...----------------...
#Warning! cerita ini hanya fiksi.
Mohon kebijakan para pembaca, ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk ya.
Terima kasih.
...----------------...
Aldrich Mahendra, seorang lelaki berumur 25 tahun yang sudah sangat sukses malang melintang di dunia modelling.
Kaya, tampan dan Playboy. Semua itu lah predikat yang yang melekat pada nya.
Selain menjadi seorang model, Aldrich juga piawai dalam menjalankan bisnisnya. Dia memiliki beberapa distro yang penjualannya sangat laris manis bak kacang goreng.
Tentu saja laris, karena dia sendirilah yang menjadi Brand ambassador dari produk-produk yang di jual di distro miliknya.
Siapa wanita di Negara ini yang tidak mengenal seorang Aldrich Mahendra?
Tatapan matanya begitu tajam, senyumnya begitu mempesona, di tambah wajahnya yang simetris dengan rahang tajam terpahat sempurna dan hidung mancung menjulang menambah ketampanannya makin tak ada bandingnya.
Sekali tersenyum, Aldrich bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan. Dia adalah seorang Casanova. Semua wanita rela antri untuk bisa tidur dengannya. Mereka tak keberatan walau hanya melakukan hubungan satu malam dengan Aldrich, karena mereka begitu memuja-muja pria tampan itu.
Bagi Aldrich, wanita hanyalah sebuah hiburan, tak lebih. Dia tak pernah jatuh cinta sebelumnya, dia bahkan tidak mengenal cinta.
Cinta? apa itu cinta?!
Aldrich hanya menikmati kesuksesannya saat ini, enggan di pusingkan dengan urusan wanita atau bahkan terikat dengan satu wanita.
Aldrich menyesap wiski nya hingga tandas, lalu dia menatap bartender dan menggoyangkan gelasnya yang sudah kosong.
Si bartender yang sudah sangat mengenal Aldrich, langsung mendekat.
"Wiski dobel tanpa es?" tanyanya, mengulang pesanan Aldrich barusan, siapa tahu pelanggan setianya ini ingin memesan sesuatu yang lain.
"Yes! gue ingin mabok sampai mati, malam ini!" seloroh Aldrich, lalu dia tertawa gelak-gelak. Tampaknya dia sudah mulai mabuk.
"Jangan mati dulu dong tampan, kita belum bersenang-senang." Seorang wanita berambut pirang dan bergelombang indah serta memakai dress yang sangat minim, merangkul pundak Aldrich. Paha Putihnya terbuka sempurna untuk di nikmati semua lelaki yang berada di bar itu.
Aldrich memandanginya tanpa malu, dia tersenyum sambil membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. Dengan susah payah dia menelan Saliva nya hingga jakun yang menonjol di lehernya bergerak naik turun.
Si wanita berambut pirang itu bergelanyut manja di lengan kekar Aldrich, dia berbisik lirih di telinga lelaki tampan itu, hingga membuat Aldrich tergelitik.
Aldrich menarik pinggang ramping si wanita berambut pirang hingga dada penuh berisi si wanita tadi terbentur manja di dada kekar Aldrich. Aldrich menyeringai, lalu tanpa basa basi, mencium bibir si wanita berambut pirang.
Sudah biasa bagi Aldrich jika ada saja wanita yang mendekatinya, mereka semua mengenal Aldrich, sedang Aldrich sendiri tak ambil pusing untuk menanyakan nama para wanita yang berebut ingin dekat dengannya.
Dia tidak mau tahu, karena dia tak ada keinginan untuk menjalin hubungan lebih dalam dengan wanita-wanita ini.
Ini hanya cinta satu malam.
.
"Aahh..." desahan si wanita berambut pirang, membuat hasrat Aldrich makin memuncak.
Kini mereka berdua sudah berada di sebuah kamar hotel yang di pesan Aldrich secara mendadak karena wanita berambut pirang ini terus menerus menggodanya.
"Teruskan Al.. teruskan..." pinta si wanita yang sudah tak bisa menahan gairahnya lagi.
"Slow down baby," bisik Aldrich. Dia mulai merogoh kantong celananya yang tergeletak begitu saja di sampingnya, mencari-cari sesuatu yang sangat penting baginya saat ini.
"****!" Aldrich mengumpat, dia makin tak sabar lalu mulai merogoh kantong celananya yang ada di sisi lain. Karena tak juga menemukan barang yang di carinya, Aldrich mulai kesal. Dia pun berpindah merogoh kantong kemejanya, "dimana dia!!" geramnya.
"Apa yang kau cari, honey?" Si wanita berambut pirang sampai mengangkat tubuhnya dengan kedua siku yang menyangga di atas ranjang. Dia menatap bingung pada Aldrich yang terlihat kesal sambil mengacak-acak baju dan celana panjangnya.
