sebuah rasa

Ada beberapa kali Sebastian melanggar ucapannya sendiri.

Improvisasi, judulnya.

Terkadang dibutuhkan dalam bisnis untuk hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Yang namanya manusia, rencana yang disusun tidak bisa sempurna seratus persen, tetap saja keinginan Tuhan yang Absolut. Ia yang mengerti kebutuhan hambaNya.

Seperti saat ini...

Sekeras apa pun Sebastian menahan dirinya untuk tidak merengkuh wanita ini, ia jatuh juga.

Asal jatuhnya tidak keras dan masih bisa ia kendalikan, dan luka yang diderita akibat jatuh tidak terlalu sakit, hal itu masih bisa ia toleransi.

Namun Milady... Adalah wanita yang berbahaya.

Bagi dirinya.

Bagi hatinya.

Selemah itukah ia terhadap...cinta?

Yah, Sebastian juga baru tahu.

Ia baru kali ini tergila-gila kepada orang lain.

Dalam hidupnya, ia 'jatuh cinta' beberapa kali.

Pertama, saat ia melihat adiknya. Jatuh cinta seorang kakak terhadap adiknya. Dan perasaan ingin melindungi adiknya muncul dengan kuat. Ia sangat memanjakan Meilinda dan protektif.

Kedua, saat ia SMA, dengan guru SMAnya. Jatuh cinta seorang anak ingusan terhadap wanita muda. Namun setelah ditinggal menikah, ia bisa merelakannya dengan belajar lebih keras.

Yang ketiga saat melihat anaknya, tertawa dalam gendongannya. Saat itu Sebastian rela menukarnya dengan apapun agar anaknya selalu bahagia.

Dan yang terakhir...

Sebagai seorang pria dewasa dengan wanita tercantik yang bisa ia temukan dalam hidupnya.

Dan itu bermakna keintiman, kebutuhan biologis, dan rasa ingin memiliki yang begitu besar.

Tubuh wanita ini rasanya tidak beda dengan dulu...

Tetap ringkih dan...

Sangat lembut.

Sangat rapuh.

Sampai-sampai Sebastian berusaha keras mengatur kekuatannya agar rengkuhannya tidak menyakiti Milady.

Tapi bagaimanna caranya...

Ia sudah menyerah dengan pertahanannya untuk tidak menyesap wangi Milady dalam-dalam dari leher wanita itu.

Lekukan pinggang dan pinggul wanita itu yang ia telusuri perlahan dengan tangannya.

Punggungnya dengan susunan tulang yang menurut Sebastian terlalu menonjol.

Adakah daging di tubuh ini?!

Kenapa terasa seperti memeluk selembar kain?!

Sementara tangisan Milady di dadanya terasa lebih menyesakkan lagi.

Siapa yang sudah menyakiti dambaan hatinya ini?!

Perlukah Sebastian membunuhnya?

Mereka berposisi seperti itu sekitar 10 menit...

10 menit yang akan selalu diingat Sebastian sampai akhir hayatnya. Yang terasa terlalu sebentar, yang Sebastian harapkan waktu akan berhenti untuk mereka. Meninggalkan semua prinsip dan etika yang ia pegang selama ini, tanpa aturan tanpa norma, tanda kesombongannya untuk mengatur orang lain sesuai keinginannya.

Waktu yang disediakan untuk hasratnya sebagai manusia biasa...

Tanpa orang lain...

Hanya ada Ia dan Milady.

Jantungnya berdetak cepat.

Semua bagian tubuhnya merespon, menerima dekapan tubuh Milady.

Tekstur tubuh wanita ini, kenapa terasa begitu pas di pelukannya. Seakan memang diciptakan khusus untuknya.

Seakan memang dicetak pada satu wujud, namun saat telah jadi sempurna, dipotong dan dijatuhkan terpisah.

"Aku..." isak Milady. Tidak keras, lebih seperti berbisik, namun dapat didengar Sebastian.

"...Aku dicium orang lain..." lanjutnya.

