Berpisah.

Lucia berjalan dengan gontai, dia sangat tidak bersemangat. Beberapa waktu yang lalu dia merasa sangat bahagia karena mendapat kabar tentang kesempatan bekerja, tapi sejurus kemudian dia sedih dan bingung.

"Bagaimana ini? apakah aku tolak saja pekerjaan di rumah besar itu?" batin Lucia.

# Flashback on.

Aldrich mengangguk puas, "Oke, gue terima Lo, kerja di sini. Mulai besok, lo pindah ke rumah ini. Lo bisa pakai kamar yang ada di luar itu, dan tidur di sana."

Lucia kaget, antara senang dan bingung.

"Sa, saya harus tidur di sini?"

"Iya lah, bagaimana kalau gue ingin makan malam-malam dan Lo nggak ada? percuma gue bayar ART!"

Lucia terdiam, lalu bagaimana dengan Vinvin?

"Kenapa? Lo, nggak mau? atau suami Lo nggak ijinin?"

"Sa, saya belum menikah. Tapi,"

"Terus apa? siapa yang membuatmu berpikir dua kali untuk menginap di sini? pacar?"

Aldrich menatap Lucia dengan intens, membuat Lucia makin gugup.

"Sa, saya tidak punya pacar. Tapi, tapi..."

"Ya sudah! tapi, tapi apa sih!" Aldrich makin kesal, dia bahkan sampai memukul meja makannya dan membuat Lucia tersentak kaget.

"Gue paling nggak suka orang yang ribet! kalau Lo, lebih berat ke suami atau pacar Lo, Lo boleh nggak usah kerja di sini. Gue nggak suka kalau nanti harus berurusan dengan pacar-pacar Lo. Di dunia ini, ada dua hal yang paling gue nggak suka!" Aldrich menunjukkan dua jarinya ke atas.

"Satu," dia melipat jari telunjuknya, "Cowok! gue paling nggak suka! karena gue lebih suka cewek." Aldrich nyengir.

"Dua," kali ini dia melipat jari tengahnya, "anak kecil! gue nggak suka! mereka terlalu berisik! rewel! dan membuatku sakit kepala!"

Lucia langsung lemas, padahal dia berniat untuk bicara pada calon majikannya ini, agar bisa membawa anaknya ikut serta.

"Kalau begitu, saya sepertinya tidak..."

"Gue bayar Lo, 3juta perbulan!" Aldrich melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah Lucia.

Tiga juta? itu uang yang sangat banyak! bahkan jika Lucia menyetrika siang dan malam tanpa tidur, dia tak akan bisa mendapatkan separuh dari uang sebanyak itu.

Lucia menelan ludahnya, bingung.

"Gue kasih Lo, waktu, 3hari buat beresin urusan di rumah Lo! setelah itu datanglah dan mulai bekerja di sini!" Lalu Aldrich beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Lucia yang masih mematung.

# Flashback off.

Lucia kembali menarik napas dengan berat.

Dia terus berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sekeras apapun dia berpikir, dia tak bisa menemukan jalan keluar untuk masalahnya ini.

Dia ingin sekali bekerja di sana, tiga juta per bulan bukanlah uang yang sedikit untuknya. Jika dia bisa mengumpulkan uang itu selama satu tahun saja, dia bisa mengontrak sebuah rumah dan membuka warung nasi impiannya, dan hidup bahagia bersama putrinya.

Tapi, kalau harus meninggalkan Vinvin, untuk apa dia bekerja di rumah itu.

Lucia memegang kepalanya, frustasi. Ini seperti buah simalakama!

Luci menggelengkan kepalanya, "aku tidak akan meninggalkan Vinvin! lebih baik aku mencari pekerjaan di tempat lain!" bisik Luci pada dirinya sendiri. Dia sudah membulatkan tekad.

.

"Bagaimana Luci? kamu di terima?" Ibu kost yang melihat Luci datang, langsung bertanya. Dia sedang menjemur baju-baju laundry-an, dan Vivin duduk di sebelahnya dengan tenang.

Saat mendengar Ibu kost menyebut nama Mamanya, Vinvin langsung mendongak dan beranjak dari duduknya untuk mendekati Lucia dan memeluknya.

Lucia tersenyum lalu membalas pelukan putrinya sambil menciumi kedua pipi Vinvin dengan gemas.

