Milady menarik napas panjang.
Untuk yang kesekian kalinya.
Ia semalaman tidak bisa tidur...
Untuk menghabiskan waktu ia hanya bermain game online. Tapi saat pertandingan usai, ia kembali gugup.
Ia kembali teringat Sebastian...
Ya ampun...
Kenapa diriku! Batinnya.
Ia tidak pernah merasa begini.
Ah, pernah. Sekali...
10 tahun lalu.
Ia merasakan kegugupan yang sama yang begitu kentara.
Setelah karangan bunga itu, tidak ada lagi kabar, selama seminggu!
Seminggu yang menyiksa...
Apa sih maunya Pak Tua itu?! Memberi pesan yang begitu heboh tapi setelah itu tidak ada kabar berita?!
Dia bahkan tidak minta persetujuan Milady untuk bertemu. Seakan sudah pasti Milady setuju untuk bertemu.
Hanya ada kata Please, tapi di kartu?! Bagaimana pula Milady membalasnya?!
Jadi, karena jengah berhari-hari, Milady sudah bertekad untuk menemui Sebastian lebih dulu.
Ia akan membuat kejutan.
Hari ini hari Senin.
Hari di mana biasanya kesibukan pekerjaan berada di tahap chaos karena menumpuk.
Dealing pekerjaan biasanya dibicarakan di hari Jum'at dan hari Senin waktunya perealisasian.
Juga meeting-meeting penting dan presentasi biasanya diadakan di Hari Senin.
Jadi,
Setelah membuat Trevor sedikit protes karena Milady mengajukan cuti satu hari di hari Senin, yang membuat mereka harus memundurkan semua jadwal menjadi hari Selasa, Milady hari ini akan ke kantor Sebastian.
Mungkin kedatangannya akan sedikit mengejutkan pria itu.
Pilihannya ada dua.
Dia akan diusir karena mengganggu pekerjaan.
Atau, dia akan diterima dan membuat Sebastian harus memundurkan semua janjinya.
Milady sejujurnya ingin diperlakukan sesuai pilihan pertama.
Dengan diusir, itu akan menetapkan hatinya bahwa dirinya tidak berarti apa pun di hadapan Sebastian, sehingga ia tidak akan terbebani dan akan lebih bisa menjalani hidupnya dengan tenang.
Kalau pilihan yang kedua...
Akan membuatnya semakin gundah karena tidak mengerti akan sikap Sebastian yang maju mundur seakan sedang mempermainkan perasaannya.
Baiklah...
Milady kembali memeriksa dandanannya di cermin.
Bajunya cantik, setelan terbaik yang ia punya. Gaun terusan bermotif floral berwarna pink dengan blazer Dior putih. Tas dan sepatunya bermodel senada ia pilih yang bermerk Jimmy Choo, ia hanya sekali memakainya waktu menghadiri pesta pernikahan salah satu pejabat karena menurutnya terlalu mencolok. Tapi untuk Sebastian sepertinya ia ingin tampil...
Heh...
Untuk apa sih dia berdandan habis-habisan untuk si rambut putih itu?!
Apa juga gunanya?!
Kalau untuk membuat Sebastian menyesal... Menyesal karena apa?
Milady bahkan tidak tahu bagaimana perasaan Sebastian terhadapnya.
Selama ini ia terlalu berpatokan pada kata-kata Sebastian di restoran itu...
Kita berdua sudah tahu jawabannya.
Apa itu berarti dia juga merindukan Milady? Sama seperti Milady merindukannya?
Cinta pertamanya...
Bagaimana ia menangis selama 3 hari karena terpaksa harus berpisah dengan Sebastian?
Ia sendiri yang memutuskan perpisahan itu, tapi ia sendiri yang menangis karenanya...
Ia hanya...
Hanya merasa kalau hubungan semacam itu salah.
Sebuah aib yang serius.
Dulu ia ketakutan. Masalahnya Ia tidak mengenal pria itu. Ia tidak tahu apakah pria itu beristri, pekerjaan macam apa yang ditekuni pria itu, apakah pria itu punya anak, apakah pria itu tokoh masyarakat....
Apalagi keluarganya.
Ia tidak sanggup membayangkan apabila keluarganya tahu ia adalah simpanan, atau gundik, atau pelakor, atau apalah namanya...
Jadi ia yang memutuskan hubungan itu.
Jadi apakah Milady terlalu percaya diri dengan berpatokan pada kata-kata 'kita berdua sudah tahu jawabannya' ?!
Wanita itu menghela napas karena galau.
Bagaimana pun, ia sudah terlanjur berdandan.
Rencana harus berjalan.
Jadi ia raih tas mahalnya dan melenggang keluar kamar.
"Mau ke mana kamu?" tanya ibunya.
"Mau ke kantor." jawab Milady sambil mengambil kunci mobilnya dari gantungan baju.
"Ngga biasanya kamu ke kantor pakai setelan glamor begitu."
"Iya, mau ketemu orang penting." jawab Milady.
"Siapa orang pentingnya? Pejabat? Menteri?"
"Semacam itu."
