"Jadi... Kalian berdua akan menikah." Begitu pernyataan dari Bram, mengulang cerita Milady.
Pria itu benar-benar memiliki perasaan negatif terhadap rencana Trevor, sama seperti Milady yang tidak yakin semua akan berjalan lancar.
Masalahnya mereka sedang mengelabui Legenda Dunia Treasury yang terkenal. Pekerjaan itu membutuhkan strategi dan perhitungan yang terarah, apalagi sampai dijuluki Legenda di masa ekonomi tidak stabil seperti sekarang, sudah pasti intuisinya setajam Pedang Damascus.
"Si bodoh ini, memohon padaku untuk menjadi partner in crime, padahal ia sudah menghamili wanita lain. Kalau tidak kenal sejak lama dan mengerti kalau dia bodohnya ampun-ampunan, pasti sudah kutampar bolak-balik dengan tuduhan pelecehan..." Milady melipat kedua tangannya di dadanya. Seperti biasa semua kalimat ketus ia ucapkan dengan lembut. Namun yang ini sepenuhnya bermaksud menyindir.
"Bantuin temen gitu aja ngedumel..." Sungut Trevor.
"Kalau kamu punya nyali sedikit aja untuk tidak takut mati, kamu pasti sudah menetap di hutan aokigahara sama Ayumi buat menghindari ayah kamu, bukannya pura-pura menikah sama aku."
"Loh, kamu kan juga mengiyakan rencana ini! Terus apa motif kamu?" Ketus Trevor.
"Dengan menikah sama kamu, aku bisa bebas dari orang tuaku yang bolak balik risih melihat status singleku. Kalau tiba-tiba di tengah jalan aku ketemu cinta yang lain, aku mau bercerai dari kamu." Kata Milady.
"Kalian ini sedang menerapkan konsep simbiosis mutualisme ya..." Sahut Bram.
"Betul sekali." Sahut Milady. "Lebih ke win-win solution, lah..."
Bram menyeringai lembut, geli melihat tingkah kedua temannya ini.
"Tidak ada hidup yang semudah rencana kita, Tuhan punya rencananya sendiri." Sahut Bram.
"Selalu ada plan B plan C sampai plan AA... Seperti kolom di excell, setelah Z ada AA..." Sahut Milady sambil mengangkat bahunya.
Namun Bram tetap kuatir.
Kedua temannya ini sedang mencoba mempermainkan takdir.
Namun ia memutuskan untuk diam, dia akan ada di balik layar saat mereka membutuhkan, seperti biasa. Kini biarkan mereka meredakan emosinya dulu.
"Sarapan yuk?" Ajak Bram akhirnya.
*****
Sekitar 1 bulan setelah pertemuan menegangkan itu...
Milady menatap dirinya di kaca besar di samping lemari raksasanya, sambil memblow rambutnya.
Pikirannya melayang kemana-mana.
Terutama kekuatiran mengenai masa lalunya yang kelam.
Sebenarnya itu bukan satu-satunya jalan keluar dari kebangkrutan, saat ia pikirkan lagi. Ia bisa saja melamar pekerjaan sebagai spg atau karyawan kontrak.
Dan apakah benar ayahnya tidak mengusahakan sesuatu untuk melindungi keluarganya?! Dia kan punya banyak relasi, sebenarnya. Apakah Milady yang bertindak terlalu terburu-buru?
Yang jelas, saat situs lelang itu menginformasikan harga tertinggi atas dirinya, Milady hampir pingsan. Dan ia beruntung karena si penawar berasal dari negara yang sama dan lokasi yang tidak terlalu jauh.
Milady di kehidupan normalnya terkenal sebagai orang yang lembut, bersahaja, anggun dan bersikap seperti putri keraton.
Dia memang berdarah bangsawan, Ibunya mewarisi darah Kesultanan Cirebon. Walaupun sudah keturunan yang keberapa puluh, namun sifat dan sikap Milady sudah menampakkan diri bahwa ia dari keturunan raja.
Namun ia sekarang sedang diliputi kegundahan.
Sifatnya menjadi pemarah...
Hanya kalau di depan Sebastian Bataragunadi!
Padahal ia susah payah menyembunyikan sifat aslinya selama ini untuk tujuan ketentraman hidup.
Tapi kalau melihat pria itu, ia jadi ingin menyakiti seseorang. Tangannya gatal ingin mencakar. Dan ia ingin melihat darah menetes di kulit pria itu.
Membayangkan wajah pria itu saja, tanpa sadar ia sudah menorehkan goresan kuku di dinding.
Astaga...
Sejak kapan dia jadi masocist?!
Pesan singkat menggetarkan ponselnya.
