"Sakura Glaze, Golden Tiramisu, teracota, puding lychee, cheese cake blueberry, princess cake bublegum, princess cake strawberry... Minumnya Teh cammomile pakai madu, choco hazelnut, air putih dingin... Sama banana split, ya Bu Dewi."
Bu dewi mencatat semua pesanan Milady di tabletnya sambil menyeringai.
Ada saatnya Milady memesan beberapa jenis desert kalau ia merasa stress atau sedang ikut pertandingan game online.
"Rokoknya mau merk biasa atau yang lain mbak?" tanya Bu Dewi.
Milady melirik Sebastian.
Pria itu hanya menatapnya memperhatikannya. Seakan menunggu reaksi Milady.
"Hari ini saya ngga pesan. Mau mencoba berhenti." jawab Milady.
"Ehm..." Bu Dewi berdehem. "Siap Mbak."
Terlihat Sebastian tersenyum tipis padanya. Milady membuang muka.
"Saya cappucino saja." sahut Sebastian. "Tolong pesanan diantarkan sekaligus." seperti biasa, Sebastian tidak ingin ada yang terlalu sering berlalu lalang.
Setelah Bu Dewi menutup pintu, Sebastian mencondongkan tubuhnya sambil menahan dagunya dengan tangannya, menatap Milady dengan licik.
"Berhenti merokok?" tanyanya setengah mengejek.
"Bertahap yah...ngga bisa sekaligus." dengus Milady
"Bagus, sih... tapi kenapa?"
"Kayaknya kamu ngga suka kalau aku merokok." jawab Milady.
Sebastian tertegun.
"Jadi... Karena aku?" tanya Sebastian.
Milady mengangkat bahunya.
"Siapa lagi yang kolot selain kamu..." sindir wanita itu.
Sebastian mengelus janggutnya.
"Kalau tidak suka, tidak harus berhenti kok..."
"Aku lakukan karena membantuku berpikir lebih jernih... jadi masih bisa aku hentikan." sahut Milady.
Sebastian terseyum tipis.
"Wanita anggun dan bersahaja seperti kamu tidak pantas merokok. Kesannya nakal..."
"Belum tentu wanita merokok itu nakal."
"Hm... Jaman kita berbeda yah..."
"Makanya aku bilang kamu kolot."
Sebastian hanya terkekeh menanggapi Milady.
"Kamu bisa habiskan semua pesanan kamu? Seperti orang lagi kalap..." tanya Sebastian lagi
"Itu cuma setengah dari yang biasa aku pesan kalau lagi baper."
"Baper kenapa?"
Milady hanya diam.
Wanita itu menatap ke luar jendela ke arah taman dalam.
Rasa ciuman Arran masih terasa di indera pengecapnya.
Ia butuh banyak makanan manis untuk menghilangkannya.
Ia merasa...
Risih.
Pahit.
Pedih...
Semua campur aduk jadi satu.
Perasaan ini sama seperti dulu, saat Dimas menciumnya. Bedanya Milady memang memikat Dimas.
Namun yang ini...
Yang ini dilakukan secara tiba-tiba.
Kejutan yang membuat shock.
Dan yang sama adalah... Perasaan tidak suka, karena hati Milady tertambat ke hanya satu orang.
Berciuman dengan orang lain membuat Milady ternyata lebih merasa sedih.
Karena...
Karena ciuman Sebastian jadi terasa samar.
Tercampur dengan rasa orang lain...
"Kamu kenapa?"
Milady mendengar Sebastian bertanya padanya.
Milady menunduk.
Menahan sedihnya.
Menahan air mata yang sudah bersiap mendobrak kelopak matanya.
"Hanya...sedikit tidak enak badan." desisnya lirih.
"Aku akan bilang ke Trevor supaya tidak terlalu membebani kamu dengan..."
"Bukan masalah pekerjaan." potong Milady.
Sebastian menghela napas.
Pada dasarnya pria itu tidak suka kalau ucapannya dipotong orang lain. Tapi kalau Milady, ia bisa bersabar.
"Ini..." Sebastian memberikan tas yang dari tadi ia bawa. "Karena kamu kurang enak badan, jadi aku bawakan lebih cepat. Ngga nunggu hari Jumat..."
"Hm?" Milady meraih tas itu dan melongok ke dalamnya. Sebuah kotak berwarna orange, senada dengan tasnya.
Ia membuka kotak itu perlahan.
Lalu wanita itu menyeringai.
Syal hermes motif ottoman.
"Cantik..." desisnya senang.
Sebastian memperhatikannya sambil tertegun.
Senyuman Milady...
Bukan senyum 'manis tapi palsu' seperti biasanya.
Ini senyum tulus...
Kalau hanya dengan sebuah syal Milady bisa tersenyum seindah ini, Sebastian akan menghujani wanita ini dengan semua hal-hal menakjudkan yang bisa ia beli.
"Secantik kamu..." gumam Sebastian.
Milady menatap Sebastian dengan sendu.
"Kamu selalu begitu?" tanya Milady.
"Apa?"
"Menggoda wanita dengan mengatakan kalau ia cantik?"
Sebastian mengangkat alisnya.
"Menurut kamu?" pria itu balik bertanya.
Milady menyeringai.
"Aku harap, hanya aku yang kamu gombali..."
"Itu bukan gombal... aku tidak suka basa-basi." desis Sebastian.
"Lalu apa?"