Sebastian menarik napas panjang.

Lalu terdengar suara tawa Milady yang terasa putus asa.

"Bodohnya aku..." desis Milady. "Apa pula hubungannya sama kamu..." ia mulai menjauhkan dirinya.

Namun Sebastian tidak bergeming. Pria itu belum puas hanya dengan penjelasan satu kalimat saja.

Dan lagi, ia belum puas merasakan tubuh Milady dalam sentuhan intim seperti ini.

"Jelaskan." gumam pria itu, menekan Milady.

"Untuk apa?"

"Agar kamu lega..."

"Apa gunanya saat aku sudah lega?"

"Kesehatan kamu juga termasuk dalam prioritasku. Tampaknya mencurahkan hati bisa membuat kamu lebih lega."

"Teori bapak-bapak yah..." desis Milady.

"Ceritakan saja. Aku mendengarkan..."

"Kamu tidak ada pekerjaan selain..."

Dan ponsel Sebastian bergetar.

Di atas meja, dengan nama Prime Minister for Xx

(Xx adalah negara yang sengaja Author samarkan demi kepentingan sensor)

"Kamu ngga angkat?" desis Milady.

Baginya urusan Milady lebih penting daripada kestabilan ekonomi negara lain.

"Nanti juga mati sendiri."

"Apanya? Mati sendiri itu dering ponselnya atau rekan bisnis kamu."

Sebastian mengernyit.

Bagaimana Milady tahu isi hatinya?

"Ngga usah berbicara terlalu gamblang." desis Sebastian.

Milady bergidik.

Ia sudah mengucapkan sesuatu yang berbahaya.

Ia sadar kalau ia salah ucap.

Salah ucap untuk sesuatu yang seharusnya benar-benar disembunyikan.

Apa memang akan ada seseorang yang mati kalau Sebastian tidak mengangkat telepon?!

"Aku angkat, tapi kamu jangan kemana-mana dan setelah itu harus cerita." Sebastian menyusuri leher Milady dan mengangkat kepala Milady agar kepala wanita itu menengadah, menatapnya.

"Aku tunggu sambil makan." sahut Milady.

Dan pelukan mereka terlepas.

Disertai desahan kecewa Milady.

"Sebaiknya ini benar-benar penting..." geram Sebastian saat mengangkat telepon dengan bahasa inggris.

"Bukan, ini bukan jalur aman. Kecuali kamu mau membicarakan tokoh komik." sahut Sebastian ke lawan bicaranya.

Milady melahap satu suap teracota sambil memperhatikan Sebastian.

"Yang kemarin itu bantuan terakhir dari saya, kamu sudah dengar sendiri. Saya tidak ada rencana menemui phantomason saat ini." Kata Sebastian sambil mondar-mandir.

Milady melahap cake kedua.

"Oh... Kalau begitu kamu boleh ajukan kontrak baru. Sesuai perjanjian awal, bisnis keras untuk pertaruhan nyawa ada harga sendiri... Berapa harganya? Mungkin seharga nyawa kamu." terlihat senyum licik Sebastian dari sudut bibirnya.

"Oh...masih berharap saya bercanda. Saya sudah peringatkan kamu secara gratis, kalau tidak percaya ya bukan urusan saya. Silahkan saja hibur diri kamu sendiri..."

Lalu Sebastian menutup teleponnya.

Milady menghabiskan cake ketiga.

Sebastian tampak menghubungi seseorang lagi, lalu berbicara dengan bahasa Rumania. Milady hanya berharap dia tidak menghubungi agen pembunuh rahasia.

Sekitar 5 menit setelahnya. Sebastian mengakhiri telepon dengan senyum licik di wajahnya. Rautnya bagaikan seorang anak kecil mendapat hotwheels baru tapi dengan cara merebut dari temannya.

Lalu ia duduk di sebelah Milady, duduk merapat lebih tepatnya, extra menggeser kursi supaya berhimpitan dengan kursi Milady, sambil mengetikkan sesuatu dengan alfabet kiril di ponselnya.

