James menyerahkan ponselnya ke Milady.
Milady mengangkat alisnya dan menunjuk dirinya sendiri.
James mengangguk sambil memberi kode dengan mulutnya tanpa bersuara.
"Dia ngomel." sahutnya.
Milady terkekeh.
Lalu menerima ponsel James.
"Pak Sebastian." sapa Milady dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Jantung Sebastian langsung berdetak dua kali lebih cepat.
"Milady...maaf, saya... kamu bisa tunggu saya?"
Kenapa dia sangat gugup?! Pikir Sebastian.
Kegugupan terakhir yang ia rasakan adalah saat dia berhadapan dengan ketua Triad di Hongkong untuk sebuah transaksi emas. Walaupun akhirnya ia merugi, yang mana sudah ia perhitungkan, namun namanya langsung dikenal sebagai suplier potensial. Sejak itu segalanya mudah.
Dan kegugupan yang lain... Berhubungan dengan hal gaib. Dia menerima orderan otomotif dan suku cadang mesin untuk server ke sebuah kota di Kalimantan. Dan sampai di sana kota tersebut tidak di temukan dan tidak ada di peta. Saat Sebastian menyusul anak buahnya ke sana, utusan dari pembeli baru datang menemuinya. Lalu mengambil seluruh barang, membayarnya setengahnya dengan emas dan batu mulia berkualitas tinggi dan setengahnya lagi angka di rekening Sebastian.
Bahkan nilai batu mulianya saja bisa lebih mahal dua kali lipat dari transaksi. Kata Utusan, itu bonus untuk Sebastian karena kerjasama yang baik.
Sejak itu setiap 5 tahun sekali, 'mereka' memesan otomotif dan suku cadang yang baru dari Sebastian. Jumlahnya bisa triliunan sekali pesan.
Dan sekarang... Kegugupan yang ini.
Rasanya sangat berbeda dari dua hal yang tadi.
Yang ini bagaikan dihakimi atas segala sesuatu yang telah ia lakukan.
Dan intuisinya seakan merespon agar jangan sampai membuat wanita ini menghilang lagi.
"Menunggu Pak Sebastian? Maksudnya?" tanya Milady dari seberang sana.
Sebastian bingung sendiri.
Tunggu berapa lama? Perjalanan normal Berlin-Jakarta memakan waktu 14 jam apabila dengan pesawat komersial, namun Sebastian bisa menempuh hanya 7 jam karena naik jet pribadinya.
Dan tidak mungkin menahan Milady selama itu di kantornya.
Dan lagi...
Bukankah di sana jam kerja? Untuk apa Milady datang? Apa berhubungan dengan karangan bunga yang ia kirim? Yang ia benar-benar lupa kalau ia membuat janji temu?! Bahkan ia bilang 'please' dari balik kartunya!
Astaga...
Apa yang merasukinya? Ini bukan dirinya!
"Saya akan menemui kamu, segera setelah saya sampai di Jakarta." desis Sebastian.
"Berapa lama saya harus menunggu bapak?"
Pertanyaaan sederhana dari Milady, tapi jawabannya serasa harus 60 halaman, berbagai alasan tetap saja Sebastian merasa bersalah.
"Saya usahakan secepatnya... Saya akan naik jet, bisa memakan waktu sekitar 7 Jam..." jawaban diplomatis yang ia tahu tidak akan memuaskan Milady.
Mereka baru sebentar bertemu, dan baru kali ini mereka berbicara benar-benar berdua, tapi entah bagaimana, Sebastian sudah mengetahui sifat Milady seakan mereka sudah 1 abad hidup bersama.
"Hm..." terdengar gumaman Milady.
"Nomor saya...081xxxxxxx8. Tolong kabari saya kalau Pak Sebastian sudah sampai di Jakarta dan... sudah siap bertemu saya. Jangan lupa oleh-olehnya. Selamat Pagi, Pak. Maaf mengganggu tidurnya..."
Sebastian langsung mengingat nomor itu seakan itu tanggal lahirnya sendiri.
Seusai Milady memutuskan sambungan teleponnya, Sebastian langsung menghubungi asisten dan pilot pribadinya.
"Mungkin saya akan tunggu di kantor property saja. Pasti Trevor dan Bram agak kesulitan meeting tanpa saya..." sahut Milady sambil menyerahkan telepon kembali ke James.
"Hah? Maksudnya?"
"Dia bilang perjalanan Berlin-Jakarta memakan waktu 7 jam dengan jet pribadinya. Lebih baik saya menghabiskan waktu dengan bekerja sambil menunggunya..." sahut Milady.
"Bukan itu! Dia bilang dia mau kembali ke Jakarta?! Secepat itu?!" seru James. Orang-orang mulai memperhatikannya.
Milady menatap James, tidak mengerti kenapa James begitu panik.
"Kenapa?"