"Sepertinya, saya akan menolak pekerjaan itu, Bu." desah Lucia.

"Kenapa?" Ibu kost menatap Luci, dia bahkan sampai menghentikan kegiatannya, menjemur baju.

Luci membopong anak perempuannya lalu mendekati Ibu kost, "pemilik rumah itu menginginkan saya tinggal di rumahnya."

"Jadi ART memang kebanyakan seperti itu, lalu masalahnya di mana?"

"Dia tidak suka anak kecil, Saya tidak bisa membawa Vinvin. Lebih baik saya tolak saja pekerjaan itu." Luci memeluk anaknya dengan erat. Membayangkan harus berpisah dengan Vinvin, dia merasa sangat sedih.

Ibu kost terlihat berpikir sejenak.

"Saya, sebenarnya nggak keberatan kalau Vinvin tetap di sini, tapi saya juga nggak bisa janji menjaga dia dengan baik." Ucap Ibu kost.

"Nggak Bu, Saya nggak mungkin merepotkan Ibu, saya sudah banyak merepotkan dari dulu." Lucia langsung menggelengkan kepalanya, tak enak hati.

"Oh iya!" Ibu kost terlihat gembira, "Vinvin masukin pondok aja, di kampung sebelah ada sebuah pondok, di sana juga banyak anak seumuran Vinvin. Vinvin bisa bersekolah dan punya banyak teman di sana!"

Lucia terdiam lalu menatap anak perempuannya yang ternyata sedang menatapnya.

"Bukannya Vinvin masih terlalu kecil ya? memangnya di sana mau menerima anak sekecil ini?"

"Coba saja kamu kesana dan tanyakan Untuk lebih jelasnya."

Lucia tersenyum, lalu berpamitan pada Ibu kost untuk kembali ke kamar. Dia sangat lelah dan ingin istrihat sambil berpikir lagi.

"Vinvin mau sekolah, Ma?" tanya Vinvin sambil menatap Luci yang tampak bingung.

Luci duduk di sebelah putrinya dan berkata, "besok kita coba ke pondok yang Ibu kost tadi bilang, kalau Vinvin suka, Vinvin bisa sekolah di sana."

"Yeeay.. Vinvin sekolah!" Vinvin melonjak girang.

"Tapi," Lucia terdiam sebentar lalu menarik anaknya agar duduk tenang di dekatnya, "Vinvin harus tidur di sana bersama teman-teman, tapi Mama janji, sebulan sekali, Mama akan jenguk Vinvin. Vinvin berani nggak?"

Vinvin terdiam, dia terlihat berpikir. "Mama, mau meninggalkan Vinvin?" tanyanya polos.

"Bukan sayang, bukan meninggalkan. Vinvin kan sekolah, di sana Vinvin bisa punya banyak teman, tidurnya juga bareng dengan teman-teman, ramai. Tapi Mama nggak boleh ikut, karena itu Khusus untuk anak-anak."

Vinvin mengangguk-angguk, entah dia mengerti atau tidak.

Lucia pun tampak tidak yakin dengan keputusannya.

"Besok kita kesana dan lihat-lihat dulu ya."

Vinvin tersenyum lalu memeluk Mamanya.

...***...

Esoknya, pagi-pagi sekitar jam 9, Lucia mengajak Vinvin ke pondok/ sekolah asrama yang di sebutkan Ibu kost.

Saat melihat bangunan yang terlihat sedikit kumuh, Lucia jadi sangsi akan menitipkan Vinvin di sana.

Tapi saat memasuki gerbang dan melihat banyak anak-anak seumuran Vinvin bermain dengan riang, hati Luci sedikit tenang.

"Itu banyak teman-teman sedang bermain, Vinvin nggak mau ikut?" tanya Luci pada Vinvin yang terlihat senang dan terus memandangi anak-anak yang asyik bermain.

"Boleh, Ma? boleh Vinvin ikut main di sana?"

Lucia mengangguk, Vinvin pun tersenyum riang dan berlari untuk bergabung bersama teman-teman yang belum di kenalnya.

Setelah melihat putrinya bisa berbaur dengan anak-anak lain, Lucia tersenyum senang, lalu berjalan menuju ruang kepala Pondok untuk mendaftarkan Vinvin.