Lalu ia melirik meja di depan Milady.

Hanya tersisa 2 cake. Milady sekarang sedang melahap banana splitnya.

"Cepat juga kamu makan..."

"Kan kamu tahu sendiri..." desis Milady.

"Hm..." Sebastian kembali fokus ke ponselnya. Kali ini ia bersandar santai dengan sebelah tangannya direntangkan ke belakang kursi Milady dan tangan satunya masih sibuk dengan ponselnya.

"Siapa yang cium kamu?" tanya Sebastian dengan mata masih fokus ke ponsel.

"Siapa pun itu... Yang jelas rasa ciuman kamu yang aku simpan baik-baik jadi terasa samar."

Kini perhatian Sebastian sepenuhnya ke Milady.

"Aku cium kamu sudah 10 tahun yang lalu. Hampir sebelas tahun sekarang..."

"Iya... Rentang waktu itu aku tidak berhubungan dengan laki-laki lain."

"Masa?"

"Ada satu orang sih yang menciumku... Aku berusaha melupakan kamu. Tapi ternyata tidak bisa juga, jadi aku menolaknya... Padahal aku yang menggodanya secara intens, tapi aku juga yang mundur sendiri. Karena... Bayangan kamu belum bisa hilang." banana splitnya habis, sekarang cake berikutnya. "Seharusnya ia jadi yang terakhir. Namun...hari ini secara tidak terduga..."

"Orang yang kamu goda untuk mencium kamu itu, apakah suami kamu?"

Milady tidak menjawab dan hanya mengangkat bahunya.

Wanita itu menyendokkan sepotong besar cake untuk menghilangkan kekesalan hatinya dan nyatanya ia gemetar ketakutan.

Kenapa ia gemetar?

Karena Arran..

Astaga pria itu...

Sudah ia anggap kakak.

Selama ini sikap dan perilaku pria itu padanya begitu manis dan sopan.

Milady memang sering bertanya kenapa Arran belum memiliki pasangan selama ini. Arran hanya menjawab kalau ia menyukai wanita lain tapi masih belum bisa didekati.

Milady tidak menyangkan kalau wanita itu ternyata...

Haah...Milady menyendokkan suapan terakhir. Lalu menghela napas.

"Orang lain yang pernah ada di hatiku." sahut Milady akhirnya.

"Hm... jadi bukan mantan suami kamu yah... kenapa bukan dia?"

Milady terpaku.

Ia salah ucap.

Benar juga... Pasti berikutnya pertanyaan itu yang datang.

Tunggu... Ia akan mengingat-ingat lagi.

Orang tua Latief adalah... seorang pemuka agama.

Dan salah satu pendiri partai agama terkemuka di negara ini.

Anaknya... Seperti itu.

Kalau Sebastian tahu...

Kalau si iblis tua ini tahu...

Pasti akan ia gunakan untuk rencana bisnis liciknya.

"Terus... Kamu tidak disentuh sama suami kamu, sampai hanya rasaku yang ada di diri kamu?" tanya Sebastian. Pria iu penasaran. Perhatiannya kini penuh ke Milady. Menelisik semua gerak-gerik wanita itu, yang diam karena salah tingkah, dan sedang berpikir keras mengenai alasan.

"Aku...berusaha tidak berciuman." Sahut Milady akhirnya.

"Huh..." terdengar dengusan licik. "You're a bad liar..."

"Kalau begitu silahkan menerka sendiri."

"Aku akan cari tahu..."

Sial

Kalau Sebastian sudah berikrar...

Pasti akan ketahuan.

"Kenapa tidak biarkan saja mantan suamiku dengan kehidupannya sendiri, sih? Toh hubungan kami sudah berakhir..." keluh Milady.

"Aku akan cari tahu sebab sebenarnya perceraian kamu, atau kamu kasih tahu aku siapa yang mencium kamu barusan."

