Milady akhirnya menceritakan kejadian saat di Restoran hari Jumat kemarin kepada Bram.
Trevor mendekat dengan enggan setelah Milady melambaikan tangan kepadanya.
Ia pun sama seperti Milady, jengkel dengan kejadian itu.
Bahkan kalau bisa ia tidak menceritakannya ke siapa-siapa.
Namun kalau dengan Bram, teman seperjuangannya, sudah pasti ia tidak bisa menyembunyikan apapun.
Lagipula, sepertinya ia butuh masukan dari Bram sebagai pihak ketiga yang cenderung bersikap netral. Karena Trevor tidak punya pilihan selain menuruti keegoisan Ayahnya.
Milady memulai ceritanya dengan setengah menggerutu.
(Flashback On)
Kita kembali ke kejadian di Cafe Bunga tempo hari.
Saat itu adalah saat-saat Milady menjalani hari dengan penuh kebohongan, taktik, dan uji nyali.
Astaga...
Perkenalan perjodohan yang aneh dan membuang waktu! Umpatnya.
Ia lebih berharap menjadi panitia gathering kantor di antah berantah dibanding harus datang kemari!
Bekerja 5 tahun di Garnet Property namun sama sekali tidak tahu wajah pemegang saham mayoritas, hal mendasar semacam itu terkadang sepele tapi penting! Siapa yang tidak mengenal nama itu?!
Nama keluarga Bataragunadi menjadi begitu penting saat 9 anak usahanya merajai bursa saham dengan IPO yang diluncurkan secara serentak pada suatu hari. Setelah itu 80% dari usahanya selalu menjadi top gainer bahkan saat IHSG terpuruk.
Padahal saat kepemimpinan Hans Bataragunadi, owner lama yang merupakan kakek Trevor, mereka hanya memiliki usaha keluarga kecil-kecilan di bidang konveksi dan retail, namun saat Sebastian Bataragunadi, anak sulung Hans, kembali ke Indonesia setelah program disertasinya selesai, usahanya semakin meluas secara signifikan. Sehingga setelah itu Sebastian dijuluki Legenda di Dunia Treasury.
Selama ini Sebastian memfokuskan pengamatannya ke 3 anak usaha yang memiliki profit paling stabil, yaitu Bank, E-commerce dan Otomotif. Jadi ia jarang terlihat di gedung anak usaha yang lain. Untuk di Garnet Property sebagai ganti dirinya, ia menempatkan anak semata wayangnya, Trevor Bataragunadi dan orang kepercayaannya yaitu Bramantyo. Keduanya berperan sebagai manager operasional di perusahaan itu, namun bisa dibilang diberi kepercayaan seakan mereka adalah CEO pengendali.
Milady Adara, statusnya adalah staff ahli dibawah Trevor. Namun Milady juga mengambil alih pekerjaan sebagai asisten Bram karena sahabatnya itu tidak memiliki sekretaris.
Tadinya Bram punya sekretaris, Namanya Selena. namun dimutasi ke anak usaha lain. Alasan kepindahan Selena pada awalnya tidak diketahui. Namun belakangan... sepertinya hubungan Selena dengan Bram tidak bisa dibilang sekedar rekan kerja semata.
Mungkin itulah alasan kepindahannya, namun baik Selena maupun Bram masih enggan menceritakannya dengan gamblang.
Namun bagaimana dengan Trevor?
Dia hanya teman baik bagi Milady. Sejak awal hubungannya dengan Trevor memang cukup kacau, namun tidak pernah terbersit di benak mereka berdua untuk menjadi pasangan kekasih.
Hari itu bertambah lagi satu hal yang ia sesali.
Ia tidak mencari tahu mengenai manajemen tempatnya bekerja.
Paling tidak sosok Ayah Trevor pasti akan terpampang di Buku Tahunan Annual Report Konsolidasi. Paling tidak... Namanya...
Milady hanya ingat,
Namanya Sebastian.
Dulu...
Ia tidak menyangka Sebastian yang ditemuinya dulu, dengan Sebastian Bataragunadi adalah orang yang sama...
Berapa banyak nama Sebastian di dunia ini?
Dan sosoknya...
Bagaimana mungkin Milady tidak mendapatkan satu buah foto pun baik di profil perusahaan maupun di media sosial?! Pasti paling tidak, ada satu-dua foto terpampang di media cetak, walaupun kabarnya keluarga Bataragunadi sangat tidak menyukai publikasi, dan Sebastian terkenal tidak menyukai kamera, pasti ada satu atau dua candid hasil kreasi paparazzi.
Saat itu Milady tidak ada pilihan selain melangkahkan kaki ke arah meja dan mendekati Ayah-ibunya.
"Naaaah!... ini loh anakku, Milady. Biasa dipanggil Lady." Sahut Pak Malik Adara tampak bangga memperkenalkan Milady.
"Lady, ini..."
"Pak Trevor." Milady mengangguk memberi hormat. "Saya pikir tidak biasanya bapak pulang jam 17 tepat sampai meninggalkan saya sendirian dengan bahan presentasi mall baru kita yang mau dimeetingkan besok pagi, ternyata akhirnya kita bertemu di ruang yang sama. Tahu begini, tadi sekalian saja perginya bareng saya."
Semua menatap Milady.
Trevor menyeringai.
"Jadi? Bahan presentasinya sudah beres?" Tanya Pria itu.
Milady tersenyum.
"Sudah saya kirim ke email bapak, mohon direview."
