Hari pertama bekerja.

Aldrich mengajak Lucia masuk ke dalam rumah, dan terus berjalan menuju dapur dan keluar melalui pintu belakang.

Di bagian belakang ada tempat jemuran dan ada sebuah ruangan kecil berukuran 3x4 meter. Itulah kamar yang dipilih Aldrich untuk Luci.

Aldrich membuka pintu kamar itu dan mengumpat pelan saat melihat isi ruangan yang begitu berantakan, bahkan banyak sarang laba-laba di langit-langit ruangan.

Ya, namanya juga gudang, Aldrich selalu membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai ke gudang ini, alhasil gudang ini benar-benar penuh dengan barang-barang rongsok.

Lucia masuk dan melihat-lihat setiap sudut ruangan sambil mengangguk-angguk.

"Ehmm.. ruangan ini sudah lama sekali tidak di gunakan, jadi berantakan..." ucap Aldrich sambil memaksakan senyum. Dia sedikit takut jika Lucia merasa kecewa.

"Eh, tunggu! kenapa aku harus merasa takut? dia itu pembantu! pembantu! sadarlah Aldrich!" batinnya.

"Nggak apa-apa, Tuan. Ini sudah cukup. Saya akan bereskan kamar ini dulu, baru mulai bekerja. Boleh kan?" Lucia lagi-lagi menatap Aldrich.

Tahu sedang di tatap Luci, jantung Aldrich kembali berdebar dengan cepat.

"Yya.. boleh saja, tentu.. silahkan..." racau Aldrich. Lalu dengan segera dia keluar dari kamar tadi, dan berjalan cepat menuju ruang makan.

Dia duduk di sana sambil terus memperhatikan Lucia dari sela-sela pintu.

"Apa gue bantu dia beberes ya?" gumam Aldrich.

Aldrich bangun dari duduknya, berdiri cukup lama lalu kembali terduduk.

"Jangan lah, ntar dia Ge-er lagi!"

"Tapi, itu kamar berantakan banget!" Aldrich berdiri, "tapi itu kan memang pekerjaan dia! dia itu pembantu Al, pem-ban-tu!!!" lalu duduk lagi.

Aldrich terdiam dan merasa konyol karena sudah bicara sendiri tak jelas sambil terus memperhatikan Lucia yang mondar-mandir keluar-masuk sambil membawa barang-barang yang memenuhi kamar yang akan di pakainya.

"Bisa gila gue! mending mandi aja dulu!" Lalu Aldrich bangun dari duduknya sambil mengacak-acak rambutnya dan berjalan menuju kamar tidurnya yang ada di lantai dua.

Akhirnya Aldrich memutuskan untuk tidak membantu Luci beberes kamar. Dia tidak mau Luci menganggapnya sebagai majikan yang perhatian, dia takut Luci Ge-er dan menyukainya.

Aldrich tersenyum sendiri karena berhasil menahan diri untuk tidak membantu Luci. Dia merasa memenangkan sebuah pertarungan sengit di hatinya, "pembantu tetaplah pembantu! mau secantik apa juga tetap pembantu! Aahh nanti malam mau ketemu Leony ah.." desisnya sambil bersiul dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruang tidurnya.

.

Tok. Tok. Tok.

"Ada apa!" tanya Aldrich tanpa membuka pintu kamar, dia tahu, pasti Luci yang mengetuknya karena tidak ada orang lain di rumah ini selain mereka berdua.

"Maaf Tuan, di luar ada tukang sayur. Saya ingin beli beberapa bahan makanan untuk makan siang karena kulkasnya kosong. Bolehkah saya meminta uang?" Ucap Luci dari balik pintu.

"CK!" Aldrich sedikit kesal, karena Luci sudah menganggunya yang sedang asyik bermain ponsel.

Aldrich bangun dari tidurnya lalu mengambil dompet dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu.

Setelah itu membuka pintu kamarnya dan menyerahkan uang tadi pada Luci.

"Ini cukup nggak? gue nggak ada duit cash!."

