Setelah selesai membersihkan setiap sudut ruang di lantai satu, Luci berjalan menaiki tangga dan menuju kamar Aldrich. Dia ingin membersihkan ruang tidur majikannya itu.
"Setelah membersihkan kamar ini, aku akan kembali bersih-bersih kamarku." Luci memang belum selesai membereskan kamarnya, karena waktu sudah semakin siang dan dia takut tak bisa menyediakan makan siang tepat waktu, dia menghentikan sejenak kegiatan beberes kamarnya.
Saat Luci membuka kamar majikannya, matanya langsung tertuju pada foto besar yang tergantung di dinding tepat di atas ranjang king size milik Aldrich.
Luci menatapnya lama dan baru sadar kalau majikannya itu sangat tampan.
"Sudah ganteng, sukses, kenapa nggak buru-buru menikah aja ya?" gumam Luci sambil mulai menyalakan vacuum cleaner.
Dia membersihkan setiap sudut dari ruang tidur Aldrich, kemudian membereskan ranjangnya yang berantakan dan melipat selimut tebal yang tergulung begitu saja.
Luci mengambil lap, dan mulai menggosok2 semua perabot yang sudah sedikit berdebu.
Saat sedang membersihkan meja kecil di samping ranjang, tak sengaja Luci membuka laci kecil dan terkejut karena melihat begitu banyak kond*m teronggok di dalamnya.
Buru-buru Luci menutup laci itu.
Jantungnya berdebar kencang. Dia tau barang apa itu tadi, dulu Kevin pernah ingin memakainya, tapi Luci tak mau karena dia takut, dia ingat betul dengan benda elastis yang seperti balon itu. Lucia bergidik ngeri.
Buru-buru dia keluar dari kamar majikannya.
"A... aku harus hati-hati sama Tuan Aldrich, kayaknya dia mata keranjang! Lelaki macam apa yang punya begitu banyak kond*m di laci mejanya. Memangnya dia mau bertarung berapa kali dalam sehari?! hiihh!" Lucia mengangkat pundaknya, ngeri membayangkan majikannya yang ternyata seorang pemangsa wanita, tadinya Luci pikir, Aldrich adalah lelaki baik dan sopan.
Setelah makan, lalu memasukkan sisa sup ke dalam kulkas, dan membersihkan meja makan, Luci berjalan kembali menuju kamarnya yang masih sedikit berantakan. Dia harus segera menyelesaikan beberes kamarnya, karena hari sudah semakin sore. Dia takut tak selesai sampai malam tiba, lalu harus tidur di antara tumpukan barang-barang rongsok.
Setelah semua beres, barulah Luci dapat bernapas lega. Dia memandang jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Karena badannya sangat berkeringat, dia memutuskan untuk mandi.
Dia harus mandi di kamar mandi yang ada di dapur, karena tak ada Aldrich, dia bisa santai. Tapi besok hari saat majikannya ada di rumah, dia tak boleh sesantai ini. Dia tak boleh mandi saat majikannya ada di rumah, ingatan Luci kembali ke tumpukan kond*m yang ada di laci meja Aldrich dan dia kembali bergidik ngeri.
"Jangan sampai aku membahayakan diriku sendiri, semua lelaki pasti sama saja." gumam Luci sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Luci mengenakan daster yang biasa dia gunakan untuk tidur. Daster yang lebih santai, panjangnya hanya sebatas lutut dan tanpa lengan yang nyaman untuk tidur.
Sebenarnya pakaian yang selalu dia pakai saat siang itu sangat panas dan menyiksa. Tapi dia harus memakai baju-baju yang kebesaran dan daster-daster ala emak-emak, agar majikannya tidak tertarik padanya.
Luci sengaja melakukan itu, dari dulu, bukan hanya karena majikannya saja, tapi dia ingin di jauhi oleh semua lelaki. Dia tidak ingin berpenampilan cantik dan tidak berharap ada lelaki yang tertarik padanya.
Dia tidak ada waktu untuk cinta. Prioritas hidupnya sekarang hanya Vin-vin, tak ada yang lain!
"Baru jam 8 ya?" Lucia bermonolog.
Lalu dia berjalan menuju pintu utama dan menguncinya. Kemudian dia memeriksa jendela-jendela agar tidak ada yang terlewat, siapa tahu ada yang belum tertutup rapat dan belum terkunci. Setelah semua di rasa aman, Lucia tersenyum puas dan berjalan menuju kamarnya. Dia ingin istirahat, badannya sungguh terasa lelah. Tapi dia bahagia karena telah berhasil menyelesaikan tugasnya hari ini dengan baik.
Luci menata kasurnya, dan merebahkan badannya di sana. Dia berpikir apa yang harus dia lakukan untuk besok hari.