"Seharusnya dia masih di sana untuk dua minggu lagi, Lady. Dan karena kamu, dia bersedia pulang? Sepenting itu pembicaraan kalian sampai dia harus pulang lagi ke sini?!" sahut James. "Orang seperti Pak Yan, kalau bukan panggilan mengungsi ke Noah's Ark karena bencana alam ngga akan bisa di suruh pulang...! Bagaimana cara kamu..." James berkacak pinggang sambil menarik napas, ia menguasai dirinya untuk hal menakjudkan yang terjadi barusan.
"Sudahlah, yang jelas kamu membuat kami segedung tidak jadi leyeh-leyeh seminggu lagi..." Desisnya sambil menggelengkan kepala karena masih tidak percaya dengan yang baru saja terjadi.
"Wah... Maaf yah. Mau mengungsi ke gedung property saja? Pak Sebastian jarang berkunjung kesana, paling tidak, kami bekerja dengan lebih fokus." Milady tersenyum.
James terkekeh sambil menggelengkan kepalanya kembali.
Lalu raut wajahnya kembali menerawang.
"Kamu tahu... Saya sudah lama suka sama kamu. Tapi saya mundur karena kamu sudah menikah. Saya pikir... Setelah bercerai kamu harus dikasih waktu untuk istirahat. tapi ternyata..."James menghela napas. "Apa benar-benar sudah tidak ada harapan untuk saya?" tanyanya lagi.
Astaga... Pikir Milady.
James menatapnya dengan nanar.
Milady hanya diam...
Lalu pria itu menggaruk tengkuknya dan terseyum malu.
"Ngga usah dijawab. Sori udah bikin bingung... Saya ke atas dulu yah, mau mengabari anak-anak kalau Bigboss dalam perjalanan pulang kesini..." sahut James.
Milady mengangguk. Wanita itu berpikir akan kembali ke rumah untuk mengambil pakaian kerjanya yang lebih sederhana, karena pakaiannya sekarang pasti akan mengundang pertanyaan Trevor dan Bram.
Saat itu ponsel Milady berdering.
Nomor tidak dikenal...
"Halo?" sapa Milady.
"Saya dalam perjalanan ke bandara. Kamu mau bertemu di mana?"
Suara yang ia kenal...
Suara yang ia rindukan selama seminggu ini.
Milady melirik James, pria itu masih menunggu di depannya.
"Terserah bapak saja." sahut Milady.
Sebastian langsung merasa, karena Milady memanggilnya dengan panggilan resmi 'bapak' maka masih ada seseorang di sekitarnya.
"Saya pilih tempat yah, saya kirim lokasinya ke kamu sebentar lagi." Sebastian berbicara dengan nada yang sangat lembut terdengar di telinga Milady. Bagaikan mengobrol terhadap anak perempuannya atau... Kekasih yang sangat dicintainya.
Lalu Jiwa jahil Milady muncul lagi.
"Pak... di ruangan bapak ada kemeja cadangan?" tanya Milady.
"Eh... Ada. Kenapa?"
"Saya pinjam satu, boleh?"
Sebastian terdiam.
Setelah beberapa detik ia mulai bisa menguasai dirinya kembali.
"Boleh saja..." desisnya. "Kalau James masih di sana, dia akan menunjukan jalan ke ruangan saya."
Milady melirik James yang kini menatapnya sambil tertegun.
"Dia ada di sebelah saya. Baik pak...terima kasih."
Dan Milady memutuskan sambungan.
"Yuk, James... Saya sudah ijin Pak Sebastian untuk pinjam kemejanya. Saya ngga mungkin berpakaian seheboh ini untuk ke kantor, bisa-bisa semua wanita di sana nyinyir menggosipkan saya...hehe." sahut Milady bercanda, mencoba mencairkan suasana. Tampak wajah James langsung pucat tanpa alasan.
"Hm..." James masih tertegun. "Milady..." gumamnya.
"Ya?" tanya Milady.
James menarik napas berat.
"Astaga..." pria itu kehabisan kata-kata.
Sepanjang hidupnya, sejak ia bertemu Sebastian saat masih remaja, lalu di rekrut pria itu mulai jadi kurir, lalu perlahan kariernya naik menjadi karyawan dengan berbekal pengalaman otodidak di dunia saham karena sering memperhatikan Sebastian bekerja, ia tidak pernah melihat Sebastian mengijinkan siapapun memasuki ruang kerjanya. Bahkan orang yang bertugas membersihkan ruangannya saja dipilihnya secara khusus.
Saat akan mendiskusikan sesuatu, Sebastian lebih memilih datang ke ruangan orang itu.
Mereka tidak pernah berdiskusi di ruangan Sebastian.
Dan kini...
Milady dapat ijin untuk memasuki ruangan Sebastian...
Bagaimana mungkin?!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Asngadah Baruharjo
heboh
2023-12-27
0
Rose_Ni
Saranjana nih
2023-12-25
0
Sulaiman Efendy
SEMUA KARNA CINTA PAK YAN TRHADAP CALON EMAKNYA RAHWANA ...
2023-10-18
2