Sebastian duduk dengan tegang sambil mengamati pemandangan yang menurutnya menyebalkan di depannya.
Ia tidak terlihat oleh mereka, tapi ia bisa melihat mereka.
Pria itu menarik napas menahan geram.
Sabar, Sebastian.
Ini demi kebaikan anaknya.
Kalau memang Trevor dapat mencintai Milady dan berpaling dari Ayumi, hal itu lebih penting untuknya, walaupun harus mengorbankan perasaannya terhadap Milady.
Sebastian sangat yakin kalau gemuruh di dadanya sekarang sama persis dengan yang dirasakan oleh Milady.
Awal pertemuan mereka terlalu special untuk dilupakan.
Kenapa Milady...
Kenapa ia memilih wanita itu dari sekian banyak wanita yang ditawarkan padanya untuk dijodohkan dengan Trevor?
Apa karena Milady anak Malik Adara, teman karibnya saat SMA?
Sebastian menghela napas.
Karena Milady jauh lebih cantik.
Jauh lebih cerdas
Jauh lebih berkelas
Dan sangat cocok menjadi seorang 'Bataragunadi' dibandingkan wanita lain.
Sebut saja Sebastian terlalu kolot, namun baginya itu prinsip untuk menjaga kualitas keluarganya.
Tidak semua wanita bisa akrab dengan Trevor. Ia sebagai ayahnya pun sangat terkejut Trevor ternyata memiliki teman wanita, dan itu adalah Milady. Padahal tadinya ia sudah skeptis saat Malik mengutarakan niatnya untuk mengenalkan anak-anak mereka.
Namun Milady tidak cocok untuknya.
Perbedaan umur yang terlalu jauh dan status mereka menghalangi segala kemungkinan untuk bersatu.
Dia anak Malik...
Bahkan jauh lebih muda dari Trevor.
Apa pandangan masyarakat kalau mereka sampai bisa bersama?!
Tunggu...
Sejak kapan Sebastian peduli dengan anggapan masyarakat?!
Seperti yang ia tahu sejak awal, senyuman Milady saat berbicara dengan Trevor terasa tulus dan lepas. Wanita itu tidak menahan apa pun di depan Trevor. Ia berekspresi sebebas mungkin menjadi dirinya sendiri. Bahkan bercanda sambil terbahak seperti itu.
Masa ia cemburu dengan anaknya sendiri?!
Sejak kapan...
Wanita itu mulai memporakporandakan pertahanannya...
Menciptakan dirinya yang lain, yang sudah lama telah Sebastian kubur.
Dirinya yang penuh obsesi dan nafsu.
Sebastian melihat Bram datang dengan beberapa map disampirkan di lengan pria itu.
Tampaknya bukan hanya Trevor.
Raut wajah Milady saat menghadapi Bram tidak berubah dengan saat ia menghadapi Trevor.
Dipastikan mereka bertiga sudah mengenal sejak lama.
Mereka beberapa lama membahas mengenai map-map yang dibawa Bram dengan serius sambil makan.
Sebastian menyeruput kopinya sambil memperhatikan Milady. Menikmati pemandangan wajah cantiknya.
Dengan matanya Ia susuri sudut demi sudut, setiap bentuk panca indra wanita itu, ia hafalkan setiap gesturenya, dan membayangkan kalau raut seperti itu dilayangkan kepadanya.
Tidak beberapa lama, datang lagi seseorang. Tampaknya Bram memanggilnya lewat ponsel barusan.
Seorang pria, mengenakan sweeter hoodie dan masker yang ditutupi sampai ke bawah matanya. Gaya pria itu menandakan kalau ia lebih muda dari Bram dan Trevor, dan gerakannya lebih santai.
Sebastian berusaha menebak orang itu.
Pria itu duduk membelakangi Sebastian.
Tapi rasanya gesturenya sangat familiar bagi Sebastian.
Dan yang membuat Sebastian sangat kaget, bahkan mulai panik...