Ibunya menghela napas tidak puas, seperti biasa.
"Kamu itu harus tahu diri, Lady. Kamu sudah dijodohkan sama Trevor. Tidak seharusnya kamu berdandan agar dilihat laki-laki lain!"
Bagaimana ibunya tahu dia akan bertemu dengan lelaki lain? Milady bahkan tidak bilang dia akan bertemu dengan siapa...
"Saya mau meeting dengan Pak Sebastian." sahut Milady sambil mengecup tangan ibunya.
"Ooh..." sahut ibunya.
Hanya itu jawaban ibunya.
Tanpa ada kata-kata lain lagi.
Dan Milady beranjak ke mobilnya yang diparkir di depan rumah.
*****
Gedung Garnet Grup, seperti biasa terlihat megah dan berlebihan dengan ornamen yang tidak biasa.
Tampak di Lobi beberapa mobil mewah terparkir elegan, membuat minder siapa saja yang lewat, sehingga sebagian besar orang yang memiliki mobil 'sejuta umat' lebih memilih turun di basement dari pada harus dianggap tidak tahu diri menunggu di lobi gedung.
Milady...
Wanita itu cuek saja.
Ia mencari mobil termewah, yang pasti milik Sebastian.
Terparkir tepat di depan Lobi, Bugatti La Voiture Noire seharga 270 miliar rupiah, sudah pasti yang menaikinya bukan sembarang orang. Setingkat pejabat saja masih berpikir mengenai pajak dan kasus pengusutan harta kekayaan, jadi yang tidak takut diusut sudah pasti pembayar pajak terbesar bagi negara sekaligus konglomerat seperti Sexy Grey Man itu...
Karya ini adalah karya original milik Septira Wihartanti
Dan Milady...
Sengaja parkir di sebelahnya.
Karena tidak ada tulisan VVIP jadi area parkir itu milik umum, bukan?!
Dan mobilnya hanya city car biasa, warna putih.
Mobil Sebastian ada di sebelahnya, kemungkinan besar Sebastian ada di kantornya.
Seperti biasa sosok Milady sangat mencolok saat ia memasuki Lobi. Bukan karena caranya berpakaian, tetapi wajah dan perawakannya yang anggun membuat siapa pun melirik setidaknya dua kali. Wanita seperti Milady memakai kain murahan saja sudah akan terlihat seperti gaun mahal.
Apalagi tubuhnya tinggi menjulang dan wajah lembutnya, ia selalu membalas setiap senyuman orang lain yang ditujukan padanya, baik itu sengaja maupun tidak sengaja.
Baginya, membagikan senyum ke banyak orang adalah tindakan gratis, Milady tidak merasa dirugikan, dan kadang kala senyumannya ke orang lain dapat membuat orang yang dituju merasa senang.
Ia mendekati operator di Lobi.
"Selamat Pagi, ibu... bisa saya bantu?" tanya Operator ramah.
"Saya mau bertemu dengan Pak Sebastian." desis Milady sambil menyerahkan kartu identitasnya
"Ibu... Milady, sudah ada janji?" tanya operator sambil membaca kartu identitas Milady.
"Belum." desis Milady.
"Kalau begitu boleh saya sambungkan dengan pihak sekretaris perusahaan yah bu, karena sudah peraturan kami." Desis Operator. Ia masih menanggapi Milady dengan ramah, namun terlihat kalau pandangannya sinis.
Dihubungkan dengan sekretaris perusahaan berarti penolakan halus.
"Baik, Mbak..." desis Milady lembut. "Tolong bilang ke James kalau Milady dari Garnet Property datang untuk bertemu Bossnya mengenai karangan bunga emas yang berlebihan namun tidak ada artinya..."
Sang Operator menaikkan alisnya. Ia tampak bingung.
James adalah Direktur Treasury dan Corporate Secretary, dan Milady sangat mengenalnya.
"Sebentar ya bu, saya hubungi asisten Pak James." desis Operator.
Milady bersandar di konter operator sambil memasukkan kacamata hitamnya ke dalam tas.
Beberapa orang menatapnya lekat-lekat dari atas ke bawah, Milady membalasnya dengan senyum. Mayoritas mereka tersadar dan balas tersenyum malu karena kepergok memperhatikan, sisanya hanya membuang muka.
"Mohon maaf Bu Milady, pak James tidak ada di tempat." Sahut operator.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Hanachi
bos bos besar biasanya takut tampil mencolok karena ? 😄
2024-08-10
0
Sulaiman Efendy
BRRTI KALAH KAYA TU BOS DJARUM, BOS GUDANG GARAM, BOS SAMPOERNA, BOSS INDOFOOD.. ASTRA GROUP, KALLA GROUP, KOMPAS GROUP, KORINDO GROUP, WILLMAR GROUP,, ABU RIZAL BAKRI, SURYA PALOH, HARRY TANOE, FAISAL TANJUNG, ALIM MARKUS DGN KKAYAAN SEBASTIAN BATARAGUNADI...
2023-10-18
2
Sulaiman Efendy
THE BEST HALU POKOKNYA...👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
2023-10-18
1