Terdengar decakan Milady. Ia capek dengan tingkah Sebastian yang menyukai permainan dan kesepakatan berbuntut konflik adu domba.

"Daripada begitu, yang jelas rasa ciuman kamu juga akan hilang segera, karena aku sebentar lagi akan mencium Trevor di Jepang, kenapa kamu ngga perbarui saja patennya di bibir aku?" tawar Milady sambil mencondongkan tubuhnya.

Sebastian tampak terdiam.

Ia tampak gelisah.

"Untuk apa kamu mencium Trevor di Jepang? Kalian akan ke Jepang?"

"Iya minggu ini. Untuk melobi kedutaan dan departemen industri agar kami bisa masuk ke pameran."

"Berdua aja ke sana?"

"Iya dong... Kalau banyak orang pasti Trevor akan mudah menghilang untuk kabur ketemu Ayumi. Aku akan memikatnya di sana."

Sebastian menghela napas.

"Kalau itu terjadi, dipastikan rasa ciuman kamu akan tidak berbekas sama sekali."

Sebastian diam dan menatap ke depan dengan nanar.

Ke satu-satunya cake yang tersisa di meja.

Perjanjian yang berat sepihak.

Pikir pria itu.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

KLO PAK YAN TAU SI ARRAN SAKITI WANITANYA,, HABIS TU SIARRAN..