Adalah tatapan Milady ke pria misterius itu.
Lembut...
Menggoda...
Sedikit manja dan ia mencondongkan tubuhnya.
Tawanya masih tulus seperti saat menghadapi Trevor, namun yang ini dimaksudkan dengan intensitas yang berbeda.
Intensitas untuk memikat...
Sebastian mulai dibayangi cemburu.
Kali ini lebih kuat.
Siapa pria itu...!
*****
"Pokoknya, gue sebel sama dia. Walopun kerjanya bagus dan dia banyak bantu gue. Tapi di deket Selena, gue ketiban sial mulu!" dengus Dimas sambil membuka maskernya.
Milady terkekeh.
"Bro, awalnya memang begitu. Tapi aku berani jamin, kamu ngga bakalan bisa lepas dari Selena. Kamu bakalan ketergantungan sama dia. Apalagi kamu orangnya rada ribet!" Kata Milady
Dimas tertegun.
"Gue orangnya ribet ya?" dia bertanya.
Milady menopang wajahnya dengan tangannya ke meja, dan mengangguk.
Dimas menatap Trevor dan Bram.
"Banget." sahut Trevor. Bram hanya menyeringai.
"Semuanya mau kamu urusin, sekalian saja kamu jadi CEO... Atau OB sekalian hahahaha!!" sahut Milady.
Dimas berdecak. "Gue pilih OB aja..." dengusnya. "Untung Meilinda mau diajak baikan..." sahutnya lagi sambil menyulut rokoknya.
"Buat apa sih kamu pilih Meilinda?" tanya Milady.
Semua diam.
Semua menatap Milady.
"Maksudnya?" tanya Dimas.
"Meilinda seorang Bataragunadi. Adik kesayangan Sebastian. Sudah pasti Milady manja, keras kepala, sedikit tiran dan otoriter. Banyak maunya kayak boss aku, tapi versi tante-tante."
Trevor berdecak. "Gue perasaan ngga manja dan keras kepala..."
"Lu manja dan keras kepala, dan anti perempuan." sambung Bram.
Semua terkekeh membenarkan.
Trevor pura-pura menguap.
"Kamu bakalan kerepotan." sambung Milady ke Dimas lagi. "Dia terbiasa mengatur semuanya dengan uang dan... Kekuasaan kakaknya, pasti. Dan kamu tetap maju, seperti mengajukan untuk bunuh diri masuk lobang macan. Apa tujuan kamu? Jangan bilang cinta..." desis Milady.
Dimas terdiam...
Siapa Pria bernama Dimas ini?
Mereka bertiga sudah mengenal Dimas berbarengan dengan mereka mengenal Bram. Dimas adalah adik kandung Bram, saat ini dia bekerja di Garnet Bank sebagai Kepala Seksi Divisi Audit Internal.
Atasan Dimas adalah Meilinda Bataragunadi, Adik kandung Sebastian, wanita seksi, janda berusia 44 tahun. Jabatan Meilinda sebagai Direktur Kepatuhan di Garnet Bank.
Dan... terjalin hubungan asmara antara Dimas dan Meilinda. Otomatis semua menganggap Dimas adalah Gold Digger. Namun sepertinya pria itu cuek saja.
Informasi lebih menarik lagi... wajah Dimas terkenal rupawan. Dan ia pernah dekat dengan Milady.
Milady menolak Dimas karena masih dibayang-bayangi dengan sosok Sebastian. Dan Sebastian benci sekali dengan Dimas karena dianggap hanya mempermainkan Adiknya.
Milady bertanya dengan lembut namun maksud kalimatnya sangat menohok. Mungkin saja itu mewakili pertanyaan sebagian besar orang di sekeliling Dimas yang tidak berani terucapkan.
Memang langsung menusuk dan bikin sakit hati. Tapi nyatanya, pertanyaan semacam itu yang dibutuhkan Dimas untuk mengetahui siapa yang tetap menjadi temannya dan siapa yang hanya memanfaatkannya.