"Hm... hanya mengatakan hal-hal yang tersirat di benakku saja... Kalau kamu ngga suka, akan kutahan untuk selanjutnya."
"Aku suka...kalau kamu yang ngomong. Tapi...jangan salahkan aku kalau aku jadi kembali berharap sama kamu." Kata Milady.
Sebastian menghela napas.
"Kenapa kamu sangat bersikeras? Kamu tahu sendiri kalau perbedaan diantara kita sangat besar..."
"Perbedaan macam apa yang sangat besar? Apa aku bertepuk sebelah tangan?"
"Kamu tahu sendiri perasaanku." sahut Sebastian.
"Lalu perbedaan macam apa yang kamu maksud? Usia? Kedudukan? Kamu tahu kalau cinta itu buta..."
Sebastian diam.
"Apa kamu peduli dengan anggapan masyarakat? Kamu bahkan bisa membayar wartawan agar tidak memberitakan keluarga kalian yang penuh kontroversi..."
"Aku tidak peduli dengan orang lain. Dan lagi..." Sebastian menunjuk syal hermes di depan Milady. "Aku sudah bayar cicilan, jadi bisnis harus tetap berjalan."
"Hm... Bisnis yah..." Milady mengeluarkan syal itu dari kotaknya, lalu merentangkannya dan menatanya di leher.
"Harga yang harus dikeluarkan untuk membunuh perasaan kita, ternyata mahal sekali ya..." sindirnya sambil menatap penampilannya dengan syal melalui pantulan kaca jendela.
Mukanya pucat...
Merahnya lipstik tidak bisa menutupi keadaan sebenarnya dari wajahnya.
Dan rautnya, seprofesional apapun senyumnya, tidak bisa menutupi kepedihan hatinya.
Air mata akhirnya mendobrak pertahanannya.
Turun mengalir menyusuri pipinya.
"Milady?" tanya Sebastian.
Pria itu berdiri untuk menghampiri Milady.
Dan pada saat itu, pintu ruang anggrek diketuk.
Tok...tok...tok.
Wajah ceria Bu Dewi muncul dari baliknya.
"Permisiiiii..." sahutnya.
Milady langsung membalikkan badan dan menghapus air matanya.
"Maaf ya Pak, Mbak Lady, menunggu lama... Ini pesanannya, sakura glaze... Lalu golden tiramisu, ini juga ada terac..."
"Lakukan dengan cepat." sahut Sebastian tidak sabar.
Bu Dewi tersentak kaget.
"Ba... baik pak..." lalu wanita itu menata meja dengan lebih cepat tanpa berbicara lagi.
Saat hampir selesai, "A... Anu Pak, setelah ini owner kami ingin..."
"Kami jangan diganggu sampai selesai. Mengerti?!" gerutu Sebastian dingin.
"Eh... Baik pak, si...silah..kan dinikmati..." gagap Bu Dewi.
Wanita itu melirik Milady.
Milady hanya tersenyum tipis padanya.
Lalu Bu Dewi menutup pintu dan berlalu.
Sebastian menghampiri Milady.
"Kamu kenapa? Ngga usah bertele-tele lagi!" sahutnya sambil menarik lengan Milady supaya wanita itu menghadapnya.
Air mata di wajah Wanita itu sudah mengering tapi matanya masih berkaca-kaca.
"Aku..."
Sebastian mengangkat dagu Milady agar bisa menatap matanya.
"Aku boleh minta peluk?" tanya Milady.
Sebastian membeku.
Ia tidak mengira kalimat itu keluar dari bibir tebal wanita itu.
Dan apa yang diutarakan Milady adalah sesuatu yang tabu baginya.
Yang sebenarnya sangat ingin ia lakukan dari awal mereka berjumpa kembali.
Yang tidak bisa ia katakan selama ini.
Karena keegoisannya sendiri.
Dan haruskah ia menuruti wanita ini.
Atau haruskah ia mengambil kesempatan ini?
Milady tertawa masam.
"Maaf... Aku sudah meminta sesuatu yang tidak mungkin. Sori...lupakan saja. Anggap saja aku lagi melantur karena sedang sakit..." Milady melepaskan diri menjauhi Sebastian.
"Aku makan desertnya yah..." sahut Milady.
Lalu sebuah cengkeraman di lengan wanita itu menghentikan langkahnya.
Dan berikutnya tubuhnya terhempas.
Ke pelukan hangat Sebastian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
THE LUCKY OLDMAN PAK YAN... DICINTAI WANITA YG PANTAS JDI ANAKNYA.. KRN VIRGIN WANITA PAK YAN AMBIL DGN HARGA YG 15 MILIAR, MSKI NIATNYA BAIK BNTU ORG TUA, TPI TDK ADA NILAI SDKITPUN DIMATA TUHAN, KRN CARA YG DIAMBIL LADY SALAH, YAITU BRZINAH DGN LACURKN PERAWANNYA... MSH UNTUNG YG BELINYA PAK YAN, SENEGARA, SEIMAN, BKN DGN PRIA2 KAFIR, BULE,, CINA ATAU KOREA.. ATAU SENEGARA TPI TK SEIMAN..
2023-10-18
2
🍌 ᷢ ͩ🏘⃝Aⁿᵘ Deέ
akhirnyaaaa....
2023-01-06
2
Sulastri _ati
baperr bgt maakkk🥲🥲🥲🌹🌹
2022-12-07
0