Aldrich menyesap minuman berwarna merah yang ada di gelas kaca hingga habis, lalu tertunduk dan memandangi gelas yang sudah kosong itu. Dia menyesal.
"Si*l!! kenapa gue kasih dia waktu 3 hari! seharusnya sehari saja! gue bener-bener bego!" gumam Aldrich sambil memukul meja.
Aldrich memandang bartender yang juga sedang menatapnya, lalu dia menunjukkan gelasnya yang sudah kosong.
Si bartender paham dan langsung mendekat.
"Minumannya spesial ya hari ini?" tanyanya sambil tersenyum.
Aldrich berdecih, "dari pada gue mati beneran!"
Si bartender terkekeh, lalu mengisi gelas kosong Aldrich dengan minuman warna merah yang tadi di pesannya.
Setelah menerima gelas yang sudah terisi penuh dengan minuman berwarna merah, bukannya langsung meminumnya, Aldrich malah melamun sambil memandangi isi gelas tadi.
Dia teringat Luci, calon Asisten Rumah tangga yang kemarin datang ke rumahnya.
Jujur, Aldrich terkejut saat pertama kali melihatnya. Dia pikir orang yang akan melamar kerja menjadi pembantu itu adalah seorang Ibu-ibu tua, atau wanita kampungan yang jelek, Kumal dan tidak menarik.
Dia tidak menyangka jika Luci sangat cantik.
Aldrich meminum minumannya hingga tinggal separoh, kemudian kembali teringat Luci.
Luci sangat cantik, walaupun ya, dandanannya sangat kampungan. Kemarin saja dia datang mengenakan baju terusan motif bunga-bunga, dengan lengan baju se-siku, dan bawahannya sepanjang betis. Dan paling aneh lagi, dia mengancing bajunya sampai sebatas leher hingga terlihat tercekik.
Aldrich menggelengkan kepalanya, "seharusnya dia membuka kancing bajunya satu atau dua biji, biar tak terlalu terlihat tersiksa begitu!" dan aku bisa sedikit mengintip kulit dadanya.
Aldrich terdiam lalu memukul keningnya sendiri. " Wahh Aldrich Mahendra, kenapa Lo jadi gila! dia itu calon pembantumu! kayak nggak ada cewek lain aja yang lebih cantik!" rutuk Aldrich.
"Yo, Al, sudah sehat Lo?"
Aldrich menoleh dan melihat Boby yang tersenyum riang. Lalu dia duduk di sebelah Aldrich dan menatapnya penuh curiga.
"Lo, minum lagi?! Lo, bener-bener pengen mati ya?!" Sergah Boby yang melihat gelas kaca Aldrich yang berisi minuman warna merah menyala.
"CK! nggak, gue masih pengen hidup. Ini cuma Fanta." Jawab Aldrich sambil meminum minumannya sedikit demi sedikit, seolah-olah sedang meminum minol (minuman beralkohol).
Boby terkekeh melihat tingkah temannya, "oiya, gimana? sudah nemu pembokat?"
Aldrich menarik napas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kemarin ada yang datang sih, tapi nggak tau juga."
"Kenapa memangnya?"
"Waktu gue suruh dia tidur di rumah, dia kayak yang nggak mau."
"Dia takut di terkam Lo, kali. Secara kan Lo itu binatang buas." Boby tertawa.
"Anjir Lo, masa cowok setampan gue, Lo samain sama binatang! yang ada itu, dia yang nggak bisa nahan diri buat minta bobo sama gue." Aldrich tersenyum di kulum sambil membayangkan Luci tidur di sampingnya.
Otaknya benar-benar sudah bobrok, dan perlu di over haul seperti mesin mobil yang harus di bongkar karena sudah rusak.
"Lo? ngarepin pembantu Lo? tidur sama... Lo?" mata Boby membulat sempurna tak percaya.
Aldrich berdehem, "dia cantik banget bro, ya walaupun kelihatan banget kampungannya, tapi bener-bener..." Aldrich tak melanjutkan kata-katanya, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Emangnya masih muda? gue pikir emak-emak!"
"Umurnya 27 tahun, orangnya putih, lumayan tinggi, body nya juga... oke." Aldrich terkekeh lagi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kayaknya otak gue bener-bener sudah Soak!"
"Wahh... kapan-kapan gue main ke rumah Lo, ya? gue pengen lihat, secantik apa pembokat Lo," Boby melirik Aldrich sambil tersenyum.
Dia juga sangat penasaran dengan wujud pembantu baru temannya, karena dia tahu, Aldrich tak mudah memuji wanita dengan sebutan 'cantik'. Paling sering, dia hanya bilang 'sexy'.