"Tujuan gue bukan harta, kalau itu maksud pertanyaannya. Bukan karena dia kaya raya dan gue mau menaikan taraf hidup gue." desis Dimas.
"Apa... Aku putusin aja Meilinda, terus kita pacaran?" pria itu membalas dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Milady.
Wanita itu terpaku.
Dan seketika wajahnya memerah.
"Ngga lucu Mas, kamu tau aku gampang kebujuk kalo sama..." Milady berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu sendiri, tau banget kalo aku cuma bercanda tapi udah kayak cacing kepanasan."
"Kayaknya dia beneran punya susuk..." gumam Trevor menuduh Dimas.
"Dih..." Dimas mengernyit.
"Dia bakalan jadi bini gue." sahut Trevor.
"Bodo amat... Lo sukanya settingan. Semua lo lakuin kalau menyangkut Ayumi..." dengus Dimas.
Trevor berdecak.
Dimas tepat sasaran.
"Bram... Lo cerita ke Dimas?" tanya Trevor.
"Enggak."
"Kok bisa tahu kalau itu cuma settingan?!"
"Lo terlalu gampang ditebak." sahut Bram. "Lo tau sendiri kerjaan Tole berhubungan sama taktis." (Tole : panggilan 'anak laki-laki' suku Jawa)
"Itu jawabannya, darling..." ia beralih ke Milady. "Aku bisa memprediksi perilaku hampir semua manusia. Aku dianugerahi kelebihan bisa menebak semua kegiatan yang sifatnya strategis, prediksi, estimasi... Kecuali... pergerakan Meilinda dan kakaknya."
Milady mengangkat alisnya.
"...terutama kakaknya..." tambah Dimas lagi. "Si Serigala Tua licik itu benar-benar sulit ditebak." umpat Dimas.
Milady mengerutkan keningnya.
Karena ia kebalikan dari Dimas.
Ia selalu bisa menebak maunya 'si Serigala Tua Licik'.
Dari sekian banyak manusia di bumi, ia bisa mengerti benar keinginan Sebastian.
Yang mana, adalah sosok yang sangat sulit ditebak oleh manusia lainnya, bahkan oleh pakar sekaliber Dimas.
"Karena itu, gue terpikat sama Meli, menurut gue, dia menarik." sahut Dimas lagi.
"Terus... Kalo aku ngga menarik di mata kamu gitu...?" Milady berlagak merayunya.
"Udah cukup aku cium kamu sekali. Habis itu ditolak, masih sakit hati sampai sekarang..."
Milady terbahak.
"Dasar bapeeerrr!!" tawanya.
Dimas berdecak.
"Sekalinya gue ditolak cewek seumur hidup gue..." umpat pria itu lagi.
Bram menyeringai karena mengingat Dimas mengomel sepanjang hari di rumah setelah hal itu terjadi.
"Pertama kali nembak, pertama kali ditolak... Ya lo harus sering-sering dapet pelajaran yang begitu kayaknya biar ga sombong kayak sekarang..." sahut Trevor sambil melempar kerupuk ke Dimas.
"Dasar Cassanova." tambahnya.
"Gue bahkan belum nembak loh. Nyaris..." sahut Dimas.
"Sori... Waktu itu aku masih kebayang orang lain..." sahut Milady.
"Kamu mau nikah sama Trevor, masih kebayang 'orang lain' itu juga?" tanya Bram.
Pertanyaan yang sangat tepat dan langsung menghujam jantungnya.
Milady tertegun dan mengangguk lemah.
Tapi ia tidak memberitahu siapa pun sosok kekasih hatinya.
Kekasih...yang hanya ada di hatinya.
Yang kini malah semakin dekat dengannya.
Sudah sangat lama ia mendambakan Sebastian.
Dan sangat menyesali keputusannya meninggalkan pria itu dulu.
