"Apa kira-kira saya perlu menelpon James langsung yah mbak? Saya takut mengganggu beliau." sahut Milady.
Tidak, ia tidak memiliki nomor telpon James. Ia hanya menggertak.
Untung-untungan saja...
Namun tampaknya berhasil, karena...
"Sebentar ya Bu Milady, saya hubungi Pak James kembali." sahut si Operator.
Milady tersenyum tipis.
Seorang operator mau mengelabuinya dengan kata-kata diplomatis?! Eit, nanti dulu...
Namun ia memuji sikap operator di gedung pusat yang bersedia melayaninya secara personal.
"Pak James belum kembali ke kantor bu, mungkin sebentar lagi sampai. Ibu mau menunggu di ruang tunggu lobi atau di ruang tamu lantai 50?"
"Saya tunggu di sini saja, kalau begitu."
"Baik, saya hubungi security agar mereka bisa mengabari Pak James kalau beliau sampai di pintu masuk." sahut Operator.
"Nama kamu siapa, mbak?" tanya Milady.
Operator itu terdiam sesaat, senyumnya lenyap.
Tapi beberapa detik kemudian ia kembali berwajah sumringah, seakan sudah bisa menguasai kegalauan hatinya.
"Nama saya Reny, Bu Milady."
"Hm... Reny, kerja kamu lumayan bagus. Namun ada yang kurang..."
"Ya?"
"Kamu terlalu polos..."
Reny terdiam.
"Oh ya bu?!" tanya Reny.
"Kamu kan tidak kenal saya, dan saya datang tanpa janji. Bisa jadi saya sebenarnya adalah seorang pengacau. Mungkin lain kali kalau ada orang yang misterius seperti saya, kamu bisa tegaskan kalau ingin bertemu Big Boss saya harus membuat janji dulu dengan para asistennya, dan kamu bisa berikan nomor telepon kantornya lewat kartu." Sahut Milady.
Reny menyimak perkataan Milady.
"Maafkan saya bu, tapi menurut saya Anda tidak tampak mencurigakan..." Reny menyeringai.
Ah... Benar juga.
"Hebat kamu." desis Milady.
Reny menyeringai sambil tersipu.
"Saya bisa membedakan raut wajah yang perusuh dan yang tulus. Baru kali ini saya melihat ada wanita cantik yang tersenyum ke banyak orang, dan yang berani memarkir mobilnya di sebelah mobil Pak Sebastian... Pasti anda bukan orang sembarangan." sahut Reny.
Milady tergelak mendengarnya.
"Bisa saja kamu!" sahut Milady.
"Dan lagi, saya sebenarnya tahu mengenai ibu. Bu Milady beberapa kali muncul mendampingi Pak Trevor saat peresmian bangunan. Foto Anda dan Pak Trevor lebuh sering muncul di Buletin Garnet Grup, daripada foto Pak Sebastian. Saya saja kalau tidak bekerja di sini, mungkin tidak tahu sosok Pak Sebastian, Bu..."
Yah... dia benar.
Siapa yang tahu sosok Sebastian. Dia selalu menghindari publikasi. Dan terkadang di annual report saja hanya ada namanya. Bahkan saat Forbes mewawancarainya sebagai daftar pemegang kekayaan 100 besar di dunia, dia mewanti-wanti untuk tidak memakai foto. Tapi ia mengizinkan untuk memakai foto candid.
Namun ia terkenal di dunia bisnis.
Nama Sebastian Bataragunadi dianggap sebagai legenda di dunia treasury dan ekonomi.
Di pikir-pikir, satu keluarga memang tidak menyukai media sosial dan kamera. Trevor saja masuk ke media sosial memakai akun palsu. Ia tidak pernah berfoto bersama dengan karyawan lain walaupun saat itu sedang perayaan, semua pesan singkatnya memakai foto profil pemandangan atau kartun. Foto yang menggambarkan sosok Trevor hanya ada saat peresmian, meeting dan seminar. Itu pun beramai-ramai.