Luci menerima uang pemberian Aldrich dan terdiam.

"kenapa? kurang?"

"Anu, ini untuk makan seminggu?" tanya Luci.

"Hah? lima ratus buat makan seminggu? Lo mau kasih makan gue apa? bekicot?! itu buat sehari lah!" kesal Aldrich.

Dia sangat heran dengan Luci, bagaimana mungkin dia menganggap uang lima ratus ribu bisa untuk makan satu minggu! saat belum ada pembantu saja, Aldrich bisa menghabiskan lebih dari dua juta dalam sehari hanya untuk makan dan kongkow di bar.

Lucia terlihat terkejut, mulutnya menganga dan matanya membulat, Aldrich hampir saja tertawa dengan mimik muka Lucia yang sangat lucu dan menggemaskan.

"Eh? menggemaskan? Lo gila Al! Lo bener-bener sudah gila!"

"Tuan, ingin makan apa untuk makan siang?"

"Apa aja terserah Lo! yang penting enak dan jangan pedas!" Aldrich langsung menutup pintu dengan cepat dan buru-buru naik ke ranjang dan berbaring sambil memijat pelipisnya.

"Kenapa gue jadi gila begini gara-gara pembantu itu!!! aakhhh!!!" Aldrich mengambil bantal dan membenamkan wajahnya di sana.

Kring. Kring. Kring.

Aldrich menggapai ponselnya yang ada di atas meja kecil di samping ranjang, dia tersenyum smirk saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

"Hallo, Leony," ucapnya semanis mungkin.

"Al, nanti sore kita ada pemotretan bareng loh, kamu nggak lupa kan?" tanya Leony dari sebrang.

"Nggak lupa dong sayang, nanti aku jemput kamu ya?"

"Okey, aku tunggu jam 3 di apartemen ku ya."

"Siap, sweety, see you..." Aldrich mematikan ponselnya dan tersenyum riang. Mood nya berubah, karena berhasil melupakan Lucia, sekarang pikirannya sedang sibuk menari-nari membayangkan Leony.

...*...

"Lo, masak apa?" Aldrich berjalan mendekati Luci yang sedang sibuk di dapur.

Luci memakai daster batik sepanjang betis, dengan lengan panjang yang di gulung se-siku, persis emak-emak.

Aldrich menggeleng-gelengkan kepalanya memperhatikan penampilan Luci yang sangat konyol. Aldrich juga yakin, Luci pasti mengancing baju nya itu sampai sebatas leher sampai terlihat tercekik. Dan benar saja saat Luci berbalik dan menatap Aldrich, dia benar-benar mengancing bajunya hingga sebatas leher.

"Saya masak sup daging dan perkedel kentang, Tuan. Apakah Tuan ada permintaan yang lain?"

"Nggak apa-apa, itu cukup."

Dengan cekatan Luci menata meja makan, dan meletakkan semangkuk besar sup daging yang masih mengepul, dan sepiring perkedel yang sangat menggugah selera.

Aldrich mengambil garpu dan menusuk satu perkedel dan menggigitnya.

"Hmmh.. masakan Lo bener-bener enak!" puji Aldrich.

Luci tersenyum malu. Lalu dia berjalan mengambil nasi dan meletakkannya di depan Aldrich.

Aldrich menyendok sup daging yang wanginya membuat perut Aldrich keroncongan, dia sudah tak sabar untuk makan makanan buatan Luci. Dan benar saja, sup daging buatannya sangat enak.

Aldrich makan sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya, sangat menikmati dan kagum pada kemampuan masak Luci.

"Lo, pernah kerja jadi koki ya?" tanya Aldrich di sela-sela makannya.

"Saya dulu pernah bekerja di restoran, tapi bukan sebagai koki. Hanya sebagai waiters." Jawab Luci sambil terus berdiri di sebelah majikannya yang sedang asyik makan.

"Tapi kok, masakan Lo enak banget. Ini sudah kayak masakan chef asli, nggak kaleng-kaleng!"