"Kan tadi gue bilang, belum deal. Dia ragu-ragu buat nginep di rumah gue. Pacarnya nggak ngijinin kali!" Aldrich kembali menyesap fanta-nya.
"Dia belom nikah?" Boby kaget sampai menoleh dan menatap sahabatnya yang duduk sambil tertunduk. "Wah, jackpot dong Al," Boby sampai memukul punggung Aldrich, girang.
"Apaan sih, Lo!" Aldrich mengusap-usap punggungnya yang sedikit nyeri akibat pukulan Boby.
"Ya kali gue mau jadiin dia pacar! dia cuma pembokat!! tau nggak! kayak nggak ada cewek lain aja."
"Lo kan nggak pernah lihat status cewek yang Lo deketin, selama ini, selama cewek itu sexy, Lo langsung terkam aja." Gumam Boby.
"Sebelum Lo ajak bobo, apa Lo tanya cewek-cewek itu, mereka kerja di mana?!"
Aldrich terdiam, dia berpikir kembali dan mengingat-ingat kejadian di masa lalu.
"Ya, yang pasti bukan pembokat lah! masa ada asisten rumah tangga mainnya di bar! otak Lo gesrek ya!" Aldrich sedikit kesal dengan temannya yang satu ini.
"Siapa yang tahu." Boby tersenyum lalu menyesap minumannya hingga tandas.
...***...
Aldrich berjalan mondar-mandir di ruang tamunya, persis setrikaan. Dia menunggu Luci. Seharusnya hari ini, pembantu barunya itu datang. Aldrich sungguh tak sabar.
"Bego banget gue! kenapa gue nggak tanya nomer HP nya! kan jadi nggak penasaran gini!" gumam Aldrich sambil terus mondar mandir.
Kring. Kring. Kring.
Aldrich menyambar ponselnya dengan kesal, "hallo!"
"Kenapa Lo? PMS ya? angkat telpon sambil marah-marah!"
Aldrich mendesah, "sorry bang. Ada apa?" ternyata Kevin yang menelpon.
"Lo, sudah dapat orang yang bisa masak buat Lo?"
"Nggak tahu nih, bang. Kemarin si ada, tapi belum pasti." Aldrich menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mau cari yang lain? tapi nggak bisa jadi pembokat ya! dia koki kelas Wahid soalnya!"
"Nggak bang, gue mau yang ini aja. Masakannya enak banget bang, rasa masakannya hampir sama kayak rasa masakan Lo, gue jadi langsung cocok."
"Serius? bagus lah. Mana orangnya? besok kalau gue balik ke Indo, gue main ke rumah Lo ya, gue pengen ketemu. Siapa tahu dia fans gue."
"Hahaha.. nggak usah lah bang, ntar Lo jatuh cinta lagi. Soalnya dia cakep banget!"
"Aldrich, Aldrich, masa pembantu juga mau Lo embat!"
Aldrich hanya terkekeh-kekeh.
Mata Aldrich tiba-tiba berbinar bahagia saat tak sengaja melihat lewat jendela kaca rumahnya, ada seorang wanita membuka pintu pagar rumah dan berjalan masuk sambil menjinjing sebuah tas besar berwarna hitam.
"Eh, sudah dulu ya Bang!" lalu dengan cepat, Aldrich mematikan ponselnya dan melemparnya begitu saja di atas sofa.
Aldrich dengan cepat membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk menyambut pembantu barunya yang cantik. Pembantu baru? dia bahkan belum pernah punya pembantu sebelumnya.
"Pacar Lo, sudah kasih ijin?" Tanya Aldrich sambil masih bersandar di pintu rumahnya dan memandang Lucia.
Hari ini Lucia tampak cantik, ya walaupun dia hanya memakai kaos kebesaran dan celana jeans yang sudah Kumal dan sedikit melar di bagian paha sehingga tak bisa menunjukkan bentuk kaki jenjangnya.
Luci hanya mengangguk, "di mana kamar saya Tuan? saya akan mulai bekerja." Tanya Lucia sambil menatap Aldrich.
Mata Aldrich beradu dengan mata Luci yang sangat indah, bulat dan berwarna coklat.
"Ehm.. " Aldrich sempat kehilangan kata-kata karena jantungnya tiba-tiba berdebar sangat cepat.
Susah payah dia menelan saliva nya, "ayo ikut aku eh gue..." Aldrich membalik badannya dengan cepat sambil mengumpat pelan.
Kenapa gue grogi begini! konyol banget Lo, Al!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Erika Darma Yunita
apa kevin mantannya Lucia???ayah dari Vin Vin???
2021-12-07
0
Atieh Natalia
dugaan makin menguat kl Kevin mantannya luci
2021-08-30
0
Ivanka Anata
Kevin bpknya Vinvin
2021-08-13
0