Sebelum berangkat ke pondok, dia menyempatkan diri pergi ke pasar untuk menjual cincin pemberian Ayah Vinvin. Barang berharga itu dia simpan begitu lama, sebenarnya dia tak ingin menjual benda kenangan tersebut, tapi semua ini demi Vinvin. Saat ini, Vinvin lah prioritas utama untuk Lucia. Benda kenangan itu biarlah menjadi kenangan, toh si empunya tak akan pernah muncul lagi! dia sudah meninggalkan Lucia dan Vinvin bertahun-tahun yang lalu.

Setelah membayar biaya administrasi dan biaya sekolah, yang untungnya cukup dengan uang hasil menjual cincin, Lucia menemui kembali putri kecilnya yang masih asyik bermain. Saat melihat Mamanya mendekat, Vinvin langsung berlari dan memeluk Luci.

"Mama, Vinvin suka banget di sini. Vinvin mau sekolah di sini!" Ucapnya riang.

Lucia tersenyum, "iya, Vinvin sekolah yang pintar ya? Mama akan jenguk Vinvin sebulan sekali. Nggak apa-apa kan sayang?"

"Iya Ma, nggak apa-apa."

Luci menatap anaknya, ada perasaan berat membebani hatinya. Sejak Vinvin masih bayi hingga sebesar ini, Luci tidak pernah jauh darinya. Bagaimana dia bisa bertahan selama sebulan tanpa melihat putri cantiknya ini.

Lucia berjongkok agar bisa memeluk putrinya, dia mencoba menutupi perasaan sedihnya, karena dia takut Vinvin juga akan sedih. Yang bisa Luci lakukan hanya memeluk anaknya dengan erat.

"Mama janji, Mama akan sering ke sini untuk menjenguk Vinvin."

Vinvin mengangguk, "nggak apa-apa Mama, Vinvin suka kok di sini. Mama bekerja yang rajin ya!"

Air mata lolos begitu saja, keluar dan mengalir di pipi Luci.

Vinvin dengan cepat mengusapnya dengan jemari mungilnya.

"Mama jangan nangis dong, malu." Ucapnya sambil tersenyum.

Luci kembali memeluk anaknya, "maafkan Mama ya sayang, Mama janji akan jemput Vinvin dan kita akan tinggal bersama lagi. Mama akan bekerja keras mengumpulkan uang yang banyak."

"Iya Mama." Vinvin melingkarkan tangan mungilnya untuk memeluk Lucia yang sedang menangis. Dia menepuk-nepuk punggung mamanya, menenangkannya seperti orang dewasa saja.

...****************...

Vincia (Vin-vin)