"Kau bawa kond*m?"
"What? nggak! dan kita nggak butuh itu! ayo cepat teruskan." pinta si rambut pirang.
Aldrich menyisir kasar rambut hitamnya dengan jemarinya, dia mendesah kesal. Hasratnya sudah memuncak, apalagi si rambut pirang sudah berbaring terlentang tanpa sehelai kain pun yang menutup tubuh polosnya, seolah menantang dirinya.
"No! aku nggak akan lanjut tanpa kond*m!" Aldrich memakai kembali boxer nya dan berjalan menuju closet.
"What the..." Si rambut pirang memekik tak percaya. Bagaimana tidak? Aldrich menghentikan begitu saja permainan ranjang mereka, padahal dirinya sedang berada di puncak gairah.
Si rambut pirang mendengus kesal lalu mulai mengambil pakaian dalam dan dress mini nya yang teronggok begitu saja di lantai. Memakainya dengan cepat lalu berjalan keluar kamar sambil membanting pintu dengan keras.
Aldrich tak peduli, dia bisa mendapatkan wanita lain dengan mudah. Pergi satu tak ada pengaruhnya sedikitpun pada hidupnya.
Aldrich tak pernah melakukan hubungan s*x tanpa pelindung. Itu sudah menjadi hal wajib baginya. Dia tidak mengijinkan, hubungan satu malamnya membuahkan hasil yang tidak dia inginkan. Di samping itu, dia juga tak yakin akan kebersihan para wanita yang mendekatinya. Entah sudah berapa lelaki yang memasuki nya, Aldrich bergidik ngeri membayangkan jika dia melanjutkan aktivitas ranjangnya tanpa pelindung.
Setelah selesai menyalurkan hasratnya di kamar mandi, dia memunguti baju dan celananya kemudian memakainya lalu berjalan keluar dari kamar.
Mabuknya sudah hilang, dan dia ingin minum lagi. Dia pun berjalan menuju bar yang ada di lantai satu, yang tadi dia datangi.
Kembali duduk di dekat meja bar untuk memesan lagi minuman beralkohol favorit nya.
"Aldrich, sang Casanova. Mimpi apa gue bisa ketemu elo?" tiba-tiba seorang lelaki mendekat dan menepuk pundak Aldrich.
Aldrich menoleh untuk memandang lelaki yang menyapanya, lalu tersenyum kecut. Lelaki itu adalah Boby, teman nongkrongnya.
"Lo, mau ngajak gue tidur juga?" ucap Aldrich sambil menyesap wiski nya.
"Anjir, najis Lo!" Boby duduk di sebelah Aldrich dan meminum segelas Minol yang di pegangnya dari tadi.
"Habis ngamar, Lo, ya?" tanyanya sambil memandangi kemeja Aldrich yang berantakan. Aldrich hanya memasukkan salah satu ujung kemejanya ke dalam celana, sedangkan ujung yang lain menjuntai begitu saja.
Aldrich berdecih, "gue nggak bawa kond*m! gagal jadinya!" Aldrich menenggak wiski nya hingga tandas.
"Lo, terlalu keras sama diri Lo, bro! toh, wanita-wanita itu nggak keberatan kan?"
"Sorry bro, gue yang keberatan! Kebersihan itu yang utama!" ucap Aldrich sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau mau bersih, nikah aja! ngelakuinnya cuma sama istri, Lo, di jamin bersih!"
"Hahaha, istri? buat apa punya istri? gue nggak ada keinginan untuk berkeluarga!" Aldrich menggenggam erat gelas kaca nya yang sudah kosong, kembali teringat masa kecilnya yang kelam.
Aldrich sama sekali tak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga, sedari kecil dia hidup seorang diri, berpindah-pindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan yang lain. Kesuksesannya sekarang pun, adalah hasil dari jerih payahnya sendiri.
Keluarga? apa itu keluarga? Aldrich bahkan merasa asing dengan kalimat itu.
"Gue mau balik ke..." Belum selesai Aldrich berbicara, tiba-tiba tubuhnya roboh dan tersungkur ke lantai bar yang dingin. Boby memekik kaget, dan dengan segera menolongnya.
"Telpon ambulance!" teriaknya pada bartender yang terlihat pucat saat Aldrich tumbang.
"Dia bilang, dia mau minum sampai mati. Jangan-jangan, beneran mati dia?" lirih si bartender cemas, lalu buru-buru dia menelpon ambulance.
...****************...
Aldrich Mahendra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Sri Wahyuni
klau mati habis minum alkohol dah psti neraka tmpat nya
2023-02-22
1
Lila Susanti
visual kurang hot 😭😭 thor
2022-03-26
0
RHerson
baru aja neneng fokus blm apa apa dah meweeeeek huwaaaaa mana tisu mana saputangan 😭😭😭😭😭😭
2021-10-24
4