2023-10-18

0

Hesty Mamiena Hg

Hesty Mamiena Hg

Berat kemana?
Kayaknya sama2 berat deh 😅

2023-09-26

2

Ersa

Ersa

yg dicium itu calon adik iparmu😂

2023-05-29

0

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan kembali
2 Dilema
3 Masa Lalu
4 rencana Trevor
5 permintaan yang menyebalkan
6 pertemuan 1
7 Terhindar dari paksaan
8 taktik wanita
9 invitation
10 Berkunjung
11 Orang ketiga
12 telepon
13 Video
14 Awal segalanya
15 it's just Business
16 Secret Admirer
17 penolakan Milady
18 Yori Hainez
19 harga untuk membunuh perasaan
20 sebuah rasa
21 cara menyakiti kamu
22 sama-sama lelah
23 Awal pertama bekerja
24 kesal
25 Sang Dalang
26 Milikku
27 Saat berdua
28 Rencana baru
29 Mr. X
30 rahasia Milady
31 Walaupun aku cintanya sama kamu
32 Girl's Night Out
33 Man's Night Out
34 a new couple
35 Saat Itu... ( part 1 )
36 Saat Itu... (Part 2)
37 Saat itu... (Part 3)
38 Ayumi
39 wanita malang
40 Worst Moment Ever
41 Pion
42 Pizza Time
43 Pertigaan
44 Jangan Ganggu Temanku
45 Tomodachi
46 Sebab akibat
47 Langit Malam Tokyo
48 Banyak Jalan Menuju Roma
49 Zeus dan Hello Kitty
50 Kalau Siluman Cemburu
51 Sama-sama membujuk
52 the plan
53 Mobil Emas
54 Gamers in Action
55 Hidden message
56 Semua Tentang Kamu
57 The Owner
58 The Owner In Action
59 Saat hati menerima namun logika menolak
60 Pengintai
61 New Crib New Life
62 The Prince
63 The Business
64 Taman
65 Bantuan Milady
66 Ipang vs Susan
67 New Couple on Cafe
68 Eksklusif
69 Three Kings
70 The Agent
71 At Lounge, With You
72 Two Couples
73 Dilema
74 First Fight
75 Waktu Ayah-Anak
76 The Police
77 Sebar Umpan
78 Tidak Bisa Lama Bermusuhan
79 Info Kantin
80 Interogasi
81 Kenyataan Yang Menyakitkan
82 Calon Mertua
83 Menunggu Kepastian
84 Putri Raja Sedang Sakit
85 Hitam atau Putih
86 Hantaman
87 keadaan mulai membaik
88 Saat Yang Akan Diingat Seumur Hidup
89 Once For a Life Time
90 Deja Vu
91 New Comer On Stage
92 Permisi... Anak Magang Mau Lewat
93 Paket Panas
94 Setelah Menikah
95 Suami-istri Dalam Kotak Besi Bermesin
96 The Joker
97 The Work
98 The First Wife
99 Survivor
100 Hukuman
101 Wanita Dari Masa Lalu
102 Wanita Yang Menarik...
103 Rencana Balas Dendam
104 Lagi-Lagi Heboh
105 Mobil Emas, Sekali Lagi...
106 The Three Muskistri
107 Saya Istri Sebastian
108 Skak Mat
109 Para Ahli Waris
110 Syarat
111 After Meeting
112 Si Antagonis Yang Manis
113 Double A
114 Lesti Ke Johor
115 Salahnya Dimana
116 Kepala Dingin
117 Another Gentleman Story, Begin...
118 Rahwana
119 Taring 1
120 Taring 2
121 Taring 3
122 Taring 4
123 Taring 5
124 Nulis Sambil Dengar Lagunya 'KotaK', Beraksi
125 Ditembak
126 Sister
127 Puisi Cinta
128 Our Night
129 Bonus Lebaran 1442 H
130 Mimpi Buruk
131 Where Is It
132 The Data
133 Another Couple Has Arrived
134 Let The Game Begin (1)
135 Let The Game Begin (2)
136 Let The Game Begin (3)
137 Let The Game Begin (4)
138 Let The Game Begin (5)
139 Let The Game Begin (6)
140 Let The Game Begin (7)
141 Baper Sergap (1)
142 Baper Sergap (2)
143 Baper Sergap (3)
144 Baper Sergap (4)
145 Baper Sergap (5)
146 Saatnya Tarik-Ulur
147 Rayuan Si Perayu
148 Love Games
149 Who Is She?!
150 Pernah Saling Mencintai
151 Kesialan Bertubi-tubi
152 Perang Dingin
153 Pencarian Putra Mahkota
154 Putra Mahkota VS Pengawal Raja
155 Back To The Love Scene
156 Man to Man
157 Hidup Rumit Mbak Ayu
158 We Are Family (1)
159 We Are Family (2)
160 We Are Family (3)
161 We Are Family (4)
162 We Are Family (5)
163 We Are Family (6)
164 We Are Family (7)
165 The Loved One (1)
166 The Loved One (2)
167 The Loved One (3)
168 Acara Berdua
169 Musim Dingin di Jepang
170 One Day With Arman (1 of 3)
171 One Day With Arman (2 of 3)
172 One Day With Arman (3 of 3)
173 Aku Merindukanmu
174 Kamu, Di Depanku...
175 Janjiku
176 Kedatangan
177 Langit Ke Tujuh
178 The Heir
Episodes