Terpopuler

Comments

Sri Wahyuni

Sri Wahyuni

mungkin s kevin bpk y s vin2

2023-02-22

1

🇪rna_Wibowo

🇪rna_Wibowo

mewek 😭😭😭

2022-04-28

0

Susanti

Susanti

siapa yang naroh bawang di sini thour hiks 😭😭😭

2022-02-27

0

lihat semua
Episodes
1 Lucia Jayanti
2 Vinvin sakit.
3 Aldrich Mahendra.
4 cari pacar koki...
5 jadi ART?
6 Berpisah.
7 Pembantu baru.
8 Hari pertama bekerja.
9 Masih rindu.
10 Ada maling?
11 Salah tingkah.
12 Mang sayur.
13 Belanja.
14 gandengan tangan bikin deg-degan.
15 Saya keluar saja.
16 Rencana Luci.
17 Linglung.
18 Pertemuan.
19 Permintaan Luci.
20 Menjemput Vin-vin.
21 Kekesalan Aldrich.
22 Cerita Kevin.
23 Jatuh cinta
24 Rindu.
25 Gue sakit.
26 Jadian.
27 si raja omes
28 Panggil aku Al!
29 Perhatian yang meluluhkan hati.
30 Mulai menerima.
31 Percayalah padaku.
32 Terpesona.
33 Playboy insaf.
34 Kau harus bertanggungjawab!
35 Perjalanan panjang mencari kebenaran.
36 Bertemu Arina.
37 Chicken cordon bleu
38 Boleh ya?
39 Kembali pulang.
40 Membuka hati.
41 Demi cinta.
42 keputusan.
43 Bertemu kembali.
44 Kenyataan pahit.
45 Masa lalu Luci.
46 Kevin.
47 Kevin part 2
48 Aku Bahagia.
49 Ternyata Kevin...
50 Hujan malam itu.
51 Hilang tanpa jejak.
52 Dilema Aldrich.
53 Kevin yang tak menyerah.
54 Memang tak berjodoh.
55 Terlalu menyilaukan.
56 Terkuak.
57 pilihan sulit.
58 Kemarahan Kevin
59 Memutar waktu?
60 Rindu Papi.
61 Boby my man!
62 ikhlas...
63 Misi di lancarkan.
64 Mulai membuka hati.
65 first Time.
66 Raja dan Ratu sehari.
67 Kesayangan Papi dan Papa.
68 Luci cemburu.
69 kebahagiaan.
70 Aldrich gendut?"
71 Aldrich yang gundah.
72 Mulai Bekerja.
73 Aldrich yang cemburu.
74 Inilah yang terjadi.
75 Boby cemburu?
76 Cemburu bilang bos.
77 Akhirnya Boby...
78 jadi bintang tamu.
79 Kemunculan Tania.
80 Bertemu Tania.
81 Maksud terselubung Tania.
82 suami yang terlalu tampan.
83 Syarat dari Aldrich.
84 Tania mulai kesal.
85 Rencana busuk.
86 Kemarahan Luci.
87 Curahan hati author.
88 Menjemput Mama.
89 Kebahagiaan yang sempurna (end)
90 Bonchap 1
91 Bonchap 2
92 bonchap 3
93 karya baru
94 tahun baru karya baru.
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Lucia Jayanti
2
Vinvin sakit.
3
Aldrich Mahendra.
4
cari pacar koki...
5
jadi ART?
6
Berpisah.
7
Pembantu baru.
8
Hari pertama bekerja.
9
Masih rindu.
10
Ada maling?
11
Salah tingkah.
12
Mang sayur.
13
Belanja.
14
gandengan tangan bikin deg-degan.
15
Saya keluar saja.
16
Rencana Luci.
17
Linglung.
18
Pertemuan.
19
Permintaan Luci.
20
Menjemput Vin-vin.
21
Kekesalan Aldrich.
22
Cerita Kevin.
23
Jatuh cinta
24
Rindu.
25
Gue sakit.
26
Jadian.
27
si raja omes
28
Panggil aku Al!
29
Perhatian yang meluluhkan hati.
30
Mulai menerima.
31
Percayalah padaku.
32
Terpesona.
33
Playboy insaf.
34
Kau harus bertanggungjawab!
35
Perjalanan panjang mencari kebenaran.
36
Bertemu Arina.
37
Chicken cordon bleu
38
Boleh ya?
39
Kembali pulang.
40
Membuka hati.
41
Demi cinta.
42
keputusan.
43
Bertemu kembali.
44
Kenyataan pahit.
45
Masa lalu Luci.
46
Kevin.
47
Kevin part 2
48
Aku Bahagia.
49
Ternyata Kevin...
50
Hujan malam itu.
51
Hilang tanpa jejak.
52
Dilema Aldrich.
53
Kevin yang tak menyerah.
54
Memang tak berjodoh.
55
Terlalu menyilaukan.
56
Terkuak.
57
pilihan sulit.
58
Kemarahan Kevin
59
Memutar waktu?
60
Rindu Papi.
61
Boby my man!
62
ikhlas...
63
Misi di lancarkan.
64
Mulai membuka hati.
65
first Time.
66
Raja dan Ratu sehari.
67
Kesayangan Papi dan Papa.
68
Luci cemburu.
69
kebahagiaan.
70
Aldrich gendut?"
71
Aldrich yang gundah.
72
Mulai Bekerja.
73
Aldrich yang cemburu.
74
Inilah yang terjadi.
75
Boby cemburu?
76
Cemburu bilang bos.
77
Akhirnya Boby...
78
jadi bintang tamu.
79
Kemunculan Tania.
80
Bertemu Tania.
81
Maksud terselubung Tania.
82
suami yang terlalu tampan.
83
Syarat dari Aldrich.
84
Tania mulai kesal.
85
Rencana busuk.
86
Kemarahan Luci.
87
Curahan hati author.
88
Menjemput Mama.
89
Kebahagiaan yang sempurna (end)
90
Bonchap 1
91
Bonchap 2
92
bonchap 3
93
karya baru
94
tahun baru karya baru.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!