Bahkan adik perempuan Sebastian, Meilinda, yang seorang sosialita saja jarang berfoto sendirian dan mengupload di internet. Instagramnya hanya berisi pemandangan dan sosoknya dengan masker atau kacamata hitam branded, walaupun gaya outfitnya selalu berganti-ganti.
Ada apa dengan keluarga ini...?
Milady mengangguk mendukung ucapan Reny.
"Saya asisten Trevor di Property, saya tahu persis mereka memang selalu menghindari publikasi. Tapi budget untuk pemasaran, iklan dan wartawan khusus untuk produk tidak main-main. Jumlahnya lebih besar daripada biaya produksi."
"Asalkan tidak memakai foto mereka." sambung Reny.
"Asalkan tidak ada foto mereka." Milady mendukung ucapannya. "Yah, pada dasarnya mereka memang pengusaha, sih... Bukan selebritis."
Reny terkekeh.
"Pada awalnya itu menyulitkan pekerjaan saya sebagai operator, bu. Kalau tidak diberitahu saya pasti sudah bersikap ceroboh, entah itu bisa satu lift dengan Bigboss, atau bertemu di luar dan tidak menghormat, atau berpapasan di lobi tapi tidak menunduk... Gaji di sini besar bu, sayang sekali kalau saya dipecat hanya karena tidak tahu sosok atasan saya..." Kata Reny.
Milady menghela napas.
Ia baru saja terjebak seperti kalimat yang diucapkan Reny.
Ia tidak mencari tahu sosok Sebastian.
Sial...
5 tahun bekerja sebagai tim elit, tapi tidak tahu sosok para pemegang sahamnya sendiri.
Milady, kamu benar-benar payah!
Ia mengomeli dirinya sendiri dalam hati.
Tidak berapa lama, James muncul.
"Wah..wah... My Lady..." desis James sambil meraih tangan Milady dan mengecupnya dengan gaya berlebihan. "Lama sekali kita tidak bertemu, ya... Saya kaget loh dihubungi kalau kamu datang. Ada pekerjaan mendesak? Kelihatannya penting sekali sampai-sampai kamu muncul sendiri ke sarang macan..."
"Sarang macan..." dengus Milady.
James mengangguk. "Trevor saja kalau ngga diamuk bapaknya, mana mau dia injakkan kakinya di sini."
"Iya, dia bilang setiap hari bertemu di rumah, untuk apa harus ke sini..." Sahut Milady.
"Untuk shock theraphy." sahut James.
"Tidak mempan untuk orang seperti Trevor, James. Kamu tahu sendiri yang itu..."
James terkekeh.
"Jadi... Bisa saya bantu? Ngopi-ngopi di cafe situ yuk?" Tawar James.
"Yah... sayangnya, saya ke kamu hanya karena saya perlu menemui Big Boss..."
James tertegun.
"Saya akan menikah dengan Trevor, Big Boss mengundang saya untuk bertemu tapi sampai sekarang tidak ada kabar." tambah Milady.
James tambah terpaku. Ia menatap Milady seakan Milady sudah membawakan berita yang sangat buruk kepadanya.
"Menikah...? Dengan Trevor? Trevor yang itu...?" gumam James.
Milady mengangkat bahunya.
"Keluarga menjodohkan kami." sahut wanita itu.
"Kamu serius?" tanya James.
"Iya."
"Kamu kan ngga pernah suka sama Trevor." James menghakimi dirinya.
"Tapi menikah dengannya tidak ada ruginya kan? Kami toh sudah saling mengenal..."
"Jadi kalian menikah dengan modal saling mengenal?!" James terlihat agak sewot kali ini.
Milady menatapnya merasa aneh.
"Kalau dengan modal saling mengenal, seharusnya kamu juga bisa menikah dengan saya, kan?!" tambah James lagi.
Milady tertegun menatapnya.