Updated 178 Episodes

1
Pertemuan kembali
2
Dilema
3
Masa Lalu
4
rencana Trevor
5
permintaan yang menyebalkan
6
pertemuan 1
7
Terhindar dari paksaan
8
taktik wanita
9
invitation
10
Berkunjung
11
Orang ketiga
12
telepon
13
Video
14
Awal segalanya
15
it's just Business
16
Secret Admirer
17
penolakan Milady
18
Yori Hainez
19
harga untuk membunuh perasaan
20
sebuah rasa
21
cara menyakiti kamu
22
sama-sama lelah
23
Awal pertama bekerja
24
kesal
25
Sang Dalang
26
Milikku
27
Saat berdua
28
Rencana baru
29
Mr. X
30
rahasia Milady
31
Walaupun aku cintanya sama kamu
32
Girl's Night Out
33
Man's Night Out
34
a new couple
35
Saat Itu... ( part 1 )
36
Saat Itu... (Part 2)
37
Saat itu... (Part 3)
38
Ayumi
39
wanita malang
40
Worst Moment Ever
41
Pion
42
Pizza Time
43
Pertigaan
44
Jangan Ganggu Temanku
45
Tomodachi
46
Sebab akibat
47
Langit Malam Tokyo
48
Banyak Jalan Menuju Roma
49
Zeus dan Hello Kitty
50
Kalau Siluman Cemburu
51
Sama-sama membujuk
52
the plan
53
Mobil Emas
54
Gamers in Action
55
Hidden message
56
Semua Tentang Kamu
57
The Owner
58
The Owner In Action
59
Saat hati menerima namun logika menolak
60
Pengintai
61
New Crib New Life
62
The Prince
63
The Business
64
Taman
65
Bantuan Milady
66
Ipang vs Susan
67
New Couple on Cafe
68
Eksklusif
69
Three Kings
70
The Agent
71
At Lounge, With You
72
Two Couples
73
Dilema
74
First Fight
75
Waktu Ayah-Anak
76
The Police
77
Sebar Umpan
78
Tidak Bisa Lama Bermusuhan
79
Info Kantin
80
Interogasi
81
Kenyataan Yang Menyakitkan
82
Calon Mertua
83
Menunggu Kepastian
84
Putri Raja Sedang Sakit
85
Hitam atau Putih
86
Hantaman
87
keadaan mulai membaik
88
Saat Yang Akan Diingat Seumur Hidup
89
Once For a Life Time
90
Deja Vu
91
New Comer On Stage
92
Permisi... Anak Magang Mau Lewat
93
Paket Panas
94
Setelah Menikah
95
Suami-istri Dalam Kotak Besi Bermesin
96
The Joker
97
The Work
98
The First Wife
99
Survivor
100
Hukuman
101
Wanita Dari Masa Lalu
102
Wanita Yang Menarik...
103
Rencana Balas Dendam
104
Lagi-Lagi Heboh
105
Mobil Emas, Sekali Lagi...
106
The Three Muskistri
107
Saya Istri Sebastian
108
Skak Mat
109
Para Ahli Waris
110
Syarat
111
After Meeting
112
Si Antagonis Yang Manis
113
Double A
114
Lesti Ke Johor
115
Salahnya Dimana
116
Kepala Dingin
117
Another Gentleman Story, Begin...
118
Rahwana
119
Taring 1
120
Taring 2
121
Taring 3
122
Taring 4
123
Taring 5
124
Nulis Sambil Dengar Lagunya 'KotaK', Beraksi
125
Ditembak
126
Sister
127
Puisi Cinta
128
Our Night
129
Bonus Lebaran 1442 H
130
Mimpi Buruk
131
Where Is It
132
The Data
133
Another Couple Has Arrived
134
Let The Game Begin (1)
135
Let The Game Begin (2)
136
Let The Game Begin (3)
137
Let The Game Begin (4)
138
Let The Game Begin (5)
139
Let The Game Begin (6)
140
Let The Game Begin (7)
141
Baper Sergap (1)
142
Baper Sergap (2)
143
Baper Sergap (3)
144
Baper Sergap (4)
145
Baper Sergap (5)
146
Saatnya Tarik-Ulur
147
Rayuan Si Perayu
148
Love Games
149
Who Is She?!
150
Pernah Saling Mencintai
151
Kesialan Bertubi-tubi
152
Perang Dingin
153
Pencarian Putra Mahkota
154
Putra Mahkota VS Pengawal Raja
155
Back To The Love Scene
156
Man to Man
157
Hidup Rumit Mbak Ayu
158
We Are Family (1)
159
We Are Family (2)
160
We Are Family (3)
161
We Are Family (4)
162
We Are Family (5)
163
We Are Family (6)
164
We Are Family (7)
165
The Loved One (1)
166
The Loved One (2)
167
The Loved One (3)
168
Acara Berdua
169
Musim Dingin di Jepang
170
One Day With Arman (1 of 3)
171
One Day With Arman (2 of 3)
172
One Day With Arman (3 of 3)
173
Aku Merindukanmu
174
Kamu, Di Depanku...
175
Janjiku
176
Kedatangan
177
Langit Ke Tujuh
178
The Heir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!