Lucia tak menjawab, dia hanya tersenyum senang karena majikannya terlihat sangat lahap memakan masakannya.

"Rasa masakan Lo, persis Bang Kevin. Lo tau? chef Kevin yang terkenal itu?! dia sering muncul di TV."

Klontang.

Tiba-tiba Lucia menjatuhkan sendok sayur yang sedang di pegangnya, buru-buru dia mengambil sendok sayur yang jatuh dan berjalan menuju wastafel.

"Sa, saya nggak tahu chef Kevin. Saya nggak pernah nonton TV." Gumam Luci sambil terus terlihat sibuk di tempat cucian piring.

"Gue pikir, Lo fans-nya, secara rasa masakan kalian bener-bener mirip. Coba deh Lo tonton acara masaknya di TV."

Luci hanya mengangguk.

"Oh ya, nanti malam gue nggak pulang. Lo jaga rumah ya. Kunci semua pintu, jangan lupa!"

"Lalu bagaimana makan malamnya?"

"Gue nggak perlu makan malam, ini sudah kenyang. Kalau kebanyakan makan bisa-bisa gue nggak laku!" Aldrich tersenyum lalu bangkit dari duduknya karena sudah menghabiskan makanannya.

"Makasih ya, buat makanannya. Enak banget!"

"Sama-sama Tuan." Lucia pun tersenyum senang karena Aldrich merasa puas.

Dan senyumnya itu berhasil membuat lutut Aldrich lemas, dan jantungnya berdebar makin cepat.

"Nggak usah senyum gitu, bikin gue pingin cium elu aja kan jadinya! sialan!!!"

Aldrich terus mengumpat dalam hati sambil berlalu meninggalkan Lucia yang masih terpaku di ruang makan.

...****************...

Terpopuler

Comments

Erika Darma Yunita

Erika Darma Yunita

tuh betulkan....Kevin mantannya lucia

2021-12-07

0

Atieh Natalia

Atieh Natalia

kan kan Kevin bapak nya Vivian mantan nya Lucia

2021-08-30

0

Yusneli Usman

Yusneli Usman

Waduh.....Al....Al...elu...mmg buaya pantang liat yg cantik lansung keot....hehehe jangan.. jangan si Kevin ayahnya si vinvin