Ada apa dengan James?
James mencengkeram lengan Milady dengan posesif. Pria itu menatap Milady dengan marah, lebih kepada kecemburuan yang ditahannya.
"James... kita masih di Lobi." Sahut Milady.
James terhenyak,
lalu menatap sekitarnya dengan kikuk.
Reny menunduk malu, karena gadis itu melihat semua adegan. Ia merasa tidak enak karena jengah.
James menghela napas untuk menguasai dirinya.
25 tahun ia mengikuti Sebastian... ia tidak pernah lepas kendali seperti saat ini.
"Pak Yan masih di Jerman. Untuk urusan kerja sama pelelangan berlian dengan Beaufort. Dia di sana sejak minggu lalu." sahut James enggan.
Ternyata itu jawaban kenapa tidak ada kabar selama seminggu ini.
Milady tampak berpikir menatap lantai.
ia sudah di sini.
secara teknis, ia tidak diusir, tapi ia juga tidak diterima.
dan perlakuan James padanya membuatnya salah tingkah.
sejak kapan James memendam perasaan padanya?
Selama ini mereka berbincang lewat pesan singkat dan media sosial.
James selalu me-like apa pun yang dipostingnya, dan selalu berkomentar dengan statusnya.
Mereka kawan lama yang lumayan akrab, walaupun jarang bertemu karena alasan kesibukan.
"Coba kamu telepon Pak Sebastian sekarang James. Kabari kalau saya ada di sini. Paling tidak, dia tahu kalau saya sudah berusaha setor muka. " begitu alasan Milady.
"Kamu tidak bertanya nomor telepon Pak Yan ke Trevor?" ada nada mengejek dalam kalimat James.
Tidak bisa bertanya ke Trevor, pikir Milady.
Karena pria itu akan curiga.
Milady tidak memiliki kepentingan apa pun dengan Sebastian, sebenarnya.
Trevor tidak perlu tahu...
"Saya belum memiliki kepentingan dengan Pak Sebastian, sejauh ini. Kalau ia berkenan ia akan memberikannya sendiri kepada saya, tapi saat ini tampaknya belum." sahut Milady.
"Lalu untuk apa kamu jauh-jauh kesini, di hari Senin, orang kantor pasti panik kalau kamu tidak ada."
Memang...
Sekaliber Trevor dan Bram saja dengan berat hati memberikannya cuti barang sehari saja...
Tapi Milady perlu tahu alasan Sebastian.
"Bisa tolong hubungi beliau?"
"Di sana bahkan belum Subuh, Lady..."
Milady mengangkat bahunya sambil tersenyum licik.
James menghela napas dan mengutak-atik teleponnya.
"Apa? Ada masalah apa?" begitu kalimat pembuka Sebastian ke James.
Milady mendekatkan wajahnya dan ikut mendengarkan suara Sebastian lewat ponsel James.
James mengernyit menatap wanita itu.
sebuah senyum jahil terpasang di sudut bibir sensual Milady.
"Ngga ada masalah, Boss..."
"Kamu jam 3 pagi nelpon saya, pasti ada masalah besar. Kiamat jadinya besok atau bagaimana?" Omel Sebastian.
"Eh, bukan begitu...hanya..." James melirik Milady yang menatapnya dengan mata berbinar.
"Ada Milady di sebelah saya."
Sesaat keadaan Hening.
"Di mana?" tanya Sebastian lagi.
"Di... dekat saya. Kami di Lobi Garnet Grup."
terdengar helaan napas berat dari seberang.
"Kamu...saya ingin berbicara dengannya." sahut Sebastian.
James menyerahkan ponselnya ke Milady
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Asngadah Baruharjo
wadidawwww
2023-12-27
0
Hesty Mamiena Hg
Bukannya Milady gk punya nomor hape James td ya Madam? 😁
2023-09-24
2
Ersa
eittdaahh pedes boncabe berlevel2😂
2023-05-29
1