*****
Sebastian mempelajari gesture tubuh pria itu sambil mengingat-ingat. Di mana ia pernah melihat gerakan dinamis seperti ini. Pria itu jarang diam dan selalu bergerak, tidak kalem seperti Bram dan tidak kaku seperti Trevor. Dan tampaknya dari Milady yang menanggapi pria itu dengan akrab, pasti ia punya hubungan yang sangat dekat dengan Milady.
Sialnya,
Karena pandangan Sebastian yang lekat ke arah mereka, Milady merasa suatu getaran aneh menusuk kulitnya, seperti sinyal yang sangat kuat menyambarnya.
Mata wanita itu bertatapan dengan Sebastian.
Sebastian terpaku.
Milady juga membeku.
moment yang tidak disengaja, tapi cukup membuat rasa terkejut semakin nyata.
Astaga, pria ini...
Pikir Milady
Dia ternyata tetap berada di dekatnya.
Memata-matainya dari restoran seberang sana.
Milady ingin tertawa namun ia mati-matian menahannya. Apalagi ia melihat raut wajah Sebastian yang tampaknya sedang menahan amarah.
Karena apa?
Milady berpikir.
Sepertinya tidak mungkin karena Trevor, Apalagi karena Bram.
Lalu Milady melirik Dimas yang ada di sebelahnya. Pria tampan itu kini sedang melanjutkan ceritanya mengeluhkan pacarnya, yang kebetulan adalah adik Sebastian sendiri, Meilinda Bataragunadi.
Mungkin saja kalau Dimas.
iya...
pasti karena Dimas.
Karena Milady dari tadi memang membuat gaya menggoda ke arah Dimas.
Dan kalau Sebastian memata-matainya dari awal, pasti pria itu tahu perbedaan gerakan tubuhnya saat menghadapi Trevor, Bram... dan Dimas.
Karena sangat kentara kalau Milady, seperti halnya banyak wanita lain, terpikat dengan Dimas.
Tapi...
Milady memutuskan untuk membuat gila pria tua itu.
Si Angkuh itu harus diberi pelajaran karena memaksanya menyetujui pernikahan settingan.
Apakah Milady akan menggunakan Dimas agar Sebastian cemburu?
Tidak...
Hal itu akan membuat susah banyak orang. Apalagi Dimas sedang menjalin hubungan dengan Meilinda.
Sudah bisa dipastikan Sebastian pasti akan mendendam.
Caranya lebih anggun, lebih feminin.
ia akan membuat Sebastian tidak bisa tidur karena membayangkannya.
Lalu pria itu akan menyerah sendiri dengan ketidakmampuannya melupakan Milady.
Dan pria itu sendiri yang akan membatalkan sendiri pernikahan Milady dengan Trevor
untuk merengkuh Milady...
Jadi, Milady menggunakan kemampuannya sebagai seorang wanita.
Sedikit murahan, namun dipastikan berhasil.
Khas Lady Eropa jaman kerajaan saat ingin memikat lawan jenisnya.
Milady membusungkan dadanya,
sedikit mengubah posisi duduknya agar Sebastian bisa melihatnya dengan jelas.
dan mencondongkan tubuhnya.
memperlihatkan belahan dadanya yang besar ke arah pria itu.
Lalu mengerling padanya
Nakal?
tentu...
Tapi pria mana yang tidak akan tertarik.
*****
Sebastian menaikkan tirai pembatas antara ia dan supir.
"Kabari saya kalau sudah sampai." sahutnya dari interkom.
"Baik Pak." sahut Supirnya.
Lalu pria itu merebahkan dirinya di sofa kulit eksklusif di dalam mobil mewahnya sambil memijat keningnya.
ia memaki
ia mengumpat
ia menggerutu sejadi-jadinya.
Bayangan Milady menari di benaknya.
ia tidak akan selamat kali ini.
Bagian bawah tubuhnya merespon dengan cepat membuat ia sangat kewalahan.
