangat lebar hingga menunjukan tulang selangka dan lekukan leher yang sangat menggoda. Aldrich berusaha keras menahan diri untuk tidak berlari mendekati Luci dan menciumi leher jenjangnya itu.
Susah payah Aldrich menelan saliva nya, saat melihat kaki jenjang Luci, dan paha putihnya yang mengintip akibat dari Luci mengangkat tangannya yang memegang tongkat Baseball.
"Ma, ma.. maafkan saya!" Luci tertunduk, wajahnya memerah. Menggemaskan.
"Sa, saya.. saya permisi!" Lalu dia berbalik dan berlari keluar, menuju kamarnya.
"Oh.. my.." Desis Aldrich, Jantungnya bertalu-talu. Napasnya bahkan sudah memburu tak beraturan. Berulang kali dia menelan Saliva nya hingga mulutnya terasa kering.
"Siapa sih?" Leony berdecak kesal.
"ART gue." Aldrich berusaha bangun dari duduknya, tangannya mendorong pundak Leony agar menjauh darinya.
Masih dengan posisi duduk di pangkuan Aldrich, Leony menatapnya dengan bingung. "Kenapa Al?"
"Gue mau istirahat, ngantuk. Besok pagi gue ada pemotretan!" Aldrich berusaha menyingkirkan tubuh Leony yang masih menindih kakinya.
"Tapi, kita belum selesai, bahkan belum mulai sama sekali!" Leony sedikit menggeser posisi duduknya, sehingga Aldrich bisa beranjak.
Aldrich mengambil kemejanya yang teronggok di lantai, lalu memakainya.
"Lo pulang aja gih!" usirnya.
"Ini sudah jam 12 malam Al? kamu nggak takut aku kenapa-kenapa di jalan?"
Aldrich menatap Leony, matanya menyipit tanda tak senang dengan ucapannya. "Hey, ini baru jam 12, biasanya kan Lo malah pulang pagi!" ucap Aldrich cuek sambil terus berjalan menuju lantai dua.
Dia meninggalkan Leony yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Dengan kesal, Leony mencari Blouse nya, lalu memakainya dengan cepat.
"Brengs*k Lo, Al!" geramnya sambil berlari keluar lewat pintu belakang.
.
Aldrich terdiam di kamarnya, dia terpekur sambil duduk di pinggir ranjang king size nya.
Dia memegang dadanya dan mengusapnya perlahan. Di dalam sana, ada genderang yang terus bertalu-talu.
Aldrich menarik napas dan menghembuskannya perlahan melalui mulutnya.
"Kenapa gue? kenapa gue nggak bisa ngelupain Luci? apa gue bener-bener sudah gila?!"
Lagi-lagi Aldrich teringat pada kejadian barusan, bayangan Luci yang memakai daster tidurnya, terus menari-nari di kepalanya.
Aldrich mengacak-acak rambut hitamnya, frustasi.
"Tidur saja! tidur dan lupakan!" perintah Aldrich pada dirinya sendiri. Lalu dia pun mulai merebahkan tubuhnya, dan mencoba untuk tidur.
...***...
Bunyi alarm membangunkan Aldrich, sambil masih dengan mata terpejam dia menggapai jam digital yang terus berbunyi.
"Jam berapa sih?" geramnya.
Matanya terbuka satu untuk mengintip, lalu dia mendesah.
Dengan malas dia bangun, lalu mengucek matanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7, sedangkan jam 8 nanti dia harus pergi ke studio foto untuk pemotretan produk minuman bersoda.
Aldrich menarik napas dan mencium sesuatu yang sangat harum. "Masak apa dia?" gumamnya.
Buru-buru Aldrich berlari menuju kamar mandi pribadinya, mencuci muka dengan cepat dan turun ke lantai satu, menuju dapur.
Dia melihat Luci, kembali mengenakan daster besar seperti emak-emak, tengah asyik memasak.
"Cih! kenapa nggak pakai daster yang semalam aja sih!" batin Aldrich.
"Masak apa?" Tanya Aldrich sambil duduk dan memperhatikan punggung Luci, yang entah kenapa tampak sangat menarik.
"Mmm.. ma.. masak scrambled egg with carrot and sweet corn and cheese." Luci mengambil sebuah piring dan memindahkan makanan yang di masaknya tadi dari penggorengan ke atas piring, kemudian meletakkannya di atas meja makan.
"Telur orak Arik aja pakai bahasa Inggris!" Aldrich mencebik.
Luci terkekeh, suara tawanya renyah sekali membuat Aldrich tanpa sadar ikut tersenyum.
"Bisa buatkan jus apel?" pinta Aldrich.
"Baik Tuan." Luci berbalik dan mendekati kulkas untuk mencari buah apel yang hendak di buat jus.
"Memangnya kita punya apel?" Aldrich seakan baru sadar bahwa dirinya tak pernah membeli buah, tapi Luci tetap menyanggupi permintaannya.
"Saya sudah beli beberapa buah kemarin," jawab Luci sambil memotong-motong apel lalu memasukannya ke juicer.
Aldrich mengangguk sambil tersenyum puas.
Dia bangga dengan kerja ART nya, ternyata Luci tak hanya cantik, tapi dia sangat cekatan dan pintar dan menggemaskan dan menawan dan... Aldrich mulai gila.
"Silakan," Lucia meletakan segelas jus apel pesanan majikannya.
Saat melihat jari Lucia yang sedikit memerah dan mengeluarkan darah, Aldrich langsung meraihnya. "Jari kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
"A.. anu, tadi kena pecahan beling waktu bersih-bersih." jawab Luci, gagap.
"Sudah di obati?"
"Su.. sudah Tuan." Luci menarik tangannya dengan cepat dari genggaman Aldrich. Tampak sekali wajahnya memerah, dia tersipu malu.
Saat Luci akan pergi, Aldrich mencoba menghentikannya dengan terus mengajaknya bicara.
"Yang semalam... anggap kau tak pernah lihat ya, Gue nggak ngapa-ngapain kok."
"Ya Lord! ngapain Lo ngejelasin hal ini Al!" Aldrich terdiam, menyesali ucapannya yang ngelantur.
Luci hanya menanggapinya dengan anggukan, setelah itu Luci pergi menuju ruang cuci, lalu membawa seember pakaian yang setengah kering dan menjemurnya.
Aldrich masih terus memperhatikan Luci dari ruang makan. Matanya tak berkedip. Entah kenapa, Aldrich tak mau melepaskan pandangannya sedetikpun dari Luci.
Saat tak sengaja Luci berbalik, tatapan mereka beradu, buru-buru Luci mengalihkan pandangannya, lagi-lagi wajahnya memerah.
Aldrich tersenyum senang sambil mengacak-acak rambutnya.
"Gue sudah gila! bener-bener gila!" desisnya sambil terus tersenyum, hatinya berbunga-bunga melihat sikap Luci yang salah tingkah karenanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Erika Darma Yunita
gw juga bingung..knp mesti ngejelasin ya???😄😄😄sok polos gw🤭🤭🤭
2021-12-07
0
Su Sin
babang al mulai tak konsen dgn yg lain pemirsa
2021-11-18
0
Atieh Natalia
Al bucin duluan nih , tp sayang ada Vin vin anak Lucia sama Kevin, apa akan jadi penghalang cinta Al sama Lucia
2021-08-30
0