Pak Malik menatap Milady dan Trevor bergantian.
"Loh? Sudah saling kenal yah ternyata?"
"Kami satu kantor Yah, dia atasan aku di kantor, bisa dibilang aku lebih sering ketemu Pak Trevor dibanding ketemu Ayah."
Pak Malik tertawa, namun terdengar dipaksakan bagaikan ada sesuatu yang menekan tubuhnya.
"Waaah, kalau begitu kebetulan yah Yan! Sama-sama single, satu kantor pula, itu namanya jodoh kan?!"
Milady menatap Sebastian.
Pada dasarnya pria itu sudah angkuh dari dulu, ia hanya menyunggingkan senyum sinisnya yang tipis dan duduk disofanya, berusaha senyaman mungkin.
Padahal dada pria itu bergemuruh.
Ia menatap Milady dengan tajam, dan tidak menyembunyikan kenyataan kalau ia tidak berkenan akan keberadaan Milady di sana.
Mereka berdua, Milady dan Sebastian, sama-sama mengutuk hari ini.
Milady duduk di depan Sebastian, karena hanya kursi itu yang kosong. Sebastian menatap wanita itu dalam diam, sambil melipat kedua tangannya di dada dengan mata memicing.
Mengamati, memperhatikan, mencari kesalahan.
Kenyataan kalau wanita di depannya ini jauh lebih mempesona dari 10 tahun yang lalu membuat dadanya sesak.
Ia tidak suka perasaan ini.
Sama seperti perasaan tidak suka melihat sahamnya anjlok.
Tidak...
Yang ini jauh lebih tidak ia sukai!
Wanita di depannya ini adalah ancaman baginya.
Milady memegang kartu ASnya.
Kelemahannya.
Skandalnya.
Kenapa ia harus mengunjungi situs itu sepuluh tahun lalu?!
Bahkan menghamburkan uangnya untuk transaksi ilegal, dan nyatanya tidak ia sesali sama sekali...
Bahkan ia menyukainya!
Bahkan ia mencari wanita ini selama 10 tahun lamanya!
Dan ternyata keberadaannya sangat dekat selama ini...
Milady, wajahnya tidak jauh berbeda dengan 10 tahun lalu, namun saat ini aura kewanitaannya begitu memikat! Hampir saja Sebastian menghampirinya dan memeluknya, menumpahkan perasaannya, seperti yang ia lakukan 10 tahun lalu pada tubuh kurus dan perawan Milady.
Saat ini perasaannya campur aduk!
Ia tidak bisa melupakan kata-kata Milady terakhir kali...
Maaf, setelah ini saya tidak ingin bertemu lagi. Mari kita saling melupakan, seperti seharusnya.
Begitu kata-kata terakhir Milady, dulu.
Sakit hatinya semakin menjadi saat keesokan harinya wanita ini tidak bisa dihubungi lagi. Bahkan saat perceraiannya dengan Ratna 33 tahun lalu, hatinya tidak sesakit ini.
Sering ia ditanya, apa motivasinya saat berpikir untuk memperbesar usahanya?
Ia akan menjawab, untuk berperan serta memajukan perekonomian negara.
Namun motif yang sebenarnya?
Sampai 10 tahun yang lalu, perusahaannya bukan Raja pasar bursa. Tapi setelah ia berpisah dengan wanita di depannya ini, wanita impiannya ini, perusahaannya langsung melejit bagaikan pesawat jet.
Motifnya...
Adalah melupakan wanita ini dengan kerja sekeras mungkin.
Sampai ia lupa!
Ia mengingat wanita ini lebih sering daripada ia mengingat Tuhan!
Hidupnya tidak sehat...
Hidupnya terganggu...
"Ini Ayah saya, Pak Sebastian Bataragunadi." Sahut Trevor.
Milady mengangguk. "Malam, Pak."
Sebastian tidak menjawab, hanya mengangguk sekilas.
Untuk apa pertemuan ini diadakan? Sebastian mengingat kembali.
Ah! Untuk mencari calon istri bagi anaknya, Trevor.
Kenapa? Memang Trevor tidak bisa mencari sendiri?!
Sampai Trevor bisa putus dengan pacarnya yang sekarang, Ayumi, Sebastian akan menjejalinya paksa dengan semua wanita di dunia.
Trevor harus putus dengan Ayumi! Begitu pikirnya.
Apa masalahnya?
Ayumi adalah anak Tadashi, Direktur dari Garnet Retail Cabang Jepang, tadinya adalah orang kepercayaannya, lalu mengkhianatinya dengan menggelapkan duit perusahaan, dan mati bunuh diri didalam penjara.
Namun hubungan Trevor dan Ayumi sudah jauh, dan Sebastian kuatir Ayumi akan balas dendam akan kematian ayahnya.
Ia tidak menghendaki Ayumi ada di keluarganya.
Ayumi pasti memiliki rencana licik untuk dirinya.
Dan kini Sebastian diliputi perasaan galau.
Apakah sepadan menyerahkan wanita pujaannya yang telah ia cari 10 tahun lamanya untuk menjadi calon istri anaknya?
Astaga...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 178 Episodes
Comments
Hanachi
ataga .. anda terjebak skandal dan permainan anda sendiri kan Om Sebastian ? /Chuckle/
2024-07-31
0
Hanachi
jika usaha sudah menggurita, belum komplit dan aman posisinya kalau belum punya bank sendiri.
2024-07-31
0
ahjuma80
klo terbitin novelnya. kabarin madam aku mau beli
2024-06-24
0