Ia menahannya sepanjang perjalanan dari restoran sampai masuk ke mobilnya dengan terburu-buru.
saat ini pilihannya hanya dua.
memukul sesuatu sampai hancur
Atau...
Mengeluarkan hasrat yang tertahan saat ini juga.
jadi, pria itu menyambar tissue yang ada di dekatnya...
Terkutuk kau Milady.
Atau ia yang saat ini sedang dikutuk oleh Milady...
*****
Sekitar setengah jam kemudian supirnya mengabari bahwa dalam lima menit mereka akan tiba di lokasi Gedung Beaufort Company. Saat itu Sebastian sudah kehabisan tenaga.Ia tidak menjawab Drivernya.Kepalanya malah semakin pusing...Namun saat ini ia harus keluar dari mobil.
Jadi dengan sisa tenaganya, ia membetulkan posisi duduknya, membenahi pakaiannya dan sampah di sekitarnya.
"Kamu kabari saya lokasi parkirnya, lalu kamu boleh pulang duluan. Saya mau setir sendiri kalau balik nanti." sahut Sebastian.
Ia butuh menyetir, ia butuh pengalih perhatian sekaligus membuang sampah yang berserakan di belakang.
"Baik Pak..." jawab supirnya.
*****
Baratadhika, CEO Beaufort Techno, menemuinya di Lobi.
Pria tinggi besar berperawakan tegas itu menjabat tangannya dengan antusias.
"Pak Sebastian, apa kabar!" sapanya. Lalu ia tertegun saat melihat kondisi pria itu. "Tampaknya anda sedikit kurang sehat... Apa yang bisa saya bantu?" di matanya mungkin, Sebastian tampak lemah dan capek.
"Sedikit... minuman hangat mungkin?" sahut Sebastian.
"Kami punya chateau kalau anda berkenan..." Tawar Pak Bara.
"Saya tidak minum anggur..." jawab Sebastian.
"Mungkin teh hangat ya pak... Mari, Silahkan. Pak Alex dalam perjalanan kemari, sekitar 10 menit ia akan tiba." Kata Pak Bara sambil mempersilahkan Sebastian berjalan mendahuluinya ke arah lift dan menunjukkan arah dengan telapak tangannya.
Sebastian berjalan ke arah yang ditunjukan Pria itu dan masuk ke arah lift, lalu bersandar di dinding baja mewah ruangan tertutup itu.
"Saya lumayan kaget saat di kabari tadi, kalau tidak salah Anda tadinya belum mau mengaktifkan GPS yang kami pasang di Rolex Pak DT."
"Iya, saya punya feeling kuat kalau si DT akan bertingkah dalam waktu dekat."
"Tapi, tetap... tindakan ini tidak dibenarkan dalam hukum, Pak... ini menyalahi aturan HAM mengenai privasi seseorang."
"Si Boyo itu sudah tahu kalau saya pasang GPS di jam tangannya. Ia bahkan pakai setiap hari walaupun tahu..." desis Sebastian. "Tapi ia belum tahu kalau saya belum aktifkan."
"Ada pernyataan dari Pak DT kalau ia bersedia diamati, Pak?"
"Menyusul." jawab Sebastian pendek.
Ia butuh tahu dulu aktivitas 'Si Boyo' saat ini, baru itu akan memantapkan hatinya.
Mendengar jawaban Sebastian yang bernada sarkasme, Pak Bara memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaannya.
Orang ini adalah klien penting perusahaannya, sekaligus saingan terbesar dalam pergerakan bisnis.
Membuatnya jengkel adalah pilihan terakhir...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
another Aquarian
tepatnya, bukan sebagai istri putra mahkota, tapi sebagai permaisuri Bataragunadi
2025-04-05
0
🍌 ᷢ ͩ𝐀⃝🥀ρҽNσʋ🎀⁰⁰
si bhoyoooooooo lahhh kesayangan melinda 🤣
2025-02-10
0
another Aquarian
teh anget, mix jahe.. buat eyang jenggot 😂😂😂
2025-04-05
0