Hari ini majikannya memberi uang yang sangat banyak dan dia bilang itu jatah satu hari, Lucia berdecih, "lima ratus ribu untuk makan satu hari? luar biasa, padahal buatku seratus ribu bisa untuk satu Minggu. Dunia sungguh tak adil." Lirih Luci sambil tersenyum kecut.
Karena di beri uang yang sangat banyak, Luci membeli bermacam-macam sayur, daging, ayam dan ikan. Dia sengaja membeli banyak dan menyimpannya di kulkas agar tak bingung jika sewaktu-waktu, majikannya ingin makan. Dia ingat saat pertama datang ke rumah ini, Aldrich menyuruhnya memasak dan tak ada bahan makan di dalam kulkas.
Ya, Luci maklum, karena majikannya adalah seorang lelaki yang tinggal seorang diri.
Tiba-tiba Luci teringat kata-kata Aldrich, dia menyebut Kevin dengan sebutan 'abang'. Apakah mungkin Aldrich adalah adik Kevin?
Lucia langsung menggelengkan kepalanya, dia ingat betul kalau Kevin dulu pernah bercerita jika dirinya adalah anak tunggal. Jadi Aldrich tidak mungkin adalah adik Kevin.
Lucia menghela napas lega.
"Sudahlah, aku tidur saja! besok aku harus bangun lebih awal. Aku harus mencabuti rumput di halaman depan yang sudah sangat banyak!"
...***...
Klontang.
Krompyang.
Lucia kaget dan matanya langsung terbelalak. Jantungnya berdebar kencang saat mendengar suara-suara dari dalam rumah majikannya.
Dia melirik jam di dinding, dan terhenyak karena sekarang ternyata baru jam 12 malam.
"Tuan Aldrich bilang, dia tidak akan pulang, apa mungkin ada maling?"
Luci bangun dari tidurnya, jantungnya berdebar kencang. Dia takut.
"Apa yang harus aku lakukan?!" gumamnya.
"Masa baru bekerja satu hari, rumah majikan aku, kemalingan?! bagaimana ini???"
Prang!!
"Bunyi apa itu? ada gelas jatuh? aduuh bagaimana ini?" Lucia masih sibuk dengan ketakutannya.
Akhirnya dia membulatkan tekad untuk keluar dari kamarnya, dia mengambil tongkat baseball yang ada di pojok kamarnya sebagai senjata.
Dengan perlahan dia memutar kenop pintu belakang yang ternyata tidak terkunci.
Luci merutuki dirinya sendiri, mungkinkah tadi dia lupa mengunci pintu belakang, sehingga ada maling yang bisa masuk?
Kalau benar begitu, berarti ini semua memang kesalahan Luci, dia harus bertanggung jawab.
Dia ingat majikannya tadi siang, bolak balik mengingatkan dirinya untuk mengunci semua pintu dan jangan ada yang terlewat, ternyata pintu dapur benar-benar terlewat dan tidak terkunci.
Dengan jantung yang berdebar hebat, dan mengumpulkan seluruh keberanian, Luci mengangkat tongkat Baseball nya, dia membuka pintu dapur perlahan agar tak menimbulkan bunyi yang membuat si maling sadar akan kehadirannya.
Setelah pintu terbuka, karena suasana sangat gelap, Luci meraih saklar lampu dan menyalakan lampu dapur sambil berteriak, "Pergi kau! Maling!!!"
Tapi saat lampu menyala, bukannya maling yang nampak, melainkan majikannya sendiri.
Aldrich, -majikan Luci yang tampan-, sedang terlentang di atas meja makan, bertelanjang dada, dan ada seorang wanita cantik, setengah telanjang dan hanya menutupi bagian atasnya dengan bra berwarna hitam, berada di atasnya.
Wajah Luci langsung merah padam Semerah buah tomat. "Ma.. ma.. maafkan saya!" Teriak Luci kalut.
Apalagi Aldrich menatapnya dengan wajah yang sangat terkejut, dia bahkan terbangun dan memandanginya sambil masih duduk di atas meja makan.
Merasa sangat tak enak hati, Luci langsung menundukkan kepala. "Sa, saya.. saya permisi!" Buru-buru Luci pergi dan menutup kembali pintu dapur dan berlari menuju kamarnya.
Luci langsung menghempaskan tubuhnya di kasur sambil memukuli dadanya. "Ya ampuun... apa yang sedang dia lakukan? kenapa harus melakukan itu di dapur! kenapa dia tak pergi ke kamarnya saja! aduuhh.. bagaimana ini!!!"
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Agna
astaghfirullahal adziim... Al...???
2022-10-14
0
Erika Darma Yunita
haduhhhh kacauuuu......hancur dah nama baik Lo Al......lagian main di dapur...dasar tak berakhlak 😀
2021-12-07
1
Atieh Natalia
sumpah ya Casanova ga ada akhlak masa main d dapur
2021-08-30
0