2021-08-15

0

lihat semua
Episodes
1 Lucia Jayanti
2 Vinvin sakit.
3 Aldrich Mahendra.
4 cari pacar koki...
5 jadi ART?
6 Berpisah.
7 Pembantu baru.
8 Hari pertama bekerja.
9 Masih rindu.
10 Ada maling?
11 Salah tingkah.
12 Mang sayur.
13 Belanja.
14 gandengan tangan bikin deg-degan.
15 Saya keluar saja.
16 Rencana Luci.
17 Linglung.
18 Pertemuan.
19 Permintaan Luci.
20 Menjemput Vin-vin.
21 Kekesalan Aldrich.
22 Cerita Kevin.
23 Jatuh cinta
24 Rindu.
25 Gue sakit.
26 Jadian.
27 si raja omes
28 Panggil aku Al!
29 Perhatian yang meluluhkan hati.
30 Mulai menerima.
31 Percayalah padaku.
32 Terpesona.
33 Playboy insaf.
34 Kau harus bertanggungjawab!
35 Perjalanan panjang mencari kebenaran.
36 Bertemu Arina.
37 Chicken cordon bleu
38 Boleh ya?
39 Kembali pulang.
40 Membuka hati.
41 Demi cinta.
42 keputusan.
43 Bertemu kembali.
44 Kenyataan pahit.
45 Masa lalu Luci.
46 Kevin.
47 Kevin part 2
48 Aku Bahagia.
49 Ternyata Kevin...
50 Hujan malam itu.
51 Hilang tanpa jejak.
52 Dilema Aldrich.
53 Kevin yang tak menyerah.
54 Memang tak berjodoh.
55 Terlalu menyilaukan.
56 Terkuak.
57 pilihan sulit.
58 Kemarahan Kevin
59 Memutar waktu?
60 Rindu Papi.
61 Boby my man!
62 ikhlas...
63 Misi di lancarkan.
64 Mulai membuka hati.
65 first Time.
66 Raja dan Ratu sehari.
67 Kesayangan Papi dan Papa.
68 Luci cemburu.
69 kebahagiaan.
70 Aldrich gendut?"
71 Aldrich yang gundah.
72 Mulai Bekerja.
73 Aldrich yang cemburu.
74 Inilah yang terjadi.
75 Boby cemburu?
76 Cemburu bilang bos.
77 Akhirnya Boby...
78 jadi bintang tamu.
79 Kemunculan Tania.
80 Bertemu Tania.
81 Maksud terselubung Tania.
82 suami yang terlalu tampan.
83 Syarat dari Aldrich.
84 Tania mulai kesal.
85 Rencana busuk.
86 Kemarahan Luci.
87 Curahan hati author.
88 Menjemput Mama.
89 Kebahagiaan yang sempurna (end)
90 Bonchap 1
91 Bonchap 2
92 bonchap 3
93 karya baru
94 tahun baru karya baru.
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Lucia Jayanti
2
Vinvin sakit.
3
Aldrich Mahendra.
4
cari pacar koki...
5
jadi ART?
6
Berpisah.
7
Pembantu baru.
8
Hari pertama bekerja.
9
Masih rindu.
10
Ada maling?
11
Salah tingkah.
12
Mang sayur.
13
Belanja.
14
gandengan tangan bikin deg-degan.
15
Saya keluar saja.
16
Rencana Luci.
17
Linglung.
18
Pertemuan.
19
Permintaan Luci.
20
Menjemput Vin-vin.
21
Kekesalan Aldrich.
22
Cerita Kevin.
23
Jatuh cinta
24
Rindu.
25
Gue sakit.
26
Jadian.
27
si raja omes
28
Panggil aku Al!
29
Perhatian yang meluluhkan hati.
30
Mulai menerima.
31
Percayalah padaku.
32
Terpesona.
33
Playboy insaf.
34
Kau harus bertanggungjawab!
35
Perjalanan panjang mencari kebenaran.
36
Bertemu Arina.
37
Chicken cordon bleu
38
Boleh ya?
39
Kembali pulang.
40
Membuka hati.
41
Demi cinta.
42
keputusan.
43
Bertemu kembali.
44
Kenyataan pahit.
45
Masa lalu Luci.
46
Kevin.
47
Kevin part 2
48
Aku Bahagia.
49
Ternyata Kevin...
50
Hujan malam itu.
51
Hilang tanpa jejak.
52
Dilema Aldrich.
53
Kevin yang tak menyerah.
54
Memang tak berjodoh.
55
Terlalu menyilaukan.
56
Terkuak.
57
pilihan sulit.
58
Kemarahan Kevin
59
Memutar waktu?
60
Rindu Papi.
61
Boby my man!
62
ikhlas...
63
Misi di lancarkan.
64
Mulai membuka hati.
65
first Time.
66
Raja dan Ratu sehari.
67
Kesayangan Papi dan Papa.
68
Luci cemburu.
69
kebahagiaan.
70
Aldrich gendut?"
71
Aldrich yang gundah.
72
Mulai Bekerja.
73
Aldrich yang cemburu.
74
Inilah yang terjadi.
75
Boby cemburu?
76
Cemburu bilang bos.
77
Akhirnya Boby...
78
jadi bintang tamu.
79
Kemunculan Tania.
80
Bertemu Tania.
81
Maksud terselubung Tania.
82
suami yang terlalu tampan.
83
Syarat dari Aldrich.
84
Tania mulai kesal.
85
Rencana busuk.
86
Kemarahan Luci.
87
Curahan hati author.
88
Menjemput Mama.
89
Kebahagiaan yang sempurna (end)
90
Bonchap 1
91
Bonchap 2
92
bonchap 3
93
karya baru
94
tahun baru karya baru.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!