"Ke supermarket?" Luci terus bergumam sambil berganti baju. Dia sangat senang, seperti kembali menjadi anak kecil.
Entah sudah berapa lama dia tak pernah santai, jalan-jalan ke supermarket atau Mall. Selama ini dia terlalu sibuk dengan kehidupannya yang keras.
Entah kenapa, ajakan majikannya membuatnya begitu senang.
Setelah berganti baju, Luci langsung berlari kecil menuju majikanya yang sudah menantinya di dalam mobil.
Aldrich menyuruh luci untuk berganti baju, tapi dirinya sendiri tak melakukannya.
Ya memang, walaupun hanya memakai kaos dan celana pendek, Luci tidak bisa pungkiri kalau Tuan Aldrich tetap terlihat tampan.
"Duduk di depan! emangnya gue sopir!"
Yah, walaupun mulutnya tidak sesempurna wajahnya. Kadang-kadang dia memang sangat menyebalkan!
Tapi lebih baik begini kan? dari pada tiba-tiba dia bicara lembut? Luci malah jadi ketakutan.
Luci ingat kejadian semalam, di mana majikan tampannya itu duduk di atas meja makan dan ada seorang wanita berada di pangkuannya.
Untuk bisa menarik hati para wanita agar mau di ajak melakukan 'itu' pasti di butuhkan mulut manis dan rayuan maut.
Luci bergidik ngeri. Dia berharap majikannya ini terus bicara ketus padanya, agar Luci merasa tenang.
Luci asyik dengan pikirannya sendiri, sampai tak terasa mobil Aldrich sudah masuk ke dalam basement sebuah Mall.
Luci memekik riang dalam hati. Dia seperti anak kecil yang kegirangan karena di ajak jalan-jalan oleh orang tuanya.
"Ayo," Aldrich mengajak Luci keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam lift. Luci mengekorinya dengan langkah cepat setengah berlari.
"Sudah di catat apa saja yang mau di beli?" Tanya Aldrich sambil memandang Luci.
"Su-sudah Tuan."
Aldrich mengangguk, "Lo boleh beli perlengkapan buat Lo."
Luci terlihat berpikir.
"Sabun mandi, shampo, lotion atau apapun." Sambung Aldrich.
"Oh..." Luci mengangguk paham.
Aldrich tampak mendengus lalu mengambil smartphone nya dan mulai asyik bermain.
Saat pintu Lift terbuka, mata Luci langsung terbelalak, di sangat bahagia. Entah sudah berapa tahun dia tak pernah menginjakkan kaki di Mall. Luci terpesona dan terus melihat sekeliling karena sangat takjub dengan suasana yang sangat gemerlap.
"Jangan celingukan! kayak orang kampung aja!" Desis Aldrich.
Luci nyengir, "i-iya Tuan, maaf."
Aldrich masuk ke dalam supermarket sambil megambil sebuah troli belanjaan.
"Biar saya saja Tuan!" Luci buru-buru ingin merebut troli itu, tapi Aldrich dengan cepat mengelak.
"Sudah, Lo pilih apa yang mau di beli. Biar Gue yang dorong troli ini."
Luci mengangguk, tapi dia sedikit merasa penasaran dengan sikap majikannya itu. Dia kan lelaki! kok mau sih dorong-dorong troli belanja?
"Kita kemana dulu?" Aldrich memandang Luci yang masih melamun.
"Hey..." Aldrich mentoel pipi Luci hingga membuat Luci terkejut. Dia memandang Aldrich sambil mengusap pipinya.
"Ayo belanja! jangan melamun!" Ketusnya.
"I-iya Tuan." Masih dengan terkejut dan jantung yang berdebar-debar, Luci berjalan mendahului majikannya.
"Kenapa tuan Aldrich itu? kok tiba-tiba dia berani memegang pipiku?"
Luci berusaha mengenyahkan semua pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Tiba-tiba bayangan tentang tumpukan kond*m di laci membuat Luci bergidik ngeri.
"Tuan Aldrich nggak mungkin menganggap aku sebagai wanita kan? dia nggak mungkin memasukkan aku ke dalam daftar wanita yang ingin dia dapatkan kan? aku kan cuma pembantu!" batin Luci.
.
"Sudah semua?" Aldrich menatap belanjaan yang menggunung di troli.
"Se-sepertinya sudah semua Tuan."
"Lo, beli apa?"
Luci menggeleng, "Sa-saya tidak perlu."
"Ck!" Aldrich menarik lengan Luci dan mengajaknya ke lorong kecantikan dan meninggalkan troli belanjanya begitu saja.
"Ambillah apa saja yang Lo mau! sabun, lotion, bedak dan lipstik, semuanya!" Titah Aldrich.
"Tapi saya benar-benar nggak butuh semua itu." Luci berusaha menolak dengan halus pemberian majikannya. Dia takut, jika dia menerima semua ini, suatu saat majikannya akan meminta kembali dalam bentuk yang lain. Lagi-lagi Bulu kuduk Luci merinding.