Dari Trevor.
"Building expo di hotel xxxxx pukul 10, tolong pantau tim kita disana."
Milady menjawab,
"Oke.
Tak berapa lama ada balasan dari Trevor.
"Kita ngga harus pakai panggilan sayang kan?"
Milady mencibir dan membalas.
"Mau sekalian panggilan 'ayah-bunda' seperti anak alay?" sindirnya.
"Duh, Gusti Ratu, Sabtu pagi udah ngomel..." balas Trevor.
Lalu Milady menghela napas panjang.
Daripada memikirkan hal yang tidak perlu, lebih baik ia bekerja.
****
Dewi fortuna sedang menjauhinya...
"Kamu disini?"
Milady hanya menghela napas dan diam tidak mengacuhkannya. Ia menatap pria di depannya ini dengan poker face, hanya karena di sini banyak orang.
Ia menunduk menghormat karena pria ini lebih tua dan sebagai shareholder utama perusahaannya.
Kalau saja ia bertemu orang ini saat sedang sendirian, pasti sudah hujani dengan tatapan sinis.
Ia tidak menyapa Sebastian, tersenyum pun tidak. Milady masih kesal karena dipaksa mengkhianati Trevor.
"Sudah dapat berapa prospek?" tanya Sebastian. Beberapa Boss besar dan para bodyguard membuntutinya kemanapun ia pergi.
Pria ini tinggi sekali... Milady yang memiliki tinggi di atas rata-rata wanita saja mendongak menatap matanya. Dan sosoknya sangat mencolok, dengan janggut dan rambutnya yang sudah memutih seluruhnya dan tatapan mata tajam, buas dan kentara sekali kalau ia haus darah.
Yah, Mungkin Milady berlebihan.Tapi Apa lagi yang bisa menggambarkan raut wajah berkerut yang tampaknya selalu tidak puas akan segala macam hal itu?!
Walaupun usianya dua kali usia Milady, namun tubuhnya masih terjaga, dengan siluet otot terlatih yang membentuk di balik kemejanya.
"Sudah sold out semua sejak pukul 10 pagi tadi pak. Ada beberapa yang sedang mengurus administrasi." Milady menoleh ke belakang, ke arah ruang duduk "30% kas keras, 70% pembiayaan." tambahnya.
Sebastian menggangguk.
"Pastikan notaris rekanan kita standby semua." Kata pria itu.
Milady mengangguk sekilas.
Lalu Sebastian mengamatinya.
"Jaga stand termasuk pekerjaan staff ahli?" tanyanya.
"Saya suka pekerjaan di luar kantor." sahut Milady berbohong. Hanya agar Sebastian berhenti bertanya.
"Ohya? Kalau saya ajak ke proyek kamu available dong?"
"Itu kan memang pekerjaan saya, pak. Memastikan lokasi." Milady tidak menatap Sebastian, ia hanya mengamati pengunjung lalu-lalang di depannya sambil berpikir enaknya makan apa siang ini.
"Kamu sudah lihat lahan yang sedang dalam proses pembebasan di Jogja? Yang akan kita bangun perumahan bersudsidi." Kata Sebastian sambil menatap maket di depannya.
"Belum Pak, karena Bram sedang membereskan pekerjaan kasarnya, jadi saya harus standby di kantor menggantikan pekerjaan internal."
"Ah, iya. Karena Selena sudah dimutasi." gumam Sebastian.
Lalu kalimat yang ia paling tidak ingin dengar di muka bumi tercetus dari bibir Sebastian.
"Kamu sudah makan siang?"
Milady menghela napas.
Dan karena di sini banyak Direksinya, juga petinggi dan pejabat dari pemerintah, ia harus menjaga nama baik perusahaan.
Perusahaannya adalah Sebastian.
"Saya belum makan siang." jawab Milady tanpa menatap Sebastian.
"Mau bareng saya?" tanya pria itu.
"Bapak silahkan duluan. Saya masih harus memantau pekerjaan staff kita."
"Itu kan bukan tugas kamu. Saya lihat para team leader sudah standby. Kamu sudah bisa istirahat." sahut Sebastian.
Milady melirik Sebastian.
"Milady..." Dirutnya memanggil. "Kalau kamu mau makan siang duluan boleh saja, loh..." sahutnya.
Ia tidak bisa kabur ke mana-mana
lalu menarik napas panjang dan mengangguk dengan enggan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Hanachi
ambisius level dewa.
2024-07-31
0
Hanachi
waduh .. malah terancam pindah ke alam lain nanti. /Chuckle/
2024-07-31
0
ahjuma80
sengaja tuh pak uban dateng biar ketemu lady
2024-06-24
0