"Cewe itu paling suka belanja kosmetik, Lo bukan cewek ya?" Aldrich berjalan sambil terus menarik lengan Luci.
"Sabun ini wanginya enak." Aldrich mengambil sebotol sabun mandi cair, "shampo ini juga wangi." lalu mengambil sebotol shampo, kemudian menyerahkan keduanya kepada Luci.
Setelah itu, dia kembali menarik Luci untuk mengikutinya, "pakai body lotion ini, biar kulitmu nggak kering!" Aldrich mengambil sebotol hand and body lotion dan kembali menyerahkannya ke Luci.
"Terus..."
"Su-sudah Tuan, ini sudah cukup." Luci memeluk botol-botol besar yang tadi di berikan oleh Aldrich. Aldrich mengambil semua yang berukuran jumbo untuk Luci. Mungkin Luci tidak bisa menghabiskannya dalam setahun.
Aldrich mengusap dagunya sambil menatap Luci, "wajahmu sedikit kering, kita harus beli pelembab."
"Ta-tapi..."
Aldrich tak menggubris penolakan Luci, dia kembali berjalan menuju stand kosmetik. Luci hanya bisa pasrah sambil mengikutinya.
"Tolong ambilkan pelembab, dan loose powder."
Aldrich menoleh ke arah Luci yang berdiri di sampingnya, "Lo harus pakai loose powder, ini lebih ringan dari pada yang berbentuk padat."
Aldrich mengambil sampel lipstik lalu melihat-lihat warnanya. "Saya mau lipstik warna ini juga, satu."
"Tu-tuan.. saya nggak butuh lipstik. Saya nggak pernah pakai itu semua." Bisik Luci.
"Kalau Lo masih muda mungkin nggak apa, tapi sekarang umur Lo sudah 27. Lo harus mulai perhatian sama wajah Lo, atau Lo akan terlihat lebih tua dari umur Lo!" Aldrich bicara tanpa memandang Luci, dia sedang asyik memilih-milih warna lipstik yang cocok di bibir Luci. kadang dia bahkan sampai tersenyum sendiri. Luci terus memandang dengan heran padanya.
"Mba, saya mau lipbalm saja! lipstiknya nggak usah." Ucap Luci.
Aldrich menatap Luci, "bener juga, Lo juga harus pakai pelembab bibir supaya bibir Lo..." Aldrich terdiam, ada sedikit semburat merah di pipinya. Buru-buru dia menoleh kepada pelayan dan meminta lipstik yang telah di pilihnya dan sebuah lipbalm seperti permintaan Luci.
"Ayo!" Aldrich langsung berjalan mendahului Luci yang masih tampak bingung dengan sikapnya.
Aldrich mendekati troli belanjaan yang tadi di tinggalkannya begitu saja lalu mendorongnya menuju kasir.
Setelah selesai membayar, lagi-lagi Aldrich merebut troli dan mendorongnya menuju basement. Luci sampai merasa tak enak hati dengan perlakuan majikannya ini.
Ternyata walau bicaranya kadang ketus, sikapnya benar-benar seperti lelaki sejati. Dia sama sekali nggak mengijinkan Luci membawa kantong belanjaan yang berat, semua di lakukan sendiri olehnya. Padahal Luci adalah pembantunya.
"Ayo masuk." Ajak Aldrich, ketika semua kantong belanjaan telah masuk ke dalam bagasi.
"Oh iya, gue belum punya nomer HP Lo," Aldrich meraih ponselnya, "berapa?" tanyanya lagi.
"Saya nggak punya HP, tuan."
Aldrich memandang Luci dengan heran. "HP jadul pun nggak punya? yang cuma bisa buat telpon dan SMS?"
Luci menggeleng sambil tersenyum. Ya, buat apa dia punya HP? nggak ada seorang pun yang ingin dia hubungi.
"Oh my God! Lo hidup dari jaman purba ya? hari gini nggak punya HP?!"
Luci hanya tersenyum kecut.
"Ayo!" Lagi-lagi Aldrich menarik lengan Luci.
"Kemana Tuan?"
"Beli HP buat Lo!"
"Nggak usah Tuan! beneran saya nggak butuh!"
"Tapi gue butuh! kalau sewaktu-waktu gue mau telpon Lo, bagaimana?"
Luci terdiam. Kenapa majikannya begitu aneh, hari ini. Dia sangat baik membelikan Luci bermacam-macam barang bahkan akan membelikan sebuah ponsel untuknya. Luci makin merasa takut. Jangan-jangan majikannya punya niat terselubung padanya.
"Vin-vin, lindungi Mama..." batin Luci.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Atieh Natalia
hati2 luci sang Casanova lg modus itu
2021-08-30
1
Lutha Novhia
aku mau jg donk jd pembokat aldrich
kayanya ngdadak jd sultan 😂😂
2021-07-23
0
sami
awas luci jgn sampe tergoda 😂😂
2021-07-08
0